Rabu, 04 April 2012

Jilbab wanita akhir zaman

M. Rizal Ismail ( bahan khutbah)


“Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun yang silam. Sekarang para Wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, pada zaman sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis.(Na’udzubillahi min dzalik).
Ya… Allah, kapada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi Ummat di Zaman yang semakin rusak ini.

Kita tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah, bahkan lebih parah lagi. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala Barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum Muslimin. Semoga Allah –Subhanahu Wata’ala- melindungi keluarga kita dan genersi kaum Muslimin dari musibah ini.

Tanda benarnya Sabda Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- :

Dari Abu Hurairah -Radiyallahu ‘anhu-, beliau berkata bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda :

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat : [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] Para Wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk syurga dan tidak akan menciun baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim No. 2128)

Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah beliau wafat (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275).
Saudariku, pahamilah makna ‘Kasyiyaatun ‘Ariyaatun’.

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatan oleh Ibnul Jauzy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiatun ‘ariyaatun ada tiga makna :

Pertama : Wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga Nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.
Kedua : Wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi). Wanita ini sebenarnya telanjang.
Ketiga : Wanita yang mendapatkan ni’mat Allah Subhanahu Wata’ala, namun kosong dari syukur kepada-nya. Lihat (Kasyful Musykil min Haditsi Ash-Shahihain, 1/1031)
Kesimpulannya adalah, “Kaasiatun ‘Aariyaatun” dapat kita maknakan : Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga Nampak bagian dalam tubuhnya, dan Wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.

An-Nawawi -Rahimahullah- menjelaskan maksud sabda Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- : ‘Wanita tersebut tidak akan masuk syurga’. Inti dari penjelasan beliau -Rahimahullah- adalah :

Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.

Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk syurga untuk pertama kalinya. Jika memang ia ahlu tauhid, dia juga akan masuk syurga. -Wallahu Ta’ala ‘Alam- (Lihat Syarh Muslim, 9/240).

Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai, dengan hanya memakai rok setinggi betis ? kenapa mereka begitu senagnya memamerkan paha di depan orang lain…? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib di tutupi…? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus di tutupi…? Kenapa pula masih memperlihatkan leher…?



Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari keterpurukan menuju cahaya ! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi yang lebih baik

0 komentar:

Poskan Komentar