Jumat, 04 Mei 2012

Ternyata Habib Rizieq Shihab kini telah menjadi pembela Syiah...Na'uzubillah..!

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ .

AKAL PIKIRAN MANUSIA tidak bebas dari serangan manipulasi logika yang sebenarnya keliru namun terkesan benar. Atau barangkali dalam bahasa kerennya adalah izhaarul baatili fii shuuratil-haqq, mengemas yang batil (salah) seakan-akan tampaknya haq (benar).

Contoh berikut barangkali dapat membantu memahami makna yang terkandung di dalam pesan izhaarul baatili fii shuuratil-haqq ini. Misalnya, kita umpamakan ada tiga kategori penjahat di dalam masyarakat. Penjahat kategori pertama adalah penjahat yang benar-benar jahat. Sedangkan penjahat kategori kedua adalah penjahat yang tidak terlalu jahat. Dan yang masuk kategori ketiga adalah penjahat yang baik.

Kepada penjahat kategori pertama, yaitu penjahat yang benar-benar jahat, kita tidak perlu kasih ampun. Lawan sampai titik darah penghabisan, hukum seberat-beratnya. Mengapa? Karena penjahat kategori ini cenderung melakukan perampokan sekaligus perkosaan bahkan pembunuhan terhadap target kejahatannya.

Sedangkan kepada penjahat kategori kedua, selain harus dikerasi namun juga diupayakan untuk dinasihati sehingga siapa tahu dia mau kembali ke jalan yang benar. Mengapa demikian? Karena meski ia merampok dan sesekali melukai namun tidak sampai memperkosa dan membunuh korban-korbannya.

Nah, khusus kepada penjahat kategori ketiga, jangan dimusuhi, malah sebaiknya diakui sebagai bagian dari kita. Karena, meski ia suka merampok, tidak suka melukai korbannya, apalagi sampai memperkosa dan membunuh. Mengapa jangan dimusuhi? Karena sebagian hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada fakir miskin, membantu anak yatim, membangun rumah ibadah, dan sebagainya.

Perumpamaan di atas yang menggambarkan adanya tiga kategori penjahat, sudah pasti memberikan efek lucu kepada pembaca yang mempunyai logika sehat. Penjahat ya penjahat, mana ada penjahat yang baik. Begitu barangkali logika pembaca menyikapi ilustrasi di atas.

Namun bila pengkategorian tadi digunakan untuk menanamkan pemahaman kepada masyarakat tentang sesuatu yang berbau agama, akal pikiran kita belum tentu langsung bisa mencerna efek lucu yang ditimbulkannya. Bahkan boleh jadi, karena pengkategorian tadi yang dirumuskan berupa pesan (message) itu disampaikan oleh sosok yang terlanjur dikenal sebagai pembela agama, ustadz, kyai dan sebagainya, maka kemungkinan besar akal pikiran kita justru menerimanya sebagai kebenaran.

Contohnya, tentang pengkategorian paham sesat syi’ah laknatullah. Habib Riziek Shihab, seorang masinis dari kelompok pembela mazhab, pernah membagi kelompok syi’ah secara asal asalan ke dalam tiga kategori (voa-islam 03 Januari 2012), sebagai berikut:

Pertama, SYI’AH GHULAT yaitu Syi’ah yang menuhankan maupun menabikan Ali ibn Abi Thalib RA dan meyakini Al-Qur’an sudah ditahrif (dirubah, ditambah dan dikurangi), dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari Ushuluddin yang disepakati semua Madzhab Islam. Syi’ah golongan ini adalah Kafir dan wajib diperangi.

Kedua, SYI’AH RAFIDHOH yaitu Syi’ah yang tidak berkeyakinan seperti Ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi Saw seperti Abu Bakar ra dan Umar ra atau terhadap para isteri Nabi Saw seperti ‘Aisyah ra dan Hafshah ra. Syi’ah golongan ini Sesat, wajib dilawan dan diluruskan.

Ketiga, SYI’AH MU’TADILAH yaitu Syi’ah yang tidak berkeyakinan Ghulat dan tidak bersikap Rafidhah, mereka hanya mengutamakan Ali ra di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat Ahlul Bait daripada riwayat yang lain, secara zhohir mereka tetap menghormati para sahabat Nabi Saw, sedang Bathinnya hanya Allah Swt Yang Maha Tahu, hanya saja mereka tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan.

Syi’ah golongan inilah yang disebut oleh Prof. DR. Muhammad Sa’id Al-Buthi, Prof. DR. Yusuf Qardhawi, Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syeikh Ali Jum’ah dan lainnya, sebagai salah satu Madzhab Islam yang diakui dan mesti dihormati. Syi’ah golongan ketiga ini mesti dihadapi dengan Da’wah dan Dialog bukan dimusuhi.

Untuk memahami syi’ah golongan ketiga, apa sebenarnya yang dimaksud oleh Habib RS itu perlu dibaca kalimat-kalimat berikut ini:

… pada materi jawaban Habib RS saat diwawancarai oleh majalah SYIAR, Mei 2009, sebagai berikut:

Ada beberapa kesan yang saya dapat dari kunjungan saya ke Iran. Sebagai Sunni Syafi’i, tentu kita punya pandangan sendiri tentang Syiah. Namun demikian, antara memandang Syiah dari jauh dengan memandang Syiah dari dekat itu beda. Dari jauh, Syiah itu begini dan begitu. Sedangkan bila dilihat dari dekat, ternyata tidak seperti itu. Setidaknya, kunjungan saya (ke Iran -red) itu akan melunturkan kebekuan. Tadinya mungkin kaku dan anti-dialog. Tapi setelah kunjungan itu, agak sedikit lebih cair dan terbuka. Yang kemarin tidak mau mendengar sekarang jadi mau mendengar. Yang kemarin mau menyerang kini mengajak dialog.” HRS berhasil dijinakkan kelompok Syiah di Iran dengan segala fasilitas dan kemewahan yang diberikan kepadanya selama kunjungannya ke Iran tersebut..

Meski jawaban Habib RS (2009) atas pertanyaan yang diajukan majalah SYIAR tidak dimaksudkan sebagai ‘pembenaran’ terhadap dugaan yang dikhawatirkan KH Anwar Abbas (2012), namun begitulah faktanya. Artinya, dugaan dan kekhawatiran KH Anwar Abbas sesungguhnya merupakan kenyataan yang sedang berlangsung. Dengan kata lain, upaya penjinakkan itu memang benar-benar terjadi.

 Habib Rizieq Shihab kini Cenderung membela  Syi’ah

Melalui berbagai pernyataannya yang pernah dipublikasikan berbagai media massa, tentunya bekenaan dengan syi’ah, sikap Habib RS bisa dinilai cenderung kepada  membela syi’ah. Misalnya, ketika Habib RS diwawancarai oleh M. Turkan dari Islam Alternatif (Islat). Wawancara berlangsung di sela-sela silaturrahim dan seminar bertema Pergerakan Islam di Indonesia yang berlangsung di Kampus Universitas Imam Khomeini Qom, Iran, Mei 2006.

Ketika M. Turkan dari Islam Alternatif bertanya tentang kaitan konsep amar ma’ruf yang menjadi dasar bertindak FPI dengan tindakan penghantaman terhadap paham sesat Ahmadiyah, ketika itu Habib RS menjawab: “Kalau Ahmadiyyah itu memang kita harus bedakan, karena ada perbedaan dan ada penyimpangan. Kalau antara mazahib-mazahib Islamiyyah seperti Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, termasuk Ja’fari, dan lain sebagainya, ini kita anggap termasuk di dalam lingkar perbedaan yang kita harus tenggang rasa juga berdialog…”


Jawaban Habib RS seperti itu, jelas khas jawaban para penganut syi’ah yang masih belum mau berterus terang dengan ke-SYI’AH-annya. Pertama, mereka memposisikan paham sesat syi’ah sebagai salah satu madzhab dalam Islam, yaitu madzhab Ja’fari.Kedua, perbedaan Islam (ahlussunnah wal jama’ah) dengan syi’ah (madzhab Ja’fari) masih bisa diselesaikan dengan dialog.

Padahal, kesesatan Ahmadiyah juga sebanding saja dengan kesesatan syi’ah. Ahmadiyah (Qadyan) selain menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW dan menjadikan TAZKIRAH sebagai kitab suci, tidak ada menjelek-jelekkan sahabat, memaki-maki sahabat, mengkafirkan sahabat, mengatakan malaikat Jibril salah alamat ketika memberikan wahyu yang seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib, tetapi kesasar kepada Muhammad bin Abdullah SAW.

Dalam kasus Ahmadiyah, Habib RS (sikapnya) sebagaimana Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Sedunia), tidak perlu repot-repot membedakan antara Qadiyani dan Lahore yang ‘hanya’ menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujadid semata. Pokoknya, Ahmadiyah itu sesuatu yang berada di luar Islam. Begitu juga dengan Inkarussunnah, Islam Jama’ah, dan sebagainya dinyatakan sudah keluar dari Islam.

Namun ketika membahas soal syi’ah, standard yang digunakan Habib RS berbeda: “…kita tidak bisa menggeneralisasi semua Syiah sesat atau semua Syiah tidak sesat…”


Perlu difahami, kalimat seperti yang dilontarkan Habib RS ini, sering digunakan oleh kalangan pendukung syi’ah yang masih enggan mengakui ke-SYI’AH-annya, misalnya sebagaimana disampaikan oleh ustadz Husein Alatas (salah satu narasumber Radio Silaturahim/ Rasil) kepada jama’ahnya.

Di Radio Silaturahim (Rasil) selain ada ustadz Husein Alatas yang enggan disebut syi’ah, juga ada ustadz Zein Al-Hadi, salah satu ustadz syi’ah yang berkawan baik dengan Habib RS (menurut pengakuan RS sendiri): “…Ini sebagai gambaran umum dari apa yang saya terima dari Ustadz Hassan Daliel, Ustadz Othman Shihab, Ustadz Agus Abubakar, Ustadz Husein Shahab, Ustadz Zein Alhadi, dan banyak lagi ustadz-ustadz Syiah yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu…” (wawancara dengan SYIAR). Lihat: http://nahimunkar.com/11901/habib-rs-cenderung-syiah/

permasalahan besarnya

Penggolongan asalasalan oleh HRS di atas bagi aktivis anti syi’ah adalah bagian dari izhaarul baatili fii suuratil-haqq tadi. Karena, yang dimaksud kategori ketiga (SYI’AH MU’TADILAH yaitu Syi’ah yang tidak berkeyakinan Ghulat dan tidak bersikap Rafidhah, mereka hanya mengutamakan Ali ra di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat Ahlul Bait daripada riwayat yang lain,…) itu ternyata adalah Syi’ah Ja’fari yang tidak lain adalah Syi’ah Iran, yakni syi’ah Imamiyah atau Itsna ‘Asyariyah (imam dua belas). Jadi ya syiah yang sejak dulu merupakan paham sesat menyesatkan yang cenderung memerangi umat Islam. Iran yang semula Islam, begitu syi’ah punya peluang, ia mampu menjadikan kawasan itu syi’ah dominan, kemudian membunuhi kalangan Islam (sunni). Begitu juga di Suriah, meski minoritas, kalangan syi’ah di sana berhasil menguasai kekuatan politik dan militer, kemudian membunuhi orang Islam (sunni).

Pembagian yang jenis ketiga dan kemudian muatan yang dimaksudkan oleh Habib RS justru syi’ah imamiyah dengan disebut Ja’fariyah lalu  seenaknya di sejajarkandengan madzhab ahlus sunnah yang empat: Hanafi, Maliki Syafi’I dan Hanbali.

Di situlah letak permasalahan besarnya. Karena menggolongkan Syi’ah Imamiyah (yang mengkafirkan orang yang tidak beriman kepada keimaman (al-imamah) yang ada dalam rukun iman mereka, maka dianggap kafir); disejajarkan begitu saja dengan madzhab yang empat (Ahlus Sunnah).

Lagi pula, siapa yang memberi otoritas bagi Habib Riziek Shihab,yang bukan tergolong ulama yang paham akan ilmu2 tauhid secara kaffah, d merupakanan hanya sang masinis dari kelompok pembela mazhab, untuk melakukan pengkategorian seperti tersebut? Kalau ia hanya mengutip pendapat seseorang, apakah seseorang tadi punya otoritas yang diakui ulama Islam? Belum jelas.

Yang juga belum jelas, apakah benar Prof. DR. Muhammad Sa’id Al-Buthi, Prof. DR. Yusuf Qardhawi, Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syeikh Ali Jum’ah dan lainnya, sebagaimana diklaim Riziek Shihab, telah mengakui Syi’ah Mu’tadilah – sedangkan yang dimaksud Habib RS adalah Syi’ah Ja’fariyah — sebagai salah satu madzhab dalam Islam yang mesti dihormati? Wallahua’lam.

Patut pula dipertanyakan, apakah penggolongan seperti tersebut merupakan kepentingan politik yang mengabaikan kepentingan akidah umat? Bila kepentingan politiknya jauh lebih dominan, atau bahkan memang mendasari pengkategorian itu, maka dalam rangka menyelamatkan akidah harus ditolak.

Yang jelas, terhadap penggolongan syi’ah seperti tersebut, nahimunkar sudah pula memberikan ulasan sebagaimana pernah dipublikasikan melalui tulisan berjudul Habib RS Cenderung Syi’ah? (http://nahimunkar.com/11901/habib-rs-cenderung-syiah/) sebagai berikut:

Penggolongan syi’ah sebagaimana teruraikan di atas, (disengaja ataupun tidak) justru menguntungkan penjaja paham sesat syi’ah. Karena, dua golongan di atas (Ghulat dan Rafidhoh) bisa saja mengaku-ngaku sebagai syi’ah mu’tadilah. Apalagi di dalam keimanan syi’ah konsep taqiyah merupakan ibadah. Akibatnya, umat Islam bakalan dikibulin terus oleh syi’ah jika tanpa waspada mau menerima syi’ah mu’tadilah (madzahab Ja’fari, menurut pembagian bikinan ini) sebagai bagian dari Islam.

Penggolongan syi’ah tersebut di atas bagi sebagian kalangan justru akan ditafsirkan sebagai strategi dagang para penjaja paham sesat syi’ah. Mula-mula ditawarkan syi’ah yang mu’tadilah. Kelak kalau sudah berhasil, dinaikkan peringkatnya untuk menerima Rafidhoh.

Terus ditingkatkan lagi hingga bisa menerima Ghulat. Dan bagaimanapun, syiah yang di sini jelas-jelas dari Iran yang di sana para ulama sunni (ahlus sunnah) dibunuhi, masjid-masjidnya dihancurkan dan madrasah-madrasahnya ditutup. KH Athian Ali da’i dari Bandung yang pernah ke Iran mengatakan, pihak kedutaan Indonesia di Teheran mau mengadakan shalat Jum’at saja dihalang-halangi di sana. Hingga hanya dapat dilaksanakan sekitar 20-an orang di dalam kedutaan itu, karena memang dihalangi.

Memaksakan paham sesat syi’ah ke tengah-tengah masyarakat Islam Indonesia memang banyak kendala. Oleh karena itu, kalangan syi’ah menggunakan talbis al-iblis dengan menjajakan sebagian syi’ah yang dikatakannya sebagai madzhab Ja’fari yang seolah-olah tidak beda dengan Islam. Cara ini dilakukan tidak saja oleh Riziek Shihab, tetapi juga oleh para pengasong syi’ah atau pendukung syi’ah, seperti Umar Shihab (MUI), Husen Alatas (Rasil), Zen Al-Hady (Rasil), Said Agil Siradj (NU), SEY (MUI dan Golkar), dan sebagainya.

Sosok Habib Riziek Shihab, sang masinis dari kelompok pembela mazhab, akhir-akhir ini mengalami degradasi  keimanan dan keilmuannyaa, terutama setelah ia terbukti ‘mewajibkan’ umat Islam untuk mendukung Majlis Nurul Musthofa pimpinan Habib Hasan Assegaf yang dilaporkan diduga melakukan perbuatan asusila (homoseks, pedofilia dsb) oleh murid-muridnya sendiri (http://www.youtube.com/watch?v=wI2elNiJIs4). Astaghfirullah…

Jadi jelas sudah kepada siapa keberpihakan sang masinis pembela mazhab ini diberikan. Apalagi, menurut Umar Abduh, Habib Riziek Shihab tidak saja cenderung syi’ah tetapi juga cenderung asbun, sebagaimana bisa ditemukan ketika Riziek mengomentari buku berjudul Mulia dengan Manhaj Salaf karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas di Radio Silaturahim (Rasil AM720). (http://nahimunkar.com/14978/surat-pembaca-waspadai-sms-berantai-dari-kalangan-syiah-yang-galau/)

Masih ada lagi. Selain cenderung syi’ah dan asbun, Riziek juga cenderung mengadu domba antara komponen Islam. Di situs suara islam online edisi 20 April 2012 dipublikasikan seruan Habib Riziek Shihab berjudul Hentikan Sikap Saling Mengkafirkan Sesama Kaum Muslimin (http://www.suara-islam.com/read4414-Habib-Rizieq–Hentikan-Sikap-Saling-Mengkafirkan-Sesama-Kaum-Muslimin.html)

Ternyata, seruan itu merupakan bungkus cantik untuk menutupi tuduhan yang berada di dalamnya. Seraya menghimbau, Riziek juga menuduh. Menurut Riziek, perdebatan seputar ahlussunnah meruncing akibat menyebarnya ceramah-ceramah dan terbitnya buku-buku yang digagas sejumlah oknum dari kalangan Salafi Wahabi.

Lebih parah lagi, di balik bungkus cantik himbauan tadi ternyata juga berisi fitnah. Menurut Riziek, oknum Salafi-Wahabi ini mengkafirkan banyak pihak seperti mazhab Asy’ari yang dikatakan Riziek sebagai madzhab aqidah mayoritas umat Islam Indonesia. Menurut Riziek pula, oknum Salafi-Wahabi tadi juga mengkafirkan Habaib, Kyai, Ponpes, Majalis dan Madaris dari NU, Al-Washliyah, Al-Khairat, FPI, dan sebagainya. Bahkan, menurut tuduhan Riziek, oknum Salafi-Wahabi itu tidak hanya mengkafirkan Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh dan Hizbut Tahrir, namun mensejajarkannya dengan Ahmadiyah dan Liberal.

Dari imbauannya itu terkesan, ibarat orang yang sedang tenggelam, Riziek cenderung meraih apa saja yang bisa diraih asal tidak terus tenggelam. Sambil mengimbau agar tidak saling mengkafirkan, ia menuduh. Sembari mencari simpati sejumlah kalangan, ia melontarkan tuduhan terhadap pihak yang selama ini oleh para pengusung bid’ah diledekin sebagai Salafi-Wahabi.

Kalau ada suara segolongan orang yang menyamakan Riziek Shihab dan gerbongnya itu dengan liberal, memang tidak bisa disalahkan. Kesamaan itu antara lain terletak pada kegemaran mereka yang sama-sama menjadikan pihak ketiga (yang mereka sebut wahabi) sebagai sumber lahirnya radikalisme agama di kalangan Islam. Kalangan JIL, mantan kepala badan intelejen berbintang tiga, termasuk yang mempunyai sudut pandang ini. Begitu juga dengan Said Agil Siradj, dan kalangan syi’ah pada umumnya.

Apakah tuduhan mereka itu sesuai dengan kenyataan?

Kenyataannya, radikalisme agama yang terjadi di Indonesia tidak dimulai awal 2000-an yang konon pelakunya disebut-sebut oknum JI (Jama’ah Islamiyah), yang konon berpaham Salafi-Wahabi. Sebelumnya, di tahun 1984, radikalisme agama dimotori oleh gembong syi’ah seperti Husin Ali Al-Habsyi (kelahiran Ambon, 28 Januari 1953) dan Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo, warga jalan Ketindan no. 62, Lawang, Malang, Jawa Timur yang hingga kini tak diketahui keberadaannya (http://nahimunkar.com/11471/syiah-dan-rangkaian-kasus-peledakan-di-indonesia/).

Cara Riziek menyimpan tuduhan dan fitnah dengan bungkus cantik berupa himbauan bernuansa damai tadi, dapatlah dikatakan sebagai bagian dari pengelabuan (talbis al-iblis) yang tentu saja tidak sesuai dengan sikap yang semestinya dimiliki oleh seseorang yang membela Islam. Apalagi, Riziek pernah digadang-gadang sebagai capres syari’ah oleh FUI. Padahal, seorang capres syari’ah itu selain harus fatonah, amanah dan shiddiq, dia juga harus mampu berkata benar (qaulan sadiida). Bukan ngomong ke kanan tapi maksudnya ke kiri. Tampaknya seperti mengimbau tapi ternyata menuduh. Sepertinya membela Islam, eh… ternyata membela syi’ah.

Ketahuan dari esensi permainan kata atau silat lidah

Pembaca yang kami hormati, betapa dalamnya isi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ(29)

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ(30)

Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? (QS Muhammad: 29).

Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (QS Muhammad: 30).

Imam Ibnu Katsir memaknakan lahn al qaul adalah apa-apa yang muncul dari pembicaraan mereka yang menunjukkan atas maksud-maksud mereka, (di mana) pembicara difahami dari kelompok mana dia dengan makna-makna dan maksud pembicaraannya. Itulah yang dimaksud dengan lahn al qaul. (Tafsir Ibnu Katsir QS Muhammad ayat 30).

Imam al-Baghawi menjelaskan, (Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka) artinya: sesungguhnya engkau (Muhammad) mengenal mereka dalam hal yang mereka kemukakan berupa peremehan dan penyepelean terhadap urusanmu dan urusan Muslimin, maka setelah ini tidaklah seorang munafik pun berbicara di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali beliau mengetahui (maksud sebenarnya) lantaran perkataannya, dan mengetahui cara mengambil bukti kejahatannya dengan (memperhatikan) esensi pembicaraannya. (Tafsir Al-Baghawi QS Muhammad: 30).

Secara mudahnya, walaupun tampaknya yang dikatakan (oleh siapapun yang di dalam hatinya ada yang disembunyikan mengenai Islam) itu ke kanan, namun bagi yang mengerti –sesudah mengenal permainan kata atau silat lidahnya– maka akan mengerti bahwa sejatinya esensi dari perkataannya itu adalah ke kiri.

Contoh kongkret dalam percaturan menghadapi aliran sesat, sering ada tokoh yang tampak ungkapannya simpatik dan kedengarannya rasional mengenai aliran sesat, sering terdengar: perlu kita bina dan luruskan.

Terhadap manusia-manusia jenis ini, bagi yang tahu, ungkapannya itu tidak lain hanyalah bermakna: aliran sesat itu perlu kita pelihara dan lindungi, biarkan saja jangan diusik. Apalagi misalnya yang berkata itu oknum MUI (Majelis Ulama Indonesia) maka perkataannya (tentang aliran sesat hanya perlu dibina dan diluruskan, dan tidak difatwakan sesat) itu jelas dusta belaka. Karena MUI itu tidak operasional, maka bagaimana mau membina aliran sesat agar menjadi lurus? Yang diperlukan itu fatwa bahwa yang sesat itu sesat. Bukan ucapan “perlu kita bina dan luruskan”. Karena MUI tidak operasional.

Mereka ini walaupun tampaknya adalah tokoh-tokoh Islam namun sejatinya adalah tokoh-tokoh yang melakukan penghalangan Islam. Maka tidak mengherankan, bila mereka mendengar ada da’wah yang sesuai dengan Islam, kuping mereka memerah dan keluarlah aneka perkataan yang menunjukkan kebenciannya. Lebih buruk lagi bila untuk menyalurkan kebenciannya itu lalu cari sponsor ke orang kafir, musyrikin, syiah, atau aliran sesat, atau munafiqin, atau pengusung bid’ah dan semacamnya untuk beraksi menghalangi da’wah itu. Sehingga ada seorang da’i dari Jawa Timur yang digerudug oleh para pengusung bid’ah dan orang-orang musyrik di Jawa bagian tengah hanya karena da’i itu biasa menjelaskan bahwa acara-acara peringatan orang mati pada hari ke sekian dan ke sekian itu bukan dari Islam.

Kenyataan menghalangi da’wah dengan aneka dalih itu dikhawatirkan, yang mereka praktekkan pada dasarnya adalah mengusung al-kufru millah waahidah. Kekafiran itu adalah agama yang sama. Sehingga yang mereka kerjakan dan programkan adalah meraih simpati sebanyak-banyaknya dari kalangan kafirin, musyrikin, syi’ah, munafiqin, dan aliran-aliran sesat. Sebaliknya, sebagaimana dalam ayat ditegaskan, dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya (Lihat QS 2: 10). Makanya tidak mengherankan bila mereka lebih tidak nyaman melihat semakin maraknya da’wah yang sesuai dengan Islam atas izin Allah Ta’ala, dan tidak nyaman pula semakin terkuaknya kesesatan syi’ah dan aliran sesat serta kesesatan lainnya (TBC –Takhayyul, Bid’ah dan Khurafat) di kalangan Ummat Islam.

وَاَللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ . وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

10 komentar:

Anonim mengatakan...

AWAS.. PROPAGANDA WAHABI.. TUKANG FITNAH PEMBENCI MAULID DAN HABAIB,

Anonim mengatakan...

Coba ibunya atau bapaknya yang dikafirkan, pasti ngamuk RS.

Syiah imamiyah yg takfir sahabat kok malah ditoleransi? Apa karena sekarang banyak syiah keturunan habaib?

Ingat jgn tutup mata karena satu darah. Satu aqidah lbh penting Bib.

Anonim mengatakan...

yang dimaksud golongan syi'ah ketiga itu adalah zaidiyah, syi'ah zaidiyah.. syi'ah zaidiyah mendirikan imamate yaman.. negara ini didukung penuh pemerintah saudi arabia yang terkenal wahabi ketika kaum sekuler menggulingkan pemerintahan islam imamate yaman tahun 1954.. syi'ah zaidiyah mengutamakan ali, imam ke 5 mereka zaid.. zaid pernah mendapatkan bantuan moril dari imam abu hanifah (hanafi)

Anonim mengatakan...

mas tak perlu nggombal lihat tuh simbol samiry di arab saudi,yg markasnya kaum wahbiah.

Anonim mengatakan...

Hanya bisa bicara....

Anonim mengatakan...

Menganggap syiah kafir mungkin bisa diterima tetapi menganggap ahlu sunnah lainnya syiah , justru cenderung sesat, bukankah pada ahlu sunnah ada 4 mazhab yg setiap mazhab masih bersyahadat lengkap, akan lebih baik mendakwahi saudara muslim lainnya yg dianggap ahli bidah, ahli maksiat(pemabok,pezina dst)daripada mengangap sesama muslim lainnya sesat bahkan kafir.
Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya merupakan kekafiran. (HR. Bukhari Muslim)
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (an-Nisaa’: 48)
"Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya dengan Wahai Kafir, maka kekafiran itu kembali kepada salah satunya "(Bukhari no 5752 )
"Menghindarlah dari umat Islam yang mengucapkan kalimat tauhid ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Jangan kau hukumi kafir lantaran mereka melakukan sebuah dosa. Barangsiapa yang mengkafirkan mereka, maka dia lebih dekat dengan kekufuran” (HR. Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir No. 12912 dari Ibnu Umar)
"Barangsiapa yang melaknat seorang Mukmin maka itu seperti membunuhnya dan barangsiapa yang menuduh seorang Mukmin dengan kekafiran maka itu seperti membunuhnya."(Bukhari no 2227 )

Anonim mengatakan...

trend sekarang ini apa2 teriak syiah,dulu...bid'ah,besok2 teriak nya apa lagi ya...kkkkk

Anonim mengatakan...

jelas terang riziq shihab syiah yang sedang taqiyah

jon lego mengatakan...

Emang dungu orang2 wahai,kl kita dialog ma wahabi jgn pk hadis dan Qur'an mendingan pk golok..cape dialoag ma mrk.. sotoy, dungu,dan tdkjemu-jemu berakhlak.

aa mengatakan...

wow. orang2 yang beragama syiah pada kebakaran jenggot. ketahuan belangnya :)

Poskan Komentar