Selasa, 20 Juli 2010

Isu rendahnya kualitas BBM, trik Pertamina hilangkan premium

Tanggal : 20 Jul 2010
Sumber : Harian Terbit


JAKARTA - Pengamat ekonomi, Rizal Ismail menilai adanya keluhan masyarakat tentang rendahnya kualitas Bahan Bakar Minyak jenis premium sebagai salah satu trik dari PT Pertamina untuk mempercepat pengalihan konsumsi Permium ke Pertamax.

Jika itu benar, berarti kebijakan pemerintah semakin tidak pro rakyat. Hal ini justru dikhawatirkan bakal memicu terjdinya praktik perdagangan ilgal seperti pengoplosan BBM jelek dengan yang bagus untuk mencari harga yang lbih terjangkau.

"Trik semacam ini merupakan kebijakan sangat tidak populis. Apalagi, selama ini PT Pertamina mengklaim kualitas premium yang diproduksi terbaik di dunia.Kok tiba-tiba ada komplain dari masyarakat, tentunya ada masalah," ungkapnya.

Mestinya, kata Rizal, upaya pengalihan penggunaan BBM bersubsidi ke non subsidi harus disosialisasikan secara transparan pada masyarakat. Jangan serta mengambil kebijakan pengalihan pemakaian premiun ke pertamax. Karena, di kalangan masyarakat pemilik kendaraan di atas tahun 2005 juga tidak semua konsumen 'tajir'. Kalaupun kendaraan mereka mewah, bisa saja itu kredit yang harus dicicil.

Yang lebih utama, katanya, pemerintah harus membuat prediksi produksi dan menghitung semua biaya produksi serta menyiapkan infrastruktur yang memadai agar lebih efisien dan tak melulu membebani rakyat.

Akan tetapi, pihak PT Pertamina (Persero) menampik dan memastikan spesifikasi premium yang dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah.

Vice President Communication Pertamina, Basuki Trikora Putra mengaku, BUMN Migas tersebut selalu mengontrol kualitas seluruh produk bahan bakar minyak (BBM) yang dijualnya.

Pengawasan terhadap kualitas produknya ini dilakukan mulai dari BBM itu masih berada di di kilang pengolahan BBM milik Pertamina hingga sudah tiba di instalasi depot Pertamina.

"Di SPBU kami juga melakukan cek visualisasi. Jadi BBM yang dijual termasuk premium sesuai dengan spesifikasi Dirjen Migas dan telah melalui proses quality control sesuai prosedur yang ada."

Dia menduga jika ada kerusakan pada fuel pump mobil bisa jadi disebabkan karena pengguna mobil menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai dengan spesifikasi mesin mobil tersebut.

"Ketidaksesuaian antara mesin mobil dengan jenis BBM yang digunakan itu mungkin saja merusak mesin. Mobil produksi di atas tahun 2005 itu kan harusnya pakai Ron 92 (Pertamax), kalau pakai Ron 88 (Premium) akan ada persoalan dalam kinerja mesin."

Padahal, sebelumnya, konsumen mengeluhkan sejumlah mobil mereka mengalami kerusakan pompa bensin. Namun,itu hanya terjadi pada mobil yang menggunakan bahan bakar premium saja. Untuk Pertamax dan BBM lain masih aman dan terhindar dari kerusakan pompa bensin.

Sementara, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh menyatakan pembatasan penggunaan BBM bersubsidi untuk mobil pribadi produksi tahun 2005 ke atas dilakukan untuk membantu mengurangi pengeluaran bulanan yang dikeluarkan masyarakat untuk men-service mobil.

"Jangan gunakan Premium tapi pakai Pertamax agar mesin tidak cepat rusak. Itu kan juga bisa menghemat pengeluaran bulanan mereka."

Darwin mengatakan, penerapan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi dilakukan agar tidak lebih dari kuota subsidi BBM dalam APBN-P 2010 yang dipatok di level 36,5 juta kiloliter (KL)."Bentuk rumusannya seperti apa? saya belum bisa sampaikan."

Hal ini katanya, juga dilakukan agar penyaluran BBM bersubsidi bisa tepat sasaran."Makanya kendaraan roda dua dan kendaraan umum tetap bisa mendapatkan BBM bersubsidi." (fitri)

0 komentar:

Poskan Komentar