Jumat, 23 September 2011

Revolusi untuk Dunia Bukanlah jihad fi sabilillah...!

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)


Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Adalah suatu kekeliruan jika ada yang berpikir bahwa penerapan syariah akan muncul dari rahim revolusi yang menyerukan kebebasan, dan sungguh salah jika mereka percaya bahwa revolusi merupakan alternatif jalan orang-orang beriman atau jalan menuju sistem (manhaj) yang lurus. Ketika panji-panji kebenaran diusung oleh orang-orang yang tidak layak mengusungnya, maka ia akan menjadi panji-panji buta yang diwarnai oleh hawa nafsu dan syahwat.

Siapa bilang kebenaran dapat diperjuangkan oleh kebatilan yang biasa bekerja untuk meruntuhkan kebenaran? Siapa yang mengklaim bahwa bendera kebenaran akan dikibarkan oleh orang-orang yang biasa memperjuangkan kebatilan? Jika harus menyerukan revolusi-revolusi ini, maka panji-panjinya haruslah untuk menegakkan agama Allah semata, agar mereka meraih keamanan dan keimanan. Ketahuilah, sesungguhnya Syariat Allah sudah cukup untuk menjamin kehidupan yang baik dan aman.

Allah SWT berfirman,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl (16): 97)

“Maka orang-orang yang beriman dan melaksanakan amal saleh bagi mereka ampunan Allah dan rezeki yang luas.” (QS. Al-Hajj (22): 50)

Seseorang mungkin tertindas karena dirinya dizalimi, kekayaannya dirampas, keluarganya dipermalukan, dan kehormatannya diinjak-injak. Namun semua itu tidak boleh menjadi alasan bagi dirinya jika ia meraih kemenangan atas orang yang menganiaya dirinya dan memperoleh tampuk kekuasaan, untuk menyiapkan bagi mereka rezim dan konstitusi yang sesuai dengan hawa nafsu dan keinginannya belaka. Justru di antara wujud syukur kepada Allah Yang telah membebaskannya dari kezaliman rezim penindas adalah mematuhi perintah Allah dengan menerapkan syariat-Nya.

Kekuasaan negara bisa saja beralih ke tangan mereka setelah Allah memenangkan mereka atas rezim penindas, namun mereka tidak akan sampai kepada manhaj Allah, karena mereka masih mengangkat panji-panji kepartaian, menyerukan sistem demokrasi, dan menuntut liberalisme.

Negara Islam tidak akan dibentuk oleh revolusi untuk sepotong roti, kalau revolusi itu tidak dilakukan demi Dien dan syariah Allah. Janganlah seseorang menyangka bahwa revolusi yang bertujuan untuk ‘memerangi angka pengangguran’ akan mampu menutup toko-toko minuman keras dan klub malam. Revolusi seperti itu juga tidak akan mencegah kaum perempuan pergi ke luar dengan memakai make-up dan mempertontonkan aurat. Stasiun-stasiun musik, diskotik, lokalisasi pelacuran, dan tempat-tempat hiburan malam yang dipenuhi aktivitas maksiat tidak akan ditutup oleh revolusi-revolusi ini.

Semua sumber kemaksiatan itu tidak akan pernah ditutup oleh revolusi-revolusi ini. Semua pasti akan tetap berjalan seperti biasanya. Bahkan revolusi-revolusi ini menjadi faktor utama yang mendorong eksistensi kemaksiatan-kemaksiatan yang membawa kehancuran tersebut, selama kebebasan dan demokrasi menjadi agama rakyat, dan konstitusi rakyat dijadikan pengganti Jihad.

Ketika rakyat melakukan revolusi dan menurunkan rezim lalim demi mengurangi tingkat pengangguran dan meraih sepotong roti, dan revolusi ini dilakukan oleh orang-orang dari semua lapisan masyarakat dengan beragam latar belakang yang rela untuk diatur dengan selain syariat Allah, maka sejatinya kita kembali ke tempat dimana kita memulai. Jika revolusi dilakukan oleh orang-orang yang seperti ini, maka tidak diragukan lagi keadaan negara akan seperti negara bani Buwaih (para penguasa keturunan Persia beragama Syi’ah Ismailiyah yang mengendalikan kekuasaan daulah Abbasiyah pada masa kemundurannya, –edt) dan memerlukan bani Saljuk (para penguasa muslim ahlus sunnah keturunan Turki yang mengalahkan Bani Buwaih dan mengendalikan kekuasaan daulah Abbasiyah pada periode –H, edt) baru untuk berurusan dengan mereka.

Kita harus tahu dan memahami bahwa apa yang telah terjadi di Mesir dan Tunisia berasal dari janji Allah untuk menolong para hamba-Nya yang tertindas dan membantu mereka melawan penindas mereka. Allah Yang Maha Penyayang akan menolong orang-orang kafir yang tertindas, sekalipun jika sang penindas adalah Muslim. Apalagi jika pihak yang tertindas adalah seorang Muslim? Tentu Allah akan membantunya terlepas dari ketidak adilan dan penindasan.

Peristiwa ini merupakan pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang berbuat zalim, sehingga mereka tersadar dan menghentikan kezaliman mereka. Ini juga merupakan pertolongan Allah kepada pihak yang ditindas agar dia bisa bersyukur kepada Allah atas rahmat-Nya. Inilah yang harus kita pahami sehingga kita tidak menjadikan ‘bantuan’ Allah ini sebagai cara untuk mencapai kekayaan dunia, dan tetap mempertahankan hukum-hukum busuk buatan manusia tanpa bimbingan dari Islam dan syariah Allah serta lupa memperjuangkan Dien-Nya.

Jika Anda mau, silahkan membaca firman Allah SWT:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang shaleh sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur (24): 55)

” Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong [agama] Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad (47): 7)

Revolusi-revolusi ini dan para pelakunya tidak akan mengembalikan Palestina ke pangkuan kaum muslimin, tidak akan menjadi bagian dari Jihad dan Mujahidin yang mengusir para penjajah dan konspirator dari Afghanistan, Irak, Somalia, dan lain-lain. Slogan revolusi mereka hanya demi sepotong roti dan menghilangkan pengangguran. Para pelakunya tenggelam dalam lumpur syahwat, memperturutkan hawa nafsu, dan menjauhi Jihad di jalan Allah.

Allah SWT berfirman,

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata:` Rabb kami hanyalah Allah `. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia (orang-orang kafir dan zalim) dengan sebagian yang lain (orang-orang mukmin yang berjihad), tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”(QS. Al-Hajj (22): 40)

Peristiwa yang mengubah wajah sejarah dan momen perubahan dan transformasi jarang terulang. Apa yang terjadi di Mesir dan Tunisia dan apa yang mungkin terjadi di tempat lain adalah luar biasa dan berasal dari bantuan Allah yang telah diberikan kepada negara-negara dan masyarakat saat ini. Kalau bukan karena karunia Allah terhadap mereka, puluhan ribu orang akan tewas, bahkan setengah penduduk bisa dibantai, sementara penguasa yang tidak bergeser sedikit pun dari kursi kekuasaannya.

Lihatlah di negara-negara Islam lainnya; penindasan, dominasi dan tirani yang terjadi di sana. Revolusi di Mesir dan Tunisia ini merupakan peristiwa sejarah besar yang hanya terulang setelah jangka waktu yang panjang, atau tidak dapat diulang sama sekali, bahkan peristiwa-peristiwa tersebut pada dasarnya di luar kemampuan rakyat.

Lihatlah berapa banyak gempa bumi terjadi, namun kita hanya punya satu tsunami selama jangka waktu yang panjang. Dan lihatlah berapa banyak pemboman telah terjadi, tetapi kita hanya memiliki satu September (9/11).

Pertempuran Badar mengubah wajah sejarah dan merupakan titik balik antara kebenaran dan kepalsuan. Pertempuran mengubah skala dan memberi kebingungan bagi kekuatan kepalsuan dan tirani. Apakah masalah berhenti di situ dan semua pertempuran dan isu-isu kemudian selesai? Atau apakah semua itu akan berlanjut mengubah pandangan, ide dan keyakinan setelah ketakutan menusuk ke dalam hati yang arogan sambil membawa bantuan kepada hati yang hancur, menjadi percikan yang menyalakan api yang melanda rakyat dan menjadi obor kebenaran yang menerangi kegelapan bagi orang-orang sehingga mereka dapat melanjutkan dengan langkah tegas dan percaya diri dalam memperjuangkan agama Allah?

Allah Yang mengalahkan pasukan besar kekafiran di medan laga Badar tentu saja mampu meruntuhkan orang-orang yang lebih lemah dari mereka. Dia yang meruntuhkan menara kembar Amerika (WTC) tentu lebih mampu meruntuhkan bagian-bagian kecil bangunannya. Dia yang melengserkan si zalim Syain (artinya: kotoran, plesetan dari Zain) Abidin dan si tiran Hosni, tentu mampu melengserkan penguasa yang kezalimannya yang lebih kecil atau penguasa yang lebih tiran sekalipun.

Tetapi Allah telah merendahkan prestise para penguasa itu di depan mata rakyat, sehingga umat manusia dapat mengetahui keagungan Sang Maha Benar lagi Maha Kuasa. Allah hendak menghapus debu aib dan kehinaan yang selama ini menyelimuti mereka. Setelah pengikut kebatilan dihinakan dan pengikut kebenaran diselamatkan, Allah SWT ingin agar mereka mempjuangkan DienNya dan menolong para wali-Nya.

Peristiwa seperti ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kemaslahatan mereka. Kita tidak boleh berhenti pada peristiwa besar ini saja atau menunggu peristiwa besar serupa pada masa yang akan datang. sampai diatau sekedar Momen berharga seperti ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan cara yang benar agar rakyat bisa memetik buah yang paling baik dengan cara yang benar.

Para ulama dan khatib harus menggunakan peristiwa ini dan menyarankan umat untuk memanfaatkan situasi dengan cara mengelola kondisi agar memberikan kemaslahatan bagi Islam dan kaum muslimin. Umat harus diperingatkan untuk menaikkan bendera Islam dalam revolusi.

Perhatian para ulama dan khatib seharusnya tidak hanya mengeluarkan fatwa syariah atau sibuk dalam perselisihan pendapat, karena revolusi ini adalah akumulasi besar dari seluruh ketidakadilan dan penindasan yang dialami oleh rakyat. Rakyat tidak menunggu fatwa syariah karena mereka bertindak secara spontan dan tidak sengaja, akibat dari beratnya ketidakadilan dan penindasan penguasa tiran terhadap, yang telah membuat mereka kelaparan, bodoh, dan terbelakang.

Sejarawan Islam, Mahmud Syakir al-Dimasyqi, membahas krisis multi dimensi pada masa kekuasaan para gubernur, komandan, dan tentara atas rakyat pada periode pemerintahan daulah Abbasiyah yang kedua dan masa-masa setelahnya. Ia menulis:

“Bahaya dan kejahatan kekuasaan militer terletak dalam hubungan antara orang-orang. Karena ketika tentara berpihak pada salah satu pihak, dan timbul suatu sengketa antara dua lawan, sementara salah satunya bersenjata, maka pikiran pihak yang lain dipaksa untuk diam, kebebasan hilang, ketidakadilan terjadi, hak berpikir ditekan dan orang-orang terhina. Rakyat membenci mereka yang berkuasa dan ada pemisahan antara pejabat dan warga negara.

Tapi rakyat tidak bisa mengungkapkan itu dan mereka hanya membicarakannya secara rahasia. Negara mengalami kemunduran secara sosial, dan tentu saja krisis ekonomi saat penguasa tiran berusaha untuk mengeksploitasi situasi mereka. Para penguasa tiran mengumpulkan kekayaan dengan segala cara, termasuk penjarahan, perampasan dan pelanggaran yang dilakukan oleh pejabat militer dan para tentara. Baik para pejabat militer terlibat secara langsung maupun tidak langsung melalui tentara mereka yang meniru mereka. Hasil produksi turun karena rakyat sengaja mengabaikannya agar tidak menjadi sasaran penjarahan, penindasan, dan tirani. Semangat hilang sehingga rakyat tidak mampu melawan. Untuk siapa mereka harus berperang? Mengapa mereka harus berperan dan berbaris?” [Al-Tarikh al-Islami, 6/15].

Sebelum mengeluarkan fatwa syari’ah pada suatu hal yang sudah berakhir, kewajiban para ulama dan khatib adalah bekerja untuk memperbaiki kesalahan dan mengarahkan mereka ke arah yangs esuai tuntunan syari’ah. Mereka tidak boleh membiarkan kebatilan dan para pengikut kebatilan melakukan makar terhadap umat Islam dengan cara mengeksploitasi dan ‘menunggangi’ revolusi-revolusi untuk mencapai tujuan mereka sendiri. Mereka harus mengungkapkan kebenaran, mengangkat panji tauhid dan al-Sunnah, dan membiarkan orang mendengar suara-suara mereka sehingga rakyat tidak menganggap roti lebih penting daripada Dien Allah dan aturan Allah. Dengan demikian, rakyat mereka tidak akan rela menerima aturan selain syariat Allah.

Program dari revolusi-revolusi ini harus dialihkan ke jalan ini. Waktu harus diinvestasikan, upaya harus dikerahkan, dan slogan-slogan yang bertujuan menggagalkan kemaslahatan rakyat harus dibantah.

Ketika para ulama dan khatib secara tulus berbicara tentang problematika umat Islam dan memperjuangkan Dien Allah, niscaya mereka tidak akan berkompromi atau menjilat kepada musuh-musuh Islam. Ketika mereka telah menjadi pemimpin, pelita, dan benteng yang kokoh bagi kaum musimin, maka janganlah posisi mereka seperti yang dikatakan oleh seorang penyair:

Aku hanyalah seorang anggota suku Ghaziah
Jika Ghaziah tersesat, aku ikut tersesat
Jika Ghaziah mendapat petunjuk, aku pun turut

Sekali-kali umat Islam ​​tidak memiliki alternatif pengganti jihad, dan jihad akan senantiasa berlanjut sampai hari kiamat

0 komentar:

Poskan Komentar