Selasa, 17 Agustus 2010

Hikmah dan Makna Idhul Fitri

M Rizal Ismail SE MBA CIFA(Bahan Khotbah)

SYAWAL 14 30 H sudah menyingsing, mengusik kabut hitam nafsu dan syahwat syaitan, ditandai Idul fitri. Allah membuktikan kemuliaan dan kebesaranNya, dimana seluruh umat Islam bangkit secara serentak menggemakan dan mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid. Inilah ungkapan dan realisasi dari rasa syukur, puncak kesadaran manusia selaku hamba Allah; yang sami’na wa atha’na.

Dalam suasana hati penuh kegembiraan dengan segala kemewahan yang terasa dipaksakan, dalam pesta semesta, gemuruh takbir kemenangan yang hingar bingar, umat Islam sering larut. Jika kesadaran religius (kesadaran keberagamaan) ini diekplorasi secara kualitatif maka muncullah ekspresi renungan kemanusian menuju puncak humanitas. Namun, benarkah selama sebulan lamanya kita telah menjalankan ibadah puasa dengan penuh ketaatan dan kepatuhan? Betulkah kita telah lulus dalam ujian berpuasa; membendung dan melawan segala godaan dan nafsu? Berhasilkah kita membersihkan iman dari noda kemaksiatan, bintik-bintik kemunafikan dan kemungkaran?

Idul fitri, menurut kamus Lisânul ‘Arab; kata îd secara bahasa artinya “setiap hari yang di dalamnya ada perkumpulan”. Îd berasal dari kata ‘âda-ya’ûdu artinya “kembali”. Tapi ada sebagian orang yang berpendapat bahwa îd diambil dari kata adat atau kebiasaan, karena mereka menjadikannya sebagai kebiasaan. Bentuk jamaknya adalah ‘ayâda. Bila dakatakan Îd Muslimun, maknanya mereka menyaksikan hari raya (îd) mereka. Ibnu Arabi mengatakan îd dinamakan demikian karena setiap tahun ia selalu kembali dengan kegembiraan yang baru.

Sedangkan lafadz fithru (îd al-fithri atau îdul fithri) menurut bahasa artinya “berbuka” atau ifthâr. Jadi, secara bahasa makna dari hari raya idul fitri adalah hari berbuka puasa. Umat Islam diperbolehkan makan dan minum kembali setelah satu bulan lamanya mereka berpuasa. Mereka memakai pakaian yang bagus guna merayakan keberhasilan menunaikan ibahah puasa, walaupun memakai pakaian yang serba baru bukanlah kewajiban, tapi merupakan kebiasaan dan tidak ditentang oleh Rasulullah saw.

Definisi idul fitri sebagai hari berbuka puasa sesuai dengan hadits Nabi Muhammad saw, yaitu “puasa itu ialah pada hari kamu berpuasa, dan Idul Fithri itu ialah pada hari kamu berbuka. Dan Idul Adlha itu ialah pada hari kamu menyembelih hewan” (HR Tirmidzi). Meskipun demikian, memahami Idul Fitri hanya sebagai “hari berbukanya umat Islam” terlalu memahami puasa hanya sebatas menahan lapar dan dahaga saja karena pemahaman seperti itu terlalu melihat Islam dalam paradigma materialistis. Idul Fitri harus juga dipahami dengan kembalinya umat Islam pada situasi fitrah awal mereka, yaitu kesucian dari dosa karena adanya ampunan dan maghfirah Allah.

Orang yang bersungguh-sungguh berpuasa adalah mereka yang tidak hanya memuasakan mulutnya dari makanan dan minuman, tapi juga hawa nafsunya. Hakikat puasa adalah menahan diri dari melakukan perbuatan yang dilarang dan dibenci Allah serta melakukan ibadah dan perbuatan baik yang diperintahkan (wajib) ataupun dianjurkan (sunnah) Allah dan rasul-Nya. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridha Allah semata, maka dosa-dosanya yang lampau telah diampuni.”

Kata fithrah dalam kamus “al-Munjid Fi al-Lughat Wa al-A’lam” didefinisikan sebagai sifat yang dimiliki yang setiap makhluk diawal penciptaannya (Lihat, Louis Ma’luf, Beirut: Dar Al-Masriq, 1996, cet. 36, h. 588). Pemahaman fithrah sebagai kesucian mendapatkan landasan kuat dalam ajaran Islam. Menurut ajaran Islam, bayi yang lahir adalah suci, hal ini bertentangan dengan paham Kristiani yang menganggap bayi yang baru lahir membawa dosa turunan atau dosa asal, karena itu harus disucikan. Sebuah hadits mengatakan bahwa “setiap bayi yang dilahirkan adalah suci (fithrah), orang tua-lah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, Nashrani, dan Majusi (HR Muslim).

Mengambil pelajaran
Secara historis tidak diketahui secara pasti kapan umat Islam pertama kali mulai berpuasa dan ber-Idul Fitri. Namun jika diasumsikan bahwa sejak masuknya Islam di Indonesia, itu artinya sudah berlangsung sekitar 14 abad orang beriman Indonesia berpuasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri. Tenggang waktu selama 14 abad berpuasa dan ber-Idul Fitri bukanlah waktu pendek bagi umat Islam secara kolektif melakukan penyucian diri dan pengembaraan spiritual untuk meraih takwa, tetapi mengapa bangsa ini masih jauh dari keadaan suci?

Agama seakan-akan telah berubah menjadi ritual tampa nilai, tidak memberikan atsar dan perubahana perilaku masyarakat muslim secara kolektif. Bangsa kita masih berkubang dalam kemerosotan moral, perilaku politik para elit dan pemimpin atau pejabat publik masih dihiasi oleh praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Lingkungan budaya yang adi luhung digerogoti oleh budaya materealisme, hedonisme dan biologisme yang memasung nilai-nilai kemanusian dengan mengabaikan nilai-nilai transendental, padahal kita berpuasa, bertarawih, dan merasa telah beridul fitri.

Setidaknya ada empat pelajaran penting yang perlu dilestarikan setelah ramadhan berlalu, pertama, pengendalian hawa nafsu. Puasa, tarawih dan beridul fitri sebagai ibadah bila dilaksanakan hanya sekedar ritual saja, maka kesadaran transendental dari ibadah tadi terjebak pada kesadaran budaya yang cenderung lebih mengedepankan aspek simbol dari ibadahnya ketimbang nilai substantif. Banyak hadits dan pendapat ulama yang mengatakan bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tapi juga bagaimana mengekang hawa nafsu dan mengendalikannya sesuai dengan norma-norma ajaran Islam. Nabi bersabda, “Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari pahala puasanya kecuali lapar dan dahaga.” Karena itu, hari raya Idul fitri juga disebut sebagai “Hari Kemenangan”, yaitu kemenangan karena telah berhasil menundukkan hawa nafsu dan membangun benteng integritas diri untuk tidak berdusta, tidak mudah tersulut amarah lantas berbuat anarkis, menentang eksploitasi alam yang berakibat pada rusaknya lingkungan, tidak suka menggunjing, senantiasa menjaga amanah dan menepati janji, berlaku adil, memperbanyak shadaqah dan menolong sesama dan lain sebagainya.

Kedua, solidaritas sosial. Puasa mendidik kita merasakan penderitaan yang dirasakan kaum miskin dan mempertajam kepekaan sosial (sense of crisis). Idul fitri selalu diawali dengan zakat fitrah. Zakat yang secara umum bisa kita artikan sebagai proses pemerataan kepemilikan ini, pelaksanaannya tidak lain merupakan perpindahan harta yang dimiliki oleh kalangan orang-orang kaya ke tangan orang-orang yang tidak berdaya. Diantara hikmah disyari‘atkannya zakat fitrah menjelang datangnya hari Idul fitri adalah agar dapat berbagi kebahagiaan antara sesama muslim.

Kenyataan sosial bahwa masih banyak umat Islam yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya karena tidak memiliki penguasaan dan akses pada sektor usaha dan ekonomi. Sementara politik ekonomi kerakyatan baru bermain pada tataran retorika dan wacana yang selalu hidup saat menjelang pesta demokrasi pemilu. Lagi-lagi umat dipersalahkan dan semakin terjepit karena tudingan lemahnya sumber daya manusia yang menyebabkan situasi kemiskinan itu semakin buruk, namun ironisnya hal ini tidak diikuti oleh concern yang kuat terhadap pembangunan pendidikan masyarakat secara lebih baik.

Ketiga, kesabaran. Bangsa ini tidak putus-putus dirundung berbagai musibah yang sepertinya tiada bosan mengunjungi negeri ini. Bisa kita sebut tsunami Aceh dan Pangandaran, gempa Yogyakarta, banjir, tanah longsor, lumpur panas di Sidoarjo, kebakaran hutan, kekeringan yang menimpa sebagian daerah dan lain sebagainya. Maka bangsa ini membutuhkan perisai kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi semua musibah yang melada sambil melakukan introspeksi diri. Allah menyatakan dalam al-Qura’an bahwa “Dia akan mendatangkan cobaan berupa rasa takut, lapar, cemas dan lain sebagainya. Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. 2: 155)

Di samping itu, kesabaran akan menyelamatkan kita dari tindakan emosial yang akan berujung pada anarkisme, bahkan terorisme. Kesabaran juga kita butuhkan dalam berdakwah. Dakwah dan sabar adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kesabaran merupakan kunci sukses dakwah para nabi.

Keempat, kejujuran. Kejujuran mungkin bisa dikatakan adalah barang yang paling langka di negeri ini. Akibat tiadanya kejujuran dalam mengelola negeri yang melimpah sumber daya alam ini, kita melihat berbagai problem sosial bangsa tidak pernah dapat diselesaikan secara baik. Bila saja pendidikan berkekejujuran dalam berpuasa dapat dikonstruksikan dalam mengelola negara ini, maka insya Allah tidak terlalu lama bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat dan rakyatnya makmur.

Dalam konteks pendidikan untuk perubahan, maka Ramadan adalah sekolah bagi umat Islam, dan bila kita sederhanakan silabus dan kurikulumnya pada empat pelajaran penting di atas, maka berapa kali ramadhankah kita butuhkan untuk dapat melatih masing-masing pelajaran penting di atas? Tapi ingat, kita tidak pernah tahu apakah akan bertemu dengan ramadhan tahun depan. Maka yang penting adalah bagaimana ramadhan memberi makna dan bekas yang kuat dalam kehidupan kita. Artinya ramadhan memang telah berlalu, namun kita usahakan agar nilai-nilai, sikap, dan perbuatan baik yang kita lakukan selama bulan ramadhan tidak sirna bersamaan dengan kepergian ramadhan, terutama mengenai pengendalian hawa nafsu, solidaritas sosial, kesabaran dan kejujuran. Rasulullah pun bersabda: “Jika manusia tahu apa yang ada di bulan Ramadhan, maka manusia akan mengharap setiap tahun adalah Ramadhan.” Selamat Idul Fitri 1430 H semoga kita mencapai taqwa.

0 komentar:

Poskan Komentar