Senin, 06 September 2010

Makna hijrah bagi kepribadian manusia

M Rizal Ismail (Bahan Khutbah) '

Nabi Muhammad saw tidak pernah merayakan tahun baru, Maulid, Isra' Mi'raj peristima hijrah ataupun lainnya. Apalagi dalam catatan sejarah yang akurat, tahun hijriyah pun ditetapkan setelah Rasulullah saw wafat, yaitu pada masa khalifah Umar bin Khattab.

Karena itu, setiap kali datangnya bulan Muharram atau tahun baru Hijrah kita rayakan, hijriah mengingatkan pada suatu peristiwa besar yang merupakan era baru dalam sejarah Islam yang sangat menentukan bagi perjuangan, penyebaran dan da’wah Islam dimasa selanjutnya, yaitu perpindahan Rasulullah Muhammad saw, dari kota Makkah ke kota Yasrib (Madinah) Hal itu melambangkan pindahnya dari sebuah kota yang penuh dengan kezaliman ketika itu, kekerasan dan kemaksiatan menuju kesebuah kota yang menjanjikan kedamaian dan kebenaran, memisahkan antara yang hak dengan yang batil.

Hijrah Nabi Muhammad saw bukan karena beliau takut kepada kezaliman kaum kafir Quraisy Makkah, tapi disamping merupakan perintah dari Allah SWT, juga merupakan strategi da’wah yang brilian dari seorang pemimpin di mana untuk membangun kekuatan kekuatan baru yang tangguh tidak mungkin lahir dari satu daerah yang telah di kuasai oleh musuh yang zalim, maka Nabi Muhammad SAW, memindahkan basis (pusat) kegiatan da’wah itu di daerah yang dianggap masih netral dari dominasi golongan tertentu. Dengan Iman yang kokoh semata meninggikan kalimah Allah, Rasulullah SAW dan para shahabatnya hijrah untuk mendapatkan karunia dan ridha Allah swt.

Kata “hijrah” berasal dari bahasa Arab, bermakna yaitu meninggalkan suatu perbuatan, menjauhkan diri dari pergaulan diri dari pergaulan yang munkar dan berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Begitulah menurut arti lughawi (bahasa). Sedangkan menurut istilah agama, ada tiga; Pertama, hijrah (meninggalkan) semua perbuatan yang dilarang Allah swt, hijrah pada bagian ini, wajib dikerjakan oleh setiap umat Islam sebagaimana sabda Rasulullah saw; “orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang di larang Allah swt” (HR. Bukhari).

Kedua, hijrah (menjauhkan diri) dari pergaulan orang yang membenci Islam dan menentangNya. Seorang muslim yang tinggal di suatu tempat di lingkungan non muslim, lalu tidak bisa melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan Allah.

Karena adanya gangguan dan cobaan dari orang-orang yang membenci Islam, kepadanya maka ia wajib menjauhkan diri (berhijrah) dari tempat itu ke tempat yang lain yang lebih aman, untuk dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Peristiwa yang demikian itu, telah terjadi di masa Rasulullah saw, yang pada waktu umat Islam sampai dua kali di perintahkan Allah untuk berhijrah ke Habsyah.

Ketiga, hijrah dari negeri orang kafir yang sangat menggangu keselamatan umat Islam ke negeri umat Islam, seperti halnya Rasulullah saw, bersama umat Islam yang berhijrah ke Madinah dari Makkah beserta para sahabatnya. Begitu pula dianjurkan berhijrah dari daerah yang tidak aman ke daerah yang lebih aman, seperti adanya bencana alam, kebanjiran, gunung meletus, musibah Tsunami dan lain-lain.

Abu Laits Assamarqandi, memperingatkan kepada umat Islam, bahwa tanda orang yang berhijrah dalam kehidupannya ada beberapa hal, pertama, hijrah dari melalaikan shalat kepada taat melaksanakannya. Maksudnya apabila selama ini karena kesibukan-kesibukannya, sehingga melalaikan salat, maka hendaklah ia segera hijrah untuk kembali melaksanakan salat tepat waktunya dan bertaubat kepada Allah swt.

Kedua, hijrah dari tamak terhadap harta kepada tidak rakus mencintai harta secara berlebihan. Maksudnya hendaklah manusia menyadari akan kekurangan dan kelemahan dirinya ketika mencari dan mengumpulkan harta, karena sesungguhnya dunia yang diberikan Allah ini adalah amanah dari Allah yang pasti akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat kelak, dan tidak akan dibawa sedikitpun ketika memasuki liang lahat.

Ketiga, hijrah dari munafik (banyak bicara) kepada sedikit bicara. Maksudnya hendaklah manusia itu menyadari, kemunafikan (banyak bicara) adalah bagian dari bencana dan akan merugikan banyak manusia. Keempat, hijrah dari angkuh atau sombong kepada tawadhu’ (rendah hati). Maksudnya hendaklah manusia menyadari, sombong adalah sifat Allah dan setan dilaknat Allah karena sombong maka janganlah sombong dan hendaklah bersifat tawadhu’ (rendah hati) Rasulullah bersabda; “Tidak masuk surga orang yang ada didalam hatinya terdapat seberat biji Sawi dari pada takabur (sombong).” (HR. Muslim dan Tirmizi).

Kelima, hijrah dari bakhil dan egoistis kepada rela berkorban. Kehidupan materialisme yang sedang berkembang saat ini membawa kepada sikap individualis yang cenderung mementingkan diri sendiri. Allah swt melarang sifat bakhil, dengan firmanNya; “Ingatlah kamu ini adalah orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka diantara kaum ada yang bakhil, dan siapa yang bakhil sesungguhnya dan dia hanyalah bakhil terhadap dirinya sendiri” (Q.S. Muhammad: 38).

Keenam, hijrah dari hidup berlebih-lebihan kepada sederhana. Maksudnya jika biasanya hidup dengan cara berlebih-lebihan, maka beralihlah untuk hidup dengan cara sederhana. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :” Sungguh bahagialah bagi orang yang mendapat hidayah Islam, dan penghidupan sederhana dan tentang menerima apa yang ada (qanaah) (HR. Tirmizi).

Ketujuh, hijrah dari ingkar janji kepada menepati janji. Maksudnya hendaklah kita menyadari, janji adalah utang yang harus ditepati atau dijawab, maka janganlah mudah mengubar janji jika tidak mampu untuk memenuhinya. Rasulullah saw mengingatkan : “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, kalau berbicara bohong, kalau berjanji dia mengingkari, kalau dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw dan para sahabat hijrah dari Makkah ke Madinah lebih kurang empat belas abad yang lalu atas perintah Allah SWT dan dengan niat yang ikhlas. Artinya hijrah Rasul dan para sahabat itu adalah merupakan suatu perjuangan pengorbanan suci yang telah mendapat ridha dari Allah swt, untuk mendapatkan suatu kepada kebahagiaan dan kemenangan. Oleh karena itu setiap pelaksanaan hijrah harus berdasarkan kepada keimanan, rela berkorban baik harta benda maupun jiwa. Dengan demikian Insya Allah akan memperoleh kemenangan yang hakiki. Antara lain, karena itu umat Islam memperingati tahun baru hijriah. Mari kita berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermartabat, lebih mulia, lebih adil, lebih makmur dan lebih dekat ke baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

0 komentar:

Poskan Komentar