Sabtu, 31 Desember 2011

Hukum Islam berkenaan Perayaan Tahun Baru Masehi

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)


Bulan Desember yang diidentikan oleh banyak negara termasuk Indonesia, adalah kumpulan musim libur dan musim perayaan, seperti Hari Hak Azasi Manusia, Hari Ibu, Hari Natal, dan Hari Tahun Baru Masehi. Bahkan di bulan ini, daftar hari non-aktif di Indonesia bisa keroyokan datangnya–mulai dari Hari Libur Sekolah, Hari Cuti Bersama, Hari Shopping Keluarga, hingga Hari-hari Kejepit alias hari kerja yang diapit oleh beberapa hari libur. Alhasil, separuh dari tigapuluh hari terdiri dari tanggalan berwarna merah semua. Tapi belum cukup sampai disitu rupanya, saat musim kerja datang lagi—masih saja banyak orang yang sibuk mengakali agar liburan bisa sedikit diperpanjang.

Keceriaan pun terlihat disana-sini. Wajah-wajah sumringah muncul setelah bebanan kerja satu tahun dibalas dengan gaji ke-tigabelas. Langkah-langkah kaki yang biasanya terseret-seret lunglai mengikuti pola jam kerja pergi subuh-pulang malam tampak sigap menyusuri lalu-lintas jalur luar kota yang super padat atau tiba-tiba sanggup untuk berthawaf mengelilingi lima lantai dari tiap gedung pertokoan yang begitu menggiurkan untuk disinggahi. Ya, kesenangan yang menimpa kadang memang membuat seseorang lupa akan banyak hal yang seharusnya dikerjakannya, seperti jadi lupa bahwa selama beberapa bulan sudah absen ke majelis ilmu, lupa bayar tunggakan hutang, lupa bersyukur, bahkan sampai lupa daratan.

Lalu bagaimanakah pandangan Islam dalam menyikapi perayaan tahun baru seperti yang sedang dinanti-nanti oleh sebagian besar masyarakat di beberapa hari ini?

Berkaitan dengan hal tersebut, Allah Ta’ala dalam firman-Nya yang berbunyi;

Artinya, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah duabelas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. at-Taubah, 9:36)

Empat bulan haram yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Allah memasukkan keempat bulan itu dalam kelompok bulan-bulan haram dikarenakan pada bulan tersebut terdapat pelarangan untuk berperang, membunuh, dan melakukan perbuatan maksiat lainnya, bukanlah pula berarti perbuatan maksiat boleh dilakukan di luar ke-empat bulan itu, akan tetapi ganjaran dosa yang diancamkan jauh lebih besar.

Dalam sistem penanggalan Islam sudahlah pasti tidak dikenal nama keduabelas bulan yang lebih dominan dihafal oleh umat di luar kepala, yaitu mulai Januari hingga Desember. Yang ada adalah Muharram, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqo’dah, dan Dzulhijjah. Ketika kami coba bertanya kepada beberapa orang tentang nama-nama bulan dalam kalender Islam beserta urutannya, hampir serempak reaksi yang diperoleh sama yakni gelengan kepala tanda tak tahu. Sementara kaidah bahasa mengatakan: jika tidak tahu lalu bagaimana bisa menyayangi?

Penanggalan sistem Hijriyah mulai diterapkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab pada tahun 13-23 Hijriyah. Beliau memprakarsai penetapan perhitungan tahun yang didasarkan kepada peredaran bulan, sehingga terdapatlah dua pembagian jumlah hari dalam setiap bulannya yaitu bulan ganjil dan bulan genap. Sementara itu disandarkan penamaannya kepada momentum hijrah memiliki makna bahwa Islam tidak mengijinkan masuknya kesyirikan atau pemujaan terhadap seseorang dari pintu manapun dan sekecil apapun, sebab bisa saja penamaannya menjadi Tahun Umar bin Khattab bila dirujuk kepada siapa yang memprakarsainya. Di Jawa misalnya, salah satu suku di Indonesia yang juga memiliki sistem penanggalan sendiri ini menetapkan sebuah nama yang diambil dari seorang rajanya yang bernama Aji Saka, sehingga kemudian menamakannya Tahun Saka. Begitu pula dengan tahun Masehi yang hampir digunakan oleh seluruh negara, ia diciptakan kaum kafir dengan mengadopsi dari gelar yang diberikan kepada nabi Isa bin Maryam yaitu Al-Masih yang kemudian populer dengan sebutan Tahun Masehi.

Hijrah Rasulullah beserta kaum Muhajirin dari bumi Mekkah ke Madinah merupakan momentum sejarah yang teramat penting bagi perkembangan Islam selanjutnya. Terlebih setelah peristiwa eksodus tersebut kemajuan dunia Islam bisa mencapai kejayaannya, sehingga hal inilah yang menjadi pondasi yang tepat bagi penamaan tahun Islam.

Kembali kepada acara rutin menyambut tahun baru, ada juga sekelompok umat yang mentransfer perayaan kaum kafir tersebut untuk diaplikasikan kepada tahun baru Hijriyah. Sejumlah acara pun digelar, seperti dzikir akbar, tabligh tolak-bala 2012, do’a bersama, hingga konser nasyid semalam suntuk. Di awal dan di penghujung sesi, do’a pun dipanjatkan, “Ya Allah, jauhkanlah kami dari keburukan diri-diri kami dan dari apa-apa yang tidak sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh rasul-Mu, serta selamatkanlah kami dari siksamu…”

Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah saw telah bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ.

Artinya, “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketahuilah bahwa apabila Rasulullah mencontohkan sesuatu, maka orang yang paling dahulu mengikutinya adalah para sahabat dan orang-orang beriman yang bersamanya. Sebaliknya, apabila orang-orang terdekatnya saja tiada pernah mengerjakannya, lalu bagaimanakah lagi dengan pernyataan: “Bahwa amalan ini baik atau amalan itu baik, lihatlah apa yang dibacakan didalamnya berikut seruan dakwah yang memenuhinya. Mengapakah kita tidak menggantikan posisi kemeriahan tahun baru Masehi di tahun baru Hijriyah?” Hmm, sepertinya ini sih dalih untuk sekedar mengakali ancaman Rasulullah terhadap umatnya yang mencoba menyerupai apa-apa yang dikerjakan oleh kaum lain yang tidak ada contohnya dari beliau. Tasyabbuh, begitu istilahnya.

Sementara pada beberapa literatur dikhabarkan bahwa asal-usul perayaan tahun baru Masehi didasarkan pada kebudayaan Persi kuno yaitu ketika Raja Nairuz naik tahta menjadi raja untuk kaumnya yang menjadikan api sebagai sesuatu yang dipuja-puja. Mereka kaum Majusi yang menganggap api sesuatu yang memiliki kekuatan sehingga karena kepercayaan itulah mereka menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari penobatan raja baru yaitu yang dipersangkakan sebagai hari terciptanya api. Sepanjang malam mereka berpesta, menyalakan bunga-bunga api, mengkonsumsi minuman keras, dan turun ke jalan-jalan. Adakah kesamaan dengan yang terjadi pada masa-masa sekarang ini?

Perayaan pesta kembang api, acara panggung seni dengan bertabur artis papan-atas ibukota, konvoy malam keliling kota, bakar-bakar ikan tepi pantai, countdown detik-detik pergantian tahun secara bersama-sama, meniup terompet, menampakkan keriangan dengan melakukan toast ala film cowboy, semuanya tampak sudah sah-sah saja di negeri ini. Perhelatan besar-besaran ini pun bukan hanya pesta rakyat semata, tapi sudah pula diselenggarakan dan dibantu kemeriahannya oleh negara. Lihat saja gemerlapnya malam di pusat kota-kota besar, suasana yang dalam al-qur’an disebutkan “Jadikanlah malammu untuk istirahat” atau di ayat lain berbunyi “Jadikanlah malammu untuk akhiratmu”, justru dihidupkan dengan beragam kegiatan penghantar kemaksiatan atau paling tidak sebagai fasilitas untuk kegiatan yang tak ada faedahnya. Perhatikanlah ketika kemaksiatan itu ditata dengan bahu-membahu, mulai dari masyarakat umum, pusat perbelanjaan, instansi pemerintah hingga lembaga keamanan negara. Mulai dari orang nomor satu hingga orang yang sedang sibuk cari-cari kursi, dengan senang hati menyempatkan diri untuk muncul mengucapkan kata-kata sambutan yang disiarkan live sampai ke pelosok kampung. Semua tampak saling satu-padu, ada yang bertugas mengeruk uang rakyat dengan menggelar diskon gila-gilaan, ada yang bertugas menyusun program acara Kemaksiatan Massal, ada juga yang berperan aktif menjaga keberlangsungan perhelatan akbar umat kafir itu agar tak diobrak-abrik sebuah ormas Islam… Sebagian lagi justru mengupayakan menolak kemaksiatan dengan bid’ah, “Daripada masyarakat joged di tepi pantai, kan lebih baik kalau mereka diajak dzikiran bersama, mas!” Begitu kelit salah seorang panitianya.

Menjelang fajar hingga waktu ayam jantan berkokok, saat itu usailah kemeriahan. Tinggallah yang ada sisa-sisa pesta semalam suntuk dan sampah-sampah kembang-api yang berserakan mengotori jalan. Spirit yang menggebu-gebu untuk mengisi lembaran tahun yang baru saja datang itu, tampak menguap ke udara pagi yang masih bercampur dengan asap-asap kemaksiatan. Sementara para penikmat malam tahun baru, tengah pulas tertidur. Entahlah apakah sempat untuk sholat subuh…

Sungguh memilukan nasib sebagian besar umat di negeri ini, lima kali sehari merintih meminta kebahagiaan dunia-akhirat, siang-malam tekun berupaya memperbaiki jenjang hidup agar tak lagi berada dibawah garis kemiskinan, tapi sepanjang waktu pula melumuri umur dengan penyakit tasyabbuh, penyakit ujub-riya’-dan sum’ah, penyakit sihir dan perdukunan, ataupun penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat). Negeri ini tak ubah layaknya sarang penyakit. Belum habis satu diberantas, sudah kambuh lagi penyakit yang lain.Sebahagian orang justru menganggap negeri ini negeri hantu. Tak percaya? Coba amati ensiklopedi roh gentayangan versi orang Indonesia: ada kuntilanak, pocong, mak lampir, sundel bolong, suster ngesot, nyi roro kidul, sampai kolor ijo yang sempat meresahkan kaum wanita beberapa waktu lalu. Ternyata ada benarnya juga lirik klasik yang mengatakan bahwa Indonesia itu tanah surga, bahkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman… Terapannya untuk saat ini adalah bahwa apa saja laku dijadikan ladang bisnis di Indonesia, sampai-sampai hantu pun jadi artis utama layar lebar. Dan ketika akidah rontok karena bersinggungan dengan nafsu dunia, mulai didaulatlah hantu sebagai tuhan, naudzubillahi min dzaalik! Itu dilakukan oleh muslim yang notabene masih mengaku sholat, apatah lagi dengan yang jarang sholat atau malah yang sudah merasa tak perlu sholat lagi karena yakin telah sampai pada derajat maqam. Pantas saja bencana tak habis-habisnya turun menimpa.

Fakta tersebut juga merupakan beberapa faktor dari penyebab kemunduran kaum muslimin sendiri. Menjauh dari ilmu yang dibawa para salafush sholeh, tidak menerapkan syari’at secara kaffah, mempertuhankan hawa nafsu dan cinta dunia, serta tasyabbuh kepada millah Yahudi dan Nasrani. Patut disadari bahwa mereka adalah umat kadaluarsa karena telah lewat masanya mereka mengutamakan ajaran nabi-nabi serta nenek-moyang mereka. Cukuplah sudah Rasulullah sebagai pengganti dan penyempurna hingga akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman;

Artinya,”Dan (ingatlah) ketika Isa Ibn Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. ash-Shaff, 61:6)

Akhirnya, mengapakah seorang yang mengaku muslim tidak bermuhasabah dalam keluasan hari-hari yang diberikan Allah Ta’ala kepadanya? Mengapa justru ia sibuk berletih-letih dan menghamburkan segala potensi yang dimilikinya tidak untuk keta’atan kepada Yang Maha Berkuasa? Bergembira-ria dalam menyambut hari raya—tentu saja dianjurkan dalam Islam, tapi asal tak keluar dari jalur yang disyari’atkan tentunya. Rasulullah saw sendiri sudah menyampaikan bahwa telah dicukupkan dua hari raya bagi umat Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Mengapakah lagi seorang muslim harus tasyabbuh dan mentransfer budaya di luar Islam?

Allah Ta’ala berfirman,

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr, 59:18)

Dari Hasan al-Bashri rahimahullah diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanya hidup beberapa hari saja; setiap kali waktu berlalu, berarti hilanglah sebagian dirimu.” (Siyar A’lam an-Nurbala’, 1/496) Untuk itu waspadalah bagi para pelanggan penikmat malam tahun baruan, jangan-jangan usai pesta tutup tahun—lalu engkau pulalah yang tutup usia!

0 komentar:

Poskan Komentar