Jumat, 03 Agustus 2012

Tauladan Umar bin Khattab RA, Pemimpin Para Dhu'afa

M. Rizal Ismail  (Bahan Khutbah)


Tokoh besar biasanya menghadapi kasus-kasus besar yang menunjukkan kebesaran dan ketokohan mereka. Khalifah Umar bin Khathab dikenal luas sebagai pemimpin yang cakap mengatur urusan agama, ekonomi, politik, hukum dan militer.

Salah satu kasus besar yang mampu beliau hadapi dan pecahkan dengan baik adalah musibah paceklik selama sembilan bulan yang menimpa Jazirah Arab pada tahun 18 H. Saat itu terjadi kekeringan panjang dan kelaparan hebat yang menewaskan ribuan manusia dan ternak. Sumber-sumber air dan rumput mengering sehingga hewan ternak mati bergelimpangan. Lahan-lahan pertanian tandus, mengering dan tidak bisa digarap karena tidak ada tanaman yang bertahan hidup dalam cuaca yang begitu panas.


Puluhan ribu kaum muslimin yang hidup di desa-desa dari lahan pertanian dan hidup di daerah pedalaman padang pasir dari peternakan tak mungkin bertahan hidup di daerahnya. Mereka berbondong-bondong datang ke kota Madinah. Puluhan ribu pengungsi muslim tersebut memerlukan makanan tiga kali sehari, selama sembilan bulan penuh. Tahun tersebut sampai disebut 'amur ramadah, tahun kematian alias tahun kebinasaan.

Khalifah Umar bin Khathab menunjukkan kerja keras, keuletan dan kesabaran luar biasa dalam menangani krisis pangan tersebut.

Zaid bin Aslam menuturkan, "Ketika terjadi tahun kematian, bangsa Arab dari segala penjuru berbondong-bondong datang ke kota Madinah. Khalifah Umar bin Khathab mengangkat empat orang pejabat khusus yang bertanggung jawab mengurusi kebutuhan mereka, mendistribusikan makanan dan lauk-pauk kepada mereka. Para pejabat khusus tersebut adalah Yazid putra saudara perempuan Namr, Miswar bin Makhramah, Abdurrahman bin Abdul Qari, dan Abdullah bin Utbah bin Mas'ud. Masing-masing pejabat khusus tersebut ditempatkan di masing-masing sudut kota Madinah.

Di waktu malam, keempat pejabat khusus itu berkumpul dengan Umar bin Khatab. Mereka melaporkan kepadanya pekerjaan yang telah dilakukannya dan kondisi yang dihadapinya. Masing-masing mereka menangani ribuan pengungsi di masing-masing sudut kota Madinah. Puluhan ribu kaum Arab badui berdatangan dan ditempatkan di daerah Ra'su Tsaniyah, Ratij, Bani Haritsah, Bani Abdul Asyhal, Baqi' dan Bani Quraizhah. Ribuan pengungsi lainnya berada di sudut Madinah di perkampungan Bani Salimah. Puluhan ribu pengungsi itu memenuhi semua sudut kota Madinah.

Suatu malam setelah semua pengungsi mendapatkan jatah makan malam, aku mendengar Umar bin Khathab berkata kepada para pejabat khusus itu: "Hitunglah orang-orang yang mendapatkan jatah makanan malam dari kita!"

Para pejabat khusus bersama para pembantu umum menghitung jumlah mereka. Ternyata mereka berjumlah 7000 orang. Umar bin Khatab berkata: "Hitunglah keluarga-keluarga kaum muslimin yang belum datang, orang-orang yang sakit dan anak-anak!"

Para pejabat khusus bersama para pembantu umum menghitung jumlah mereka. Ternyata mereka berjumlah 40.000 orang.

Keadaan itu berlangsung selama beberapa malam. Ternyata setiap hari jumlah pengungsi semakin banyak. Umar bin Khatab memerintahkan keempat pejabat khusus itu untuk menghitungg jumlah mereka. Ternyata para pengungsi yang datang ke jamuan makanan malam berjumlah 10.000 orang. Adapun keluarga yang belum bisa datang, orang-orang sakit dan anak-anak yang belum datang ke jamuan makan malam berjumlah 50.000 orang.

Keadaan itu terus berlangsung (selama sembilan bulan, pent) sampai akhirnya Allah menurunkan air hujan. Ketika air hujan telah turun, aku melihat Umar bin Khathab telah membekali setiap keluarga pengungsi yang akan kembali ke desa-desa dan daerah-daerah pedalaman tersebut dengan makanan pokok dan kendaraan sampai ke tempat tinggal mereka semula. Aku melihat sendiri Umar bin Khathab terjun langsung dalam menyiapkan perbekalan dan mengantarkan mereka pulang dari kota Madinah.

Krisis paceklik panjang itu telah menimbulkan kematian yang luas. Aku perkirakan dua pertiga masyarakat meninggal karenanya, yang bertahan hidup hanya sepertiganya. Para pekerja yang ditugaskan oleh Umar telah menyalakan tungku-tungku api sejak malam dan memasak bubur di atas periuk-periuk sejak waktu sahur. Pada waktu pagi, orang-orang yang sakit mendapat jatah makanan pertama kali. Setelah itu para pekerja memasak roti untuk para pengungsi yangsehat.

Umar bin Khathab memerintahkan agar periuk-periuk besar di pasang di atas tungku-tungku, kemudian minyak ditumpahkan ke dalamnya sampai panas dan didihannya hilang, setelah itu dibuat bubur dari roti yang dihaluskan. Bubur roti itu dicampur dengan kuah minyak tersebut. Pengungsi Arab dihangatkan dengan kuah minyak tersebut. Selama terjadinya tahun kematian itu, Umar bin Khathab tidak pernah merasakan makanan apapun di rumah salah satu anaknya, tidak pula di rumah salah seorang istrinya, selain makanan yang juga dirasakan oleh kaum muslimin. Keadaan itu berlangsung sampai Allah mempertahankan kehidupan masyarakat."

Subhanallah, khalifah Umar bin Khatab siang dan malam bekerja keras demi melayani rakyatnya, penduduk Madinah dan puluhan ribu pengungsi, agar mereka selamat dari bencana kelaparan. Beliau hanya mengonsumsi apa yang juga dikonsumsi oleh rakyatnya. Jika rakyat kelaparan, beliau adalah orang yang pertama kali merasakan lapar. Dan jika rakyat merasakan kenyang, beliau adalah orang yang terakhir kali merasakan kenyang.

Abdullah bin Malik Ad-Dar menuturkan bahwa Amru bin Ash mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh dua puluh kapal dan seribu unta. Sementara itu Mu'awiyah bin Abi Sufyan mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh tiga ribu unta. Adapun Sa'ad bin Abi Waqash mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh dua ribu unta.

Firas Ad-Dailami berkata, "Setiap hari Umar bin Khathab menyembelih dua puluh ekor unta untuk jamuan makan para pengungsi, dari unta-unta yang dikirimkan oleh Amru bin Ash dari Mesir."

Abdullah bin Umar menuturkan, "Ketika terjadi tahun kematian, khalifah Umar bin Khathab menulis surat kepada Amru bin Ash (gubernur Mesir): "Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Umar bin Khathab amirul mukminin kepada 'Ashi bin 'Ashi (orang yang bermaksiat putra orang yang bermaksiat). Semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan kepadamu. Amma ba'du. Apakah engkau rela melihatku dan orang-orang di wilayahku mati sementara engkau dan orang-orang di wilayahmu hidup? Kirimlah bantuan! Kirimlah bantuan! Kirimlah bantuan!"

Amru bin Ash menjawab surat itu dengan menulis: ""Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kepada hamba Allah yang tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Dia. Amma ba'du. Bantuan telah datang kepada Anda, maka bertahanlah! Bertahanlah! Aku akan mengirimkan kepada Anda kafilah unta, di mana unta yang pertama akan sampai di depan Anda sementara unta yang terakhir masih berangkat dari hadapanku."

Ketika makanan pertama yang dikirim oleh Amru bin Ash sampai di kota Madinah, khalifah Umar bin Khathab segera memanggil Zubair bin Awwam. Umar memberikan perintah cepat kepadanya, "Songsonglah kafilah unta yang berikutnya, arahkan ke penduduk Arab pedalaman dan distribusikanlah makanan itu di antara mereka! Demi Allah, setelah keutamaan menjadi sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, barangkali engkau tidak akan mendapatkan amalan yang lebih utama daripada tugas ini."

Zubair bin Awwam menolak tugas itu karena ia sendiri sedang sakit. Tiba-tiba datang seorang sahabat yang lain. Umar mengutarakan tugas tersebut kepadanya dan sahabat itu menerimanya. Kepadanya, Umar berpesan, "Bawalah makanan kepada penduduk Arab pedalaman. Kain-kain dan selimut yang ada dalam kafilah unta itu jadikanlah sebagai pakaian buat mereka. Adapun unta yang mengangkutnya, sembelihlah dan berikanlah dagingnya sebagai makanan bagi mereka. Adapun tepung gandum, buatlah makanan untuk mereka dan perintahkan mereka untuk menyimpan sebagiannya sampai Allah memberikan jalan keluar bagi mereka."

Umar bin Khathab sendiri ikut memasakkan makanan untuk ribuan pengungsi. Setiap selesai memasak, seorang pegawai akan berkeliling dan mengumumkan, "Barangsiapa ingin mendatangi jamuan makan dan makan di tempat jamuan, silahkan datang! Barangsiapa ingin datang untuk mengambil makanan bagi dirinya dan keluarganya, silahkan mengambil!"

Hisyam bin Urwah berkata, "Aku melihat sendiri para pegawai Umar berkeliling di seluruh wilayah antara Makkah dan Madinah untuk membagi-bagikan makanan kepada penduduk."

Musa bin Thalhah menuturkan, "Umar bin Khathab mengirimkan permintaan bantuan pangan kepada gubernur Mesir, Amru bin Ash, gubernur Syam Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan gubernur Kufah, Sa'ad bin Abi Waqash. Sesuai perintah Umar, Amru bin Ash mengirimkan makanan melalui jalan laut dan kafilah unta di darat. Para pegawai Umar menyambut kedatangan kafilah unta dari Mesir di perbatasan Mesir-Syam. Mereka lalu berkeliling ke desa-desa dan daerah-daerah pedalaman guna membagikan makanan kepada penduduk. Mereka menyembelih unta-unta, memasakkan tepung gandum, dan membagikan pakaian kepada penduduk. Sementara makanan yang dikirim oleh Amru bin Ash lewat jalur laut disambut oleh pegawai Umar dan dibawa ke wilayah Tihamah untuk memberi makanan dan pakaian bagi penduduk Tihamah.

Di perbatasan Syam, para pegawai Umar juga menyambut kedatangan kafilah unta yang dikirim oleh gubernur Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Mereka lantas menyembelih unta-unta, membagikan dagingnya kepada penduduk, memasakkan roti dari tepung gandum dan membagi-bagikan pakaian kepada mereka.

Di perbatasan Irak, hal serupa dilakukan oleh para pegawai Umar terhadap kafilah unta yang membawa makanan dan pakaian kiriman gubernur Sa'ad bin Abi Waqash. Daging unta, roti tepung gandum dan pakaian didistribusikan kepada masyarakat sampai Allah mengangkat bencana paceklik panjang itu dari kaum muslimin.

Aslam mantan budak Umar bin Khathab bercerita, "Umar biasanya selalu berpuasa sunah. Pada masa tahun kematian, di waktu sore Umar mendapat jatah roti tepung yang telah dilunakkan dengan minyak. Pada suatu hari para pegawai Umar menyembelih unta-unta dan membagi-bagikannya kepada masyarakat. Para pegawai itu menyisihkan bagian yang enak, yaitu daging bagian punuk unta dan bagian lambung. Ketika makanan buka puasa itu disuguhkan kepada Umar, ia segera bertanya, "Dari mana makanan enak ini?" Mereka menjawab, "Wahai amirul mukminin, dari unta yang kita sembelih hari ini." Umar menukas,

بَخْ بَخْ بِئْسَ الْوَالِي أَنَا إِنْ أَكَلْتُ طَيِّبَهَا وَأَطْعَمْتُ النَّاسَ كَرَادِيسَهَا. ارْفَعْ هَذِهِ الْجَفْنَةَ. هَاتِ لَنَا غَيْرَ هَذَا الطَّعَامِ.
"Cih, cih, sungguh seburuk-buruk pemimpin adalah aku, jika aku memakan daging yang baik sementara aku memberikan makanan yang tidak baik kepada masyarakat. Pindahkan nampan makanan ini dan bawakan kepadaku makanan lain!"
Maka dibawakan kepadanya roti tepung gandum berkuahkan minyak. Ia memecah roti itu dengan tangannya dan mencolekkannya ke dalam kuah minyak. Tiba-tiba ia berteriak, "Aduh, kesini wahai Yarfa'! Bawalah nampan ini kepada sebuah keluarga di sudut desa Tsamgh, karena aku belum mendatangi mereka sejak tiga hari ini. Aku khawatir mereka kelaparan. Letakkan makanan ini di hadapan mereka!"

Khalifah Umar bin Khathab rela menanggung lapar sampai badannya kurus kering dan menguning. Selama sembilan bulan penuh, siang dan malam, ia bekerja, membagi perintah, mengawasi pekerjaan para pegawai, dan member contoh langsung dengan ikut memasak dan membagi-bagikan masakan kepada ribuan penduduk.

Selama sembilan bulan penuh, beliau senantiasa menghabiskan waktu malam dalam shalat malam dan berdoa dengan air mata meleleh:

اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْ هَلاكَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَى يَدَيَّ.
"Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kebinasaan umat ini melalui tanganku."

Saib bin Yazid bercerita, "Suatu kali pada tahun kematian, Umar bin Khathab mengendarai seekor unta. Tiba-tiba unta itu berak dan mengeluarkan kotoran berupa tepung gandum. Melihat hal itu, Umar berkomentar:

الْمُسْلِمُونَ يَمُوتُونَ هُزْلا وَهَذِهِ الدَّابَّةُ تَأْكُلُ الشَّعِيرَ؟ لا وَاللَّهِ لا أَرْكَبُهَا حَتَّى يَحْيَا النَّاسُ.
"Kaum muslimin mati kelaparan, sementara unta ini bisa makan tepung gandum? Demi Allah, aku tidak akan mengendarainya lagi sampai kaum muslimin bisa bertahan hidup."

Thawus bin Kaisan bercerita, "Umar bin Khathab belum sekalipun makan sampai kenyang dan menikmati minyak samin sampai ia berhasil mempertahankan kehidupan penduduk."

Anas bin Malik bercerita, "Suatu hari perut Umar bin Khathab mengeluarkan suara karena lapar. Selama tahun kematian, ia hanya makan minyak saja. Ia tidak mau mengonsumsi daging empuk. Ia mencolek perutnya dengan jarinya dan berkata: 'Silahkan mengeluarkan suara semaumu, tapi engkau tidak akan mendapatkan makanan selain makanan yang juga dikonsumsi oleh penduduk!"

Aslam mantan budak Ibnu Umar berkata, "Seandainya Allah tidak mengangkat bencana paceklik pada tahun kematian, kami sudah mengira Umar akan meninggal karena sedih memikirkan nasib kaum muslimin."

Shafiyah binti Abi Ubaid berkata, "Sebagian istri Umar menceritakan kepadaku bahwa Umar sama sekali tidak menggauli seorang pun dari istrinya semasa terjadi tahun kematian."

Saudaraku seislam dan seiman….

Subhanallah, seandainya para pemimpin dan pejabat pada zaman sekarang meneladani sikap khalifah Umar bin Khathab, tentulah nasib puluhan juta rakyat yang miskin akan berubah. Wallahu a'lam bish-shawab

2 komentar:

Muhammad Iqbal mengatakan...

Nice artikelnya gan :)

Hamba Allah mengatakan...

syukran atas komentarnya dik m iqbal silakan juga dibaca dan komentar adik utki artikel lainnya ya

Poskan Komentar