Senin, 31 Oktober 2011

Rezim Neol Liberalisme dan anti Kemandirian dan Rakyat di Indonesia

M. Rizal Ismail (Pengamat Ekonomi dan Politik/wawancara)
Tanggal : 31 Oct 2011 Sumber : Harian Terbit

JAKARTA - Pengamat ekonomi MRI Research M. Rizal Ismail, mengatakan Hatta Rajasa dan Boediono merupakan tokoh-tokoh neo kapitalisme dan neo liberalisme yang membuat orang kaya makin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Pergerakan mereka seperti itu, sebenranya sudah bisa dilihat dan sudah diketahui sejak lama.

"Mereka berdua itu selalu mengembangkan perekonomian kapitalisme dan liberalisme yang berteman dengan negara-negara Barat. Hatta dan Boediono selalu berhubungan dengan World Bank dan IMF," kata Rizal  Ismail kepada Harian Terbit, Senin (31/10).

Menurutnya, Hatta dan Boediono melakukan pertemanan dengan negara-negara Barat dan selalu menuruti keinginan dari kalangan kapitalis. Semua peraturan dan perundang-undangan selalu tertumpu ke luar negeri dan mengikuti selera kapitalisme.

"Mereka selalu menjunjung anti kepentingan rakyat, namun mengikuti semua aturan yang datangnya dari luar negeri. Akibatnya, mereka telah distir oleh negara barat," ucapnya.

Bahkan, tandasnya, negara Barat selalu mengancam memberhentikan bantuan apabila sebuah negara pro rakyat dan mandiri. Untuk itu, Presiden SBY selalu senang berhutang yang hingga kini telah mencapai Rp1.780 triliun. Uang-uang itu, tidak diupayalan untuk membuat produk jadi, namun hanya ekspor bahan mentah ke luar negeri dan harganya lebih murah.

"Negara Barat sepertinya ingin mencengkram Indonesia sehingga Indonesia menjadi bonekanya. Sasaran negara Barat itu adalah kepada daerah merah, seperti Aceh, Papua, Ambon dan Jawa," tegasnya.

Mereka sebenarnya, kata Rizal Ismail, ingin memecah-belah daerah-daerah tersebut dengan harapan sumber daya alamnya bisa dikuasai mereka. Sepertinya mereka meninginkan pemberontakan dan terjadi revolusi di Indonesia.

"Apabila terjadi gejolak di daerah-daerah, negara Barat selalu memberikan pinjaman yang banyak. Sementara hutang Indonesia makin banyak, pengangguran terus bertambah dan Indonesia telah menjadi boneka negara barat," tegasnya.

Dihubungi terpisah, pengamat ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM), Dr Sri Adiningsih berpendapat, pemerintahan SBY, Hatta Rajasa dan Boediono tidak memberikan dukungan kepada investasi bisnis dalam negara. Mereka hanya mementingkan investor dari negara asing saja, sehingga bisa disebut pelopor neo kapitalisme.

"Investor yang dekat dengan kekuasaan biasanya akan makin kaya. Sedangkan investor dalam negeri yang masih kecil tidak bisa didorong pemerintah untuk lebih maju lagi," kata Sri.

Dengan demikian, tambahnya, yang kaya akan semakin kaya dan miskin akan makin miskin. Cilakanya perbaikan infrastrutur, seperti pembuatan jalan, irigasi, serta sarana pelabuhan belum didukung anggaran yang cukup. (junaedi

0 komentar:

Poskan Komentar