Minggu, 19 Desember 2010

Peranan Ulama dalam masyarakat modern

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Peranan u ama dalam perkembangan ilmu sekarang termasuk suatu hal yang sulit. Selain karena perubahan-perubahan sosial yang menggeserkan berbagai peran elit manusia juga karena banyak sekali ilmuwan yang merasa berhak mendefinisikannya terma ini. Tetapi, paling tidak semua orang setuju dengan definisi yang diberikan Nabi Muhammad saw, yaitu ulama adalah para pewaris Nabi. Yang kemudian menjadi perbedaan pendapat adalah ketika orang menginterpretasikan bagaimana sosok pewaris Nabi itu.

Mungkin hanya Nabi Muhammad saw yang membawa risalah yang konprehensif baik yang berhubungan dengan “hablumminallah” maupun yang berhubungan dengan “hablumminannas”. Secara umum pengutusan rasul-rasul itu untuk memperkenalkan sang Pencipta alam ini yaitu Allah swt, dengan segala kewajiban-kewajiban hamba sebagai makhluk baik untuk menjaga sifat kesucian Allah maupun dalam rangka mendidik hamba itu sendiri menjadi mahluk yang bermakna di permukaan bumi ini.

Mengikuti sejarah Nabi Muhmmad saw, beliau tidak hanya berperan sebagai seorang Nabi pembawa wahyu, pengajar ilmu (guru), penjelas mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi juga berperan sebagai pemimpin negara bahkan dapat dikatakan sebagai negarawan yang mengagumkan. Jika para sahahat Nabi yang setia, dianggap juga pewaris Nabi seperti Abu bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, mereka pun telah memperlihatkan kepada kita bahwa mereka tidak membatasi diri hanya sebagai guru saja, tinggal di madrasah atau dayah-dayah. Ke empat shahabat Nabi ini menerima beban tanggungjawab yang diamanahkan oleh umatnya yaitu sebagai pemimpin negara. Baru pada masa Mu’awwiyah, kekuasaan ulama dibatasi hanya sebagai hakim dan pemimpin agama saja. Ini dikarenakan Mu’awwiyah sendiri tidak begitu dalam ilmu agamanya karena terlambat bergabung dengan kelompok Nabi.

Mengikuti sejarah umat Islam, sebenarnya tidak ada salahnya seorang ulama memegang tampuk pimpinan di sebuah negara. Namun yang perlu dijaga adalah sifat keadilannya. Karena masalah keadilan adalah masalah universal. Siapapun dan kapanpun menjadi pemimpin ketika dia tidak dapat berbuat adil dia akan ditinggalkan atau malah bisa menuai protes, bisa dalam bentuk ringan dan bisa dalam bentuk berat. Islam sendiri adalah agama yang sangat memberikan perhatian pada keadilan.

Karena itu kalau ada yang berpendapat, ulama tidak boleh ikut campur dalam masalah politik, itu berarti kita telah mengabaikan kesuksesan umat Islam dalam sejarah. Tetapi perlu dibuat catatan, politik yang diperjuangkan Nabi dan juga Khulafaurrasyidin bukan politik partai, bukan politik mazhab, bukan politik aliran, bukan primordial, tetapi politik demi agama dan kemajuan umat. Ada yang memberikan istilah “high politics”. Mungkin karena berjuang bukan demi sekte, tetapi benar-benar demi kemajuan agama Allah dan persatuan umat mereka tidak ada yang merasa takut dengan ancaman, kehilangan jabatan, kemiskinan, bahkan juga penderitaan. Karena yang ditakuti oleh ulama hanyalah Allah. Seperti dijelaskan dalam Alquran. Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (Q.S.Fatir:28).

Kehadiran Nabi Muhammad saw sebagai teladan yang harus dicontoh oleh para pewaris Nabi membawa ajaran untuk kedamaian dunia tidak hanya untuk masyarakat tertentu. Itu berarti para pewaris Nabi harus memahami ajaran Islam secara kafah termasuk memahami masyarakat dunia. Kalau tidak, para pewaris Nabi akan tersekat menjadi pendekar untuk orang kampungnya sendiri saja. Padahal Islam ada di mana-mana, di mana pun pelosok dunia.

Kita sudah sering mendengar cercaan orang belajar agama di Barat itu sesat dan bermacam label lain yang tidak pantas. Pernyataan itu tidak akan muncul jika kita bersedia mengkaji Islam ini sedikit lebih dalam dan meluas. Seperti sudah disentuh diawal pengantar ini bahwa Islam yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad saw dan khulafaurrasyidin tanpa sekte, tanpa aliran. Orang-orang Barat juga berhak beragama Islam. Atau orang-orang Islam juga berhak hidup di Barat dan berdakwah di Barat.

Seperti juga kenyataan bahwa Islam selalu diamalkan sesuai dengan kultur umatnya. Karena itu kita pasti menemukan perbedaan-perbedaan tertentu di kalangan umat Islam di dunia ini. Sesuatu yang dianggap penting pada umat Islam di tempat tertentu tidak dianggap penting pada umat Islam di tempat lain. Bayangkan saja ada umat Islam di tempat tertentu mengharamkan rokok, tetapi dapat dianggap mulia jika disodorkan rokok kepada teman atau gurunya di kalangan umat Islam lainnya.

Begitulah Islam dan umat Islam sekarang telah hadir di permukaan bumi. Hal ini harus dipahami secara seksama sehingga tidak menimbulkan saling menuding apalagi sampai mencerca. Jika ada yang dianggap melenceng dari inti ajaran Islam hendaknya didiskusikan secara ilmiah dengan menggunakan argumen yang meyakinkan. Tidak dengan cara menduga. Objek yang didiskusikan benar-benar fakta bukan mendengar dari orang lain atau tulisan orang lain yang sebenarnya juga tidak jelas sumbernya.

Saling mendeskreditkan sesama ulama dan umat Islam akan mengakibatkan semakin melemah persatuan dan semakin kurang wibawa dan semakin kurang dihargai oleh orang lain bahkan oleh umatnya sendiri. Padahal begitu banyak umat mengharapkan tangan suci para ulama baik untuk menyirami kalbu mereka yang sedang gersang, bahkan juga yang sedang terpuruk di lembah nista.

Masih banyak umat di dunia ini yang menaruh harapan pada ulama, malah bukan hanya umat Islam tetapi juga umat di luar agama Islam. Seperti penemuan sistem perbankkan Islam yang menyediakan sistem bagi laba telah menaruh perhatian banyak umat yang meniti dunia dagang. Sistem ini dianggap lebih adil dan menguntung semua pihak. Dengan sistem ini seseorang nasabah tidak dikejar oleh bunga utang. Beberapa kali peristiwa dunia yang mengharapkan kehadiran ulama Islam untuk menyelesaikan. Misalnya, ketika beberapa relawan dari Korea Selatan bekerja untuk kemanusiaan di Afganistan diculik oleh kaum Thaliban. Pemerintah Korea telah bernegosiasi dengan mereka tetapi gagal. Ketika gagal, mereka tidak meminta Amerika Serikat sebagai negara kuat untuk membantu mereka. Mereka justru minta ulama untuk menengahinya.

Hendaknya begitulah ulama kita terus berinovasi agar umat ini juga terus menjadikan ulamanya sebagai puritan. Jika Ulama kita dapat melakukan demikian, saya yakin sekali umat tidak lagi mengidolakan bintang film atau bintang rock atau demonstran petualang. Dalam sejarah perjalanan umat Islam termasuk di Aceh telah ditunjukkan kepada kita bagaimana umat Islam dahulu menghormati ulamanya. Ini karena ulama selalu tampil sebagaimana harapan mereka. Ulama telah tampil membela negara dari penjajahan kaum kafir. Ulama telah tampil membela agama mereka dari kehendak orang-orang yang ingin merusaknya. Ulama telah tampil mendamaikan hati diantara mereka yang berselisih sesama saudaranya. Karena itu marilah kita belajar dari sejarah

0 komentar:

Poskan Komentar