Senin, 05 Juli 2010

Hikmah Shalat bagi Kehidupan Manusia

M. Rizal Ismail, SE, MBA, CIFA (Bahan Khutbah)

Sholat adalah salah satu pilar dasar ajaran Islam. Sholat adalah bukti pengakuan manusia sebagai mahluk, yang membutuhkan dan mempercayai adanya sang Kholik, Pencipta, Penggenggam kekuasaan seluruh jagad raya, Allah Robbul ‘Alamin.
Dengan Sholat manusia mengakui kehadirannya di dunia semata-mata adalah untuk mengabdi kepada Allah, dengan diberi peran sebagai pemegang amanat untuk mengelola dan mengembangkan kehidupan dunia sesuai dengan kitab suci dan percontohan-percontohan yang dilakukan oleh para Nabi, Utusannya yang terbimbing.
Sebagai pemegang amanat dalam kongkritisasi dalam kehidupan sosial bisa beraneka bentuk, ada yang bekerja di pemerintah (eksekutif), ada yang bertugas di legislative, yudikatif, dan ada yang sebagai pedagang, pengusaha, pengajar, pembantu, pekerja, buruh dan merk-merk social yang lain.
Dengan sholat, meyakini bahwa semua peran tersebut akan dipertanggung-jawabkan bukan saja kepada komunitas sosialnya, lebih dari itu adalah dipertanggung-jawabkan kepada Allah, Raja Diraja Yang Maha Adil.
Menimbang bahwa pertanggung-jawaban kepada sesama manusia, masih bisa dikelabuhi, dimanipulasi dan ditutup-tutupi namun pertanggung-jawaban kepada Allah, tidak akan pernah ada yang luput dari catatan Allah. Karena itu guna selalu meluruskan keamanatan sebagai kholifah Allah, manusia senantiasa memohon bimbingan, hidayah dan kekuatan dari Allah untuk senantiasa dalam bingkai kasih sayang Allah.
Karena itulah dalam sejarah pemimpin-pemimpin Islam yang saleh, ketika dipilih dan diangkat sebagai pemegang amanat (mandat) entah sebagai kholifah/raja atau yang lain, bukan mengucap alhamdulillah, tapi adalah innalillah. Semata-mata karena merasa betapa berat dan mendasar tanggung jawab yang dipikulnya dan nantinya semua kepemimpinannya ditertanggung-jawabkan dihadapan Allah.
Sejumlah kholifah merasa berkewajiban untuk turun melihat dan memeriksa sekian rakyatnya, adalah di kalangan mereka yang kelaparan, yang teraniaya, yang tertindas, yang butuh bantuan dan pertolongan. Sebab ketidak-benaran dalam mengatur dan memenuhi kebutuhan rakyat yang merupakan tanggung-jawabnya, maka siksa Allah akan menimpanya dengan sangat dahsyat dan tiada siapapun juga yang mampu menolongnya.
Hidup di dunia ini bisa dinikmatinya paling lama 80 tahun, sedangkan di akherat adalah tetap selama-lamanya. Pertimbangan inilah yang menjadikan sejumlah pemimpin Islam yang saleh, seolah-olah tiada waktu untuk bercengkerama/senang-senang dengan keluarganya, karena menimbang tanggung-jawabnya yang besar. Yang semua itu akan dinilai sedetail-detailnya oleh Allah.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ {7 وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ {8

Famayya’mal mistiqoola dzarrotin khoiroyyarah, wamayya’mal mistiqoola dzarrotin syarroyyaroh (siapapun yang berbuat kebajikan atau kejahatan, sekecil apapun, pasti akan mendapat balasannya). Al-zalzalah : 7-8.
Semua kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dituntut pertanggung-jaw abannya. Sebagai guru, dosen, apakah yang diajarkan telah dilaksanakan olehnya atau hanya transfer ilmu saja ? yang jadi polisi, apakah telah bertindak adil kepada para penjahat, pengganggu keamanan masyarakat ? asal tangkap karena pesanan atau karena hendak mendapatkan imbalan ? apakah ada yang diistimewakan dalam tahanan, atau ada yang disiksa ? kepada jaksa dan hakim, apakah tidak bermain mata dengan tersangka, terdakwa, sehingga hukum bisa dibeli dan diatur oleh mereka, dan sebagainya ? semua peran-peran tersebut secara detail akan dituntut tanggung-jawabnya, dan tidak ada yang luput setitikpun setiap perilaku kitta dari pengawasan dan catatan Allah. Semua anggota tubuh kita akan berbicara dan bersaksi terhadap setiap tutur kata dan langkah-langkah kita, yang bisa jadi justru kita yang lupa dengan apa-apa yang pernah kita katakan dan perbuat.
Orang-orang yang murokobah dan wara’ lebih memilih siksa Allah ditimpakan kepada mereka di dunia, dari pada ditunda kelak di akherat. Di dunia masih bisa minta tolong kanan-kiri, tetapi di akherat, tiada siapapun juga yang mampu menolong kita kecuali amal-amal kita sendiri.
Sholat merupakan salah satu rukun Islam yang mendasaar. Salat merupakan pijakan utama dalam mewujudkan sistem sosial Islam. Kemalasan dan keengganan melaksanakan salat disamping sebagai tanda-tanda kemunafikan, dan semakin lunturnya imannya seseorang, dalam skala besar merupakan tahapan awal kehancuran komunitas muslim. Karena secara empirik salat merupakan faktor utama dalam proses penyatuan dan pembangunan kembali kekuatan-kekuatan komunitas muslim yang sebelumnya rusak dan terpencar-pencar sebagai akibat melalaikan mendirikan salat.
Sholat yang dimaksudkan untuk senantiasa memelihara hubungan yang akrab dan erat dengan Allah baik siang maupun malam, dan selalu condong pada kemuliaan. Akan berubah aplikasnya, manakala kita melalikan solat. Seseorang akan semakin jauh dari kemuliaan dan kesalehan sampai akhirnya hubungan batinnya dengan Tuhan rusaj sama sekali.
Perlahan-lahan ia membuat permusuhan dengan kebenaran. Ia menantang segala sesuatu yang baik dan benar di dunia. Kepatuhan pada nafsunya sendiri makin lama makin kuat sehingga setiap aspek dalam kehidupan moral dan sosialnya selalu diabdikan demi kepentingan dirinya sendiri.
Pada hari perhitungan kelak di akherat, mer eka akan terlempar dalam neraka saqorَ

عَنِ الْمُجْرِمِينَ {41} مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ {42} قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ
الْمُصَلِّينَ {43
Ketika ditanyakan mengapakamu berada di neraka sakor ? Mereka menjawab, kami dahulu adalah orang-orang yang meninggalkan sholat, kami tidak memberi makan orang miskin, kami suka membicarakan hal-hal batil, dan kami tidak mempercayai hari pembalasan, sampai datang kematian menjemputku” (al-mudatstsir: 41-43).
Baru menyadarinya ketika di alam akherat, sudah tidak berguna. Naudzu billahi mindzalik. Karenanya saking mendasarnya ibadah solat, dalam suasana menghadapi musuh sekalipun, solat tidak dapat ditinggalkan. Hal ini karena tujuan utama seorang mukmin bukanlah berperang, tapi menciptakan kondisi-kondisi dalam masyarakatdimana setiap orang dapat beribadah dan menjalankan perintah Allah tanpa ada rasa takut. Ia bahkan boleh melupakan bahaya dari musuhnya ketika ia menerima panggilan untuk solat. Karena itu, ia tidak meninggalkan salatnya walaupun dalam medan perang ketika nyawanya sendiri dalam bahaya. Periksa surat An-Nisa : 101-102.
Berkait dengan itu, Muhammad Rasul Allah juga menegaskan bahwa solat adalah tiang agama, siapa yang mendirikan solat berarti menegakkan agama Allah, dan sebaliknya siap yang meninggalkan solat berarti merusak agama Allah.
Ditambah dengan sabda beliau bahwa amal yang pertama kali akan ditanya pada yaumul hisab/hari perhitungan adalah salat. Jika salatnya baik, maka baik pula amal-amal lainnya, sebaliknya jika salatnyaa buruk, buruk pula amal-amal lainnya.
Ketika Rosulullah menjelang wafatnyapun, hal terakhir yang beliau pesankan pada ummatnya adalah agar ummat menjaga dan menegakkan solat.
Solat disamping bernilai sebagai ritual persembahan kepada Allah SWT, pada saat yang sama solat memberi makna yang substantif dalam kehidupan duniawinya, diantaranya adalah :
1. Sholat mengajarkan kebersihan, kesucian. Menghadap kepada Allah dengan persiapan yang sungguh-sungguh. Badannya bersih, suci dari najis. Demikian pula pakaian yang dikenakan adalah bersih, bersih bukan berarti baru dan mahan tapi adalah terjaganya dari noda najis. Akan nampak berseri-seri dan anggun, bukan memakai yang sak kepenaknya sebagaimana kalau mau pergi santai-santai di tempat rekreasi.
2. Sholat mengajarkan ketepatan waktu artinya membentuk sikap disiplin. Segala sesuatunya telah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga semua agenda hidupnya telah tersusun, tertata. Jika bisa diselesaikan hari ini, mengapa harus besok ? Bukan sebaliknya jika bisa dibikin rumit, mengapa harus dimudahkan. Jika masyarakat bisa diajak prihatin, mengapa harus disubsidi dan sebagainya.
3. Sholat mengajarjan ketawaddu’an/rendah hati, egaliter. Siapa yang berprestasi, maka dia akan mendapatkan imbalannya yaitu sukses. Siapa yang persiapannya lebih bagus, dia akan duduk di shof terdepan, dan sebaliknya yang terlambat atau ketinggalan akan menempati di shof belakang. Rendah hati, tidak menilai diri sendiri lebih bagus, lebih terhormat, lebih populer, lebih kaya, lebih alim dan lebih-lebih yang lain, melainkan adalah justru hendak mendahulukan orang lain, karena dia merasa, dan merasa sungguh-sungguh bahwa yang diperbuatnya adalah masih belum seberapa dibading dengan kemampuan yang dimilikinya. Orang rendah hati, selalu menjinakkan sifat-sifat jelek yang melilit manusia seperti iri dengki, hasud, merasa mempunyai nilai lebih dan sebagainya.
4. Sholat mengajarkan keikhlas an dalam berkarya. Semua kreasi dan aktivitasnya semata-mata hanya dipersembahkan kepada Tuhannya. Tidak butuh pujian dan sanjungan, karena semua itu adalah milik Allah semata.
5. Sholat mengajarkan keteraturan, ketertiban. Hal ini tercermin dari mengikuti norma-norma sholat yang sudah terstruktur. Ini bermakna bahwa sikap hidup orang yang sholat adalah bukan main trabas, main lompat-melompat yang merugikan pihak lain. Tetapi adalah mengikuti standart baku yang telah ditentukan yaitu tertib dan teratur.
6. Mengajarkan kesalehan individu dan kesalehan sosial. Ucapan salam ke kanan dan kekiri adalah diwujudkan dengan jaminan melakukan apa saja yang dibenarkan syariah guna membantu saudara-saudaranya yang memang butuh bantuan. Yang kaya membantu yang miskin, yang kuasa membantu yang teraniaya, yang berilmu membantu yang masih belajar, supaya terjadi saling hubungan yang serasi dan harmonis, tidak ada percekcokan di antara mereka. Bukan justru sebaliknya membuat kebijakan yang semakin membuat masyarakat sedih, meradang dan pilu hatinya. Orang yang salatnya baik, tidak akan pernah mengeluarkan ucapan dan atau perbuatan kepada sesamanya, yang maksudnya memang jelek. Orang yang salatnya baik akan bertindak santun dengan sahabatnya, tetangganya dan siapapun juga. Orang yang salatnya baik akan menghormati tamunya dengan penuh perhatian. Orang yang salatnya baik akan bertindak dan bertaaruf secara santun dengan saudaranya sesama manusia apalagi terhadap saudaranya seiman, dengan tanpa membedakan baju dan golongannya. Orang yang salatnya bagus bukan sekedar membekas hitam di keningnya, lebih dari itu adalah bagaimana mengimplementasikan kasih sayangnya kepada lingkungannya (rohmatun lilalamin). Orang yang salatnya baik justru dituntut lebih banyak kiprahnya dalam kehidupan sosial. Keliru besar jika mereka yang solat, hanya mengelompok, menyendiri dan mengexklusifkan diri seolah hidup dalam ruang hampa sosial, dan menafikan dan terkesan merendahkan pihak lain. Sungguh Allah membenci dan tidak menyukai orang-orang yang membanggakan dirinya, angkuh, sombong dan merasa paling baik, paling suci dibanding dengan yang lain. Intinya orang yang sholatnya baik ad alah tercermin dalam amal salehnya di luar sholat.
Akhirnya marilah kita memohon kemurahan kepada Allah semoga sholat kita, kekhusu’annya bisa mendekati solatnya para sahabat was sholihin.
Kita juga perlu memohon semoga pemimpin-pemimpin kita sholatnya semakin baik, sehingga out put kebijakannya bisa menyejukkan dan menentraman masyarakat, bukan seperti yang kita saksikan. Masih belum terlambat, meski duka, derita dan nestapa terus mengiringi sebagian saudara kita. Semoga Allah be rkenan mengingatkan pemegang amanat negeri ini.
Terkait dengan kekhusu’an tersebut Saytidina Ali bin Abi Tholib RA. Pernah kena anak panah yang menancap di kakinya. Beliau memintya kepada sahabatnya untuk menariknya keluar pada saat ia melaks anakan salat dua rakaat. Hal tersebut dilakukan oleh sahabatnya yaitu anak panah ditarik keluar dari betisnya, namun beliau meneruskan salatnya tanpa merasakan sakit sedikitpun.
Hal ini menggambarkan betapa sholat yang dilakukan dengan penuh kekhusu’an, menjadikan dirinya nyaman dan bahagia pada puncak-puncak kenikmatan dalam pelukan d an kasih sayang Allah melebihi obat bius yang menidurkan dan menjinakkan rasa sakit.
Semoga sholat kita memberi dasar/motivasi yang dahsyat dalam kehidupan sosial kita sehingga kehadiran kita dikomunitas apapun, benar-benar menjadi rohmatan lilalamin sebagai wujud atau buah ibadah sholat. Yhakinlah saudaraku bahwa sholat yang khusu’ adalah kunci pintu sukses dalam meraih kemaslahatan kehidupan duniawi sekaligus ukhrowi. Dan sebaliknya porak poranda dan kehancuran ummat akan segera tampak, manakala sholat hanya diletakkan sebagai pelengkap hidup, apalagi ditinggalkan.

0 komentar:

Poskan Komentar