Sabtu, 21 Agustus 2010

Hikmah Idul Fitri Bagi Indonesia

M Rizal Ismail SE MBA CIFA(Bahan Khutbah)


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.


يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.


يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Alhamdulillah, mari kita bersyukur kepada Allah, karena atas rahmat-Nya, kita bisa usai menjalankan shiyam Ramadhan. Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah Ta’ala.



Sebulan penuh kita menjalankan shiyam ramadhan; sebuah media yang Allah ciptakan untuk mentarbiyah pribadi kita. Harapan kita, tentu agar kita termasuk yang lulus dalam paket pendidikan ini. Selama ini kita terlatih untuk beramal tanpa pamrih. Kita tak tergoda makan atau minum meski sedang sendirian, karena kita sadar bahwa kita berpuasa karena Allah dan bukan karena orang lain. Tentu ini pendidikan yang sangat penting, dan kalau semangat beramal tanpa pamrih ini kita bawa pada amal-amal lain, akan mejadi kunci selamat besok di akhirat.



Dalam sebuah riwayat disebutkan ihwal orang yang pertama kali merasakan jilatan api neraka:



Dari Abu Hurairah, Rasulullah bercerita kepadaku bahwa Allah pada hari kiamat turun kepada hamba-hamba-Nya untuk mengadili mereka, dan semua umat pada waktu itu berlutut. Orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang rajin membaca Alquran, orang yang syahid di jalan Allah, dan orang yang banyak harta. Allah berkata kepada si pembaca Alquran, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu apa yang telah Aku turunkan kepada rasul-Ku?” Ia menjawab, “Ya, sudah”. Allah berkata, “Lalu apa yang kau perbuat dengan yang telah Ku-ajarkan itu?” Ia menjawab, “Aku mengamalkan sepanjang malam dan siang.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” Para malaikat juga menimpali, “Kamu bohong!”, Allah berkata, “Kamu membaca bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki sebagai qari, dan julukan itu memang telah disebut-sebut orang.”

Si Hartawan dihadapkan. Allah bertanya kepadanya, “Bukankah telah Aku luaskan rezeki untukmu sehigga kami tidak membutuhkan orang lain?” Ia menjawab, “Ya benar, Tuhan.” Allah berkata, “Lalu apa yang kami lakukan dengan rezeki yang sudah Aku berikan kepadamu?” Ia menjawab, “Aku bersilaturrahmi dan bersedekah.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” para malaikat pun menimpali, “Kamu bohong!” Allah lalu berkata, “Kamu melakukan itu bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki dermawan, dan julukan itu memang telah disebut-sebut orang.”



Kemudian orang yang terbunuh di jalan Allah (syahid) dihadapkan. Allah berkata, “Mengapa kamu terbunuh?” Ia menjawab, “Aku diperintah untuk berjihad di jalan-Mu, lalu aku berperang sehingga aku terbunuh.” Allah berkata kepadanya, “Kamu bohong!” para malaikat pun menimpali, “kamu bohong!” Allah lalu berkata, “Kamu berperang bukan karena Aku, tapi karena ingin dijuluki pemberani, dan julukan itu telah disebut-sebut orang.”



Rasulullah kemudian menepuk kedua bahu saya dan berkata, “Hai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali dijilat oleh api neraka pada hari kiamat. (Muslim, Nasai, Tirmidzi)



Ibadah ,Tugas Utama Hidup

Kita harus ingat bahwa tugas utama hidup manusia hanyalah “mengabdi” atau beribadah kepada Allah Ta’ala. Ini seperti ditegaskan dalam ayatnya:

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya semata-mata untuk beribadah (mengabdi) kepada-Ku saja. (Adz-Dzariyaat: 56)

Begitulah, diciptakannya jin dan manusia hanyalah “untuk beribadah” kepada Allah. Lantas, apakah ibadah itu? Ibadah banyak dipahami secara sempit sebagai kegiatan ritual belaka antara hamba dan Sang Khaliq. Ini jelas keliru, karena “ibadah” bermakna luas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memaknai ‘ibadah’ dengan: “Segala ucapan dan perbuatan yang disukai dan diridhai Allah Ta’ala baik secara dzahir maupun bathin.”



Dengan demikian, cakupan ibadah sangatlah luas; termasuk dengan melaksanakan syari’at Islam atau hukum-hukum Allah Ta’ala secara kaffah (totalitas); meliputi segala aspek kehidupan, mulai dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat hingga urusan negara, bahkan hubungan antar bangsa. Allah Ta’ala berfirman:



"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al-Baqarah, 2 : 208).

Pada ayat di atas, Allah menginstruksikan dengan tegas dua hal berupa perintah dan larangan.


Pertama: Allah memerintahkan kepada orang orang beriman untuk memasuki Islam secara kaffah. Tentu kaffah disini adalah dengan melaksanakan seluruh syari’at-Nya. Tidak boleh ada satu syari’at pun yang sengaja ditinggalkan dan diabaikan.




Kedua: Allah melarang orang-orang beriman untuk mengikuti langkah-langkah setan. Langkah-langkah setan tersebut antara lain berupa godaan, bujukan, provokasi, penyesatan, agar manusia sengaja mengamalkan sebagian syari’at dan meninggalkan sebagian yang lain. Semua dibungkus dengan dalih-dalih yang intinya atas dasar hawa nafsu manusia. Padahal, sikap sengaja mengamalkan syari'at Islam dengan sepotong-sepotong akan mendapatkan ancaman dari Allah Ta’ala; dan akan ditimpa kehinaan di dunia dan adzab yang pedih di hari Kiamat nanti:

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Qs. Al Baqarah: 85)


Hadirin dan hadirat rahimakumullah. Kini jelaslah, bahwa kewajiban pokok dan utama di dalam hidup ini adalah dengan menerapkan syari'ah Islam secara kaffah (totalitas). Tidak sepotong-sepotong; tidak dengan melaksanakan sebagian dan membuang sebagian yang lain; dan tidak boleh dengan menawar-nawar. Kita wajib mengatur seluruh aspek hidup baik menyangkut urusan pribadi, keluarga dan negara dengan syari'ah Islam.



Dengan demikian, mustahil pengamalan syari'ah Islam secara kaffah bisa diterapkan tanpa melalui instrumen kekuasaan atau lembaga pemerintahan. Itulah sebabnya, kenapa Rasulullah setelah berhijrah ke Yatsrib kemudian membangun sebuah negara di Madinah. Tentu hal ini dilakukan sebagai konsekwensi logis dari berislam kaffah. Dan yang pasti, fi’liyyah Nabi dalam hal ini bukanlah berkategori jibiliyah atau khususiyah, melainkan bayaanan lid-dien (penjelas bagi agama) yang memiliki konsekwensi syar’i. Artinya, pekerjaan Nabi membangun negara di Madinah, adalah sebuah ajaran yang wajib diikuti, bukan sekadar aktifitas beliau sebagai pribadi. Ini sudah menjadi ijma’ (konsensus) di kalangan Ulama Muktabar.



Itulah sunnah Nabi yang sempurna. Para Sahabat sangat memahami hal ini. Karenanya, begitu Rasulullah wafat, mereka segera bermusyawarah menentukan kepala pemerintahan sebagai pengganti (khalifah). Kekhalifahan itu selanjutnya mengamalkan dua tugas utama yaitu: Hirasatud dien (pengawal dien) dan Siyasatud dunya bid-dien (mengatur dunia dengan nilai dien). Dari situlah terpancar keadilan, ketenteraman, dan kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh ummat manusia selama berabad-abad. Dan itulah makna sesungguhnya dari rahmatan lil-'alamin (rahmat bagi seluruh alam semesta).



Maka, ketika kekuasaan Islam runtuh, dan dunia dikuasai kaum kafir yang ingkar kepada syari'at Allah, sejak itu hingga hari ini, umat manusia diliputi kezaliman, kekacauan, kerusakan akhlak, dan ditimpa berbagai macam bencana alam serta penyakit yang mengerikan. Ini adalah akibat dari tidak ditunaikannya syari’at ini.


Karenanya, syari’at ini harus kita tunaikan dengan mengamalkan Islam secara kaffah melalui lembaga pemerintahan. Itulah sunnah Nabi dan para Sahabat. Kita tidak boleh mengubahnya dengan alasan apapun. Jangan merasa cukup mengamalkan Islam dengan cara perorangan atau kelompok. Mari kita renungkan firman Allah:

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (Qs. An-Nur : 63)


Hadirin dan hadirat hafidzakumullah. Alhamdulillah, sebagai rakyat Indonesia, yaitu hamba-hamba Allah yang ditempatkan di bumi Allah bernama Indonesia ini, kita telah dikaruniai negara yang sangat hebat. Sebuah negara yang terdiri dari puluhan ribu pulau-pulau dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Jumlah penduduknya tidak kurang dari 200 juta orang. Disatukan di bawah naungan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Yang harus kita ingat, bahwa wujudnya NKRI ini ini tidak bisa dilepaskan dari saham besar umat Islam. Sejarah emas Indonesia mencatat, peran para ulama, santri, politisi muslim, dan pemuda-pemuda Islam dalam mengusir penjajah kafir Belanda.



Sejarah mencatat, bagaimana Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, pendiri organisasi NU dari Ponpes Tebu Ireng Jombang, pernah mengeluarkan fatwa wajib jihad fi sabilillah melawan penjajah kafir Belanda. Demikian juga Jenderal Sudirman, guru agama sekolah Muhammadiyah, yang terjun memimpin pasukan gerilya mengusir penjajah. Di Surabaya, kita kenal Bung Tomo, yang dengan gelora semangat “Allahu Akbar” mampu membakar semangat rakyat melawan penjajah kafir Inggris. Juga tokoh-tokoh politik muslim seperti KH. Wahid Hasyim, Dr. Muchammad Roem, Muhammad Natsir, dan lain-lain; yang menggerakkan umat untuk melawan kaum penjajah kafir agar enyah dari Indonesia. Apa yang menjadi ruh dari sikap patriotisme itu? Tak lain adalah Islam. Tak lain adalah Jihad.


Maka berkat perjuangan yang dijiwai keislaman inilah, akhirnya Allah Ta’ala berkenan memberi karunia kemerdekaan NKRI ini. Adapun niat dan tujuan para pejuang muslim melawan pejajah kafir itu, tentu bukan sekadar tercapainya kemerdekaan negara belaka, tetapi kemerdekaan untuk mengamalkan seluruh syari'ah Islam. Itulah yang terpenting dalam kehidupan setiap muslim hingga kewajiban beribadah terlaksana secara sempurna. Sebab, pada zaman penjajahan tempo dulu, umat Islam dihalangi untuk mengamalkan syari'at Islam secara kaffah oleh penjajah kafir Belanda, Inggris, dan Jepang.



Tapi sungguh ironis. Ketika para penjajah kafir itu berhasil diusir, mereka ternyata telah menanamkan kader-kader terlaknat mereka justru dari anak bangsa ini sendiri. Pendidikan sekuler yang mereka berikan saat menjajah, membuat kader-kader terlaknat ini menjadi penghalang diberlakukannya syari’at Islam. Dibantu oleh kelompok salibis, oknum-oknum ini bahkan lebih semangat dan licik dari penjajah Eropa sendiri dalam menghalangi syari’at Islam.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah. Tapi begitulah, sudah menjadi sunnatullah bahwa pada setiap amal ibadah, pasti ada penghalangnya. Allah Ta’ala telah menggariskan bahwa penghalang utama, adalah musuh dari setan jin dan setan manusia. Allah berfirman:

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu …" (Q.S. Al An'am: 112)

Dalam memerangi Islam, setan manusia dan setan jin itu tidak mengenal putus asa. Mereka akan menempuh seribu satu cara untuk mencapai tujuannya:

"Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." ((Q.S. Al-A'raf : 16-17)

Demi menyesatkan manusia dari jalan Allah, mereka tidak segan-segan mengorbankan harta dan biaya yang tidak terbatas, berapapun jumlahya, sepanjang diperlukan: "Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan." (Qs. Al-Anfal : 36).

Setidaknya ada tiga jurus yang biasa dilakukan setan manusia dalam memerangi Islam:

1. Menghentikan sama sekali perjuangan Islam (يصدون عن سبيل الله) pada saat mereka menguasai ummat Islam.

2. Merusak dan menyimpangkan ajaran-ajaran Islam dari makna yang sebenarnya, disesuaikan selera hawa nafsu mereka (يبغونها عوجا.). Inilah yang dimaksud dengan ghazwul fikri.

"Yaitu orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat." (Q.S. Al-A'raf: 45)


"(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh." (Q.S. Ibrahim: 3)

Louis IX berpesan kepada negara Eropa: "Kalian tidak mungkin dapat mengalahkan kaum muslimin di medan perang, kalian harus mengalahkan mereka terlebih dahulu di medan pemikiran. Setelah itu akan mudah bagi kalian untuk menguasai mereka. Dan mereka adalah kaum yang hati-hati terhadap bius-bius budaya kalian". 3. Memerangi secara fisik dengan sejata.

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…." (Q.S. Al Baqarah: 217)

Hadirin dan hadirat rahimakumullah. Makar-makar setan manusia yang menghalangi tegaknya hukum Allah sebagaimana dalam ayat-ayat diatas, juga kita rasakan di awal kemerdekaan negeri kita ini. Seperti tercatat dalam sejarah penyusunan konstitusi negeri ini, Piagam Jakarta yang semula sudah disepakati, dijegal dan ditolak untuk masuk menjadi pembukaan UUD 1945. Umat Islam bahkan selalu dipojokkan dan difitnah oleh pemerintah dan kelompok sekuler, hanya karena mereka ingin menjadi hamba Allah yang sebenarnya dengan berislam secara kaffah.

Selanjutya, kita disuguhi sejenis “pemurtadan” kolektif; dimana pemerintah menolak ditegakkannya syari'at Islam dalam pemerintahan. Padahal, mayoritas penduduk negeri ini adalah umat Islam. Sementara, payung hukum pasal 29 ayat 2 yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut kepercayaan masing-masing, ternyata dikhianati. Sebabnya, antara lain karena UUD 1945 tidak memberi penjelasan ataupun definisi yang jelas tentang makna ibadah di dalam pasal 29 ayat 2 itu. Ibadah lebih diartikan secara sempit pada ibadah ritual belaka antara hamba dengan Sang Khaliq. Atau kalau ada yang bersifat horisontal, dipilih-pilih yang memilili nilai ekonomis seperti haji dan zakat. Sementara hukum-hukum lain, dicampakkan.



Bias dari tidak adanya penjelasan arti ibadah dalam pasal 29 ayat 2 tersebut, diakui juga oleh seorang pakar hukum, Prof. Dr. Loebby Lukman tatkala saya menanyakan kepada beliau di dalam kesaksian persidangan kasus yang sedang saya hadapi, 8 Juli 2003 lalu. “Apakah memang sengaja kalimat ibadah dibiarkan mengambang, tanpa penjelasan, kecuali mengikuti kemauan dan tafsir penguasa? Apakah hal ini juga dimaksudkan supaya mudah menjerat dan menangkap para dai atau mubaligh yang memperjuangkan syari'at Islam dengan pasal makar dan anti terorisme? Sementara itu, kaum sekuler menyimpangkan ajaran Islam dengan cara menafsirkan ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi menurut selera mereka sendiri. Jihad fi sabilillah disamakan dengan perbuatan teror, nahi munkar diartikan anarkis, formalisasi syari'ah Islam dalam lembaga negara dikatakan ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa.”

Hadirin dan hadirat rahimakumullah. Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa hidup hanya untuk beribadah, dan bahwa ibadah harus dengan menerapkan syariah Allah secara kaffah dalam lembaga negara; maka apabila kita ingin fid-dunya hasanah dan fil-akhirati hasanah, kita wajib sekuat tenaga untuk merealisasikan hal di atas. Rasulullah sudah memberikan contoh, demikian juga para Khulafaur-Rasyidin. Untuk mencapai tujuan suci ini, kita wajib menyingsingkan lengan, berjuang dengan penuh keikhlasan, kesungguhan, kesabaran dan siap berkorban baik harta maupun nyawa bila diperlukan. Kita harus bertekad bulat menjadikan syari'ah Islam sebagai hukum positif di negara kita ini.

"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." ((Q.S. An-Nisa': 104)

"Janganlah kamu lemah dan minta damai Padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu." (Q.S.Muhammad: 35)

"Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi Kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (mendapatkan kemenangan atau mati syahid). Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. sebab itu tunggulah, Sesungguhnya Kami menunggu-nunggu bersamamu." (Qs. At-Taubah: 52).

Hadirin dan hadirat rahimakumullah. Perjuangan menegakkan syariah Islam disamping memerlukan keikhlasan, kesungguhan, kesabaran dan pengorbanan, juga memerlukan kebersamaan. Kita harus menyamakan gerak langkah untuk mencapai tujuan-tujuan pokok. Kita boleh berlainan paham dalam masalah-masalah kecil (furu') serta wajib saling menghormati, tetapi kita wajib sepakat dan sepaham dalam masalah-masalah prinsip (ushul).



Kita boleh berlainan paham dalam hukum boleh atau tidaknya membaca doa qunut pada shalat Subuh, tetapi kita wajib sepaham tentang wajibnya memperjuangkan pelaksanaan syari'ah Islam dalam pemerintahan. Kenapa? karena ini masalah prinsip yang jelas dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat. Semua ulama muktabar, terutama imam madzhab yang empat, sepakat bulat tentang hal ini.

Persatuan dan kebersamaan dalam rangka menegakkan dien ini jelas di perintah oleh Allah Ta’ala: "Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (Qs. As-Syura: 3)

Hadirin dan hadirat rahimakumullah. Kepada bangsa Indonesia yang non muslim tidak perlu khawatir, karena dengan berlakunya syari’at Islam mereka akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik dan lebih adil, asalkan mereka tidak mengganggu dan menghalangi tegaknya syari’at Islam. Ini merupakan perintah Allah Ta’ala: "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil." (Al Mumtahanah: 8)

Maka dengan mengharap pertolongan Allah Ta’ala, saya menyerukan kepada seluruh ummat Islam, Mari kita satukan langkah!. Mari kita berjuang menegakkan syariah Islam di negara kita khususnya, dan di negeri-negeri muslim lain umumnya. Mari kita raih kehidupan yang mulia atau kematian sebagai syuhada.


Kepada rakyat Indonesia yang beragama selain Islam, mari kita hidup damai dan saling menghormati keyakinan masing-masing. Janganlah Anda menghalangi orang lain yang berusaha mengamalkan syari’ah agamanya.



"Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". ((Q.S. Ali Imran: 64)


Selanjutnya kepada pemerintah saya wasiatkan, Berhentilah mendeskreditkan ummat Islam yang ingin menegakkan syari’at Islam secara kaffah. Hentikan penangkapan terhadap ulama, da'i dan pejuang-pejuang Islam, karena itu semua adalah tindakan yang dimurkai Allah Ta’ala. Jangan korbankan anak bangsa sendiri untuk memenuhi pesanan bagsa asing.

Kepada para pejabat muslim dan elit politik, saya menyerukan, Tunaikan amanah yang dibebankan diatas pundak saudara-saudara dengan mengelola negara karunia Allah ini atas dasar hukum dan aturan-Nya:

"Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." ((Q.S. Al Maidah: 48) Berpegang teguhlah kepada hukum-hukum Allah yang akan membawa bangsa dan negara ini kepada kemuliaan dan kemakmuran yang penuh barakah: "Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab." (Q.S. Al-Zukhruf: 43-44)

"Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Q.S. Al A'raf: 96)

Janganlah Anda mengkhianati Allah dan mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada saudara-saudara. Karena hal itu akan menyebabkan malapetaka dan membawa kehancuran yang mengerikan bagi kehidupan pribadi saudara, bangsa, dan negara kita.


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Q.S. Al Anfal: 27-28)


Demikianlah seruan saya semoga dibenarkan dan diridhai Allah swt. Amin. "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya". (Q.S. Al Mukmin: 44).

0 komentar:

Poskan Komentar