Selasa, 31 Mei 2011

Parpol Menggerogoti Anggaran Negara

M Rizal Ismail (pengamat Ekonomi//wawancara)
Tanggal : 31 May 2011
Sumber : Harian Terbit


JAKARTA - Pengamat ekonomi Rizal Ismail menduga terkuaknya kasus Nazaruddin yang mencoba menyuap Ketua MK Mahfud MD sebagai bentuk bobroknya sebuah partai. Ia bahkan menduga, dana suapan Nazaruddin bukan tak mungkin diambil dari anggaran negara. Sebagai mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin pastinya tahu persis asal muasal dana tersebut.

Dari kasus Nazaruddin, Rizal menilai sudah sejak zaman Orde Baru hingga pemerintahan SBY ini kekuasan partai berkuasa acapkali menggunakan keuangan negara untuk kepentingan parpolnya.

"Sangat sulit mengubah apa yang sudah biasa dilakukan. Praktik penggunaan uang negara untuk kepentingan elit parpol dan parpol itu sendiri sulit dicegah. Memang ada peraturan perundangan yang mengatur hal ini, namun saya kira tidak tegas penerapannya. Makanya, peraturan perundangan tersebut harus diubah agar sanksi bisa lebih tegas," ujar Rizal Ismail kepada Harian Terbit, Selasa (31/5).

Menurutnya, penggunaan anggaran negara yang tersedot untuk kepentingan parpol jelas merugikan rakyat. Aksi kekuasaan politik mulai dari pejabat negara, anggota dewan yang berasal dari parpol ditengarai se-ringkali menggunakan dana negara untuk kepentingan parpol itu sendiri, bukan digunakan untuk kepentingan tugas negara.

"Contohnya kepentingan konsolidasi parpol di daerah maupun luar negeri, rakernas parpol, para elit parpol yang juga pejabat negara dan anggota dewan tak sungkan menggunakan uang negara. Praktik mafia yang terjadi di dewan dalam menggelontorkan sejumlah proyek juga menggunakan jasa calo. Jadi bisa dipastikan kebocoran uang negara lebih dari 30 persen hanya untuk kepentingan kekuasaan beberapa parpol. Kalau zaman Soeharto saja kebocorannya sekitar 30 persen, maka di pemerintahan SBY yang anggota parlementernya paling buruk, kebocoran negara pasti lebih dari 30 persen," papar Rizal.

Keberadaaan jumlah parpol yang terlampau banyak, lanjut Rizal, dinilai sangat tidak efektif untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih. Reformasi yang diperjuangkan mahasiswa sampai kini tidak membuahkan hasil nyata untuk kepentingan rakyat. Yang ada rakyat makin terpuruk ekonominya, angka pengangguran makin meningkat, tidak adanya pertumbuhan ekonomi yang signifikan, tidak adanya pertumbuhan ekonomi.

Rizal memprediksi akibat buramnya situasi politik dan ekonomi saat ini, di tahun 2013 rakyat yang jenuh berada dalam kondisi frustasi massal. Sebelum Pemilu 2014 aksi panas akibat suhu politik yang tidak menentu akan menyebabkan rakyat makin stres oleh keadaan negara yang tidak berubah. (utari

0 komentar:

Poskan Komentar