Senin, 31 Desember 2012

Budaya Sesat perayaan Tahun Baru Masehi yang melanda Ummat Islam

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Selang beberapa hari kedepan, sebagian besar orang di berbagai belahan dunia akan kembali menyelenggarakan event tahunan yang biasa digelar secara kolosal. Na'am, acara ini biasa disebut dengan tahun-baruan. Entah sudah kali keberapa kegiatan ini juga mewarnai aktivitas orang Indonesia di setiap akhir penghujung tahunnya. Yang jelas, ia tak pernah absen untuk membawa sekian risalah di setiap kehadirannya.

Tak jelas kapan budaya ini masuk ke Indonesia, tapi yang pasti ia selalu dijaga keeksisannya. Ia nampak seperti sesuatu yang ditunggu-tunggu, yang serasa menjadi ketidak-afdholan bila dibiarkan tanpa dirayakan. Kesibukan pun kemudian akan tampak menghinggapi berbagai kalangan, mulai dari manusia di tingkat kota-kota besar hingga menyeruak ke kampung-kampung pinggiran, dari golongan bermodal besar hingga ke kalangan ecek-ecek—semua tampak mulai berkemas-kemas menyambut tahun-baruan ini. Tak terkecuali para pelaku pasar yang telah jauh-jauh hari mempersiapkan dagangannya guna memanfaatkan momen yang hanya setahun sekali ini. Ada dari mereka yang menciptakan pernak-pernik yang biasa menjadi kebutuhan untuk event ini, seperti terompet beraneka jenis, atau kembang api dan petasan dengan bermacam ukuran. Di bidang lain, sejumlah besar fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan dan perhotelan, masing-masing berlomba dalam merebut konsumen dengan menjajakan diskon dan kupon yang menggiurkan serta penawaran keuntungan lainnya. Belum lagi tempat-tempat hiburan yang semangat menjaring calon pengunjungnya di musim liburan ini dengan menjanjikan keceriaan dan kemeriahannya di detik-detik pergantian tahun. Pokoknya semua tampak satu-padu…

Namun masalahnya, beginikah cerminan umat Islam yang (masih) selalu ikut-ikutan dalam budaya yang tidak dikenal dalam dien yang haq ini?

Berikut beberapa hal yang seharusnya kita fahami sebagai seorang muslim dalam kaitannya dengan risalah ini:

1. Budaya tahun-baruan, bukan budaya Islam, tapi budaya syaitan untuk berperilaku ala hewan

Perkara ini sebenarnya sudah jelas bahwa tahun-baruan adalah hasil transfer kebiasaan bangsa lain yang tidak berkiblat kepada Islam. Oleh sebab itu, budaya ini menjadi keharaman untuk dikerjakan dan diterapkan dalam kehidupan seorang muslim. Konon, bangsa Persi kuno lah yang telah melakukan aktivitas ini pada masa kejayaannya. Ia merupakan sebuah ritual yang dikhususkan untuk mengagungkan dewa api. Mereka yang merupakan kaum Majusi, yaitu yang menganggap api sesuatu yang memiliki kekuatan sehingga karena kepercayaan itulah mereka menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari penobatan raja baru mereka yaitu yang dipersangkakan sebagai hari terciptanya api.

Dalam perayaan ini, sepanjang malam mereka berpesta, menyalakan bunga-bunga api, mengkonsumsi minuman keras, dan turun ke jalan-jalan. Bukankah gambaran tersebut merupakan kesamaan dengan yang terjadi pada masa-masa sekarang ini? Sepatutnya seorang muslim menghindari aktivitas ini karena ia merupakan salah-satu bentuk dari kemaksiatan yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Ta'ala. Seorang muslim yang bertauhid akan selalu berusaha menjaga marka-marka syari'at yang akan menghindarinya dari ancaman kefasikan. Ia akan menjaga kemuliaan dien Islam dan inilah salah-satu sifatnya orang yang beriman.

Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "…Allah menjadikan kamu cinta akan keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (QS. al-Hujurat, 49:7)

Event tahun-baruan juga termasuk hari raya umat lain, sehingga hari tersebut bukanlah hari yang pantas dirayakan oleh umat Islam. Namun akhir-akhir ini perhelatan akbar ini pun kemudian dialihkan beberapa ustadz yang menyikapi berbondong-bondongnya kaum muslimin yang ikut dalam rutinitas perayaan tahun baru Masehi di setiap tahunnya, dengan menggantikan posisi kemeriahan tahun baru Masehi kepada aktivitas do'a dan dzikir akbar. Lalu tersusunlah program yang ditujukan untuk menyelisihi apa-apa yang ada di dalam perayaan tahun baru Masehi tersebut. Tak nampaklah jua bahwa bentuk 'penyelisihan' seperti itu adalah juga bentuk lain dari tasyabbuh yang dilarang Rasulullah. Ibnu Umar ra menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

Artinya, "Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum tersebut." (HR. Ahmad)

Dalam Iqtidha Sirathiil-Mustaqim, Mukhalafatu Ashabil-Jahim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah berkata, "Perbuatan meniru-niru mereka (umat kafir) dalam perayaan mereka dapat menyebabkan seseorang bangga dengan kebathilan yang ada pada mereka. Bisa jadi hal tersebut akan lebih memotivasi mereka (umat kafir) untuk memanfaatkan momen tersebut (dalam menyia'arkan kesesatannya)."

Selain itu, Rasulullah saw pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ قَدْ أَبدلَكُمْ بِهِمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَ يَوْمَ الْفِطْر.

Artinya, "Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari raya tersebut dengan dua hari raya yang lebih baik yaitu Idul Adha dan Idul Fitri." (HR. Abu Dawud)
2. Tabdzir dilarang oleh syari'at

Sebagaimana sifat dari sebuah pesta dan kemeriahan adalah adanya pengadaan fasilitas penunjang yang menuntut pula adanya ketersediaan materi. Pemenuhan kebutuhan tersebut tentu saja bernilai sia-sia dikarenakan event ini tak ada tuntunannya dalam syari'at Islam. Sementara Allah Ta'ala mengharamkan segala bentuk penyia-nyiaan, baik penyia-nyiaan dalam bentuk peribadahan seperti praktek kebid'ahan, maupun penyia-nyiaan dalam bentuk harta dan waktu. Allah Ta'ala telah mengingatkan manusia tentang salah-satu sifat buruk yang dibencinya yaitu sifat boros,

Artinya, "…dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangatlah ingkar kepada Tuhannya."" (QS. al-Isra', 17:26-27)

Tasyabbuh perayaan tahun-baruan juga jelas menjadi sifat penyia-nyiaan kesempatan beribadahnya seorang muslim kepada peribadahan yang diperintahkan Allah Ta'ala atau kepada sunnah-sunnah yang Rasul-Nya contohkan. Sementara beliau saw telah bersabda,

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَ خَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مًحَمَّدٍ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَ شَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَ كُلَّ مُحْدَثَةٍبِدْعَةٌ وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَ كُلَّ ضَلَالَةٍ فِيْ النَّارِ.

Artinya, "Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Tidaklah ada perkara yang tidak atau belum beliau saw sampaikan kepada umatnya, termasuk perkara ini. Ibnu Mas'ud ra meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menyampaikan sebuah sabdanya,


لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ إِلاَّ وَ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ, وَ لاَ عَمَلٍ يُقَرِّبُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ.

Artinya, "Tidak ada dari sesuatu amalan yang mendekatkan ke surga, kecuali telah aku perintahkan kepada kamu dengannya dan tidak ada dari sesuatu amalan yang mendekatkan ke neraka, kecuali pasti telah aku cegah kamu darinya. " (HR. Imam Al-Hakim)egiatan perhelatan tahunan seperti ini sudah memiliki kejelasan tentang keharamannya berdasar sabda Rasulullah serta tidak adanya perilaku beliau saw yang pernah beliau saw tunjukkan semasa hidupnya, tidak pula oleh para sahabatnya dan oleh orang-orang yang mengikutinya kemudian dari kalangan para sholafush sholih.

Barangsiapa yang tetap berpegang-teguh berkiblat pada aktifitas di luar Islam ini, maka ia telah mengekor pada kebiasaan dan tradisi adat jahiliyyah. Bukankah sudah diketahui bahwa asal-usul perayaan ini adalah upaya bangsa musyrik Persi kuno pada masa berkuasanya raja Nairuz dalam pengagungannya kepada dewa api, sedangkan Ibnu Umar ra dahulu pernah menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ تَثَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

Artinya, "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka." (HR. Abu Dawud)

Semoga kita tidak termasuk golongan yang mendapat ancaman kemurkaan dari Allah Tabaraka wa Ta'ala.

3. Waktu tidak berulang

Semangat yang tergambar jelas dari penyongsongan event tahun-baruan ini begitu sangat terasa. Ditandai dengan hilir-mudiknya orang-orang dalam mempersiapkan datangnya hari pergantian tahun Masehi, khususnya dalam mengisi waktu libur dengan jadwal-jadwal perpelancongan ke berbagai tempat, baik yang ada di daerah mereka maupun tempat-tempat persinggahan di negeri-negeri lain. Semua dilakoni dengan begitu bersemangat demi tercapainya tujuan: meraih kepuasan dan kesenangan dunia.

Ini tentu semangat yang keliru, karena dengan begitu—otomatis waktu dan kesempatannya untuk beribadah dan bermuhasabah kepada-Nya menjadi terbengkalai. Padahal tidaklah Dia memperpanjang nafas seorang muslim selain untuk beribadah kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS.adz-Zariyat, 51:56 )

Na'am, aktifitas seorang muslim yang sesungguhnya adalah berkutat dengan peribadahan kepada Rabb-nya, apakah peribadahan itu berbentuk sholat, shaum, shodaqoh, mencari ma'isyah, beramar ma'ruf-nahyi munkar, thalabul ilmu, maupun berdzikir dan bermuhasabah. Semua hal tak lepas dari mengibadahi-Nya semata, saling sambung-menyambung, berkaitan, dan berketerusan. Tidak diridhoi-Nya perkara apapun yang menyebabkan seorang manusia terlalai dari tugasnya beribadah atau berpaling kepada prilaku menghambur-hamburkan waktu yang telah dikaruniakan-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja-keras (untuk urusan yang lain)." (QS. an-Nashr, 94:7)

Lalu bagaimana dengan aktifitas muhasabah yang dikhususkan pada momen-momen tertentu seperti pada event tahun-baruan yang belakangan mulai sering dilaungkan?

Pada dasarnya muhasabah memang diperintahkan Allah Ta'ala kepada setiap hamba-Nya seperti yang Dia maktubkan dalam kitab-Nya,

Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Hasyr, 59:18)

Ayat tersebut memerintahkan manusia untuk bermuhasabah di setiap harinya dan di setiap apa yang telah dilakukannya, bukan malah menunggu pelaksanaannya hingga penghujung tahun akan berakhir misalnya, terlebih dengan berjama'ah pula.

 Imam Ibnu Katsir dalam mentafsir ayat tersebut mengatakan bahwa Allah Ta'ala memerintahkan kepada setiap hamba-Nya untuk menghisab diri-diri mereka sendiri sebelum hari penghisaban tiba, dan agar setiap diri melihat apa-apa yang telah mereka tabung untuk diri-diri mereka kelak yaitu berupa amalan sholih yang kelak akan dihadapkan kepada Rabb-Nya.

Sementara Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ighasatul Lahfan min Masayyidis Syaithon mengatakan bahwa seharusnya muhasabah itu dilakukan di dua keadaan, yaitu pada saat sebelum beramal—dimana kita menghisab terlebih dulu tentang amalan yang akan kita kerjakan itu; apakah bersumber dari keihklasan semata-mata karena mengharap ridho-Nya dan apakah memang disyari'atkan Allah Ta'ala melalui Rasul-Nya? Apabila telah memastikan dua kriteria ini terpenuhi, maka barulah amalan yang dimaksud bisa diamalkan. Dan keadaan muhasabah yang kedua adalah ketika sudah melakukan suatu amalan, yaitu dengan mengintropeksi apakah pada amalan tersebut telah terjadi kekurangan atau mungkin tidak dilakukan dengan kekhusyu'an hati.

 Beberapa hal inilah yang tidak terpenuhi oleh kaum muslimin yang melakukan muhasabah berjama'ah khusus pada perayaan tahun-baruan, mereka boleh saja mengatakan bahwa amalan tersebut datang dari keikhlasan hati dan dengan niat yang baik, namun itu tidak menghantarkan mereka kepada ridho-Nya karena syari'at tidak menitahkan demikian. Pernahkah Rasulullah bersama para sahabatnya berkumpul untuk melakukan amalan tersebut? Pernahkah para tabi'in dan sholafush-sholih pada zamannya juga melaksanakannya? Bila ini tidak terpenuhi, ketahuilah bahwa hal itu bukanlah muhasabah dan kaum muslimin belum bermuhasabah dengan sebenar-benarnya. Sebab makna muhasabah yang sesungguhnya adalah untuk meringankan hisab kita di hari kiamat kelak, sementara amalan yang dibuat-buat seperti pada muhasabah massal perayaan tahun-baruan hanya menambah berat buruknya hisab.

Tidaklah seorang muslim beramal dalam keluasan hari-hari yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya, sementara hari-hari yang telah dimilikinya tidaklah mungkin terulang, sedangkan amalan telah baku tercatat, apatah lagi hari esok belum pasti menghampiri. Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, "Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah hidup beberapa hari saja; setiap kali waktu berlalu, berarti hilanglah pula sebagian dirimu." (Siyar A'lam an-Nurbala', 1/496)

Selayaknya kaum muslimin meneladani Rasulullah dan para sahabatnya. Tolak beragam tipu-daya setan yang mengikis akidah umat di event-event seperti ini dengan bergerak mendakwahkan kebenaran dan mengajak umat untuk mengisi hari-harinya dengan amalan-amalan yang disunnahkan Rasulullah. Janganlah kita mengikuti perkara yang mungkin belum kita ketahui ilmunya, seperti firman-Nya,

Artinya, "Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan-jawabannya." (QS. al-Isra', 17:36)

Dia juga berfirman,

Artinya, "…dan janganlah kamu mengikuti hawa-nafsu mereka (orang-orang fasik) dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…" (QS. al-Ma'idah, 5:48)

Firman-Nya pula,

Artinya, "Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa-nafsu mereka dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik." (QS. al-Ma'idah, 5:49)

Sementara Imam Ahmad pernah mengatakan bahwa tanpa ilmu, manusia itu hidupnya seperti binatang. Dan janganlah juga kita asyik bermasyuk-diri membiarkan diri tenggelam dalam kesesatan, sementara ilmu telah kita ketahui. Khawatirlah bahwa bila Allah Ta'ala berkehendak, Dia akan biarkan hati kita mengeras karena kita menafikkan kebenaran yang telah kita temukan tentang suatu syari'at-Nya.

Selain itu ada pula sikap sebagian muslimin yang ikut-ikutan merayakan tahun-baruan karena gengsi bila absen dari lingkungannya yang telah terbiasa andil dalam perhelatan ini. Untuk alasan yang seperti ini, waspadalah! Karena sikap tersebut bisa merupakan pertanda bahwa kita telah terjerumus meladeni hawa-nafsu orang-orang fasik dan kafir yang senantiasa berupaya menjauhkan seorang muslim dari syari'at dien-Nya. Waspadalah karena Allah Ta'ala telah membuat peringatan ini bagi hamba-hamba-Nya yang beriman,

Artinya, "Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)." (QS. al-A'raf, 7:202)

Lalu Allah Ta'ala juga mengabarkan keadaan apabila setan-setan itu telah menguasai akan hati-hati seorang muslim, yaitu firman-Nya,

Artinya, "Syaitan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi." (QS. al-Mujadalah, 58:19)

Mudah-mudahan kita dihindari dari perbuatan golongan yang merugi tersebut.

4. Perayaan Natal + perayaan tahun-baruan = perayaan kemusyrikan yang selalu beriringan yang hanya dilakukan oleh org2 munafik dan sesat  ..!

Kedua perayaan ini tampak satu-padu dan saling mengisi masing-masingnya. Setiap ucapan selamat Natal tersebut, maka senantiasa ucapan selamat tahun-baru akan mengiringinya. Keduanya memang sama-sama memiliki keharaman untuk turut dirayakan oleh umat muslim. Masing-masing mempunyai dalil yang kuat, seperti hukum yang berkaitan dengan perayaan Natal, berikut beberapa firman-Nya yang berkaitan dengan pengharaman Natal dan turut-sertanya seorang muslim dalam Natal dan berbagai aktifitas yang bertujuan sebagai pengagungan syi'ar-syi'anya:

a. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Sungguh telah kafir orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putera Maryam." Padahal Al-Masih sendiri berkata, "Wahai Bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmua." Sesungguhnya mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surge baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang zalim itu." (QS. al-Ma'idah, 5:72)

b. Allah Ta'ala berfirman,
Artinya, "Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa azab yang pedih." (QS. al-Ma'idah, 5:73)

c. Allah Ta'ala berfirman,
Artinya, "Dan mereka berkata, "(Allah) Yang Maha pengasih mempunyai anak. Sungguh kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar., hamper saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu), karena menganggap (Allah) Yang Maha pengasih mempunyai anak." (QS. Maryam, 19:88-92)

d. Allah Ta'ala berfirman,

Artinya, "Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dioa tidak meridhoi kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridhoi kesyukuranmua itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sungguh, Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam dada(mu)." (QS. az-Zumar, 39:7)

5. Kemaksiatan dalam event tahun-baruan


Beberapa kemaksiatan yang biasa terjadi dalam event tahun-baruan, diantaranya yaitu:

a. Ikhtilath, yaitu ketika berdua-duaannya seorang ikhwan dan akhwat tanpa mahram dan juga tanpa kepentingan yang disyari'atkan agama, misalnya dengan melakukan perjalanan dalam kegiatannya merayakan tahun-baruan.

b. Khalwat, yaitu bercampur-baurnya ikhwan dan akhwat di satu tempat tanpa adanya batas-batas yang menghijabi keduanya dan dalam keadaan yang bukan suatu kedaruratan dalam syari'at, misalnya ketika berkumpul di tanah lapang atau pelataran yang dijadikan tempat perayaan pesta tahun-baruan.

c. Tabdzir, yaitu ketika kemampuan yang dimiliki, baik berupa uang, kendaraan, kesehatan, atau waktu luang disalurkan bukan kepada yang mendatangkan mashlahat, atau dijadikan fasilitas untuk menunjang kegiatan yang diharamkan Islam, seperti tahun-baruan ini.

d. Tasyabbuh syari'at kafir, yaitu dengan mentransfer berbagai gaya hidup syari'at di luar Islam seperti perayaan tahun-baruan untuk dibumikan menjadi adat kebiasaan pula dalam kehidupan seorang muslim.

e. Bid'ah, yaitu ketika mengupayakan sebuah budaya non Islam seperti tahun-baruan ini untuk kemudian di'selisihkan' dengan peribadahan lain yang dianggap lebih afdhol dan lebih bermanfaat.

f. Pengkonsumsian hal-hal yang diharamkan, seperti meminum minuman keras, membakar petasan dan kembang-api, memperdengarkan musik, dan sebagainya.
Semoga kita bisa mengisi hidup yang diamanahkan Allah Ta'ala ini dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan mengganti hari-hari kemarin yang sempat ternoda kemaksiatan dengan rutinitas sunnah Rasul-Nya. Bersegeralah berpaling dari golongan yang terancam dengan kerugian. Mari fahami sekali lagi firman-Nya,

Artinya, "…hendaklah setiap diri memperhatikan (mengintropeksi-diri) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok dan bertakwalah. Sesungguhnya Allah Maha tahu dengan apa yang kamu perbuat." (QS. al-Hasyr, 59:18

0 komentar:

Poskan Komentar