Rabu, 02 Januari 2013

Etika Pelajar dalam Menuntut Ilmu dalam Islam

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)


Seorang pelajar muslim hendaknya memiliki etika dalam mencari ilmu agar ilmu tersebut menjadi bermanfaat dan membawa berkah bukan justru menhhujatnya dihari kiamat.

Adapun 13 kiat dalam mencari ilmu sehingga dapat menuai berkah yaitu :

1. IKHLAS KARENA ALLAH

Hal utama yang harus dimiliki oleh seorang pencari ilmu adalah ikhlas karena Allah SUBHANAHU WA TA’ALA dalam berbicara dan beramal.

Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjelaskan bahwa diterimanya amal sholeh tergantung pada niat dan keikhlasan dalam tujuan. Jadi, apabila seorang pelajar muslim selalu ikhlas, ia pasti meraih pahala yang besar dan selalu diberkahi dalam usahanya.

Imam Al-Ghazali berkata “ Beberapa malam telah kau hidupkan dengan mengulang-ulang belajar dan menelaah berbagai buku, dan beberapa malam kau haramkan dirimu untuk tidur. Aku tidak tau apa motivasi yang mendorong mu berbuat itu?. Jika niatmu untuk meraih materi duniawi, menarik serpihannya, dan memperoleh kedudukan, lalu berbangga diri dihadapan kawan-kawan dan orang-orang sesamamu, maka celakalah engkau. Celakalah engkau ..!

Namun, jika maksudmu adalah demi menghidupkan syariat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyucikan akhlakmu, serta mengalahkan jiwamu yang selalu memrintahkan kejahatan, maka beruntunglah engkau. Beruntunglah engau..!

2. AMALKAN ILMU JAUHI MAKSIAT


Dari Malik bin Dinar Rahimahullah, ia berkata: “seseorang yang berilmu namun tidak mengamalkannya, maka nasehatnya selalu meleset dari hati, seperti tetesan air meleset dari batu yang licin”.

Banyak dalil dari kitab dan sunnah juga pandangan ulama tentang mengamalkan ilmu dan peringatan terhadap ilmu tanpa amal, sekaligus ucapan yang tak disertai dengan perbuatan (Q.S.As-Shaff/61: 2-3) dan (Q.S Al-Baqarah/2:44).

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang pengaruhnya dapat dilihat oleh orang lain dalam diri si empunya ilmu, sebagai cahaya di wajahnyadan rasa takut kepada Allah dalam hatinya, istiqomah dalam tingkah lakunya, jujur kepada Allah dan kepada sesama manusia dan kepada dirinya sendiri. Serta ilmu itu disertai amal dan itulah ilmu yang tak terputus. Sebuah hadist berbunyi “ Apabila mati anak adam terputuslah amalnya keculai 3 perkara, yaitu : shodaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh”.

Seorang pelajar harus berjuang melawan dirinya sendiri dengan meninggalkan maksiat, untuk menolongnya mendapatkan keberkahan ilmu dan cahayanya. Karena maksiat adalah kegegelapan dalam hati., dan hati yang gelap tidak memiliki tempat untuk cahaya ilmu didalamnya, kecuali dengan bertaubat dan bersikap jujur bersama Allah SUBHANAHU WA TA’ALA.

Oleh sebab itu, pencari ilmu harus mengontrol keadaan dirinya, senantiasa melakukan intropeksi diri dan memohon diri ketika berhasrat melakukan maksiat. Selain itu, ia harus berhatimu-hati terhadap tipu daya nafsu dan bisikan setan.

3. TAWADHUK

Allah memerintahkan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersikap tawadhuk, merendahkan hati dan berlemah lembut. “ Dan rendakanlah hatimu bagi orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman (QS. Asy-Syuara/26:215).

Dari Mujahid rahimahullah, ia berkata, “ Tidak akan bisa belajar seorang pemalu dan seorang yang sombong ”. Dari Fudhail bin Iya’ah rahimahullah, ia berkata. “ Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala mencintai orang pandai yang tawadhuk dan membeci orang pandai yang arogan. Barang siapa bertawadhuk karena Allah niscaya Allah wariskan kepadanya Ilmu hikmah.

Dari Masna rahimahullah, ia berkata : “cukuplah seseorang disebut berilmu dengan takut kepada Allah dan disebut bodoh karena bangga dengan ilmunya.


4. HORMATILAH ULAMA DAN MAJELIS ILMU

* Diam dan Dengarkanlah !

Apabila penuntut ilmu mendengar dari gurunya sebuah hadist atau suatu masalah yang sudah ia ketahui, seharusnya ia tidak ikut berbicara dalam meriwayatkannya, akan tetapi diamlah dan dengarkanlah.
* Jangan Banyak Berdebat

Rasulullah memperingatkan kita agar menjahui debat, jika tak dilakukan dengan lebih baik, sebagaimana sabda-nya : “ Tidaklah suatu kaum tersesat setelah meraih hidayah kecuali karena mereka suka berdebat“.

Imam Malik rahimahullah berkata “ Berdebat tentang ilmu membuat hati menjadi besar menjadi besar dan memancing caci-maki “.

* Jangan Banyak Bertanya

Bertanya adalah kunci ilmu. Akan tetapi bertanya hanya untuk tujuan mendapatkan pengetahuan dan pemahaman sekalgus mendapatkan kebenaran.

Imam Ghazali berkata :

Barangsiapa melontarkan pertanyaan dan sanggahan dengan perasaan hasad dan benci, maka meskipun setiap kali kamu jawab dengan jawabaan terbaik, terbenar, dan terjelas pun tidak menambahkan kepadanya selain kebencian dan permusuhan. Karena itu, janganlah kamu repot-repot menjawabnya”.

Hasan bin Ali berkata kepada putranya, “Hai anakku, jika kamu bergaul dengan ulama, maka jadilah kamu orang yang lebih suka mendengarkan dengan baik dan janganlah kamu memutuskan pembicaraan seseorang meskipun ia berbicara panjang, sehingga ia berhenti berbicara”.

5. BERSABAR

Perbuatan taat yang lebih membutuhkan kesabaran adalah mencari ilmu untuk meraih ilmu untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa ta’ala, lebih-lebih karena jiwa cenderung kepada perilaku santai dan bermalas-malas.

Usaha mencari ilmu membutuhkan pengorbanan besar, bersusah payah, sedikit tidur, meninggalkan aneka kenikmatan dunia, mendatangani para ulama, belajar ulang, berfikkir, mengikuti pelajaran dan sebagainya.

Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, bahwa ia berkata :

“ Aku mendengar ayah berkata : Ilmu tidak bisa diraih dengan santai”.

Said bin Jubair rahimahullah berkata, “seseorang tetap menjadi orang berilmu selama ia tetap belajar. Jika ia meninggalkan belajar dan mengira bahwa dirinya sudah cukup dengan apa yang dimiliki, maka ketika itulah ia menjadi orang bodoh”.


6. TERUSLAH MENCARI
- Bertanya adalah kunci ilmu. Bertambahnya ilmu dengan berusaha mencari dan diraihnya ilmu dengan bertanya. Ilmu diperoleh dengan lisan yang pandai bertanya dan hati yang selalu berfikir dan berdzikir.

- Berambisilah mendaptkan ilmu. Seorang penyair berkata: “Sebaik-baik penghibur dan teman adalah buku”. Seperti hadist yang berbunyi “Saudaraku, takkan kau capai ilmu kecuali dengan 6 hal, kan ku beritahu kepadamu rinciannya dengan jelas : Cerdas, bersemangat, bersungguh-sungguh, bekal materi, bersama guru, dan waktu yang panjang”.


Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Al-Junaid bahwa ia berkata : “ Tak seorang pun yang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan jujur kecuali ia pasti mendapatkannya. Kalau pun tidak meraih semuanya, maka sebagiannya.

7. JUJUR DAN AMANAH

Ada beberapa masalah yng harus dtegaskan agar pelajar muslim tidak terjerumus dalam pengkhianatan dan kebohongan.

- Siaga dan Perhatikan Saat Menerima Ilmu : Dalam hal ini pelajar diharapkan memiliki sifat amanah dlam mencari ilmu agar benar-benar siaga dalam mencari ilmu.

- Kembali kepada kebenaran ketika salah : Jika menyampaikan suatu pendapat kemudian disanggah oleh orang yang lebih tinggi ilmunya, atau sejajar, atau dibawahnya, sehingga ia tahu bahwa pendapatnya salah dan yang benar adalah pendapat sahabatnya, maka ia menarik kembali pendapatnya dan berterima kasih kepada sahabatnya.

- Menjauhi kecurangan dalam ujian dan karya ilmiah.

Pelajar yang amanah memiliki kedudukan terhormat dan tinggi, sehingga banyak orang mengambil manfaat dari ilmunya, bahkan jumlah orang yang mengambil manfaat darinya semakin banyak.

8. SEBARKAN DAN AJARKAN

Dhahak bin Muzahim rahimahullah berkta : “ Pintu pertama ilmu adalah diam, yang ke-2 mendengarkannya, yang ke-3 mengamalkannya dan yang ke-4 menyebarkan dan mengajarkannya”.

Abdullah bin Mubarak rahimatulah berkata, “orang yang bakhil akan terkena tiga musibah” :

- ia mati kemudian ilmunya hilang.
- ia melupakannya
- ia mengekor pada penguasa


9. ZUHUD TERHADAP DUNIA

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, menjauhi apa yang ada di dalamnya, menjauhi manusia dan memakai pakaian yang kasar, compang-camping. Melainkan mengambil dari dunia segala sesuatu yang mendukung untuk taat kepada Tuhan, menjadikan dunia, harta dan perhiasan hanya ditanganmu saja bukan di hatimu dan menjadikan usahamu dalam dunia untuk membantu ketaatan di akhirat.

Allah tidak menjadikan 2 hati dalam rongga dada manusia. Oleh karena itu tidak akan bertemu dalam hati seorang muslim, yaitu dalam 2 hal :
1. Semangat mencari ilmu dan mencintainya
2. Semangat memburu dunia serta memperebutkan kesenangannya.

10. MENJAGA DAN MEMANFAATKAN WAKTU

Ada 2 nikmat yang banyak orang melalikannya : kesehatan dan kesempatan

Pepatah mengatakan :

Ilmu tak akan pernah memberimu sebagiannya sampai engkau memberikan seluruh jiwamu, kepadaNya”.

A. Memanfaatkan Masa Muda

Belajar diwaktu muda dengan pikiran yang sempurna dan otak yang segar membuat hapalan lebih mudah melekat dengan kuat.

B. Jangan Suka Menunda-Nunda

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “jauhilah sikap suka menunda-nunda (taswif), sebab engkau hidup dihari ini bukan dihari esok. Jika esok masih ada, bersikaplah seperti hari ini.

C. Waktu – Waktu Luang dan Pikiran Santai

Waktu pagi adalah waktu yang baik untuk belajar karena pada waktu itu, kondisi kita luang, pikiran masih jernih dan tubuh masih segar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Waktu utama adalah waktu sahur (menjelang subuh), sebab merupakan waktu istijabah (pengabulan doa) dan waktu turunnya rahmat”.

Dari Ismail bin Uwais, ia berkata : “Jika engaku ingin mengahapal sesuatu, maka tidurlah. Lalu bangunlah menjelang subuh, nyalakan lampu dan perhatikan tulisan niscaya engaku tidak melupakannya. Insya Allah”.

Sebaik-baik waktu adalah waktu sebelum subuh/saat zuhur), pertengahan siang, waktupetang sebelum Isya. Menghafal dimalam hari lebih baik dari pada menghapal di siang hari.

Imam Ibnu Jamaah rahimahullah berkata, “Janganlah elajar ketika lapar, haus, sedih, marah, mengantuk dan stress. Jangan pula belajar dalam kondisi dangat dingin dan terik yang sangat menyengat, sebab akan mengganggu”.

Jangan Lupa Berdo’a : “Ya Allah berkahilah umurmu dan jadikanlah umur itu penuh kebahagian karena ketaatan kepada Mu”.

11. KAJILAH ILMU BERULANG-ULANG


Dari Az-Zuhri berkata : “ Yang bisa menghilngkan ilmu itu hanya lupa dan tidak mengulang (mudzakarah)”.

Dari Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad bahwa ia berkata : “Hati itu laksana tanah, ilmu adalah tanamannya dan mudzakarah adalah airnya, ketika siraman air terputus dari tanah, maka keringlah tanamannya”.

12. SOPAN DAN MEMILIKI RASA MALU

Al- Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “ Orang yang berilmu dan ahli berfatwa, tidak ada sesuatu yang lebih ia butuhkan dari sikap santun, tenang dan sopan. Itulah kelambu bagi ilmuny dab perhiasannya. apabila ia kehilangn itu, maka ilmunyaseperti badan yang telanjang tanpa busana.

Sopan dan punya rasa malu adalah sifat yang harus dimiliki oelh setiap pelajar, agar berbeda dari teman-teman dan para tetangganya. Karena itu, seorang pelajar idak boleh bersenda gurau bersama mereka, dan tidak menyibukkab diri denga urusan remeh sebab hal itu akan menghilangkan kemuliaan dan kedudukannya.

“ Sesungguhnya Allah mencintai perkara-perkara yang luhur dan mulia dan membenci perbuatan yang hina “. Malik berkata, orang yang mencari ilmu harus memiliki sifat sopan, takut kepada Allah dan menelusuri jejak orang-orang sebelumnya.
Banyak bercanda dan tertawa akan menurunkan wibawa dan menghilangkan muni’ah (harga diri).

13. BERSAHABAT DENGAN ORANG SALEH

Seseorang tergantung kepada agama teman akrabnya, karena itu, hendaklah seseorang memperhatikan siapakah yang akan dijadiakan teman akrab”.

Sahabat merupakan penarik kalau ia saleh maka ia akan menggandengmu kepada kebaikan, namun kalau tidak baik maka ia akan merusak agama dan duniamu, serta menyibukkanmu dengan urusan dunia, sehingga engkau terhalang dari belajar, berprestasi dan ilmu yang bermanfaat.
Ali bin Abu Thabib r.a, berkata, janganlah bergaul dengan orang yang bodoh jauhkan dirimu darinya dan dia darimu. Betapun banyak orang penyantun binasa karena bergaul dengan orang bodoh. Seseorang dinilai dari sahabatnya sebab seseorang sama dengan sahabatnya

0 komentar:

Poskan Komentar