Kamis, 21 Oktober 2010

JIhad dan Semangat berqurban

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Saat wukuf , jutaan kaum muslimin berkumpul di Padang Arafah dimana tidak ada satu ajaran selain Islam yang mampu mengumpulkan manusia sebanyak itu di satu tempat, satu waktu dan memakai pakaian ihram yang sama. Subhanalloh walhamdu lillahi, Allohu Akbar !

Ketika sekitar 2 1milyar lebih manusia berdiri sholat menghadap satu arah yang sama dari berbagai tempat di muka bumi dan memenuhi langit dengan suara takbir yang sama. Kemudian menyembelih hewan qurban dalam rangka ibadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata–mata dan terus mengumandangkan takbir sampai selesainya hari Tasyriq. Betapa mulia ibadah qurban ini maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar (“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah“) menguraikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, menyadari bahwa ia selalu butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, janji, perintah, serta keutamaan-Nya. Semoga Alloh menerima ibadah–ibadah kita semua, amiin !

Namun ada kenyataan yang membuat kita sulit menerimanya, baru-baru ini Biro Pusat Statistik Israel melansir data jumlah penduduk Yahudi di Israel mencapai 5 juta 542 ribu jiwa, sementara kaum muslimin yang terkotak-kota karena faham sesat nasionalismedan kapitalisme nya sesungguhnya memiliki jumlah yang sangat besar yakni sekitar 2 milyar manusia. Tetapi mereka tak berdaya menghadapi bangsa babi dan kera yahudi itu , karena kebudohan, kebakhilan dan kemalasannya

Masjid Al Aqsha yang pernah menjadi kiblat pertama kaum muslimin kini sedang digali, dibuat terowongan dan ditempati oleh yahudi ekstrem secara perlahan2 dengan alasan warisan moyang mereka, Mesjid agung ini kini diperlakukan sewenang–wenang dan biadab oleh Yahudi terlaknat ini.

Bayangkan perasaan apa yang menghimpit dan mengiris–iris kaum muslimin Palestina yang setiap melihat dan merasakan langsung penghinaan Yahudi disana. Bisa jadi pada saat kita menyembelih hewan qurban kemudian memasak dan menikmati dagingnya ternyata di Palestina saudara- saudara kita disana juga disembelih oleh Yahudi terlaknat dan mereka menikmati pembantaian itu sebagaimana kaum Ashabul Ukhdud yang duduk–duduk dipinggir parit berapi yang berkobar-kobar bergembira dinyalakan untuk membantai kaum beriman. Wallohul Musta’an !

Derita Palestina adalah derita kaum Muslimin. Kaum Muslimin memiliki tanggung-jawab untuk membebaskan bumi Palestina dari cengkraman musuh Islam. Kondisi Palestina saat ini, sesungguhnya telah mewajibkan jihad bagi seluruh kaum muslimin, terutama karena dua pasukan telah bertemu di Palestina, yakni antara kuffar Yahudi Israel dengan kaum Muslimin Palestina. Sejak tahun 1947, kaum Zionis Israel terkutuk telah menyerang dan menduduki wilayah kaum muslimin dan mereka terus memperluas daerah jajahan mereka dengan membangun pemukiman-pemukinan baru.

Untuk itu, wajib atas seluruh kaum muslimin, khususnya kaum muslimin yang ada di wilayah Palestina untuk terus mengangkat senjata dalam rangka berjihad melawan kuffar yahudi Israel dan tidak menempuh cara-cara lain yang tidak disyari’atkan oleh Islam. Dan menurut pemahaman fiqh Islam yang benar, kewajiban jihad ini terus mengenai kaum muslimin mulai dari yang terdekat hingga yang terjauh domisilinya dari Palestina sampai kaum Muslimin Palestina bisa menghancurkan Zionis Israel dan hidup aman dibawah naungan Syari’at Islam.

Oleh karena itu pula, kami ingatkan para pemimpin dan anggota Hamas, khusus mereka yang ikhlas dan gagah berani dari Brigade Izzudin Al Qossam, yakni hendaknya kalian kembali berpegang teguh pada Diinul Islam dan tidak menempuh jalan Demokrasi yang kufur. Sudah semestinya kalian bertaubat dan bersatu dengan saudara–saudara Mujahidin lain yang istiqomah dengan manhaj Salafus Sholeh, semisal dari kalangan Jundu Anshorulloh. Kalian tidak boleh memusuhi dan memerangi mereka karena jika kalian tidak berhenti maka kalian tidak ada bedanya dengan penguasa Thoghut Arab lain di sekitar Palestina.

Para penguasa Arab banyak yang telah murtad dari Diin yang mulia ini karena mereka secara sadar telah dan terus bahu membahu dengan Amerika dan Sekutu-sekutunya dalam memerangi Jihad kaum Mujahidin. Dan bermusuhan dengan Mujahidin maka kalian tidak akan bisa memenangkan pertempuran dengan Yahudi terkutuk bahkan kalian akan terjebak menjadi antek–antek Zionis sebagaimana yang menimpa para penguasa thoghut Arab itu. Na’udzubillahi min dzalik !

Dan sebagian pemimpin Arab termasuk sebahagian orang yang mengaku Ulama mereka telah berkhianat kepada Alloh dan RasulNya serta mengabaikan kaum muslimin di Palestina. Mereka mengakui eksistensi Negara Israel bahkan membolehkan perjanjian damai dengan bangsa terkutuk ini. Padahal Perdana Mentri Israel pertama yakni David Ben Gurion sendiri berkata, “Seandainya saya seorang pemimpin Arab maka saya tidak akan menandatangi sebuah peranjian apapun dengan Israel !”

Marilah kita semua kembali (bertaubat) kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan secara jujur kita akui bahwa kita masih terjangkit penyakit Wahn (cinta dunia dan takut mati) sehingga kita belum memiliki amal yang sungguh-sungguh untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin.

Jelaslah , selama tanah–tanah suci kaum muslimin masih terjajah baik langsung maupun tidak langsung oleh kekuatan-kekuatan kuffar Internasional maka keadaan kaum muslimin akan terus mengalami krisis disegala aspek kehidupan. Dimana kita tidak khawatir dengan krisis–krisis yang menimpa dunia kita, krisis politik , krisis ekonomi, dan krisis-krisis sejenisnya. Namun kita amat takut kalau krisis itu justru menimpa Diinul Islam yang kita yakini, yakni ketika aqidah Tauhid tercederai oleh berbagai paham, keyakinan , aliran pemikiran syirik dan sesat seperti ajaran Nasionalis, Sosialis, Demokrasi, Liberalis dan lain-lain yang sengaja ditebarkan musuh-musuh Islam dalam rangka Ghozwul Fikri (Perang Pemikiran) untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Jika pada perang fisik seperti yang terjadi di beberapa tempat di dunia Islam, para Mujahid akan beroleh dua kemuliaan yakni menang atau syahiid maka pada medan Ghozwul Fikri, kaum muslimin terjebak pada kondisi yang amat berbahaya bagi Diin-nya. Fisik mereka tidak dibunuh namun pemikiran dan keyakinan kaum muslimin dirubah dan diobok–obok sedemikian rupa sehingga kebanyakan kaum muslimin secara tidak sadar terjerumus dalam kemusyrikan tanpa mereka sadari. Bencana atau krisis apa lagi yang lebih besar dari hal Ini ?

Mari kita lihat Jaringan Iblis Liberal dan jaringan-jaringan serupa lainnya, mereka bekerja diatas kebodohan ummat Islam pada umumnya untuk mencela , memojokkan dan menghancurkan kaum muslimin yang ta’at dalam mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menyebut kalangan yang patuh dalam mengamalkan tuntunan Al-qur’an dan Sunnah terutama jihad dengan sebutan-sebutan yang buruk untuk mengecoh masyarakat. Mereka mengumbar kata-kata Fundamentalis, Teroris dan sebagainya disamping mereka terus dengan tekunnya menyebarkan pemahaman–pemahaman sesat melalui berbagai media dan penerbitan yang dibiayai Amerika dan sekutu-sekutunya yang terlaknat.

Alloh Subhanahu wa Ta’la berfirman: "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya". (QS. Ash Shoff : 8)

"Menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok." (QS. Ibrahim : 3)

Siapa mereka? Sebagian dari mereka justru lahir dan besar dari ormas-ormas Islam yang besar dan terkemuka, mereka telah menjadi Malin Kundang, sang anak durhaka. Dan Malin Kundang jenis ini tidak hanya durhaka kepada kaum muslimin yang menghidupi dan membesarkan mereka. Bahkan mereka durhaka dan menentang Alloh Azza wa Jalla. Sungguh mereka ini telah kafir murtad maka siapapun yang ragu atas kekafiran mereka niscaya akan sama dengan mereka yang telah murtad itu!

Berbagai ajaran sesat hari ini terus muncul, tumbuh dan berkembang dimana-mana sehingga ummat Islam terus berkecimpung dalam kesesatan kecuali mereka yang rahmati Allah Swt. Tidak ragu lagi, semua kesesatan ini memang dibiarkan bahkan sebahagiannya dibantu pendanaannya dengan tujuan agar Diinul Islam menjadi bengkok tidak karuan.

Musuh-musuh bersatu padu dan membelanjakan harta mereka untuk merusak Islam dan menguasai kaum muslimin. Mereka sangat takut dan khawatir jika kaum muslimin kembali kepada ajaran Islam yang benar karena kebangkitan kaum muslimin adalah momok (hantu) yang tidak bisa menjadikan mereka menikmati kekayaan alam yang ada di negri–negri yang dihuni mayoritas kaum muslimin. Begitulah manhaj (metode) Fir’aun agar kekuasaan yang dimilikinya langgeng maka mereka mengobok-obok ajaran Islam agar umat Islam menjadi lemah dan mudah dikuasai. Manhaj ini diadopsi dengan baik oleh para penjajah Salib terhadap negri-negri jajahannya, begitu juga para penguasa boneka hasil didikan mereka.

Dengan mengatasnamakan kepentingan nasional dan persatuan bangsa, kaum muslimin mereka paksa untuk menerima kemusyrikan dan kesesatan yang mereka ajarkan. Satu kelompok dipilah sebagai kelompok Moderat yakni kelompok kaum muslimin yang mau bertoleransi dengan kemusyrikan dan kemunkaran, yang lainnya dikatagorikan garis keras, radikal bahkan teroris. Yakni kelompok kaum muslimin yang berpegang tegung kepada Al-qur’an dan As-Sunnah dan mengobarkan semangat Jihad. Kemudian mereka adu domba bukan saja pada level wacana tapi juga pada tahapan praktis dengan perebutan asset ummat Islam seperti masjid, pondok pesantren, yayasan dan sebagainya untuk diisi ajaran-ajaran sesat. Sehingga mereka menyalahkan dan mencela kader-kader muda Islam yang amat bagus dan istiqomah melakukan aktivitas Islami di sekitar masjid dan pondok yang diklaim sebagai milik organisasi mereka. Kemudian menyebut kalangan aktivis muda Islam sebagai perpanjangan tangan organisasi Islam yang transnasional seperti Hizbu Tahrir, Ikhwanul Muslimin bahkan Al Qaeda. Masya Alloh !

Jadi jama’ah sekalian , dimana makna Ibadah Haji dan Qurban yang kita lakukan? Apakah semua itu hanya prosesi mencari gelar haji dan keharuman nama? Bukankah berhaji itu menunjukan bahwa Islam itu memang agama yang transnasional atau universal? Bukankah berkurban itu bermakna keikhlasan kita dalam tho’at kepada Alloh Azza wa Jalla sebagaimana kethoatan yang dicontohkan oleh nabi Ibrahim a.s. Beliau siap menempatkan istri yang baru melahirkan dan anak yang baru lahir dipadang pasir yang tidak ada tumbuh-tumbuhan dan air demi melaksanakan perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah

"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim : 37)

...kita tanamkan tekad dalam dada bahwa Insya Alloh kita akan siap mengorbankan apa saja yang paling berharga dalam hidup kita baik harta maupun jabatan dan nyawa untuk mendapatkan maghfiroh, rahmat dan ridho-Nya yakni dengan terus maju pantang mundur berjuang dengan dakwah wal jihad demi tegaknya masyarakat yang hanya mau diatur oleh Al -Quran dan As-Sunnah.

Dan Juga beliau mengamalkan perintah Allah untuk menyembelih putra satu-satunya kesayangannya dan juga kerelaan putranya untuk disembelih karena semata-mata untuk mentho’ati perintah Allah, sebagaimana firmannya :

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Ash-Shaffat: 102-108)

Marilah kita semua kembali (bertaubat) kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan secara jujur kita akui bahwa kita masih terjangkit penyakit Wahn (cinta dunia dan takut mati) sehingga kita belum memiliki amal yang sungguh-sungguh untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Kemudian kita tanamkan tekad dalam dada bahwa Insya Alloh kita akan siap mengorbankan apa saja yang paling berharga dalam hidup kita baik harta maupun jabatan dan nyawa untuk mendapatkan maghfiroh, rahmat dan ridho-Nya yakni dengan terus maju pantang mundur berjuang dengan dakwah wal jihad demi tegaknya masyarakat yang hanya mau diatur oleh Al -Quran dan As-Sunnah. Dimana dengan sendirinya, kita juga harus melakukan penolakan dan perlawanan yang hebat terhadap segala ajaran dan aturan manusia yang tidak mau tunduk kepada Hukum Alloh secara kaffah seperti faham Nasionalis, Sosialis, Demokrasi, Kapitalis, Liberalis dan lain-lain. Oleh karenanya, mari kita galang kekuatan kaum muslimin dalam konteks I’daadul Quwwah (mempersiapkan kekuatan) untuk menyongsong kewajiban suci untuk pembebasan negri-negri dan tempat-tempat suci kaum muslimin dengan jihad fii Sabilillah. Dalam rangka mentho’ati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-Anfal : 60)

Dan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal : 39)

Hasbunalloh wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’man nashiir , Allohu Akbar wa lillahil hamd

0 komentar:

Poskan Komentar