Jumat, 07 Januari 2011

Pemerintahan Islam yang diridhai Allah SWT

M.Rizal Ismail (bahan khutbah)


PEMERINTAHAN ISLAM yang sebenarnya, yang sesuai dengan kehendak-kehendak Al Quran dan Hadist, hanya dapat ditegakkan oleh beberapa orang saja dalam sejarah. Itupun terjadinya tidak lama, sekitar beberapa tahun saja. Memang demikianlah sunnatullah bahwa kebenaran yang tulen itu tidak panjang umurnya. Bak bunga asli, tidak lama kembangnya dan cepat layu. Sedangkan bunga plastik, tahan lama.

ALLAH memunculkan pemerintahan contoh sesekali supaya manusia dapat membuat perbandingan antara pemerintah-pemerintah yang hak dan yang batil. Supaya manusia tahu arti kebatilan dan kebenaran. Supaya manusia mengakui kelemahannya dan sadar akan kehebatan Tuhannya.Pemerintahan Islam contoh itu hakikatnya pemerintah dari ALLAH. ALLAH sendiri langsung campur tangan dalam urusan-urusan pemerintahan tersebut. Mula-mula ALLAH melahirkan wakilNya, yakni seorang manusia, kemudian ALLAH memberi ilmuNya. ALLAH tanggung rezekinya, ALLAH jadwalkan langkah-langkah perjuangannya, ALLAH tipu musuh-musuhnya, ALLAH menjayakan segala-galanya. Hingga berakhirlah dengan satu bentuk kehidupan yang aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH.

Itulah yang terjadi pada Rasulullah SAW, yang kemudian disambung oleh Khulafaur Rasyidin (Sayidina Abu Bakar As Siddiq, Sayidina Umat Al Khattab, Sayidina Usman Ibnu Affan dan Sayidina Ali bin Abi Talib).
Pemerintahan mereka hanya mengambil masa lebih kurang 30 tahun saja yaitu di awal-awal tahun hijrah. Hingga tahun 100 hijrah atau awal kurun kedua, lahir pula Khalifah Umar Abdul Aziz, diikuti 100 tahun selepas itu dengan lahirnya Imam Syafi'i sebagai mujaddid kurun kedua dan pemimpin thoifah untuk zamannya. Demikianlah seterusnya 600 tahun kemudian, muncullah Muhammad Al Fateh yang membebaskan Konstantinopel sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah. Tetapi sebelum itu telah lahir Salahuddin Al Ayyubi yang menawan kembali Baitul Maqdis. Mereka semua membawa pemerintahan contoh bertaraf ummah dan thoifah. Terutama Rasulullah SAW, betul-betul mewakili ALLAH untuk memimpin manusia kepada kebenaran hingga terbentuklah oleh baginda sebuah masyarakat dan kerajaan Islam kecil, tepat seperti yang ALLAH inginkan. Hakikatnya itulah kerajaan yang dibentuk oleh ALLAH sendiri sebagai satu-satunya negara dan masyarakat terbaik untuk dicontoh dan ditiru oleh dunia sepanjang zaman.Bila Rasulullah wafat, artinya selesailah tugasnya memimpin dan memerintah umat, Sayidina Abu Bakar menyambung kerja-kerja tersebut. Diikuti oleh Sayidina Umar Al Khatttab, yang turut meniru kerja-kerja Rasulullah di zaman Pemerintahannya. Demikianlah seterusnya hingga kerajaan Islam yang adil dan baik itu tidak dapat ditiru oleh pemerintah-pemerintah selepas Khulafaur Rasyidin itu. Generasi selepas Sayidina Ali tidak cukup layak dan tidak memenuhi syarat-syarat untuk menegakkan pemerintahan yang adil. Hingga ALLAH melahirkan seorang pemimpin di setiap awal 100 tahun yang bertaraf mujaddid.

Rasulullah SAW bersabda:

ALLAH akan mengutus untuk umat ini, setiap awal 100 tahun mereka yang memperbaharui (mujaddid) urusan agamaNya.

Dengan cara-cara yang sesuai untuk mujaddid tersebut, ALLAH sendiri yang mendidik dan menjaganya, memberi rezeki dan ilmu serta kecerdikan dan lain-lain hingga berulanglah satu pemerintahan yang benar-benar adil, di tangan para mujaddid. Mereka dapat menepati kehendak Al Quran dan Sunnah RasulNya di zaman mereka. Sebenarnya apa yang mereka bawakan, betul-betul pembaharuan yang memeranjatkan orang sezamannya. Sebab apa yang diperjuangkannya tidak terduga dan tidak mampu dilakukan oleh orang lain. Orang lain pun tidak terfikir untuk berbuat apa-apa. Karena mujaddid itu sebenarnya orang yang ALLAH janjikan. Hadist di atas menjadi hujjah(bukti) kenyataan ini. Mujaddid adalah orang yang dijanjikan.


Selain mujaddid, belum pernah diceritakan adanya individu yang berjaya menegakkan pemerintahan yang adil. Banyak yang memerintah tetapi tidak adil. Memang mereka ingin berlaku adil tetapi ternyata tidak mampu. Sebab halangan, ujian dan masalahnya cukup banyak dan besar. Tidak ada yang tahan kecuali hanya orang-orang ALLAH.Saya sebutkan itu bukan bermaksud untuk melemahkan semangat pejuang-pejuang Islam dan yang berjuang menegakkan Islam. Sekali-kali tidak, karena berjuang itu memang tuntutan agama. Siapa yang melakukannya sangat besar pahalanya. Terbunuh karenanya, syahid. Saya berkata demikian, karena melihat pejuang- pejuang Islam di dunia hari ini, cita cita mereka begitu besar, sedangkan kemampuan dan potensi yang ada kecil saja. Mereka berbincang tentang persoalan internasional dan Islamic Country. Sedangkan diri, keluarga dan jemaah atau partai (harakah) sendiri, tidak memiliki cukup kemampuan. Pengikut diajak berangan-angan besar. Sedangkan usaha, pengorbanan, tenaga, perpaduan dan jiwa, lemah sekali. Hingga perjuangan Islam yang dielu-elukan dianggap hal yang lucu oleh para peninjau. Oleh pendukungnya tidak lagi disegani, karena jelas tidak ada wibawa.

Para mujaddid, pemimpin yang ALLAH lantik itu, bukan meminta kuasa memerintah dan tidak juga merebutnya. Sebab itu mereka tahu tugas memimpin itu tidak boleh diperebutkan. Bahkan mereka dapat menasihati, itu pun sudah cukup baik. Dalam keadaan mereka takut dengan kekuasaan itu, tapi sebaliknya manusia sangat menginginkan kepemimpinan dari mereka. Dengan kekuasaan ALLAH, ALLAH pun akan menyerahkan kuasa memerintah itu kepada mereka. Banyak orang tertarik dengan kepemimpinan mereka. Lalu mereka pun mendapat banyak pengikut. Jemaah mereka menjadi begitu berwibawa, kepemimpinan mereka sangat dikagumi. Dalam keadaan demikian, walaupun dia tidak meminta kuasa memerintah, namun ALLAH serahkan juga padanya.

Demikianlah hasilnya pemerintahan yang adil. Tetapi selain itu, pemimpin yang naik melalui demokrasi, umumnya tidak mampu berlaku adil, walaupun keinginannya begitu besar sekali. Sebab itulah saya peringatkan tadi, supaya pejuang-pejuang Islam jangan berangan-angan. Kalau kita rasa kita bukan orang yang dijanjikan ALLAH, rasanya cukuplah kita berjuang secara kecil-kecilan saja. Baiki diri, keluarga dan masyarakat serta jemaah dengan sungguh- sungguh. Kalau usaha itu berjaya, itu pun sudah cukup besar rasanya. Apa Artinya kita memerintah negara tetapi Islam tidak tertegak oleh kita. Orang hilang kepercayaan terhadap kita. Lebih baik kita menjadi penasihat kepada pemerintah, itulah yang lebih bijaksana rasanya.

Hal itulah yang telah dibuat oleh Imam Syafi'i ketika dia ditawarkan memerintah, lalu ditolaknya. Demikian juga Imam Ahmad, menolak tawaran memerintah. Mereka tidak malu memerintah tetapi tetap menasihati pemerintah agar berlaku adil. Orang yang bertakwa itu, sangat takut dengan ALLAH dalam urusan memimpin. Yang jelas mereka tidak memperebutkannya.Bertindak adil dalam pemerintahan tidaklah mudah. Sedangkan pemerintah yang tidak adil, tidak dapat lepas dari Neraka. Dalam pengalaman dunia, hanya beberapa orang saja pemerintah yang adil, yakni yang layak untuk ke Syurga. Selain mereka, semuanya ke Neraka. Apakah anda suka kiranya jabatan memerintah itu membuka pintu Neraka untuk anda? Tidak bukan? Sebab itu takutlah pada ALLAH kiranya anda dicalonkan untuk menjadi pemimpin. Umumnya pemimpin gagal dalam tugasnya. Terlalu sedikit yang berjaya.Memimpin sebenarnya kerja yang sangat berat dan sulit. Karena itu tidak munasabah untuk dijadikan rebutan. Kalau ada orang yang dapat lebih berbuat, kita sepatutnya bersyukur. Apakah kita ingin berebut untuk memanjat pohon kelapa? Tentu tidak, bukan? Kalau ada orang lain yang dapat membuatnya, kita merasa lega bukan? Demikianlah menjadi pemimpin yang adil, hakikatnya jauh lebih susah dari kerja memanjat pohon kelapa. Apa pendapat anda?Berikut saya paparkan satu contoh pemerintahan adil, yang sangat sulit dan berat untak dijayakan. Moga-moga kita dapat menirunya, kalau kita betul-betul ingin memimpin umat ini.

Sayidina Umar Al Khattab setelah menjadi khalifah

1. Sayidina Umar setelah menjadi khalifah sangat memperhatikan urusan manusia. Selepas dilantik menjadi khalifah, Beliau tidak berupaya tidur di waktu malam. Beliau berkata, "Aku tidak dapat tidur di waktu siang, takut urusan rakyat tidak sesuai. Aku tidak dapat tidur di waktu malam, takut urusanku dengan ALLAH tidak selesai."

3. Di waktu sembahyang malam, hatinya tidak dapat bertumpu pada shalat, karena fikirannya diganggu oleh urusan manusia, kemudian beliau pun menangis.

4. Setiap hari selepas shalat Subuh, Beliau duduk memikirkan urusan manusia serta membagi-bagikan rampasan perang (ghanimah) kepada orang-orang yang berhak. Yaitu rampasan perang yang disampaikan kepadanya oleh ketua-ketua tentara yang menawan negara-negara musuh.

5. Setiap kali beliau menerima harta, beliau senantiasa berfikir kepada siapa harta itu hendak diberikan.

6. Sayidina Umar pernah duduk di hadapan harta yang banyak dan rampasan perang yang sangat besar sekali. Kemudian beliau menyuruh sebagian Sahabat menghitungnya. Selepas itu beliau mengisytiharkan dasar pembagian harta. Ucapannya kepada orang banyak, "Demi ALLAH, tiada Tuhan melainkan Dia, tiada seorangpun di kalangan manusia melainkan baginya ada hak atas harta itu. Tiada seorangpun yang lebih berhak daripada orang yang lain. Saya juga tidak berhak, melainkan saya sama seperti salah seorang dari mereka."

7. Beliau senantiasa bergaul dengan manusia. Kemana saja beliau pergi, beliau senantiasa membawa tongkat kecil di tangannya. Siapa yang bersalah (melakukan kemungkaran dan dosa) dipukul dengan tongkatnya.

8. Sayidina Umar pernah melihat penjual susu menipu di sebuah pasar, lantas beliau memukulnya, kemudian mengancam untuk memenjarakannya. Selepas itu, susu tersebut dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan beliau memberi peringatan bahwa siapa yang menipu akan diazab dengan azab yang menyakitkan. Kemudian beliau mengingatkan manusia tentang Sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa menipu, maka bukanlah dari golongan kami."

9. Waktu siang Beliau mengelilingi pasar Madinah untuk memperhatikan keadaan rakyatnya. Di waktu malam beliau berjalan-jalan keluar untuk mengetahui keperluan rakyat dan di tangan kanannya ada tongkat.

10.Sayidina Umar pernah melihat ada di kalangan orang-orang yang beribadah di dalam masjid, yang tidak bekerja, lantas beliau memukulnya.

11. Sayidina Umar selalu bertanya kepada orang-orang yang ditemuinya di dalam masjid selepas shalat tentang usaha-usaha mereka. Jika didapat ada yang tidak mempunyai usaha, Beliau menggalakkan berniaga atau mendorong untuk menambah kemahiran.

12. Sayidina Umar tidak memberi zakat kepada muallaf karena Beliau berijtihad bahwa Islam telah kuat, berwibawa dan tidak berkeinginan mengambil hati seseorang.

13. Sayidina Umar sangat keras mendisiplinkan diri dan keluarganya. Beliau dan keluarganya tidak sampai terlalu kenyang dan berpakaian berlebih-lebihan.

14. Beliau pernah melihat seekor unta yang gemuk dan cantik lantas bertanya, "Siapa pemilik unta ini?" Ada yang menjawab, "Itu unta Abdullah bin Umar (anak Sayidina Umar)". Mendengar jawaban itu, beliau mengutus seseorang memanggil Abdullah. Setelah Abdullah hadir, Sayidina Umar berkata, "Beruntunglah engkau wahai anak Amirul Mukminin. Unta apa ini?" Abdullah menjawab, "Aku membeli dengan uangku sendiri. Aku berniaga dan melakukan apa yang dikehendaki oleh kaum Muslimin."
Sayidina Umar berkata, "Orang yang melihat akan berkata, jagalah unta itu karena unta itu milik anak Amirul Mukminin. Hal itu membuat untamu gemuk dan bertambah subur. Keuntungan yang engkau peroleh dari unta Amirul Mukminin! Wahai Abdullah Ibnu Umar, ambillah modal yang dulu engkau gunakan untuk membeli unta itu dan untungnya kau berikan kepada Baitul Mal."

15. Sayidina Umar pernah memanggil anggota keluarganya, kemudian berkata, "Manusia semua melihat kepada kamu sebagaimana burung melihat daging. Apabila kamu melakukan sesuatu, mereka akan melakukan. Jika kamu hati-hati, mereka juga akan hati-hati. Sesungguhnya demi ALLAH, tidak ada seorangpun dari kalangan kamu yang melakukan apa yang kularang dilakukan oleh manusia melainkan aku akan azab dia berganda-ganda karena kedudukannya sebagai keluargaku."

16. Seorang Arab Baduwi pernah berkata kepadanya, "Ya Umar! Bertakwalah kepada ALLAH!" Lantas seorang yang ada di dalam majelis itu berkata, "Orang yang seperti engkau hendak berkata kepada Amirul Mukminin bertakwalah kepada ALLAH?" Lantas Sayidina Umar berkata, "Biarlah dia berkata, maka tidak ada kebaikan bagi kamu yang tidak mengucapkannya, juga tidak ada kebaikan bagi kami kalau tidak mau mendengarnya. Biarlah dia ucapkan kepadaku, maka itulah ucapan yang sebaik-baiknya."

17. Sayidina Umar pernah mengajak manusia berhimpun di masjid. Kemudian naiklah beliau ke atas mimbar dan berpidato,"Wahai sekalian Muslimin, apa yang akan kamu katakan kalau aku sudah cenderung dengan dunia, sedangkan karena kalian takut bersalah, maka tiada seorang pun di kalangan kamu yang sanggup menegah karena membesarkan aku. Jika aku baik, tolonglah aku. Jika aku bersalah, betulkan aku." Kemudian seorang lelaki berkata, "Demi ALLAH, jika kami lihat engkau telah keluar dari kebenaran, niscaya kami akan kembalikan kamu kepada kebenaran." Kemudian melompat seorang lelaki yang lain lantas berkata, "Demi ALLAH, ya Amirul Mukminin, jika kami melihat kamu menyeleweng, niscaya kami membetulkan engkau dengan pedang-pedang kami."

Kemudian Sayidina Umar berkata, "Moga-moga ALLAH merahmati kamu. Segala puji bagi ALLAH yang telah membuat ada di kalangan kamu, orang yang akan meluruskan Umar dengan pedang-pedangnya."

18. Sayidina Umar pernah berucap di atas mimbar, "Wahai manusia, aku akan berdoa, aminkanlah." Dia pun mengangkat dua tangan dan berdoa, "Wahai Tuhan, aku ini kasar, lembutkanlah aku untuk orang yang mentaati Engkau sesuai dengan kebenaran, karena menuntut keredhaanMu dan Hari Akhirat. Dan berilah aku rezeki kekerasan dan ketegasan terhadap musuh-musuhmu dan orang-orang yang fasiq dan munafiq dengan tidak menzalimi mereka dan tidak juga memusuhi mereka. Wahai Tuhanku, aku bakhil. Maka jadikanlah aku pemurah dengan tidak membuang-buang harta, mubazir dan tidak riya' serta bermegah-megahan. Jadikanlah aku dengan demikian itu, bertujuan karena ZatMu dan Negeri Akhirat.

"Jadikanlah aku merendahkan sayap dan diri terhadap orang-orang Mukmin. Ya ALLAH, aku ini telah banyak lalai, dan ilhamkan aku untuk mengingatMu di dalam keadaan apapun. Dan ingatkanlah aku kematian di setiap ketika. Wahai Tuhanku, aku ini lemah beramal untuk mentaatiMu, berilah aku rezeki, kegagahan dan kekuatan ke atasnya dengan niat yang baik dan yang tidak akan terjadi, kecuali dengan taufiq dan kemuliaanMu. Wahai Tuhan tetapkan aku dengan keyakinan, kebajikan dan kekuatan. Dan berilah aku khusyuk pada apa saja yang membuat Engkau redha padaku, dan berilah aku rezeki untuk muhasabah diri dan memperbaiki segala niat serta senantiasa mengawasi terhadap segala yang syubhat. Wahai Tuhan, rezekikanlah aku berfikiran dan mengambil perhatian pada apa saja yang akan diucapkan oleh lidahku dari kitabMu dan berilah aku kefahaman dan sangat memperhatikan pengertiannya dan mengkaji rahasia-rahasia dan beramal dengan apa yang tersimpan."

19. Selepas berdoa beliau berucap, "Wahai manusia, sesungguhnya Arab itu seumpama unta yang lemah dan akan menuruti orang yang menuntunnya, di mana saja dia dituntun. Sesungguhnya demi Tuhan, aku akan membawa kamu di atas hal kebenaran." Kemudian beliau pun turun dari mimbar dan menulis satu surat kepada petugas-petugasnya, meminta mereka sangat memperhatikan untuk memperbaiki urusan mengatur keuangan orang banyak dan bertanggung jawab terhadap keperluan-keperluan manusia. Selepas itu beliau berucap,"Wahai para gubernur sekalian, sesungguhnya kalau kami lihat harta ini halal bagi kami niscaya kami akan menghalalkan untuk kamu. Apabila tidak halal bagi kami, kami akan larang untuk diri kami, maka hendaklah kamu hindarkan untuk diri-dirimu."

20. Sayidina Umar sangat aktif mengirim tentaranya ke negara-negara lain seperti Iraq dan Syam, tetapi bukan untuk menjajah atau untuk kekayaan dunia. Beliau melakukan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Sayidina Abu Bakar dengan tujuan mempertahankan Islam dari serangan musuh, menyebarkan ajaran Islam dan membebaskan manusia dari belenggu kehinaan dan penghambaan sesama manusia (oleh bangsa Parsi dan pemerintahan Rom), dan juga untuk membangun masyarakat manusia atas asas meneguhkan rasa persaudaraan di bawah satu naungan, satu agama, bertoleransi, adil dan memberi kebaikan. Caranya ialah mengajak manusia dengan cara yang bijaksana dan nasihat-nasihat yang baik. Hanya jika mereka memerangi, barulah akan diperangi.

21. Sayidina Umar pernah menasihati para kadhi (hakim) agar jangan menghukum dengan melihat yang zahir semata-mata. Beliau mengambil iktibar dari kisah Nabi Yusuf a.s. Sesungguhnya saudara Nabi Yusuf a.s. mencampakkannya ke dalam perigi, kemudian mereka kembali kepada bapak mereka dengan menangis.

22. Sayidina Umar sangat mesra dengan Sayidina Ali. Beliau selalu bersababat dengannya walaupun perbedaan umur di antara keduanya sangat jauh. Persahabatan antara keduanya sangat rapat dan mereka sangat berkasih sayang. Di antara satu sama lain senantiasa mengiktiraf kedudukan masing- masing.

23. Apabila Sayidina Ali menyebut namanya di sisi Sayidina Umar, Sayidina Umar akan berkata: "Ali orang yang paling pandai menghukum di kalangan kami." Apabila Sayidina Umar menghadapi kesamaran dalam suatu masalah, dan Sayidina Ali tidak ada bersamanya, hatinya tidak tenang dalam menghukum, lalu dia akan berkata, "Tidak ada keputusan sedangkan Abal Hassan tidak ada." Seringkali beliau menyebut, "ALLAH tidak akan menghidupkan saya di satu bani yang Abal Hassan tidak ada padanya."

24. Sayidina Ali juga mengakui kelebihan yang ada pada Sayidina Umar. Beliau selalu saja menyebut tentang kelebihan Sayidina Umar karena beliau pernah mendengar Rasulullah SAW menyebut, "Sebaik-baik manusia selepas Rasulullah SAW ialah Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar."

25. Sayidina Umar sangat amanah dalam menjaga harta Baitul Mal. Pada satu ketika dia naik ke atas mimbar hendak memberi nasihat, tiba-tiba dia merasa sakit. Ada orang mengatakan bahawa obatnya ialah madu lebah. Sedang di waktu itu di dalam Baitul Mal (Perbendaharaan Negara) ada tersimpan setong (segariba) madu lebah. Namun beliau berkata, "Kalau tuan-tuan izinkan, saya akan mengambilnya sedikit, tetapi kalau tidak, haramlah saya mengambilnya."

Beliau juga pernah berkata, "Wahai umat, kamu harus maklum bahwa harta Baitul Mal itu bukanlah kepunyaanku atau keluargaku. Harta Baitul Mal adalah kepunyaan kamu, dan kamu berhak menerimanya. Aku diamanahkan supaya menjaga harta kamu ini. Dan kelak aku akan ditanya oleh ALLAH tentang bagaimana caranya aku menjaga harta itu dan bagaimana caranya aku mengurus kepentingan umat Islam. Celakalah aku nanti sekiranya ALLAH mendapatkan aku tidak amanah terhadap harta Baitul Mal itu."

26. Melayani seluruh rakyat dengan rasa persamaan dan bersikap adil walaupun kepada orang yang dipandang rendah.
Pada satu hari Umar pergi naik haji, Safyan Ibn Umayyah menyediakan dan mengajaknya makan. Lalu dikeluarkanlah sebuah nampan besar makanan diangkat oleh empat orang khadam. Mereka pun makan tetapi khadam-khadam itu berdiri saja. Lalu Umar berkata, "Mengapa saya lihat khadam-khadam tuan tidak makan bersama." Lalu mereka menjawab, "Tidak, demi ALLAH ya Amirul Mukminin, tetapi mereka makan sesudah kita untuk menunjukkan kebesaran kita." Mendengar itu beliau marah, lalu berkata, "Tiap-tiap kaum yang merendah-rendahkan khadamnya akan direndahkan ALLAH. Ayo, khadam-khadam, mari makan bersama-sama!" Maka khadam-khadam itupun makan bersama-sama sehingga tidak ada lagi makanan yang dimakan oleh Amirul Mukminin.

27. Sayidina Umar sangat tegas bila berhadapan dengan penganiayaan dan sikap mementingkan diri seorang Muslim terhadap saudaranya yang lain.

Pernah terjadi seorang lelaki datang ke kampung di sebuah oasis meminta air minum. Malangnya penduduk kampung pedalaman itu tidak mau memberinya, hingga orang itu mati. Maka oleh Sayidina Umar seluruh penduduk kampung itu dikenakan diat (denda karena membunuh).

28. Sayidina Umar tidak pilih kasih, tidak takut dalam urusan pemerintahan sekalipun kepada tokoh-tokoh besar yang berpengaruh. Suatu masa ketika tangan kanannya memegang tongkat (cambuk) Sayidina Umar pergi ke Mekkah. Beliau telah bertemu dengan Abu Sufyan (seorang pembesar yang terkenal) yang sedang duduk berdekatan dengan batu-batu. Umar berkata, "Angkat batu ini!" Lalu batu itu diangkat oleh Abu Sufyan. "Ini juga, ini juga," kata Beliau lagi. Semuanya diangkat oleh Abu Sufyan dengan tidak bertanya apa sebabnya, untuk apa, sampai 5 atau 6 buah batu. Setelah itu Sayidina Umar terus mengadapkan mukanya ke Ka'bah lantas menangis, "Segala puji bagiMu ya ALLAH yang telah membuat Umar sanggup memerintah Abu Sufyan di pusat kelahirannya sejati (Mekkah) dan diturutinya perintah itu."

29. Sayidina Umar berdaya upaya menyeimbangkan sikap lunak dan kerasnya semasa memerintah. Pernah orang mengadu kepadanya melalui Abdul Rahman bin Auf, "Umar, engkau telah menimbulkan rasa takut sehingga mata kami tidak kuat menentang matamu." Lalu berkata Sayidina Umar kepada Abdul Rahman bin Auf, "Benarkah mereka berkata demikian? Demi ALLAH, aku telah mencoba melunakkannya sehingga disebabkan sikap itu aku takut dimurkai oleh ALLAH. Aku telah mencoba berkeras, sehingga aku juga takut dimurkai ALLAH karenanya. Oh bagaimana lagi? Bagaimana nasibku dibandingkan dengan mereka?"

30. Bila rakyat melihatnya, mereka takut kepada ALLAH. Seorang lelaki Quraisy telah menemui Sayidina Umar dan berkata, "Bersikap lunaklah kepada kami, sebab kami sudah amat gentar melihatmu." Umar menjawab, "Apakah di situ tersimpan perbuatan saya yang zalim?" "Tidak," jawab lelaki itu. Maka kata Umar, "Kalau demikian, biarlah ALLAH menambah takut dalam hatimu terhadap aku."

31. Sayidina Umar sangat takut kepada ALLAH dalam urusan pemerintahannya. Pada satu ketika Anas bin Malik sengaja mengikuti Sayidina Umar tanpa sepengetahuannya. Sampai di satu kamar yang kecil, Umar masuk ke dalamnya sedang Anas mendengarnya dari sebelah dinding. Anas melaporkan, "Setelah dia bersunyi diri dalam kamar itu terdengarlah dia berkata kepada dirinya sendiri, bolehkah engkau bersenang diri wahai Umar, takutlah kepada ALLAH, jika tidak kau akan diazabNya."

32. Sayidina Umar tidak berbangga dan sangat menjaga hatinya ketika menjadi khalifah. Pada satu ketika dia mengangkut air di belakang badannya. Maka beliau ditegur oleh sahabat-sahabatnya, "Hai Amirul Mukminin, mengapa tuan sendiri yang memikul air ini?" Jawabnya, "Aku merasa bahwa diriku telah merasa takabur, lalu kupikul air ini untuk menundukkannya." Beliau sangat menganjurkan rakyatnya hidup berdikari. Sayidina Umar pernah berkata, "Pelajarilah hidup susah, karena mungkin engkau kelak akan menderita dengan kesusahan." Beliau juga pernah berpesan, "Pekerjaan yang kelihatannya rendah lebih mulia dari sikap meminta-minta."

34. Sayidina Umar sangat toleransi dengan rakyatnya sekalipun bagi mereka yang bukan Islam. Pada suatu hari, yaitu ketika Baitul Muqaddis telah dibebaskan oleh tentara Islam, beliau pergi ke Gereja Al Qiamah di Baitul Muqaddis untuk menziarahi pendeta kristen untuk bertukar fikiran dan bermesra dengan mereka. Dalam percakapan itu, pendeta kristen itu sangat kagum dengan sifat tawadhuk, sopan santun dan pekerti mulia yang dilahirkannya. Sifat-sifat itu jarang ada pada pemimpin-pemimpin kristen Kerajaan Rom yang memang keras dan zalim. Ketika mereka berbincang, tiba waktu shalat. Memang tidak salah kalau Beliau shalat di dalam gereja sekalipun. Tetapi sebaliknya beliau melakukan shalat di luar bangunan itu. Ketika ditanya, "Mengapa tuan shalat di luar? Bukankah lebih nyaman shalat di dalam ?" Sayidina Umar menjawab, "Benar tuan. Memang tidak ada salahnya. Tetapi saya tidak mau di kemudian hari kelak orang menuduh saya menukar gereja menjadi mesjid lalu perbuatan saya dicontoh oleh kaum Muslimin."

35. Sayidina Umar sangat mementingkan nasib rakyatnya. Beliau selalu duduk bersama rakyatnya, makan dan berbincang bersama tanpa kelihatan perbedaan tingkat hidup di antara beliau dan rakyatnya. Pernah terjadi satu musim kemarau yang sangat dahsyat hingga makanan begitu begitu sukar didapat di Madinah. Sayidina Umar bersama-sama rakyatnya begitu menderita dengan ujian ini. Satu ketika dibawa oleh pelayannya sedikit minyak sapi dan susu ke rumahnya. Kata pelayan itu, "Ya Amirul Mukminin, saya membeli sedikit minyak sapi dan susu ini dari uang saya sendiri untuk tuan..."

Mendengar kata-kata pelayannya, beliau berkata, "Pergilah engkau hadiahkan kepada orang Islam yang lebih memerlukan. Aku tidak akan makan makanan seperti susu dan minyak sapi itu selagi aku masih melihat ada orang Islam yang lapar dan susah di negara ini."

Beliau selalu shalat dan berdoa di malam hari di masjid. Suatu malam datanglah seorang utusan dari Iraq ke Madinah untuk bertemu dengan Khalifah Umar. Karena waktu itu haripun telah jauh malam utusan itu singgah bermalam di mesjid. Waktu itu Sayidina Umar baru selesai shalat. Melihat tetamu itu masuk Beliau pun mendekatinya seraya bertanya, "Anda nampaknya datang dari jauh. Dari mana anda datang? Apa yang anda inginkan?"

Jawab utusan itu (tanpa mengetahui orang yang bertanya itu ialah Sayidina Umar sendiri), "Aku datang untuk bertemu Khalifah. Tetapi hari telah jauh malam, aku keberatan sekali mengganggu beliau di rumahnya..." Sayidina Umar memberitahu orang itu bahwa ia boleh bertemu dengan khalifah di manapun dan kapan saja. Bila melihat utusan itu kurang percaya tentang apa yang didengarnya, beliau pun berkata, "Sayalah Umar..." Utusan itu terkejut karena khalifah masih berjaga walaupun hari telah larut malam dan sanggup melayani tetamu. Tidak tidak menyangkan sama sekali! Amirul Mukminin berkata, "Wahai saudaraku... jika saya tidur di malam hari maka berarti saya menyia-nyiakan diri saya sendiri. Jika saya tidur di siang hari, berarti saya mengabaikan umat!"

37. Sayidina Umar sangat adil sekalipun kepada orang bukan Islam. Pada satu masa beliau melihat seorang tua menadahkan tangan kesana kemari meminta sedekah. Beliau amat terharu lantas bertanya, "Pak, mengapa hidup jadi begini? Tidakkah bapak punya anak?"
"Saya orang susah tuan. Kalau tidak meminta sedekah bagaimana saya hendak membayar jizyah?"
Maka sadarlah Khalifah Umar bahwa orang tua itu beragama yahudi. Beliau berkata, "Hai orang tua. Engkau tidak patut bekerja mencari nafkah untuk keluarga lain. Dan aku tidak mau melihat bapak hidup meminta-minta. Mulai hari ini biaya hidupmu dan keluargamu akan dibiayai oleh Baitul Mal setiap bulan!"

Setelah orang tua itu berlalu, Sayidina Umar berkata kepada pembantunya, "Sedih sekali aku melihat orang yahudi tua itu. Tidak adil kalau kita biarkan dia meminta-minta sedangkan semasa mudanya dia telah penat lelah mencari nafkah untuk keluarganya dan menunaikan tanggung jawab kepada negara. Tetapi setelah tua ia masih terus mencari uang untuk membayar pajak. Itu tentu tidak sesuai. Segera tulis namanya sebagai golongan yang berhak mendapat bantuan dari kita setiap bulan."

38. Beliau sangat mengasihi rakyatnya sekalipun kepada anak-anak.
Satu ketika sewaktu melantik seorang gubernur baru di satu wilayah, Sayidina Umar berjalan-jalan melihat keadaan rakyat bersama gubernur barunya. Beliau telah melihat seorang anak kecil lalu diangkat, ditimang serta diciumnya. Melihat keadaan Umar yang sangat halus dan penyantun itu, gubernurnya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, patutkah tuan melayani anak kecil seperti ini? Saya fikir tidak perlu bagi seorang pemerintah melayani anak kecil. Demi ALLAH saya sendiri tidak pernah berbuat demikian."

Mendengar itu beliau menjawab, "Demi ALLAH, tahukah engkau bahwa barangsiapa yang tidak mempunyai belas kasihan dan santun terhadap orang lain maka ia tidak sepatutnya diberi amanat untuk memelihara kepentingan umat. Tidakkah engkau tahu wahai pejuang ALLAH, bahwa anak-anak kecil juga sebagian rakyat kita? Aku bukan saja khalifah untuk umat Islam. Tetapi juga khalifah untuk anak-anak!"

39. Sayidina Umar sangat ditaati oleh rakyatnya hingga air Sungai Nil pun mematuhi perintahnya.

Ketika gubernurnya di Mesir Amru Al Ash mengirim surat bahwa air Sungai Nil telah semakin surut dan kering. Menurut kepercayaan penduduk asal (bangsa Qibti), seorang anak dara mestilah dikorbankan untuk membuat air mengalir seperti biasa, Sayidina Umar cuma mengirim surat dengan pesannya surat itu hendaklah dijatuhkan ke dalam Sungai Nil. Surat itu berbunyi:

"Surat ini dikirimkan oleh Umar, Amirul Mukminin kepada Sungai Nil. Hai Sungai Nil... kalaulah air yang mengalir pada tubuhmu itu bukanlah dari kuasa ALLAH maka kami tidak memerlukan engkau sama sekali. Tetapi kami percaya ALLAH itu Maha Berkuasa dan kepadaNya kami mohon supaya engkau mengalir seperti biasa." Ketika surat itu jatuh ke dalam Sungai Nil, airnya pun mengalir seperti sedia kala.

40. Beliau sangat takut dengan amanah kekhalifahan yang disandangnya dari awal hingga akhir hayatnya. Ketika dilantik menjadi khalifah beliau berkata, "Kalaulah aku tahu ada di antara kamu lebih baik dan lebih kuat dariku dalam menjalankan tanggung jawab sebagai khalifah, aku lebih rela leherku dipotong daripada menerima jabatan ini..." Ketika hampir wafat setelah ditikam, beliau berpesan kepada anaknya (Abdullah bin Umar), "Wahai Abdullah, keluarga Umar tidak menaruh niat sedikit pun untuk menjadi khalifah. Cukuplah di kalangan mereka Umar Al Khattab saja yang akan ditanya oleh ALLAH SWT tentang tanggung jawabnya terhadap umatnya. Anakku... sekali kali jangan, jangan engkau mengingat ingat akan jabatan khalifah in

0 komentar:

Poskan Komentar