Rabu, 02 Mei 2012

Matinya Agen Intelijen Amerika atas nama Endang Rahayu Sedyaningsih, Mantan Menkes Pilihan SBY

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)


Setelah berjuang melawan kanker paru-paru stadium 4 akhirnya menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 11.50 WIB di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Rabu, 2 Mei 2012.

Kematian Endang selain mengejutkan juga menyisakan tanda tanya, seputar keterlibatannya dahulu pada proyek Namru-2. Bagaimana perjalanan kontroversi tersebut? Mari kita simak sepak terjangnya membela kepentingan Amerika ini..

Endang Rahayu Sedyaningsih nama yang asing ditengah publik ketika itu. Namun setelah ia ditetapkan sebagai Menteri Kesehatan pada Oktober 2009 yang lalu oleh Presiden RI Susilo bambang Yudhoyono,masyarakat mulai mengenal sosok wanita tersebut.

Tak hanya mulai dikenal oleh publik sebagai Menkes, Endang Rahayu pun mulai dikenal dengan kontroversinya yang aktif di dalam proyek Naval Medical Research Unit No 2 (Namru 2). Proyek yang pernah ditentang keras menteri kesehatan sebelumnya, yaitu Siti Fadilah Supari.

Ketika itu, Menkes lama Siti Fadilah Supari menyampaikan keterkejutannya. Ia tersentak ka"Ibu Endang ini adalah orang yang paling dekat dengan Namru, (suatu lembaga intelijen amerika), diantara rena Endang dipilih SBY sebagai Menkes baru. dengan semua pegawai Depkes," ujar Siti Fadilah.

Naval Medical Research Unit 2 (Namru 2) adalah unit kesehatan angkatan laut Amerika yang berada di Indonesia untuk mengadakan berbagai penelitian mengenai penyakit menular. Anggota dan personil Namru kebal hukum dan memiliki visa diplomatik amerika karena juga merangkap agen CIA di kawasan asia tenggara.  Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta.


Saat itu, Siti Fadilah Supari telah melarang semua rumah sakit di Indonesia untuk mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium Namru. Karena, kontrak kerjasama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.

Dalam bukunya yang berjudul 'Saatnya Dunia Berubah', Siti Fadilah Supari menyoroti WHO dan negara asing lainnya memanfaatkan sampel virus flu burung Indonesia untuk dibuat vaksin, yang selanjutnya dijual ke Indonesia dengan harga mahal. Siti Fadilah Supari juga mengaku sempat memutasi Endang. Alasannya, “Ibu Endang pernah membawa virus flu burung tanpa sepengetahuan kami.” Akhirnya Endang duduk sebagai eselon II tanpa jabatan.

Banyak pihak memprotes keberadaan Namru ,yang memang ternyata telah  menjadi sarana kegiatan intelijen AS dengan berkedok riset. Pada 16 Oktober 2009, pemerintah secara resmi menghentikan kerjasama dengan Naval Medical Research Unit 2 (Namru). Penghentian kerjasama ditandai dengan sebuah surat yang isinya sangat multi tafsir dan terkesan setengah hati.

"Dengan hormat, pemerintah Republik Indonesia menyatakan pemberhentian kerjasama,"

 demikian isi surat Siti Fadilah kepada Duta Besar Amerika Serikat, Cameron Hume. Faktanya hingga saat ini Namru masih beroperasi dan kerjasama diam2 dengan berbagai pihak di Indonesia terus terjadi. Apalagi setelah Siti fadilah yg dianggap anti amerika dan barat serta pro indonesia ini disuruh ganti oleh washington demi malapangkan jalan dan misi intelijennya


Bahkan ketika itu, Munarman pernah menyatakan NAMRU-2 sebagai lab intelijen berkedok medis sehingga layak ditutup, Munarman juga menyebut Jubir Presiden Dino Patti Djalal sebagai agen AS.

“Dino Patti Djalal patut dipertanyakan karena dia mendukung kerjasama laboratorium Indonesia-AS. Seorang jubir presiden menjadi intelijen asing,” ujar Munarman dalam jumpa pers di kantor Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C), Jl Kramat Lontar, Jakarta Pusat, Rabu (23/4/2008).

Munarman berpendapat, Presiden SBY tentunya juga telah tahu NAMRU-2 melakukan kegiatan intelijen. “Tapi dia lagi bingung. Menurut saya sih nggak usah bingung, rakyat pasti mendukung (NAMRU) untuk ditutup,” ujar eks Ketua YLBHI ini.

Sebenarnya SBY bukan bingung , justru dia mencari jalan terbaik untuk memelihara kegiatan intelijen amerika di Indonesia demi mempertahankan kekuasaan SBy selama 2 periode .SBY sendiri merupakan produk kesepakatan tingkat tinggi para elit Indonesia dengan pengambil kebijakan di washington utk menjabat presiden di republik ini..rakyat hanya korban pencitraan sesat lembaga survey dan media2 yahudi dan kapitalis waktu itu.


Menanggapi isu tersebut kala itu, Endang bersikap diplomatis. Dia mengatakan akan tetap bekerjasama dengan Amerika untuk bidang kesehatan. "Tapi bukan dengan Namru. Kami akan lihat nanti bentuk apa yang sesuai," kata Endang dalam jumpa pers, Kamis 22 Oktober 2009.

Namru- 2 kini pun berganti nama menjadi Indonesia United States Center for Medical Research (IUC). Kerja sama Indonesia-Amerika, menurut dia, luas, salah satunya adalah laboratorium biomedis untuk pengembangan vaksin, alat diagnostik, identifikasi virus, bakteri, dan lain-lain.Padahal kegiatan mereka sangat misterius dan rahasia, dan lebih banyak mengandung kegiatan intelijen dlm aspek biologis dan kesehatan serta politik dibandingkan kegiatan kerjasama riset antar negara sebagai mana yg dijanjikan sebelumnya.


Ia juga membantah informasi yang mengatakan bahwa dia menjual specimen virus flu burung ke luar negeri. "Apakah saya menjual specimen, tidak benar. Saya tidak menjual specimen," kata Endang, walau bukti saat siti fadillah menjabat , endang sengaja melakukannya.

Kini, kebenaran kontroversi tersebut, dibawa pergi bersama kepergian Menkes Endang rahayu, apakah Namru-2 benar seperti yang dituduhkan dan keterlibantan Menkes Endang di dalamnya, maka biarlah sejarah yang akan mengungkapkannya. Wallahualam bishshowab

0 komentar:

Poskan Komentar