Minggu, 28 November 2010

Masa Kepemimpinan Islam

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

"Dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adlan), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah)”. Kemudian beliau (Nabi) diam.”

(H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273).

----------------------------------------------------------------------------------
Zaman Kenabian
Pada zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, kaum muslimin berada dalam satu Jama’ah dan Imamah. Mereka hidup kompak di bawah pimpinan Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mendirikan perkumpulan, perserikatan, atau partai, apalagi negara, untuk mengamalkan wahyu Allah yang disampaikan kepada beliau. Setelah wahyu diterima, beliau mengamalkannya dan mendakwahkan kepada ummat manusia.

Kaum muslimin pun, memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya serta mengikuti beliau. Dengan berjama’ah mereka mengamalkan wahyu Allah dan mengikuti perbuatan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Orang pertama yang memenuhi seruan Rasulullah ialah isteri beliau, Khadijah, dari kalangan wanita, Abu Bakar dari kalangan pria, serta Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah dari kalangan pemuda.

Jumlah kaum muslimin dan muslimat semakin hari semakin bertambah banyak, termasuk sahabat-sahabat besar, seperti Utsman bin Affan, Hamzah Bin Abdul Muthalib, Umar bin Khaththab, dan lain-lain.

Kaum muslimin yang mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan jama’ah pertama, Jama’ah Muslimin yang langsung dipimpin oleh beliau sendiri.

Masa kepemimpinan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kehidupan berjama’ah bersama kaum muslimin kurang lebih selama 23 tahun.

-----------------------------------------------------------------------------------
Zaman Khilafah

Zaman Khilafah dimulai sejak wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yakni pada masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin, Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhum.

Mereka adalah para Khalifah yang dibenarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagai Khalifah yang mendapat petunjuk yang benar dari Allah. Bahkan, Rasulullah berwasiat kepada kaum muslimin agar berpegang teguh pada Sunnahnya dan Sunnah Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin. Rasulullah bersabda:
“Aku berwasiat kepada kamu agar tetap bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat sekalipun yang memimpinmu adalah seorang budak Habsyi, karena orang yang hidup di antara kamu di kemudianku akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, hendaklah kamu berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin (para khalifah yang mendapat petunjuk yang benar). Hendaklah kamu pegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gerahammu. Jauhilah perkara-perkara yang baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya semua perkara yang diada-adakan itu bid‘ah dan semua bid’ah adalah sesat.” (H.R. Ahmad dari Irbadl bin Sariyah. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 126-127; Sunan Abu Dawud, Kitabus Sunnah, juz 4, halaman 200-201, hadits nomor 4607; Sunan At-Tirmidzi, Jami’ush Shahih, Kitabul Itsmi, bab Maa Ja-a fil Akhdzi bis Sunnati wajtinabil bida’i, juz 5, halaman 44, hadits nomor 2676).

Sebagaimana halnya pada masa kepemimpinan Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Sallam, kaum Muslimin pada masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin (11-40 H/632-661M) pun hidup kompak dan berjama’ah di bawah satu pimpinan.

Mereka tampil sebagai sebaik-baik ummat yang dibangkitkan untuk sekalian manusia, hidup berjama’ah dengan satu pimpinan (Imam) yang memimpin ke arah taqwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib terjadi peristiwa yang menyebabkan keduanya menemui syahid. Peristiwa ini mengandung pelajaran bagi kaum muslimin agar tidak terjadi lagi.

Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin berkisar selama 30 tahun, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
“Khilafah pada ummatku adalah tiga puluh tahun, selanjutnya adalah Kerajaan.” (H.R. Abu Daud dari Safinah. Sunan Abu Dawud, Kitabus Sunnah, bab fi al Khulafau, Al-Maktabah Dahlan Indonesia, juz 4, halaman 211, hadits nomor 4646, 4647)

------------------------------------------------------------------------------------
Zaman Mulkan
Setelah berakhirnya zaman Khilafah -yang menempuh jalan kenabian dengan kehendak Allah subhanahu wa ta'ala, kaum muslimin memasuki zaman Mulkan Adlan (kerajaan yang menggigit) dan Mulkan Jabariyyah ( kerajaan yang menyombong)*.

Pada kedua zaman ini, kaum muslimin maju pesat dan penyebaran Islam pun meluas ke seluruh Jazirah Arabia, Asia Selatan, Afrika dan sebagian Eropa, namun mulai terjadi keretakan di dalam. Kepemimpinan secara Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diikuti Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin, mulai terhapus dan berganti dengan kepemimpinan secara turun-temurun (Kerajaan). Kesatuannya bukan lagi berbentuk Jama’ah, tetapi Mulkan (Kerajaan). Pada zhahirnya, kaum muslimin masih berada di bawah satu pimpinan, sampai Mulkan Adlan dan Mulkan Jabariyyah dihapuskan Allah subhanahu wa ta'ala.

Menurut tarikh, setelah syahidnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, Muawiyyah bin Abi Sufyan tampil memimpin muslimin dan dialah yang merubah kepemimpinan muslimin menjadi Kerajaan. Dia menjadi Raja pertama dari keturunan Umayyah datuknya. Dalam sebuah atsar dari Abdurrahman bin Abi Bakrah disebutkan, bahwa Muawiyyah berkata pada Abi Bakrah: “Apakah kamu mengatakan kami Raja?, maka kami sungguh ridla denganRaja.” (Musnad Ahmad, juz 5, halaman 50, Fathur Rabbany, juz 23, halaman 13). Muawiyyah memegang kendali kepemimpinan muslimin dari 41-60 H (661-680 M), kemudian diteruskan oleh puteranya, Yazid, lalu diteruskan oleh turunan bani Umayyah lainnya sampai Raja terakhir, Marwan bin Muhammad bin Marwan (126-131 H/744-750 M), yang dilenyapkan oleh Abu Abbas As Saffah. Keturunan Umayyah, Abdurrahman ad Dakhiliy melarikan diri ke Andalusia, Spanyol dan meneruskan Mulkan bani Umayyah di sana dari 137-422 H (756-1031 M). Abu Abbas As Saffah, anak Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, mendirikan Mulkan Abbasiyyah (132-656 H/750-1258 M) di Irak dengan Baghdad sebagai ibukotanya. Raja terakhir dari Mulkan ini, Al Mu’tashim (640-656 H/1242-1258 M). Mulkan Abbasiyyah terhapus dengan datangnya bala tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu yang membumihanguskan Baghdad.

Keturunan Abbasiyyah lari ke Mesir dan meneruskan Mulkan Abbasiyyah di bawah pengaruh dinasti Mameluk Syarakasah di Kairo dari 659-923 H (1261-1517 M) sampai akhirnya Kerajaan Mameluk ditaklukkan oleh Sultan Salim dari Turki dan menawan Mutawakil ‘Alallah, keturunan Abbasiyyah terakhir yang menggunakan sebutan Khalifah, dan membawanya ke Istanbul. Setelah lenyapnya dinasti Abbasiyyah di Irak, maka menurut hadits Nabi, datang Mulkan Jabariyyah, dan berdasarkan tarikh, kepemimpinan muslimin setelah Abbasiyyah adalah Mulkan Utsmaniyyah., yang memegang kendali pimpinan ummat Islam dari 669-1342 H/1300-1924 M, dengan pusatnya di Istanbul (Turki). Kerajaan ini seperti juga pada zaman Mulkan Adlan menggunakan sebutan Khalifah, mulai Sultan Salim I (Sulaiman I) menduduki Mesir dan membawa keturunan Abbasiyyah terakhir yang memakai gelar Khalifah, Mutawakkil ‘Alallah, ke Istanbul, sampai Mulkan Utsmaniyyah terhapus pada tahun 1342 H (Maret 1924 M), setelah lebih dahulu pada 1 Nopember 1922 M Sultan Muhammad IV diturunkan dari tahtanya oleh Turki Muda Nasional pimpinan Muthafa Kemal Pasya (H. Abdul Halim Hasan, Tarich Tamaddun Islam, cet. Ke-3, 1940, Islamiyyah Medan, halaman 181, 188, 189; Adinegoro, Ensiklopedia Umum dalam bahasa Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta, 1954, halaman 11, 12, 13, 195, 196; H.A.R. Gibb dan J.H. Kramers, Shorter Encyclopaedia of Islam, Leiden. E.J. Brill, 1953 M, halaman 238; Ensiklopedia Umum, halaman 213; Everyman’s Encyclopaedia, J.M. Dent & Sons, London, Volume II, halaman 760)

-------------------------------------------------------------------------------------
Kembali ke Zaman Khilafah
Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan bahwa kaum muslimin akan kembali berada pada zaman Khilafah yang mengikuti jejak kenabian sebagaimana fase kedua, yaitu setelah diangkatnya fase keempat, Mulkan Jabariyyah.

Ini berarti bahwa harapan kaum muslimin untuk menikmati hidup berjama’ah dan berimamah yang menyebabkan terjalinnya ruhama (kasih sayang) antara sesama muslim, masih terbuka lebar. Setelah itu, “tsumma sakata”, Nabi diam.

Dari keseluruhan sejarah yang telah disebutkan di atas, tampak bahwa kaum muslimin, dari zaman ke zaman, berada di bawah satu pimpinan. Oleh karena itu, Imamah harus tetap ada.

Pembai’atan Abu Bakar Ash Shidiq yang dilakukan sebelum jenazah Rasulullah dikebumikan, memberi pengertian bahwa masalah kepemimpinan bagi kaum muslimin sangat fundamental (asasi). Kaum muslimin yang mengikuti Nabi dan mengakui kepemimpinan beliau serta Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin, merupakan satu Jama’ah Muslimin dengan satu Imam. Mereka telah mencapai tingkat dan martabat yang paling tinggi dan mulia di dunia, dan Insya Allah di akhirat, dalam kehidupan berjama’ah dengan bimbingan Allah dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta'ala menyatakan dalam firman-Nya, bahwa mereka adalah sebaik-baik ummat, menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran serta beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 10)

Akan tetapi, laksana meteor yang jatuh ke bumi, cahaya cemerlang itu tidak beredar lama. Lebih kurang setengah abad saja -23 tahun masa kepemimpinan Rasulullah ditambah masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyyin Allah menyinarkan hamba-hamba-Nya sebagai sebaik-baik ummat yang dibangkitkan untuk sekalian manusia dan menjadi suri teladan bagi muslimin yang hidup kemudian. Siapa yang dapat mengambil manfaat dari padanya, dialah yang mengerti isyarah dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Menurut tinjauan ad dien dan tarikh Islam, pimpinan terbaik yang bersifat sentral, sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sampai Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin hingga tahun keempat puluh hijrah, adalah pada masa Khalifah Abu Bakar Ashidiq, Umar Bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

----------------------------------------------------------------------------------
Usaha Penyatuan Muslimin setelah Keruntuhan Utsmaniyyah



Usaha penyatuan muslimin kembali setelah keruntuhan Utsmaniyyah, yaitu setelah Perang Dunia I, pernah dilakukan oleh kaum muslimin. Di India, Syaukat Ali dan saudaranya, Muhammad Ali, berusaha untuk mengisi kevakuman kepemimpinan muslimin, yang disebut oleh pihak Barat sebagai, “Gerakan mendirikan khilafah kembali (Khilafah Movement)*.” Akan tetapi, karena pemahamannya politik, usaha tersebut menemui jalan buntu. Di Indonesia, usaha gerakan penyatuan muslimin dilakukan oleh pemuka kaum muslimin bersama Wali Al Fattaah. Akan tetapi bersifat temporer. Inisiatif dari H Oemar Said Tjokroaminoto (1299-1352 H/1882-1934 M), dalam satu kongres yang bersifat Nasional di Surabaya pada bulan Jumadil Awal 1343 H/Desember 1924 M. Hal ini menunjukkan adanya satu rasa penyatuan muslimin. Usaha tersebut diikuti dengan pengiriman utusan muslimin Indonesia ke Kongres Islam sedunia di Mekkah, Saudi Arabia, pada bulan Dzulqa’dah 1334 H (Juni 1926) atas prakarsa Raja Ibnu Sa’ud**.

Utusan dari Indonesia adalah Oemar Said Tjokroaminoto dari Syarekat Islam dan K. H. Mas Mansur dari Muhammadiyah. Keduanya menghadiri kongres tersebut bersama peserta muslimin dari berbagai negeri Islam dan hadir pula saat itu Abdul Karim Amrullah, ayah Hamka*.

Akan tetapi, usaha kongres tersebut lagi-lagi mengalami kebuntuan karena para peserta terkesan memusyawarahkan masalah politik. Hal ini ditolak Saudi Arabia yang menegaskan bahwa kongres tersebut hanya membicarakan masalah Islam dan muslimin, bukan politik. Akhirnya, para peserta kongres pun pulang ke tanah airnya masing-masing dengan tidak berhasil mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka.

Segala usaha tersebut sebenarnya ditujukan untuk mengisi kevakuman kepemimpinan setelah berakhirnya Mulkan Utsmaniyah. Hal yang menunjukkan, bahwa ummat Islam lazimnya memiliki pimpinan dalam menghadapi dunia Barat atau Timur dan tujuan politik lainnya. Akan tetapi alasan-alasan itu tidaklah kuat. Alasan yang kuat adalah kehendak untuk melaksanakan Islam secara kaaffah dalam memenuhi perintah Allah berdasarkan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang terlepas sama sekali dari ikatan dan tujuan politik.
-------------------------------------------------------------------------------------
* Pada tahun 1337 H (1919 M) dibentuk Gerakan “All India Khilafat Conference” di India oleh beberapa pemimpin muslimin India. Gerakan ini secara tetap mengadakan pertemuan-pertemuan dalam membicarakan dan mengusahakan tegaknya kembali kekhilafahan. Selain melakukan penyelamatan kekhilafahan, perjuangan gerakan ini juga ditujukan kepada pengusiran Inggris dari India. Pada waktu itu Inggris menduduki negeri-negeri muslim di Timur Tengah umumnya dan khususnya melakukan penindasan di India. Harapan pertama gerakan Khilafat itu tertumpu pada kebijaksanaan Musthafa Kemal Pasya. Setelah mengadakan dua kali Konferensi –pertama di New Delhi, India, pada bulan Shafar 1338 H/23 November 1919 M), dan ke dua di Karachi, Syawal 1339 H/Juli 1921 M, yang antara lain menyanjung Musthafa Kemal Pasya. Akhirnya harapan gerakan tersebut hancur sesudah Musthafa Kemal Pasya menghapuskan Khilafah (yang digunakan Mulkan Utsmaniyyah) sama sekali di Turki, pada 4 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M). Harapan kemudian ditujukan kepada Abdul Azis bin Sa’ud (1297-1372 H/1880-1953 M), sebelum seluruh Jazirah Arabia jatuh ke tangannya dari Hussein bin Ali, tetapi kembali gagal. Sesudah itu gerakan ini tidak terdengar lagi kegiatannya hingga Syaukat Ali dan Muhammad Ali menghadiri Kongres Islam se dunia di Makkah pada tahun 1344 H (1926 M). Dalam pada itu diselenggarakan kongres Khalifah di Cairo, Mesir, 1-7 Dzulqa’dah 1344 H (13-19 Mei 1926 M) yang diprakarsai oleh para Ulama Al-Azhar. Tetapi kongres tersebut tidak membuahkan keputusan yang fundamental , kecuali hanya seruan agar muslimin menegakkan Khilafah (Ram Gopal, Indian Muslim, Asia Publishing House, Bombay, 1959, halaman 137, 149; Hamka, Ayahku, cetakan , 1982, Ummina, Jakarta, halaman 154; Adinegoro, Ensiklopedia Umum dalam bahasa Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta, 1954, halaman 196; H.A.R. Gibb dan J.H. Kramers, Shorter Encyclopaedia of Islam, Leiden. E.J. Brill, 1953 M, halaman 154).

** Semula direncanakan akan mengirim delegasi ke Kongres Khilafah di Mesir, bulan Sya’ban 1343 H (Maret 1925 M), tetapi tidak jadi dilaksanakan, karena kongres itu sendiri tidak jadi diselenggarakan, sebab terjadi kemelut di Mesir dengan terbunuhnya Gubernur Jenderal Inggris untuk Sudan, Jenderal Sir Lee Tack, di Kairo, pada 20 Rabi’ul Akhir 1343 H/19 November 1924 M.

* Abdul Karim Amrullah disertai Abdullah Ahmad turut menghadiri Kongres Khalifah di Kairo, pada tanggal 1-7 Dzulqa’dah 1344 H/13-19 Mi 1926 M. (Hamka, Ayahku, halaman 153). Tetapi usaha kongres tersebut juga tidak berhasil (J.H. Kramers, Shorter Encyclopaedia of Islam, Leiden. E.J. Brill, 1953 M, halaman 239

0 komentar:

Poskan Komentar