Rabu, 08 September 2010

Unsur Utama Manusia Sejati

M.Rizal Ismail (bahan khutbah)

Manusia sesungguhnya terdiri dari 3 (tiga) unsur, yaitu : Jasad, Jiwa dan Ruh.

Dalam buku Ihya Ulumuddiin, Imam Al Ghazaly mengatakan bahwa ulama yang masyhur saat itu, sedikit sekali yang mengerti perbedaan antara Jiwa dan Ruh. Itu pada zaman Imam Al Ghazaly (450 – 505 H). Apatah lagi sekarang?

JASAD

Jasad adalah anggota tubuh dari manusia. Seperti ; tangan, kaki, mata, mulut, hidung, telinga, dan lain-lainnya. Bentuk dan keberadaannya dapat diindera oleh manusia. Hewanpun dapat menginderanya.

Dari jasad inilah, timbulnya "penyakit" yang disebut syahwat. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur'an :

"Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada syahwat, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik". [QS Ali Imran (3) : 14]

JIWA (AN-NAFS)

Ada sebuah hadits Rasulullah SAW (bagi sebagian ulama dikatakan sebagai kata-kata hikmah) yang mengatakan "Man ‘Arofa Nafsahu faqod ‘Arofa Rabbahu". Yang diartikan barangsiapa mengenal dirinya (Nafsahu) akan mengenal tuhannya.

An-Nafs dalam bahasa Indonesia sering diartikan menjadi diri atau jiwa. Hal ini berbeda dengan ruh, yang dalam bahasa Arab (Al Qur’an) dibahasakan dengan Ar-Ruh.

Hakikat dari diri manusia inilah sesungguhnya yang dikenal dengan sebutan Jiwa muthmainnah, yang apabila dikenal maka akan dikenalah Allah.

"Hai jiwa yang tenang (jiwa muthmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu, merasa senang (kepada Tuhan) dan (Tuhan) merasa senang kepadanya". [QS Al Fajr (89) : 27-28]

Jiwa muthmainnah juga mempunyai "penyakit" yaitu jiwa-jiwa yang banyak jumlahnya yang disebut jiwa hawa (hawa nafsu).

Jiwa-jiwa yang banyak inilah yang menjadi "penyakit" bagi hati sehingga mengarahkan manusia kepada sifat-sifat tercela. Yang akan menyesatkan dan menjauh dari Allah. Inilah yang oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Al Baihaqi dari Ibnu Abbas sebagai berikut:

"Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang berada diantara kedua lambungmu".

"Dan aku tidaklah membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh kepada yang buruk". [QS Yusuf (12) : 53]

"... dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah...". [QS Shaad (38) : 26]

RUH (AR-RUH)

Dalam Al Qur’an Ruh dibahasakan sebagai Ar-Ruh adalah pemberi nyawa bagi jasad dan pemberi energi bagi jiwa.

Dalam Al Qur’an kata Ruh dipergunakan kepada 3 (tiga) jenis hal, yang masing-masing merujuk kepada arti yang berbeda.

Nafakh Ruh
Penggunaan kata pertama adalah Nafakh Ruh, yang berarti nyawa atau sukma bagi tubuh manusia.

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. [QS. As-Sajdah (32) : 9]

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya". [QS. Shaad (38) : 72]

Ruhul Amin
Penggunaan kata kedua, adalah Ruhul Amin menunjuk kepada penyebutan lain untuk Malaikat Jibril.

Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. [QS. Asy-Syu’araa’ (26) : 192-194]

Ruhul Qudus
Penggunaan kata ketiga adalah Ruhul Qudus atau Ruh Suci, yang merupakan rasulan min anfusihim (Rasul dari diri setiap manusia) yang baru hadir menyala apabila jiwa muthmainnahnya telah sempurna.

Katakanlah: "Ruhul Qudus menurunkan al-Qur'an itu dari Rabbmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". [QS. An-Nahl (16) : 102]

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari diri mereka sendiri (ruhul qudus), yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [QS. Ali Imran (3) : 164]

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari dirimu sendiri (ruhul qudus), berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min. [QS. At-Taubah (9) : 128]

… dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada 'Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus... [QS. Al Baqarah (2) : 87] Lihat QS. 2 : 253; 5:110.

Apabila Ruhul Qudus telah menyala, maka jadilah hatinya rumah Allah Ta'ala (bait Allah Ta'ala). Maka orang-orang seperti ini disebut Ahli Al Bait.

Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan yang sudah tua pula Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh". Para malaikat itu berkata; "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahli Al Bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah". Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. [QS. Huud (11) : 72-74]

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahli Al Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [QS. Al Ahzab (33) : 33]

Ruhul Qudus adalah realitas (tajalli) Allah Ta'ala dalam diri manusia. Allah Ta'ala adalah cahaya langit dan bumi. Dan Ruhul Qudus adalah sumber cahaya yang ada dalam hati (kaca) yang digambarkan sebagai pelita (misbah)

Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang memantulkan cahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS. An-Nuur (24) : 35]

Hati (Qalbi)

Hati itu terdapat 2 (dua) jenis :

Hati Jasmaniyah
Bentuknya seperti buah shaunaubar. Untuk itu sering disebut sebagai hati sanubari. Hewan memilikinya, bahkan orang yang telah matipun memilikinya. Hati ini yang dalam ilmu kedokteran disebut hepar. Kelenjar terbesar dalam tubuh manusia berfungsi sebagai penyaring zat-zat makanan untuk metabolisme tubuh.

Hati Ruhaniyyah,
Hati inilah yang merasa, mengerti, dan mengetahui. Disebut pula hati latifah (yang halus) atau hati robbaniyyah. Hati inilah yang dapat mengenal dan merangkul Zat-Allah (hadits Qudsi), yang menjadi baitullah apabila Ruhul Qudus telah menyala.

Hati ruhaniyah ini tidak berbentuk seperti buah shaunaubar. Tetapi ia seperti jasad yang halus, apabila kita berkata tentang jiwa, hati ruhaniyah inilah jiwa itu sendiri.

Ia berbentuk seperti jasad manusia, memiliki mata, telinga, mulut, akal, dsb, namun halus dan tidak terindera oleh organ tubuh lahiriyah.

Dalam buku ini, apabila dikatakan hati (qalbi), hal tersebut menunjuk hati ruhaniyah, bukan hati jasamaniyah.

Antara hati ruhaniyah dan jiwa, seperti dua sisi mata uang logam. Satu hal yang secara hakikat sama, namun akan menjadi seakan berbeda sesuai perspektif pandang dan tinjauannya.

Hawa Nafsu & Syahwat

Hawa nafsu dan syahwat sama-sama menjadi "penyakit" bagi hati.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya... [QS. Al Baqarah (2) : 10]

Hawa nafsu dan syahwat bukanlah dibunuh atau dihilangkan dalam diri kita. Tetapi hawa nafsu dan syahwat dikendalikan, dikontrol atau digembalakan.

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). [QS. An-Naaziaat (79) : 41]

Syahwat dan hawa nafsu menjadi ternak yang harus digembalakan oleh jiwanya (Jiwa Muthmainnah). Untuk itulah para Nabi dikatakan sebagai para penggembala ternak. Karena para Nabi adalah orang-orang yang dengan rahmat Allah dapat secara baik menggembalakan syahwat dan hawa nafsunya dalam pengawasan jiwa muthmainnah.

Seorang manusia yang dalam aktivitasnya merelakan dirinya untuk diatur oleh syahwat dan hawa nafsunya, maka ia melakukan dosa. Dosa-dosa inilah yang menodai hati, atau dengan bahasa lain jiwa muthmainnahnya diselubungi oleh "penyakit" syahwat dan hawa nafsu.



Gambar 2. Pengotoran Jiwa

Semakian banyak noda dosa, berarti semakin tebal selubung syahwat dan hawa nafsunya. Sehingga menyebabkan hati semakin gelap atau jiwa muthmainnahnya semakin tertutup. Sejak kecil, kita sudah mulai melakukan kesalahan dan dosa akibat menyediakan diri untuk diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya. Entah sudah seberapa tebal dan kerasnya noda-noda tersebut terhimpun menutupi hati. Sehingga kebanyakan manusia terdinding (terhijab) antara dirinya dengan Allah.

Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. [QS. Yaasiin (36) : 9]

… dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. [QS. Al Anfaal (8) : 24]

Bab II

KEAJAIBAN HATI

Fungsi Hati

Hati merupakan bagian yang paling esensial, yang paling penting di dalam diri manusia. Ia adalah raja bagi seluruh diri manusia. Hatilah yang bisa membuat manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia. Dan karena manusia terikat dengan Allah Ta'ala , pusat inilah, tempat mereka bertemu dengan Allah Ta'ala.

Rasulullah SAW bersabda, "Dalam diri manusia itu ada segumpal darah, yang apabila baik maka baik seluruhnya, tetapi apabila buruk maka buruk seluruhnya, itulah hati". [HR. Bukhari]

Dari Abu Hurairah R.A, Rasulullah SAW bersabda : "Manusia, dua matanya itu pemberi petunjuk. Kedua telinganya itu corong. Lidahnya itu juru bahasa, Kedua tangannya itu sayap. Kedua kakinya itu pos. Dan hatinya itu raja. Apabila raja itu baik, niscaya baiklah tentara-tentaranya". [HR Abu Na'im dan Thabrani].

Karena hati merupakan pusat sejati dari seorang manusia, Allah Ta'ala menaruh perhatian khusus padanya.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia memandang kepada HATI kalian". [HR Muslim]

Bahkah karena demikian khusus posisinya, maka baik atau tidaknya suatu amal bergantung sekali dengan hati. Untuk itulah dalam sebuah hadits dikatakan, bahwa amal itu bergantung kepada niatnya. Sedangkan niat itu bertempat di hati.

Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. [QS. Al Ahzab (33) : 5]

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja oleh hatimu. [QS. Al Baqarah (2) : 225] Apabila cahaya iman yang memantul di hati, Allah SWT menuntun seorang dari kejahilan tentang Allah SWT menjadi ma'rifatullah. Dari ketidaktahuan tentang pelik-pelik dan hakikat-hakikat agama menjadi pemahaman dengan keyakinan. Dengan cahaya iman Allah SWT menuntun seorang ke Shirathaal Mustaqiim.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya... [QS. Yunus (10) : 9]

sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada shiraathal mustaqiim. [QS. Al Hajj (22) : 54]

Dengan cahaya yang memantul di hatinya, seorang mukmin dapat menyaksikan ayat-ayat Allah tanpa terbatasi oleh ruang dan waktu. Dapat menyaksikan keghaiban kerajaan langit (alam malakut) beserta isinya.

Suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan-jalan. Beliau bertemu dengan seorang sahabat Anshar bernama Haritsah. Rasulullah SAW bertanya: "Bagaimana keadaanmu ya Haritsah?" Haritsah menjawab : "Hamba sekarang benar-benar menjadi seorang mukmin billah". Rasulullah SAW menjawab: "Yaa Haritsah, pikirkanlah dahulu apa yang engkau ucapkan itu, setiap ucapan itu harus dibuktikan!" Haritsah menjawab : "Ya Rasulullah, hawa nafsu telah menyingkir, kalau malam tiba hamba berjaga untuk beribadah kepada Allah dan di waktu siang hamba berpuasa..." Sekarang ini hamba dapat melihat Arsy Allah tampak dengan jelas di depan hamba... Hamba dapat melihat orang di surga saling kunjung mengunjungi, Hamba dapat melihat orang di neraka berteriak-teriak..."Maka Rasulullah SAW berkata : "Engkau menjadi orang yang Imannya dinyatakan dengan terang oleh Allah SWT di hatimu". [Hadits Riwayat Anas Bin Malik]

Tidak aneh! Sebab dengan cahaya iman inilah seorang mukmin yang dicintai-Nya, melihat dengan penglihatan-Nya, mendengar dengan pendengaran-Nya, memukul dengan tangan-Nya.

Dan tiada cara bertaqarub (mendekatkan diri) dari seorang hamba yang lebih Aku sukai melainkan melaksanakan hal-hal yang Kufardhukan. Namun hamba-Ku itu senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan hal-hal yang sunnah, sehinggapun Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi alat pendengarannya yang dengannya dia mendengar. Aku menjadi alat penglihatannya yang dengannya ia melihat. Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memukul dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku sungguh Aku akan kabulkan, dan jika ia memohon akan perlindungan-Ku, Aku akan melindunginya. [Hadits Qudsi riwayat Bukhari]

dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. [QS. Al Anfaal (8): 17]

Dari Abi Said Rasulullah SAW bersabda :"...takutlah kamu akan firasat orang-orang mukmin, sebab mereka memandang dengan cahaya Allah..." [HR Tirmidzi]

Dari Ummu Salamah R.A, Rasulullah SAW bersabda : "Apabila dikehendaki oleh Allah kebajikan pada seorang hamba, niscaya dijadikan-Nya orang itu memperoleh pelajaran dari hatinya." [HR. Abu Manshur Ad-Dailamy].

Dari Abi Said Al Khudry, Rasulullah SAW bersabda : "Hati orang mukmin itu bersih, padanya pelita yang bercahaya gemilang." [HR. Ahmad dan Thabrani].

Berkata Wahab bin Munabbih, bahawasanya Rasulullah SAW telah bersabda : Allah Ta'ala telah berfirman : "Sesungguhnya semua petaka langit dan bumi akan menjadi sempit untuk merangkul Zat-Ku, akan tetapi Aku mudah untuk dirangkul oleh hati seorang Mu'min." [HR. Ahmad]

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : "Jikalau setan-setan tidak mengelilingi hati anak-anak Adam, niscaya mereka dapat memandang alam malakut yang tinggi." [HR. Ahmad]

Hijab Hati

Fungsi hati yang demikian ajaib, bagi kebanyakan orang menjadi sirna. Hal ini dikarenakan hatinya terhijab dengan Allah Ta'ala.

Apa yang menyebabkan hati terhijab dari Allah SWT? Adalah karena manusia tersebut (diantaranya):

Pertama, selalu mempertuhankan atau merelakan dirinya untuk menjadi hamba dari hawa nafsu, sehingga ia menjadi orang yang melampaui batas.

Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. [QS. Muhammad (47) : 16]

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). [QS. Al Furqaan (25) : 43-44]

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran [QS. Al Jatsiyaat (45) : 23]

dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas. [QS. Al Kahfi (18) : 28]

Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu". Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. [QS. Al Muthaffifiin (83) : 12-14]

Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas. [QS. Yuunus (10) : 74]

Dari Jabir R.A. Rasulullah SAW bersabda : "Kita kembali dari jihad yang kecil kepada jihad yang besar (melawan hawa nafsu)". (HR Al Baihaqy dengan isnad dlaif)

Orang yang tidak mau mengendalikan dirinya dari pengaruh hawa nafsu dan syahwat berarti ia tidak mau melakukan peperangan (jihad) yang besar.

Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui. [QS. At Taubah (9) : 87 Referensi QS 9:93]

Kedua, karena selalu merelakan dirinya untuk diatur oleh hawa nafsu dan syahwatnya, tanpa disadari ia lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat.

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikuncimati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. [QS. An-Nahl (16) : 107-108]

Baik mempertuhankan hawa nafsu maupun terlalu mencintai kehidupan duniawi, termasuk perkara-perkara yang paling dibenci Allah SWT. Dan segala sesuatu yang tidak disukai Allah SWT adalah dosa. Jadi pada dasarnya, gelapnya hati seseorang tersebut karena dosa-dosa.

Imam Al Ghazaly mengatakan bahwa hal-hal tercela (dosa), seperti asap yang menggelapkan, yang mengotori kaca hati. Dan senantiasa bertambah tebal dengan terus menerus melakukan dosa. Sehingga hati itu hitam dan gelap. Dan secara keseluruhan hati itu menjadi terdinding dengan Allah SWT.

Apabila hati seorang manusia gelap gulita karena diliputi oleh dosa-dosa, didalamnya dipenuhi oleh berhala-berhala, tuhan-tuhan manusia selain Allah SWT berupa syahwat dan hawa nafsu, maka hati tersebut menjadi mengeras lebih keras dari batu. Sulit untuk berserah diri kepada Allah SWT. Dan jiwa yang memiliki hati seperti ini menjadi ajang permainan dan tipu daya syaithan. Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. [QS. Al Baqarah (2) : 74]

... bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaithanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. [QS. Al An'aam (6) : 43]

Dengan tertutupnya hati dari cahaya Allah, maka menyempitlah dadanya. Tertutuplah ia dari bimbingan Allah SWT. Terlepaslah ia dari petunjuk-petunjuk Allah SWT, dan terjatuh ke tangan syaithan yang akan membawanya kepada kesesatan.

Tidak ada pimpinan Allah SWT bagi yang tidak memiliki cahaya iman.

Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. [QS. Al A'Raaf (7) : 27]

Dan syaithan pun membawa lari orang-orang yang tidak beriman semakin jauh dan tersesat dari shiraathal mustaqiim.

saya (Iblis, syaithan) benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari shiraathal mustaqiim. [QS. Al A'Raaf (7) : 16]

Sedangkan pemimpin (pemberi petunjuk) orang-orang yang telah dianugerahi cahaya iman adalah Allah sendiri. Dipimpin untuk menuju shiraathal mustaqiim.

sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada shiraathal mustaqiim. [QS. Al Hajj (22) : 54]

Jika hati seseorang telah tertutup dinding, maka di dunianya menjadi gelap gulita, tidak bisa melihat jalan shiraathal mustaqiim.

Jika kondisi kebutaan ini terbawa ke alam kubur ketika ajalnya, maka keberadaanya di alam kubur yang asing dalam kondisi buta, merupakan kegelapan diatas kegelapan. Jauh lebih tersesat jalannya. Lebih-lebih jika kondisi butanya terbawa ke alam akhirat.

Semoga Allah menjauhkan kita dari kondisi yang seperti ini.

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat jalannya. [QS. Al Israa' (17) : 72]

Yang buta atau ditutup dalam ayat ini bukanlah mata jasmaniyah (mata inderawi). Sebab mata jasmaniyah orang tersebut melihat dunianya dan tidak ada sesuatupun yang menutupinya. Yang buta dan gelap gulita adalah mata hatinya.

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. [QS. Al Hajj (22) : 46]

Seorang mukmin mendapat petunjuk Allah SWT sebab hatinya memang mampu menerima bimbingan-bimbingan-Nya. Tetapi seorang yang mata hatinya buta dan telinga hatinya tidak mendengar, maka ia akan menemui kesesatan dari jalan Allah, dikarenakan tidak memahami petunjuk-petunjuk-Nya.

Bagaimana mungkin dapat memberi petunjuk kepada orang lain, kalau dirinya sendiri buta dan tuli yang menyebabkan lisannya bisu dalam menyuarakan kebenaran.

Karena tidak bisa melihat dan mendengar, kelak di hari kiamat ia akan digiring ke Jahannam dengan cara di seret oleh malaikat.

Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Tiap-tiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. [QS. Al Israa' (17) : 97]

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat" [QS. Thahaa (20) : 124-125]

Sebagian besar jin dan manusia akan memasuki jahanam, di dalamnya ada yang hanya singgah untuk melakukan penebusan atas dosa-dosanya, ada pula yang menjadi penghuni-penghuni tetapnya.

Orang yang hatinya telah mengeras, tidak ubahnya bagai binatang ternak, walaupun mata jasamaniyahnya melihat dan telinganya mendengar tetapi ternak-ternak tersebut tidak akan mengerti apa-apa seandainya mereka diberi pengajaran-pengajaran. Hidupnya hanya tercurah untuk memuaskan syahwatnya semata.

Kebanyakan manusia bagaikan binatang ternak, walaupun diberi akal lebih dibandingkan dengan binatang ternak, tetapi akalnya telah tumpul untuk menuju kepada kebaikan karena dosa-dosa. Potensi akal dan jasmani yang dianugerahkan Allah kepada seorang manusia, yang hidupnya bagaikan binatang ternak, malah semakin menurunkan derajat orang tersebut di sisi Allah SWT menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. [QS. Al A'raaf (7) : 179]

Itulah seburuk-buruk binatang dalam pandangan Allah.

Sesungguhnya binatang yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. [QS. Al Anfal (8) : 22]

Jelaslah Allah tidak akan sudi bertemu dengan seseorang yang menempel pada dirinya dosa yang dikarenakan sesuatu yang tidak diskuai-Nya.

Padahal setiap ketertutupan dari Allah SWT adalah kebinasaan. Seandainya kita datang menghadap Allah SWT dengan membawa hanya sebutir dosa sekali pun, kita tidak akan selamat dari pembersihan jahanam.

Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), [QS. Thahaa (20) : 74-75]

Dosa itu sendiri bertingkat-tingkat. Mulai dari dosa tingkat rasa, karsa (keinginan), cipta (pikiran), dan karya (amal). Sebagai contoh orang yang ujub (bangga diri), merasa lebih dari yang lain (dalam hal apa pun), maka hatinya menjadi berdosa pada tingkat rasa.

Bangga diri ini membawa seseorang kepada kesombongan hati, yang tiada seorang pun mengetahui kecuali Allah SWT dan mereka yang diberi izin oleh-Nya untuk mengetahui.

Rasa sombong dan bangga diri adalah sesuatu yang tidak disukai Allah. Maka hal itu adalah dosa. Dan setiap dosa akan dilebur di Jahanam walaupun hanya sebesar dzarrah.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

[QS. Al Hadiid (59) : 23]

Dari Abdullah bin Mas'ud R.A, Rasulullah SAW bersabda : "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong walaupun hanya sebesar dzarrah". ... "Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia". [Hadits Riwayat Muslim].

Demikian pula dosa akibat karsa (keinginan atau kemauan). Kemauan harus disesuaikan dengan kemampuan. Kemauan harus sesuai dengan kepantasan atau kelayakan dan situasi serta kondisi lingkungan. Mengutamakan yang perlu dan penting dalam setiap aktivitas.

Dosa akibat cipta (pikiran) dapat terjadi karena tidak menggunakan akal pikiran sesuai dengan porsinya dan tidak sia-sia.

Dalam karya (amal) dapat terjadi dosa karena tidak pandai menyesuaikan, menempatkan dan mengatur tingkah laku dan bicaranya. Dalam setiap karya harus dilakukan dengan perilaku yang dan bicara baik.

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. [QS. Luqman (31) : 19] Dari Jabir bin Abdullah RA. Bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya orang-orang yang aku cintai dan orang yang paling dekat duduknya dengan aku pada hari kiamat nanti, adalah orang-orang yang sangat baik budi pekertinya. Dan orang-orang yang sangat aku benci dan orang-orang yang jauh tempat duduknya dengan aku pada hari kiamat nanti, adalah orang-orang yang suka berbicara, orang-orang yang berlagak fasih dan orang-orang yang bermulut besar [Hadits Riwayat Turmudzi].

Dosa-dosa itulah yang menghalangi seorang hamba untuk dapat diterima Allah SWT. Padahal keselamatan itu hanyalah di sisi Allah dan bersama Allah. Seandainya ada sesuatu yang menghalangi diri kita dan Allah SWT, dan dengan rahmat-Nya, maka tiada tempat lain kecuali kecelakaan yang besar.

barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghui neraka, mereka kekal di dalamnya. [QS. Al Baqarah (2) : 81]

Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. [QS. Yunus (10) : 17]

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. [QS. Maryam (19) : 71-72]

Kecelakan besar bagi orang-orang yang dzalim. Orang-orang yang mendzalimi dirinya sendiri, orang-orang yang tidak mau membersihkan diri dari dosa-dosanya (berat ataupun ringan). Orang-orang tidak mau bertaubat atas dosa-dosa maka itulah orang-orang yang dzalim.

... dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. [QS. Al Hujuraat (49) : 11]

Tidak ada yang selamat kecuali orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT, dengan ikhlas, dengan hati yang bersih, selamat dari pengotoran dosa-dosa, tiada setitik dosapun yang menghalangi dirinya dengan Allah SWT.

kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (selamat). [QS. Asy Syu'araa' (26) : 89]

Jika hati kita sudah gelap gulita karena tertutup dosa-dosa, maka yang berwenang dan mampu membersihkan dan membuka kembali hati kita hanya Allah SWT.

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah ilah selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" [QS. Al An'aam (6) : 46]

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. [QS. An-Nisaa' (4) : 49]

Tidak ada jalan lain supaya hati kita menjadi bersih, kecuali kita harus berhijarah kembali kepada Allah SWT

0 komentar:

Poskan Komentar