Kamis, 21 Oktober 2010

TEladan Mulia Ulama Zuhud Rabi'al Mushaim

M> Rizal Issmai (bahan khutbah)

Rabi’ adalah seorang ulama tabi’in yang sangat alim, ia termasuk salah seorang dari delapan ulama zuhud yang terakhir di zamannya. Sejak muda, ia sangat taat beribadah. Saat mendekati masa akil baligh, pada suatu malam ibu Rabi’ terbangun dan terjaga. Ada apa gerangan?

Ia menemukan anaknya sedang bermunajat dan terhanyut dalam shalat. Sang ibu menegur lembut, “Apakah engkau tidak tidur, Rabi’?” “Bagaimana seorang yang diliputi kegelapan bisa tidur nyenyak sementara ia takut akan serangan musuh?” jawab Rabi’ dengan sopan. Maka mengalirlah air mata perempuan tua itu membasahi pipi sembari mendoakan putranya agar mendapatkan kebaikan.

Ketika Rabi’ tumbuh dewasa, bertambah sifat wara’-nya. Hampir sepanjang malam ia habiskan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rintihan tangisnya ketika berdoa di tengah keheningan malam semakin memilukan. Karena itu, sang ibu tidak bisa tidur.

Sehingga ia menyangka kalau anaknya telah melakukan dosa besar. Ketika Rabi’ ditanya oleh ibunya, ia menjawab, “Betul Bu, aku pernah membunuh orang,” jawab Rabi’ sedih. “Anakku, siapakah yang engkau bunuh, aku akan pergi menemui kerabatnya, mungkin mereka mau memaafkanmu.

Demi Allah, aku yakin seandainya keluarga si terbunuh mendengar tangis yang engkau deritakan dan mengetahui kalau engkau tak banyak tidur malam, niscaya mereka akan mengasihimu.” tanya sang ibu penuh cemas. “Baiklah Bu, tapi mohon jangan beritahu siapa pun, sebenarnya aku telah membunuh diriku sendiri dengan tumpukan dosa,” jawab Rabi’.

Itulah sosok seorang Rabi’, seorang murid Abdullah bin Mas’ud yang rendah hati. Ia sangat dicintai gurunya. Hubungannya dengan sang guru laksana anak dengan orang tuanya. Kekaguman sang guru terhadapnya, karena kemuliaan akhlak dan kecerdasannya, juga ibadahnya yang sempurna. Ibnu Mas’ud sempat berandai-andai, seandainya Rabi’ hidup di zaman Rasulullah, Insya Allah ia tergolong sahabat yang dicintai.

Rabi’ tinggal di Kufah. Ia adalah generasi tabiin yang wara’ dan khusyu’. Ia amat berhati-hati menghadapi dosa-dosa kecil dan nyaris tak pernah melakukannya. Ketika mencapai usia senja, ia terserang penyakit lumpuh. Sejak saat itu ia mengurung diri di rumah untuk semakin mendekati diri kepada Allah SWT.

Suatu hari, Rabi’ kedatangan dua orang tamu, Hilal bin Isaf dan Mundzir Ats-Tsauri, mereka mengucapkan salam seraya bertanya, “Bagaimana keadaan Anda wahai Syaikh?” “Dalam keadaan lemah, penuh dosa, makan seadanya, dan kini sedang menunggu ajal kematian,” jawab syaikh seadanya tanpa berlagak tawadhu.

“Seorang dokter yang piawai telah datang di kota ini, apakah syaikh berkenan kalau aku memanggilnya demi kesembuhan Anda?” Hilal mengusulkan. “Wahai Hilal, sesungguhnya aku tak yakin dengan keampuhan obat, aku jadi teringat akan kebinasaan kaum ‘Aad, Tsamud dan kaum lainnya. Aku teringat akan kerakusan mereka terhadap dunia dan kecintaannya terhadap harta. Kekuatan dan kekuasaan mereka lebih besar dan lebih agung daripada kita. Pada saat ini banyak tabib dan orang sakit, tapi tak seorang pun tetap tinggal, baik tabib maupun pasiennya,” jawab Rabi’.

Kemudian ia menarik nafas panjang seraya berkata, “Kalau memang itu satu-satunya obat, niscaya aku mengambilnya.” “Jadi, penyakit apakah itu wahai syaikh?” tanya Hilal. “Obatnya adalah bertaubat,” jawab Rabi’ tegas. “Lantas bagaimana kesembuhan itu bisa terwujud?” tanya Hilal ingin tahu. “Hendaknya dengan bertaubat selanjutnya tidak mengulangi lagi,” jawab Rabi’ lagi. Kemudian ia menatap mereka berdua seraya berkata, “Waspadalah terhadap keburukan gerakan batin yang tak tampak oleh manusia namun jelas di sisi Allah, carilah obatnya.” “Apa obatnya?” tanya Mundzir ingin tahu. “Taubatan nasuha,” jawab syaikh Rabi’, seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya.

“Mengapa syaikh menangis, bukankah Anda termasuk orang yang shalih?” tanya Mundzir penuh keheranan. Perbincangan itu semakin menarik, sampai tak terasa waktu berjalan cepat. Saat itu sudah mendekati waktu Dzuhur, Hilal memohon kepada Rabi’ agar dapat memberikan bekal ruhani.

“Hilal, janganlah terpesona oleh pujian. Sesungguhnya mereka tak mengetahui perihalmu yang sebenarnya kecuali hanya yang tampak. Ingatlah bahwa setiap perbuatan yang bukan karena Allah hanya sia-sia,” kata Rabi’ memberi nasihat. Kemudian air matanya bercucuran sambil berkata, “Apa yang dapat kalian lakukan ketika bumi diguncangkan berkali-kali? Ketika para malaikat berbaris dan neraka diperlihatkan?”

Ketika adzan Dzuhur dikumandangkan, ia segera mengajak putranya memenuhi panggilan Allah. “Wahai syaikh, sesungguhnya Allah telah memberikan keringanan bagi Anda, alangkah baiknya kalau Anda shalat di rumah saja,” ujar Mundzir. “Benar yang kau katakan, tapi aku telah mendengar suara muadzin menyerukan hayya ‘alal falah (mari menuju kemenangan), barang siapa mendengar muadzin mengajak kemenangan, maka hendaklah memenuhi panggilannya, sekalipun dengan cara merangkak,” jawab Rabi’.

Ketakwaan Rabi’ yang begitu luar biasa menjadi buah bibir rekan-rekannya. Hingga suatu ketika Abdurrahman bin Ajlan berkata, “Pada suatu malam saya bermalam di rumah Rabi’. Setelah ia yakin saya telah tidur nyenyak, ia bangun, kemudian ia shalat tahajjud. Dalam shalatnya ia membaca ayat dari surat al-Jatsiyah berulang kali hingga fajar menyingsing. Sementara itu, di kedua pelupuk matanya bercucuran air mata bening.” “Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu,” (QS al-Jatsiyah: 21).

Kisah lain menyebutkan dari riwayat Mundzir mengatakan, “Pada suatu hari kami keluar bersama Ibnu Mas’ud dan Rabi’ melalui tepi sungai Eufrat. Di tengah perjalanan kami melihat pabrik kapur yang besar yang tengah menyala apinya, percikan apinya berhamburan, bara apinya berkobar-kobar, letupan nyalanya terdengar. Tampak beberapa batu siap dibakar menjadi kapur. Ketika Rabi’ melihat kobaran api, ia terhenti, ia gemetar seakan disambar halilintar. Kemudian ia membaca ayat, “Apabila mereka itu melihat neraka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan,” (QS al Furqan: 12-13). Kemudian ia pingsan, Ibnu Mas’ud merawatnya hingga sadar, lalu diantarnya pulang

0 komentar:

Poskan Komentar