Senin, 20 September 2010

Sekelumit kisah Nabi Muhammad SAW

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Agama Muhammad saw Sebelum Bi'tsah

Apakah Muhammad sebelum pengutusan nabi ber pegang pada suatu agama dan syariat ataukah tidak? Jika ya lalu agama apakah yang beliau ikuti?

Perlu kami sampaikan sebelumnya bahwa dalam sejarah dan dokumen Islam tidak kami temukan sesuatu yang menyampaikan masalah ini secara jelas. Namun beberapa fakta sebagai bukti-bukti historisnya dapat dijelaskan. Antara lain:

Abul Fida menyampaikan: "Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw dalam setahun beliau pergi ke bukit Hira sebulan lamanya dan di sana beliau melakukan ibadah. Kaum Quraisy pun berbuat demikian. Di masa itu beliau memberi makan kepada setiap fakir yang datang. Usai melaksanakan upacara-upacara ibadah sebelum pulang ke rumah beliau melakukan thawaf mengelilingi Ka'bah."63

Ghiyats bin Ibrahim meriwayatkan dari Imam Shadiq as:

"Nabi saw setelah datang ke Madinah tidak pergi haji melainkan sekali. Namun (selama) di Mekkah beliau beberapa kali bersama kerabat beliau melaksanakan upacara-upacara haji."64

Diriwayatkan; "Muhammad saw di usia empat puluh tahun melakukan shalat."65

Paman beliau Abu Thalib juga menceritakan Nabi Muhammad pada masa kecilnya:

"Ketika memulai makan ia selalu membaca: Bismillah dan setelahnya mengucapkan `Alhamdulillah."66

Dari keterangan ini disimpulkan bahwa Nabi saw se belum bi'tsah telah melakukan amalan-amalan sebagai ibadah melakukan shalat sebulan dalam setahun melaku kan i'tikaf di bukit Hira melaksanakan ritual-ritual haji thawaf seputar Ka'bah membaca Bismillah ketika hendak makan. Maka jelas beliau adalah seorang pribadi religius dan rajin melakukan ibadah-ibadah.

Di samping itu dalam pembahasan Imamah diteta p kan bahwa para nabi seumur hidupnya maksum (ter pe li hara) dari kekufuran kesyirikan dan dosa. Oleh karena itu harus diakui Nabi saw sebelum bi'tsah adalah seorang religius. Sebab kekufuran dan kesyirikan tidak sesuai de-ngan kemaksuman beliau.

Al-Quran menafikan kesesatan dan kekufuran se lu ru hnya dari diri beliau bahkan sebelum beliau diutus.

Demi bintang ketika terbenam kawanmu (Mu hammad) tidak sesat dan tidak pula keliru (QS. an-Najm:1-2).

Oleh karena itu mengenai keberagamaan Nabi Muhammad sebelum bi'tsah tiada keraguan sedikit pun.

Kini sampai kepada pertanyaan "Agama apakah yang beliau peluk?"

Ada beberapa kemungkinan:

Kemungkinan pertama: mengikuti syariat Nabi Musa atau Nabi Isa. Karena ajaran samawi zaman itu cuma ada dua agama dan wajib bagi semua mengikutinya maka Muhammad saw sebelum diutus menganut salah satu dari dua agama ini.

Namun kemungkinan ini tidak benar. Sebab jika be liau seorang (penganut) agama Yahudi atau Nasrani tentu beliau akan ikut serta dalam ritual-ritual keagamaan mereka menjalin hubungan dengan mereka dan pasti tercatat dalam sejarah. Tetapi fakta ini tidak ada dalam sejarah di sisi lain kaum Yahudi dan Nasrani tidak mengakuinya.

Sebagaimana keterangan sebelumnya Nabi Mu hammad melakukan ibadah-ibadah tertentu yang bukan bagian dari dua agama tersebut. Seperti haji thawaf Ka'bah sembahyang dan i'tikaf di bukit Hira. Oleh karena itu ber dasar kan semua ini beliau saw sebelum bi'tsah bukan se or ang Yahudi atau Nasrani.

Kemungkinan kedua: mengikuti syariat Nabi Ibrahim as. Penjelasannya adalah bahwa Nabi Ibrahim as di Hijaz telah menanamkan tauhid dan ibadah kepada Allah. Ajar- an Ibrahim yang disebut Hanifiyah tersebar di tengah umat wilayah itu. Putranya Ismail juga menyebarkan aja ran terse but. Bangsa Arab di sana yang umumnya adalah anak keturunan Ismail menerima dan mempertahankan ajaran kakek mereka Ibrahim.

Agama Ibrahim hingga beberapa masa adalah agama resmi masyarakat jazirah Arab. Tetapi dengan berlalunya zaman hukum-hukum ibadah-ibadah ritual agama yang lurus ini lama kelamaan terlupakan. Yang tersisa hanya ritual-ritual khusus seperti haji wukuf di Arafah Masy'ar dan Mina kurban lontar jumrah thawaf Ka'bah sa'i ant ara Shafa dan Marwa dan amalan-amalan lainnya. Bahkan den gan berlalunya zaman kesyirikan mempengaruhi a-kidah masyarakat.

Karena adanya petunjuk-petunjuk yang salah mereka menjadikan sejumlah objek tertentu sebagai sekutu Tuhan dan mereka menyembahnya. Dengan semua penyimpangan ini mereka menyatakan diri mengikuti Nabi Ibrahim.

Yang jelas di antara mereka terdapat sejumlah in di vidu yang tidak senang dengan kondisi yang berlaku. Mereka merasa hakikat agama Ibrahim telah hilang dan berganti kesesatan. Terkadang mereka berusaha me n emu kan (mengembalikan) hukum dan ritual-ritual ibadah agama Hanifiyah ini dan membersihkannya dari hal-hal ta-khayul (khurafat). Berikut ini antara lain se jarah nya:

Ibn Hisyam menyampaikan: "Di salah satu hari raya saat kaum Quraisy berkumpul mengelilingi salah satu berhala mereka berkurban untuknya dengan segala peng horma tan terhadapnya. Empat orang dari mereka memis ah kan diri secara diam-diam. Di satu sudut mereka men ga ta kan 'Kita berjanji akan merahasiakan keyakinan kita dari yang lain.' Mereka adalah: Waraqah bin Naufal Abdullah bin Jahsy Usman bin Huwairits dan Zaid bin Umar. Mereka mengatakan 'Demi Allah kalian tahu bahwa kaum kalian tidak memeluk agama yang benar. Mereka keliru mengikuti agama kakek mereka Ibrahim. Untuk apa kita men ge lil ingi batu tadi? Berhala ini tidak mendengar tidak melihat tidak mendatangkan mudarat juga tidak ber man faat. Sau dara saudara! Pilihlah agama yang lurus untuk diri kalian.' Kemudian mereka berpencar ke berbagai negeri untuk menemukan agama Ibrahim yang lurus."67

"Zaid bin Umar bimbang. Ia keluar dari agama kerabat nya. Tetapi tidak juga ia masuk agama Yahudi dan Na-srani. Ia berhenti menyembah berhala. Ia menjauhi me ma kan daging bangkai darah dan daging hewan yang di jadi kan persembahan kurban untuk berhala-berhala. Ia melarang membunuh anak kecil (khususnya perempuan). Ia mengatakan 'Aku hanya menyembah Tuhannya Ibra him.' Karena itu dia memprotes agama kaumnya."68

Dari beberapa hadis disimpulkan bahwa kakek-kakek Nabi saw mengikuti agama Nabi Ibrahim.

Ashbagh bin Nabatah menyampaikan "Aku men dengar Amirul Mukminin (Ali) as berkata 'Demi Allah ayah dan datukku Abu Thalib Abdul Muthalib Hasyim dan Abdu Manaf tidak pernah menyembah berhala.'"

Ditanyakan kepada beliau "Lantas bagaimana mereka melakukan ibadah?"

Beliau menjawab "Mereka melakukan amalan (ritual) menurut agama Nabi Ibrahim dan melakukan shalat mengh adap Ka'bah."69

Oleh karena itu sampailah pada kesimpulan bahwa Nabi Muhammad saw sebelum diutus mengikuti agama dan syariat Nabi Ibrahim: Menyembah Tuhan Yang Esa menentang kesyirikan dan penyembahan berhala melaksana kan shalat melaksanakan ritual-ritual haji yang merupa kan bagian ritual-ritual ibadah ajaran Nabi Ibrahim suka berkhalwat berzikir dan beribadah kepada Allah dan memperhatikan akhlak yang baik.

Seperti yang disebutkan dalam beberapa riwayat se belum bi'tsah Nabi Muhammad saw tidak terlepas dari duku ngan dan pertolongan Allah dalam mengenal kemuliaan-kemuliaan agama yang lurus dan memegang teguhnya.

Hal ini diceritakan oleh Amirul Mukminin as sebagai berikut "Ketika Muhammad saw memasuki masa menyusu Allah memerintahkan malaikat yang paling besar un tuk menjaga beliau siang dan malam dan membimbing beliau kepada perilaku dan akhlak yang baik."70

Diriwayatkan sebagian sahabat Imam Muhammad Baqir as bertanya tentang tafsir ayat


إلا من ارتضى من رسول فإنه يسلك من بين يديه ومن خلفه رصدا


Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya maka se sunggu hnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
Beliau menjawab "Allah memerintahkan malaikat-malaikat untuk mengawasi apa yang dilakukan oleh para nabi- Nya dan menolong mereka dalam menyampaikan risalah. Dia memerintahkan malaikat yang besar untuk men jaga Muhammad saw sejak masa menyusu mem bimbing beliau pada perbuatan-perbuatan baik dan akhlak terpuji dan mencegah beliau dari perbuatan-perbuatan buruk. Malaikat ini ialah yang mengucapkan: Assalamu 'alaika ya Muhammad Rasulullah! kepada Nabi saw. Masa itu ketika beliau belum diutus menjadi rasul dan Nabi saw mengira (suara) Islam ini berasal dari batu dan tanah lalu beliau mencari tahu (dari mana asalnya) namun beliau tidak me-nemukan apa-apa."71



Pengutusan Nabi saw

Pada tanggal 27 Rajab tahun 610 Masehi Nabi saw pada usia empat puluh tahun diutus menjadi rasul.72 Dit erang kan dalam sejarah bahwa sebelum bi'tsah terkadang dia menyaksikan tanda-tanda dalam tidur atau bangunnya. Dia melihat Jibril dan mendengar suara-suara tertentu. Bah kan terkadang diajak berbicara sebagai utusan Allah.

Baladzuri menyampaikan "Ketika Allah berke hendak memuliakan Muhammad saw dan mengaktifkan kenabian beliau saat itu beliau keluar kota untuk suatu keperluan. Beliau melewati lembah-lembah dan bukit-bukit dan se-tiap pohon yang beliau lewati mengucapkan 'Assalamu 'alaika ya Rasulallah.' Beliau menoleh ke kanan-kiri dan ke be la kang tetapi tidak ada seorang pun.73

Terkadang pada saat tidur atau terjaga beliau melihat ada satu sosok yang mengucapkan 'Assalamu 'alaika ya Rasula llah.'

Beliau bertanya padanya 'Siapa engkau?'

Ia menjawab 'Aku Jibril. Allah mengutusku untuk memilih engkau sebagai seorang nabi.'

Rasulullah menyaksikan kejadian ini namun tidak beliau ceritakan kepada siapa pun.74

Pada suatu kesempatan beliau mengutarakan masalahnya kepada istri beliau Khadijah. Sang istri menjawab 'Aku berharap demikian.'75

Awal tahap wahyu ialah mimpi yang benar. Ia tidak bermimpi kecuali terang dan jelas seperti cahaya subuh. Maka ia cenderung menyepi. Ia pergi ke gua Hira dan berkhalwat. Di sana beliau melakukan ibadah kepada Tuhannya beri'tikaf beberapa malam lalu pulang menemui Khadijah dan menyiapkan perbekalan.

Hingga ketika se dang berada di gua Hira kebenaran menjadi terang bagi-nya dan Jibril berbicara dengannya.76

Begitulah perjalanan Rasulullah saw. Setiap tahunnya beliau berada dalam gua Hira selama minimal sebulan un tuk aktif melakukan ibadah."77

Ubaid bin Umair berkata "Rasulullah dalam setahun selama sebulan berada di gua Hira dan melakukan ibadah. Di masa itu beliau memberi kaum fakir makan.

Ketika masa waktu khalwatnya selesai beliau kembali ke Mekkah. Se belum ke rumah beliau melakukan thawaf di Ka'bah se banyak tujuh kali atau lebih."78

Hira adalah nama satu bukit tinggi dan terletak di sebelah utara Mekkah ke arah Mina. Dulu jaraknya satu farsakh (6 km) dekat dengan kota. Kini rumah-rumah kota menjalar sampai dekat bukit ini. Di tengah bukit ini ter dapat sebuah gua yang dapat menampung tiga orang yang bernama Gua Hira. Gua ini adalah tempat i'tikaf dan ibadah Nabi Muhammad saw dan turunnya malaikat wahyu (Jibril). Beliau melakukan i'tikaf dalam gua yang bercahaya dan suci ini selama berbulan-bulan. Siang dan malam sibuk melakukan ibadah kepada Tuhan semesta alam dan ber munajat dengan-Nya.

Beliau duduk di atas papan batu dan bertafakur se- lama berjam-jam. Merenungi keajaiban-keajaiban ciptaan- Nya. Menatap langit yang bertabur bintang dan keinda han Mekkah. Memandangi terbit dan terbenamnya ma tahari. Bertafakur tentang keajaiban-keajaiban tubuh manusia pepohonan tetumbuhan binatang bukit-bukit tanah-tanah datar lautan dan samudra beserta gelombang-gelombang nya yang bergemuruh. Dan bersujud di hadapan kekuasaan dan keagungan Tuhan Sang Pencipta alam.

Terkadang beliau menyesali kebodohan masyarakat yang melupakan Tuhan semesta alam dan menyembah berhala- berhala yang tak berarti.

Terkadang beliau memikirkan kezaliman dan kesewenang- wenangan yang dilakukan kaum bangsawan dan konglomerat dan penderitaan yang dialami kaum lemah dan tertindas sekaligus berupaya mencari solusinya. Ke tika merasa putus asa dari semuanya beliau bertawajuh ke pada Allah Swt dan bermunajat.

Beliau selalu memohon (kepada Allah) dalam menyelesaikan problem-problem ideologis sosial dan moral masyarakat.

Ketika masa i'tikaf sebulannya berakhir beliau kembali ke Mekkah dengan hati sejuk tenang bercahaya yakin dan optimis. Dan setelah thawaf di Ka'bah beliau pulang ke rumah dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Demikianlah kehidupan Nabi saw berlangsung hingga menginjak usia empat puluh tahun sampailah masa bi'tsah.

Pada usia empat puluh tahun sebagaimana biasanya beliau saw berkhalwat di bukit Hira berniat bertafakur dan beribadah. Pada usia ini beliau memilih bulan Rajab untuk i'tikaf. Tafakur dan ibadah beliau pada kesempatan ini lebih banyak dan lebih mendalam ketimbang masa-masa sebelumnya. Sujud-sujud beliau lebih panjang munajat-munajat beliau lebih menyentuh tafakur-tafakur beliau lebih dalam nuansa dan hawanya tidak seperti biasanya daya tarik Ilahiah mengguncang keadaan dan menerangi jati di rinya cenderung terbang. Terbang menuju alam malakut tertinggi dan alam nuraniah.

Bergantinya siang dan malam bulan Rajab mengiringi daya-daya tarik spiritual yang semakin kuat. Ruh Muhammad saw lebih meninggi dan siap untuk mengada kan kon tak dengan alam gaib dan menerima wahyu.

Tiba waktunya tanggal 27 Rajab. Nabi saw tenggelam dalam tafakur. Saat itulah Jibril turun dan berkata "Engkau adalah utusan Allah dan engkau diperintahkan untuk menyampaikan pesan Tuhan kepada umat manusia."79

Imam (Ali bin Muhammad) Hadi as menerangkan ten- tang kejadian ini:

"Rasulullah saw membagikan seluruh apa yang beliau peroleh dari perniagaan di Syam kepada fakir miskin. Se-tiap hari beliau pergi ke bukit Hira dan menaiki puncak bukit. Menyaksikan tanda-tanda rahmat Allah keajaiban-keajaiban dan keindahan-keindahan hikmah-Nya me mandangi langit bumi laut dan darat. Lalu mengambil hikmah darinya ('ibrah). Beliau menyembah Allah se bagaimana Dia patut disembah.

Menginjak usia empat puluh tahun Allah menjadikan hati beliau sebaik-baik hati hati yang paling taat dan yang paling khusyuk. Lalu Dia membuka pintu-pintu langit di hadapan beliau agar dapat melihatnya. Dia mem per si lah kan para malaikat untuk turun sehingga Muhammad saw bisa melihat mereka. Dia menurunkan rahmat-Nya kepada beliau dan meliputi dari kaki 'Arsy sampai kepala Mu hammad saw. Jibril turun. Meraih kedua bahu Nabi Mu hammad saw dan menekannya seraya berkata "Ya Mu hammad! Bacalah!"

"Apa yang kubaca?" jawab beliau.

Jibril berkata "Wahai Muhammad


اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang mencip ta kan Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia men ga jar kan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq:1-5)

Saat itu apa yang Jibril terima dari Allah ia wahyukan kepada Muhammad saw dan kemudian naik ke langit.

Muhammad saw turun dari bukit Hira. Beliau men jadi tak terkendali karena menyaksikan keagungan Tuhan. Terasa begitu berat menyaksikan Jibril dan memikul wahyu Ilahi menggigil seperti demam. Khawatir Quraisy men dus ta kan beliau dan menuduh beliau gila. Padahal beliau ada-lah manusia yang paling bijak dan paling mulia. Dan sa-ngat jauh dari setan dan dari ucapan dan perbuatan orang-orang gila.

Maka Allah berkehendak mengkaruniai beliau ke la- pan gan dada dan menjadikan hati beliau tenang. Karena itu bukit-bukit batu-batu besar pasir-pasir dan benda yang beliau lewati mengucapkan salam kepada beliau: "Assalamu 'alaika ya Muhammad! Assalamu 'alaika ya Waliyallah! Assalamu 'alaika ya Rasulallah! Berbahagialah! Karena Allah memberi Anda keutamaan dan keindahan. Anda memiliki kemuliaan di atas semua manusia dari awal sampai akhir. Janganlah bersedih karena Quraisy menyebut Anda orang gila. Sebab manusia utama ialah yang diutamakan Allah. Manusia mulia ialah yang dimuliakan Allah. Janganlah gun dah dengan pendustaan Quraisy dan kaum Arab bebal. Karena Allah segera akan mengantarkan Anda menuju derajat yang paling tinggi dan paling mulia."80

Dengan menyaksikan Jibril dan menerima wahyu se- g enap eksistensi beliau menjadi terang. Dengan keimanan yang kukuh hati yang tenang dan niat yang pasti beliau dari bukit Hira pulang ke rumah.

Ibn Syahr Asyub menyampaikan "Muhammad saw pulang ke rumah dan rumah menjadi bercahaya. Khadijah sang istri terkejut sambil bertanya 'Cahaya apakah ini?'

Nabi saw menjawab 'Cahaya kenabian. Maka ucap kanlah: Asyhadu an lâ ilâha illallâh Muhammad Rasûlullâh.'

Khadijah mengungkapkan 'Hal ini sudah aku ketahui sejak lama. Ketika itu aku sebagai muslim.'"81

Mengenai awal surah yang turun kepada Nabi saw antara ulama berbeda pendapat. Mayoritas sejarahwan berpendapat: Awal surah yang turun ialah al-'Alaq.

Hal ini juga diterangkan dalam beberapa hadis.

Ali bin Sari meriwayatkan dari Imam Shadiq as yang berkata:

"Awal surah yang turun kepada Rasulullah saw ialah (al-'Alaq):


بسم الله الرحمن الرحيم * اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ ...


Dan akhir surah ialah (an-Nashr)":


بسم الله الرحمن الرحيم * إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ ... [82]


Turunnya Al-Quran dan Penjagaannya Al-Quran adalah kitab samawi dan firman Tuhan. Makna-makna dan pengertian-pengertiannya yang tinggi tertuang pada kata-kata dan kalimat-kalimat bahasa Arab kemudian diturunkan pada kalbu Nabi saw melalui Jibril.

Selama dua puluh tiga tahun ayat-ayatnya turun ke pada Rasulullah saw dalam berbagai macam kejadian dan kesempatan. Dalam keadaan perjalanan atau dalam pepe-rangan dan perdamaian.

Terkadang turun satu ayat atau beberapa ayat atau satu surah lengkap.

Al-Quran memuat 114 surah. Semua surah dimulai dengan "Bismillâhirrahmânirrahîm" kecuali surah at-Taubah. Setiap surah terdiri dari beberapa ayat.

Surah-surah yang besar dinamakan surah-surah yang panjang dan surah-surah yang kecil dinamakan surah-surah yang pendek.

Sebagian surah yang turun di Mekkah atau sekitar-nya disebut surah Makkiyah. Dan sebagian surah lainnya yang turun di Madinah atau sekitarnya disebut surah Madaniyah.

Nabi saw memiliki perhatian penuh dalam menjaga seluruh al-Quran dan pencegahan sempurna dari pe rubahan dan tahrîf. Untuk upaya ini beliau memprioritaskan tiga langkah berikut:

1) Setiap ayat yang turun pada kalbu nurani Nabi saw langsung beliau tuangkan secara lisan dan melan tunkannya beliau senantiasa memelihara dalam ingatannya dan tidak akan melupakannya. Sebab beliau ada-lah seorang maksum yang tercegah dari lupa dan ke sala han.

Al-Quran mengatakan "Kami akan membacakan (al-Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa." (QS. al-A'la:6).

Nabi saw sangat peduli membaca al-Quran dan mengulang- ulangnya. Beliau selalu membacanya di se-tiap kesempatan. Dalam ceramah-ceramah beliau men jelaskan hukum-hukum masalah-masalah moral dan lain sebagainya dengan merujuk kepada ayat-ayat yang bersangkutan. Dalam shalat-shalat wajib dan sunnah beliau membaca sebagian al-Quran. Setiap harinya beliau membaca beberapa ayat. Khususnya di bulan suci Ramadhan Rasulullah meski tidak sekolah tetapi beliau hafal seluruh ayat al-Quran. Dan mem baca semuanya secara tertib nuzûl-nya (berdasarkan tu runnya ayat-ayat). Beliau maksum dari salah dan lupa baik pada saat menerima al-Quran dari Jibril atau menjaga dan menyampaikannya kepada umat.

2) Setiap surah yang turun beliau bacakan kembali kepada para sahabat dan memberi wasiat supaya mereka menghafalnya. Yang jelas sebagian Muslim beru paya menyimak dan menghafal ayat-ayat yang turun. Nabi saw juga berusaha agar ayat-ayat yang diterima para sahabat adalah yang benar dan tidak keliru.

Para penghafal al-Quran pun membacakan ayat-ayat di hada pan Nabi saw untuk meyakinkan kebenarannya.

Dengan jalan ini banyak sekali sahabat yang me n erima bacaan al-Quran seluruh atau sebagiannya dengan benar. Yang paling menonjol di antara mereka ada tujuh or ang.

Suyuthi menyampaikan: "Di antara mereka yang membaca kan al-Quran di hadapan Nabi yang paling terke nal ada tujuh orang: Usman Ali Ubay Zaid bin Harits Ibn Mas'ud Abu Darda dan Abu Musa Asy'ari."83

Rasulullah saw sangat menekankan belajar dan mengha fal al-Quran. Karena itu banyak sahabat sesuai kadar kemampuan mereka mampu menghafal sebagian al-Qu ran. Di antara mereka mampu menghafal se lu ruh al-Quran. Mereka ini adalah para pelantun ayat-ayat al-Quran (qurrâ') atau para penghafal al-Quran.

Detil jumlah mereka be lum jelas tapi yang jelas ba-nyak. Suyuthi menukil dari Qurthubi: "Di perang Yamamah tu juh puluh orang dari qurrâ` terbunuh. Hal ini pun pernah terjadi di zaman Nabi saw juga terbunuh dalam jumlah yang sama di Bi`r Ma'unah."84 Dari keterangan ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa para penghafal al-Quran begitu banyak. Pada dua per ang tersebut saja sudah ada 140 orang. Yang jelas tidak diketahui yang terbunuh itu apakah meng ha fal se lu ruh al-Quran atau sebagiannya saja.

Sebagian penulis meyakini bahwa (jumlah) para peng ha fal seluruh al-Quran kurang dari jumlah tersebut.

Syekh Abdul Hay Kattani menyampaikan: "Di zaman Nabi saw ada sepuluh orang penghafal seluruh al- Quran: Ali Usman Ubay bin Ka'ab Mu'adz bin Jabal Abu Darda Zaid bin Harits Abu Zaid Anshari Tamim Dari Ubadah bin Tsabit dan Abu Abwab."85

3) Menulis dan menyusun. Untuk menulis al-Quran Rasu lullah saw memilih beberapa orang. Bila ayat turun beliau panggil salah seorang dari mereka lalu beliau mendiktekan ayat tersebut supaya dia tulis. Setelah itu penulis meminta waktu untuk membacakan tu lisannya itu. Maka beliau menyimaknya dengan baik. Jika ada kesalahan beliau menyuruh agar memperbaiki-nya. Terkadang Rasulullah saw menentukan letak ayat kepada penulis itu dengan mengatakan "Tulislah ayat ini dalam surah ini dan setelah ayat itu."86

Para penulis al-Quran bagi Rasulullah saw berjumlah banyak. Mereka mencapai 43 orang.87 Namun tidak semuanya penulis wahyu. Sebagian dari mereka adalah penu lis surat-surat Nabi saw.

Syekh Abdul Hay menyampaikan: "Usman bin 'Affan dan Ali adalah penulis wahyu. Bilamana dua orang ini tidak hadir Ubay bin Ka'ab dan Zaid bin Tsabit yang di su ruh menulis. Jika mereka tidak ada maka salah se or ang dari para penulis yang hadir ditugaskan menu lis. Mereka ad alah: Muawiyah Jabir bin Sa'id Aban bin Sa'id 'Ala` Hadhrami dan Hanzhalah bin Rabi'."88 Orang-orang ini adalah yang menulis nuskhah (baca: naskah) al-Quran khusus bagi Nabi saw. Yang jelas (selain mereka) ada juga yang lainnya yang mencatat ayat-ayat dalam nuskhah-nuskhah mereka. Bah kan se bagian penulis wahyu di samping menu lis nuskhah bagi Rasulullah mereka juga menulis untuk diri mereka sendiri. Sehingga mereka dapat memiliki sebuah al-Quran pribadi.

Para penulis memulai setiap surah dengan bis millâhirrahmânirrahîm yang turun di awal surah. Mereka menu lis ayat-ayat sampai akhir sampai saat turun lagi bismillâhirrah mânirrahîm yang baru sebagai tanda mulainya surah yang lain. Maka mereka menulis ayat-ayat yang baru. Tetapi mengenai pencatatan ayat dalam surah dan tempat surah tersebut di mana mereka hanya melaksanakan perintah Nabi saw.

Ya'qubi menyampaikan: "Ibn Abbas berkata 'Mereka menge tahui jarak antara dua surah melalui kalimat "bis millâhirrah mânirrahîm". Ketika turun bis millâhirrahmânirrahîm mereka paham bahwa surah yang lalu telah lengkap dan dimulai surah yang lain.'"89

0 komentar:

Poskan Komentar