Selasa, 31 Mei 2011

PERANG ANTARA THALUT (AL HAQ) MELAWAN JALUT (AL BATHIL)

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)


KETIKA Bani Israil diusir dari negeri Mesir, para pembesar mereka memohon kepada Nabi Samuel (pasca Nabi Musa as) agar diturunkan seorang raja yang memimpin peperangan di jalan Allah. Maka tatkala perang telah diwajibkan, kebanyakan mereka berpaling dan hanya sedikit yang patuh. Kemudian Allah mengangkat Thalut sebagai raja, namun Bani Israil enggan menerima Thalut sebagai pemimpin, karena ia tidak memiliki harta yang banyak.

Setelah Nabi meyakinkan mereka bahwa Allah memilih Thalut karena ia memiliki ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa serta dengan adanya bukti kedatangan Tabut (tempat menyimpan Taurat yang mendatangkan ketenangan), maka akhirnya Bani Israil tunduk di bawah kepemimpinan Raja Thalut.

Setelah Thalut bersama tentaranya keluar menuju medan peperangan, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam (QS. al-Baqarah: 246-251).

Bani Israil kerap dijuluki sebagai kaum “keras kepala” karena menentang perintah-perintah Nabi. Dalam kisah di atas, nampak tiga bentuk penentangan yang mencerminkan tabiat bani Israil pada umumnya, yaitu mereka enggan berperang di jalan Allah, enggan menerima Thalut sebagai pemimpin dan enggan mematuhi perintah untuk tidak meminum air sungai. Akhirnya, mereka ketakutan menghadapi tentara Jalut. Namun, di tengah kaum “keras kepala” muncullah segolongan kaum yang mempunyai kesabaran, istiqamah dan loyal pada perintah, sehingga dengan penuh keyakinan mereka dapat mengalahkan tentara Jalut.

Thalut adalah representasi dari kebenaran (al-haq) dan Jalut adalah manifestasi dari kebatilan (al-bathil). Keduanya akan terus berseteru sampai hari kiamat. Yang pasti, Allah telah menjanjikan bahwa kebenaran akan selalu mengalahkan kebatilan (QS. al-Isra’: 81). Namun, realitas kehidupan umat manusia dewasa ini justru menunjukkan keadaan sebaliknya. Kebenaran semakin terjepit oleh “cengkeraman” kebatilan yang kian buas. Kaum muslimin di berbagai belahan dunia yang merupakan tentara kebenaran, semakin terombang-ambing oleh “amukan” tentara kebatilan. Jalut memang telah tewas di tangan Nabi Daud, tetapi ideologinya masih terus bereproduksi generasi-generasi baru. Mereka itulah tentara-tentara kebatilan.

Generasi Jalut di era modern memiliki jaringan yang luas dalam bentuk dan bidang yang menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia. Mereka dapat berasal dari jenis manusia, jin dan benda-benda mati yang “remotnya” berada di tangan manusia dan jin. Secara “membabibuta” mereka mengggiring generasi Thalut ke lembah kehinaan, kehancuran dan kematian. Lihatlah, bagaimana umat Islam di Palestina, Afghanistan, Irak dan negara-negara muslim lainnya dibunuh, dibantai dan diperangi.

Generasi Jalut akan tertawa riang, tatkala sebagaian umat Islam bertekuk lutut dan mengemis kasih dari mereka. Memang, umat Islam tipe ini tidak akan diperangi dengan tank-tank tempur oleh mereka. Tetapi peperangan itu tetap berlangsung dalam bentuk yang lebih berbahaya, yakni perang ideologi (akidah). Umat Islam yang bertekuk lutut di bawah generasi Jalut telah mengalami degradasi ideologi yang luar biasa. Kapitalisme, sosialisme, pragmatisme, materialisme dan isme-isme sejenis lainnya telah menjadi darah daging mereka.

Degradasi ideologi akan merambah kepada degradasi moral. Munculnya aliran sesat, pergaulan bebas, perzinaan, pornografi, perjudian, perampokan, menumpuk-numpuk harta, pembunuhan dan mabuk-mabukan adalah sekelumit fenomena yang menandakan bahwa kondisi umat Islam hari ini sedang kritis. Mereka memerlukan sosok “Thalut” era modern yang mampu memimpin dalam menghadapi gempuran generasi Jalut yang semakin canggih bentuknya.

Kekalahan umat Islam hari ini bukan berarti Allah telah mengingkari janjinya bahwa kebenaran akan mengalahkan kebatilan. Tetapi umat Islam sendirilah yang secara sadar atau tidak telah menganut tabiat bani Israil yang suka menentang perintah dan mengabaikan larangan.

Memang, kuantitas umat Islam hari ini patut dibanggakan. Tetapi kuantitas tidak berpengaruh signifikan tatkala kualitas diabaikan. Walaupun jumlahnya sedikit, tentara Thalut dapat mengalahkan tentara Jalut karena memiliki kualitas keimanan, ketakwaan, kesabaran dan istiqamah. Hal inilah yang tidak dimiliki kaum muslimin hari ini. Allah berfirman “Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti (QS. al-Anfal: 65).

Perang Badar dan perang Uhud adalah bukti nyata terhadap hal ini. Ketika perang badar terjadi jumlah kaum muslimin hanya 313 orang, sedangkan kaum kafir Quraisy berjumlah 950 orang pasukan, tetapi dengan semangat keimanan dan kesabaran yang tinggi, akhirnya kaum muslimin menggapai kemenangan secara gemilang. Sebaliknya, ketika terjadi perang Uhud terjadi, kaum muslimin hampir menggapai kemenangan, namun sebagian mereka mengabaikan perintah Rasul karena tergiur dengan harta rampasan perang (terjangkit penyakit materialisme). Akhirnya kaum kafir secara leluasa “mengerumumi” kaum muslimin hingga mengalami kekalahan telak.

Fenomena perang Uhud kembali terjadi saat ini. Rasulallah Saw bersabda, “Hampir tiba suatu zaman dimana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang kelaparan mengerumuni hidangan mereka. Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu? Nabi Saw menjawab, “Bahkan pada hari itu jumlah kamu sangat banyak tetapi laksana buih di lautan. Allah mencabut rasa gentar terhadapmu dari hati musuh-musuh kamu dan Allah mencampakkan penyakit wahan dalam hatimu. Seorang sahabat bertanya, apakah itu al-wahn ya Rasulullah? Rasulullah Saw menjawab “cinta dunia dan takut mati”.(HR. Abu Dawud).

Keimanan adalah solusi paling rasional untuk menghilangkan penyakit wahan. Apabila kita menginginkan kebangkitan Islam dan mengulangi sejarah kegemilangan masa lalu, maka rekonstruksi dan rehabilitasi kualitas keimanan adalah suatu keniscayaan. Janganlah kita “keras kepala” dan tertipu dengan kelezatan “air sungai” seperti yang dilakoni bani Israil

0 komentar:

Poskan Komentar