Jumat, 03 Desember 2010

Rezim Mesir, Arab Saudi dan Yordania yang lebih membela Israel dan Barat Laknatullah

M. Rizal Ismail (bahan khutbah dari khabar islam.wordpress.com. Liputan 6 SCTV, 17 Januari 2009, 17.00 WIB. )

Kesepakatan jihad Liga Arab setuju untuk membekukan hubungan diplomatik dengan Israel, sebagai bentuk protes atas agressi Israel ke Palestina. Namun dua negara menolak hasil rekomendasi Liga Arab itu, yaitu: MESIR dan SAUDI. Mereka menolak keputusan membekukan hubungan diplomatik dengan Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim.

Ketika negara-negara Amerika Selatan mengutuk Israel. Bolivia menuduh Israel sebagai penjahat perang, Venezuela mengusir duta besar Israel, sebagai bentuk kecaman atas kebrutalan Israel. Ternyata, dua negara yang disebut-sebut sebagai pusat ilmu pengetahuan Islam, MESIR dan SAUDI, mereka menolak mendukung tekanan keras kepada negara Yahudi laknatullah itu. Ini sangat ironis! Orang kafir masih memiliki nurani, sementara dua negara yang mengklaim sebagai negara “paling Islami” di muka bumi, ridha menjadi sekutu Israel laknatullah ‘alaihim.

Liga Arab juga bermaksud mengadakan KTT di Doha Qatar, untuk menyatukan langkah bangsa-bangsa Arab. Dalam rencana KTT ini 13 negara Arab siap hadir, tetapi lagi-lagi, 3 negara sekutu Amerika, yaitu Mesir, Saudi, dan Yordania memboikot pertemuan itu. Sehingga KTT Doha berubah nama menjadi “KTT Ghaza”.

Lihatlah betapa pemimpin-pemimpin Mesir, Saudi, dan Yordania itu tidak ada rasa takut sedikit pun kepada Allah Ta’ala. Mereka lebih takut kepada Amerika dan Yahudi Israel. Sangat mengerikan, sangat mengerikan! Mereka lebih rela dilaknat Allah SWT dari pada kehilangan muka demi pemuas syahwat kekuasaan duniawinya dari rangkulan iblis laknatullah amerika, isssrael dan sekutu2nya itu !

Kita memang tidak boleh menyebut semua warga Arab, atau warga Arab Mesir, Saudi, dan Yordan brengsek semua. Tidak saudaraku! Disana sangat banyak kaum Muslimin yang mendidih darahnya melihat sikap pemerintah masing-masing. Syria sudah menunjukkan sikap berani, dia mengusulkan agar Israel dikeluarkan dari anggota PBB.

Tetapi elit-elit politik di ketiga negara tersebut memang telah menampakkan sikap kebrutalan yang sangat mengerikan terhadap nasib saudara-saudara mereka, Muslim Palestina. Setelah agressi Israel, Hidayat Nurwahid bertemu dengan pemimpin-pemimpin Arab. Tetapi anehnya, Husni Mubarak, Presiden Mesir tidak mau menemuinya. Begitu juga Saudi sesumbar telah mengirimkan bantuan kemanusiaan sekian juta dollar. Tetapi apalah artinya bantuan itu? Bukankah yang prioritas adalah menghentikan kebrutalan Yahudi, menyelamatkan jiwa-jiwa kaum Muslimin, rumah-rumah, dan harta benda mereka?

Demo di Bahrain
Inilah masa dimana kaum Muslimin tidak memiliki back pemerintahan atau kepemimpinan yang melindungi. Orang-orang kafir begitu mudahnya menjadikan kita bulan-bulanan, seperti sansak tak berdaya. Setiap saat mereka bisa membunuhi anak-anak kita, menodai wanita-wanita kita, meruntuhkan rumah-rumah kita, merampasi harta-harta kita, menghinakan kehormatan kita. Kita tidak memiliki pelindung, pengayom, dan sistem yang kokoh sebagai atap. Akhirnya, kita hanya berlindung dengan keimanan di dada kita, persaudaraan di antara sesama Muslim, dan menggantungkan diri kepada ‘Izzah Allah Ar Rahmaan. Hanya ini pelindung kita, hanya ini sandaran kita. Allahu Akbar!!!

Sementara orang-orang sesat dari firqoh Salafiyun, tidak henti-hentinya menyebarkan pemikiran beracun untuk merusak pemahaman Ummat. Dalam keadaan seperti ini masih sempat-sempatnya mereka melontarkan pandangan aneh, misalnya: “Perjuangan bangsa Palestina bukan jihad; jangan mengutuk Israel nanti bisa kafir, sebab Israel adalah nama lain Nabi Ya’qub ‘alaihissalam; Hamas dituduh memprovokasi Israel sehingga menghancurkan rakyat Ghaza (lihatlah, mereka kok mau membenarkan alasan yang dipakai Yahudi Israel terkutuk itu ketika melakukan agressi ke Ghaza?); jihad tidak disyariatkan, selama Muslim Palestina lemah; lebih baik Muslim Palestina hijrah keluar dari negerinya (biar Israel tertawa terbahak-bahak sampai muntah-muntah, sementara tidak ada satu pun Salafi mau menerima kedatangan Muslim Palestina di rumahnya); demo menentang Israel tidak boleh, menyebabkan kerusakan di muka bumi (sementara mereka tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan kebrutalan Yahudi Israel saat membunuhi anak-anak Muslim Palestina: dan lain-lain. Aneh, aneh, aneh

Firqoh sesat Salafi sebelum ini juga tidak kalah gencarnya dalam menyesatkan pemikiran Ummat Islam. Perhatikanlah contoh-contoh pemikiran di bawah ini:

Mereka sangat membenci demokrasi. Setiap menjelang Pemilu, majalah-majalah seperti As Sunnah, Al Furqon, Adz Dzakhirah, dan lain-lain sering mengatakan bahwa demokrasi itu sistem kufur, dengan segala alasannya. Tetapi nanti, kalau sudah terpilih Presiden dan jajaran di bawahnya, seketika semua itu diklaim sebagai Ulil Amri, yang wajib ditaati, setelah Allah dan Rasul-Nya.

Mereka juga anti dengan pakaian yang kita pakai selama ini. Mereka sebut pakaian biasa seperti kemeja, celana, kaos, dan sebagainya itu sebagai pakaian Nashrani, pakaian kafir Barat. Pakaian seperti ini tidak boleh dipakai ketika Shalat. Tetapi mereka tidak risau ketika Saudi memanggil pasukan Amerika untuk mengamankan negerinya. Bukan hanya mengamankan, tetapi dipersilakan membuat pangkalan-pangkalan militer di kota-kota Saudi. Menurut Sabili, ada sekitar 5 atau 6 pangkalan militer Amerika di seluruh negeri Saudi. Bagaimana negara bisa berdaulat kalau seperti itu? Saya rasanya mau muntah kalau ingat alasan-alasan orang itu dalam masalah ini.

Orang-orang yang masuk Parlemen dikecam, katanya “duduk-duduk dengan orang munafik, kafir, ahli bid’ah”. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa ketika Parlemen menetapkan UU yang merugikan kaum Muslimin, seperti UU Migas, UU Kelistrikan, UU SDA, UU tentang air, UU politik, dll. Mereka juga tidak bisa apa-apa ketika kaum Muslimin susah-payah selama 10 tahunan menggolkan UU Pornografi.

Menurut mereka, Pemerintah itu sama dengan Ulil Amri, selama mereka Muslim. Ketika Hamas menjadi pemegang kekuasaan di Palestina, lain lagi alasan mereka. Mereka giliran mengkritik Hamas dan warga Muslim Palestina. Kata mereka, jilbab wanitanya kecil-kecil, celana masih isbal (di bawah mata kaki), laki-laki mencukur jenggot, ada perpecahan di tubuh bangsa Palestina, dll. Kok tidak sekalian saja mereka salahkah cara wudhu, cara shalat, pakai jins saat shalat, motif jilbab wanita-wanita Palestina, mereka suka fotografi, bernyanyi nasyid, dll. Sementara mereka tidak memiliki sumbangan apa-apa bagi Ummat, tetapi kesalahan-kesalahan kecil terus dicela-cela. Mengerikan!

Mereka sangat mengecam gerakan-gerakan Islam yang mengkritik Pemerintah, demo kepada pemerintah, atau paling kasarnya memberontak kepada Pemerintah yang berkuasa. Katanya bughat, katanya Khawarij, seperti “anjing-anjing neraka”. Tetapi saat Saudi berdiri dengan cara memberontak kepada Daulah Islamiyyah Turki Utsmani, mereka lain lagi alasannya. Paling standarnya, mereka akan mengatakan, “Menurut catatan administrasi Turki Utsmani, wilayah Najd bukan masuk wilayah Turki Utsmani.” Saya katakan: Kalau bukan wilayah Turki Utsmani, lalu wilayah siapa? Wilayah tak bertuan, tanpa kepemimpinan? Bukankah kalian tahu, “60 tahun di bawah pemimpin zhalim lebih baik daripada semalam tanpa pemimpin”? Lagi pula, bagaimana dengan wilayah Hejaz, Madinah dan Makkah? Apkah Saudi hanya meliputi Najd saja?

Mereka sangat sensitif dalam menyalah-nyalahkan. Fotografi makhluk bernyawa salah; menabung di bank salah; kredit kendaraan salah; kerja menjadi PNS buruk; sistem koperasi tidak sesuai Syariat; Bank Syariah meragukan; dan lain-lain. Tetapi ketika diingatkan, bahwa untuk menegakkan Islam secara kaaffah kita butuh legalitas Syariat Islam di negara ini. Maka itu kita harus berjuang agar Syariat diterapkan. Tetapi seketika mereka berubah haluan, tiba-tiba menuduh gerakan-gerakan Islam sebagai Hizbiyyah, ahli bid’ah, tergesa-gesa, terjerumus politik, dll. Mereka selalu menemukan dalil untuk membentengi kesesatannya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Betapa seringnya Ummat Islam disalah-salahkan, karena meniru perilaku Yahudi dan Nashrani. Tetapi ketika kaum Muslimin ada yang menyerukan BOIKOT produk pro Yahudi dan Amerika, mereka mencari-cari dalil. Katanya, boikot itu tidak perlu, sebab dulu Nabi juga kerjasama bisnis dengan Yahudi. Begitu pula, kita tidak boleh meniru Nashrani, sementara mereka tidak ada yang terjun untuk menyelamatkan Ummat dari Kristenisasi. Terlalu “suci’ tangan mereka untuk ngurusi masalah Kristenisasi.

Ummat Islam memakai fotografi disalahkan, Ummat mencukur jenggot disalahkan, Ummat memakai celana secara isbal disalahkan, Ummat masih merokok disalahkan, Ummat mendengarkan musik disalahkan, dan sebagainya. Tetapi kalau yang melakukannya warga Saudi, di negeri Saudi, pemimpin-pemimpin Saudi, mereka diam saja.

Ada aktivis-aktivis dakwah tinggal di Inggris, karena menyelamatkan diri dari pemimpin otoriter Arab, disalahkan. Mereka mengutip sebuah riwayat bahwa Nabi berlepas diri dari orang-orang yang mati di negeri musyrikin. Tetapi pemimpin-pemimpin Arab kerjasama dengan Israel, kerjasama bisnis dengan dia, dengan Amerika, China, dan lainnya. Mereka diam saja. Padahal menyelamatkan diri ke negeri yang aman, meskipun mayoritas Nashrani, tidak apa-apa. Seperti dulu saat Ja’far dan kawan-kawan tinggal di Habasyah, negeri Najasyi.

Intinya, mereka sangat TIDAK KONSISTEN dengan pemikiran-pemikirannya. Tidak ada tolok-ukur yang jelas disana. Sikap bisa berubah seperti apa saja, kalau cocok dengan hawa nafsunya. Menyebut mereka sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang komitmen dengan kebenaran dari arah manapun datangnya, adalah sangat aneh. Ini termasuk firqoh sesat, penyebar pemikiran-pemikiran beracun, mematikan hati dan kesadaran para pemuda Islam. Na’udzubillah min dzalik.

Puncaknya –untuk sementara ini- adalah TRAGEDI GHAZA. Disini bukan ditunjukkan sikap yang benar, layaknya diri orang-orang beriman saat saudaranya dihujani rudal oleh Yahudi Israel laknatullah, tetapi malah bergumul dengan isu-isu aneh. Orang-orang seperti ini tidak kalah berbahaya dibandingkan dengan jaringan Liberal. Maka selayaknya kita semua berlindung kepada Allah dari segala bentuk kesesatan jalan, baik yang nampak maupun tersembunyi. Allahumma amin.

Kembali ke Mesir dan Saudi. Seperti disebutkan sebelumnya, sebenarnya musuh sejati kaum Muslimin Palestina bukan hanya Zionis Israel, tetapi juga pemimpin-pemimpin Arab munafik yang tidak takut kepada Allah Ta’ala. Demi hidup bermandi dollar, kesenangan, dan kekuasaan, mereka rela melecehkan agamanya sendiri. Na’udzubillah min dzalik.

Akhirnya, hanya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang berimanlah wali-wali kita. Tidak bisa kita berharap banyak, selain hanya kepada-Nya dan kemurahan hati hamba-hamba-Nya yang beriman.

Kaum Muslimin Palestina…maafkan kami atas kedhaifan kami. Ingin kami menolong Anda, namun hanya sebatas keinginan. Kekuatan kami terlalu lemah untuk menolongmu. Yakinlah, jika bukan kami, tentu hamba-hamba Allah yang lain akan menolongmu. Dan tentu saja, Allah Ta’ala akan menolongmu. Amin

0 komentar:

Poskan Komentar