Minggu, 04 September 2011

Beberapa kemunafikan AS dan Eropa terhadap rezim yang berkuasa di negara2 Islam

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Dalam suatu pengrebekan yang di lakukan oleh pasukan NTC(National Transition Councel) di kediaman mewah Kepala Intelejen Libya ,Moussa Cousa (Jum’at,2 September 2011)terungkap ,bahwa agen-agen CIA dan M 16 pernah dalam waktu yang relatif lama menjalin hubungan sangat mesra dengan para agen intelijen pemerintah otoriter Libya ,Kolonel Muhammad Ghaddafi.Baik CIA maupun M 16 saling tukar menukar berbagai informasi rahasia dengan agen-agen intilijen Libya ,meskipun tampak dipermukaaannya Paman Sam dan Inggris sangt keras tekanannya terhadap Ghaddafi yang dituduh terkait pemboman pesawat Pan Am di udara Locerbi itu.Karenaya bahkan Gedung Putih pernah melancarkan serangan udaranya terhadap Tripoli.sekaligus mengembargo Libya beberapa tahun lamaya sehingga Ghaddafi akhirnya menyerahkan agen rahasianya untuk diadili di Skotlandia,dan kini sudah berada kembali di Tripoli yang disuruh tangkap oleh Paman Sam .
Menurut New York Time dan News Strait Journal yang diliput juga oleh Radio Internasinal Jerman (Sabtu,3 September 2011)bahwa agen-agen Paman Sam ,CIA dan agen-agen rahasia Inggris M 16 pada masa Gedung Putih dan Downing Street 10 di duduki oleh George.W.Bush dan John Major dan Tony Blair bekerja sama sangat erat dengan Libya.Menurut informasi tersebut pula,bahwa Bush mengirimkan tersangka teroris ke Tripoli untuk diinterogasi oleh agen-agen rahasia Libya.Sementara M 16 atas restu pemerintahan Inggris pula memberi berbagai informasi penting tentang kelompok-kelompok oposisi yang berada di Inggris kepada Ghaddafi,meskipun sesungguhnya tokoh-tokoh oposisi tersebut sudah di beri suaka politik oleh Inggris.
Memang berbagai kemunafikan telah mereka lakukan di kawasan Timur Tengah,agen-agen CIA yang di kirim oleh Gedung Putih di tugaskan untuk menggulingkan pemerintahan demokratis PM.Mossadeq lalu kemudian di gantikan dengan rejim diktator otoriter Syah Iran .Semenatara Inggris pula bersama Emir Faisal,Chaim Weizman melawan Turki untuk memberikan wilayah Palestina bagi kediaman Yahudi.Menlu Inggris,Arthur James Balfour pada tanggal 2 November 1917 mendukung terbentuknya “National Home”bangsa Yahudi di Palestina sesuai dengan konsep-konsep “Der Judeistaat(the Jewish State)”yang di buat oleh Theodore Herzl tahun 1896 dalam Protocol Bassel. Setelah perang dunia pertama berakhir,kawasan Timur Tengah dikapling-kapling oleh Inggris , Perancis dan Italia seiring menbentuk Gheto Yahudi kayaknya menanamkan duri dalam daging Arab .

Deklarasi Balfour itulah sebagai pengakuan Inggris secara resmi terhadap eksistensi Zionis Israil di kawasan Palestina ,seiring kongkow dukungan serupa terhadap terbentuknya Arab Saudi dengan Emir Faisal sebagai imbalan dukuhngan keduanya bagi Inggris dalam melawan Turki dalam perang dunia pertama tersebut. Desakan Zionis internasional kepada Inggris untuk mendapatkan Palestina sangat kuat,sehingga terjadi perdebatan sengit antara para politisi Inggris sendiri.PM Inggris,Camberland dan Disraeli sangat keberatan terhadap permintaan Zionis tersebut,dan keduanya mengajukan suatu alternatif pilihan supaya wilayah - wilayah Australia,Uganda,Kenya saja sebagai gantinya untuk di jadikan Jewish state itu.

Tetapi Zionis menolaknya dengan tegas,yang pada akhirnya keluarlah Deklarasi Balfour tersebut yang sampai sekarang masih terus menerus di landa konflik anatara Yahudi dan Palestina.Makanya sangat aneh sekiranya sekarang,mantan PM Tony Blair diangkat menjadi utusan khusus guna mengentaskan masalah konflik Israel-Palestina yang diciptakan oleh leluhurnya juga.Bahkan Tony Blair sendiri mengulangi kemunafikan serupa bersama Bush ketika memulai invasinya terhadap Iraq.Keduanya telah mengakui kekeliruannya,bahwa tuduhan mereka terhadap Saddam Husein memiliki senjata nuklir atau pemusnah massal dan berhubungan dengan al Qaeda sebagai alasan untuk membinasakan Iraq itu salah,tetapi keduanya tidak akan pernah menyesalinya apa-apa yang sudah terkanjur di lakukannnya bersama Paman Sam dan sekutu Eropa dan Arab lainnya meskipun telah menewaskan ratusan ribu jiwa dan jutaan bangunan luluh lantak dan rata dengan tanah.

Kemunafikan AS dan Inggris telah terjadi berulang kali,mereka juga yang menggembleng Osamah ben Laden dalam melawan pasukan Sovyet di Afghanistan yang kemudian dibinasakannya di Abottabad,Pakistan. Kemudian pada tahun 1992 ketika FIS(Front Islamique Salute)memenangi pemilu tahap I di Aljazair mereka tidak mengakuinya,meskipun mereka kemana-mana mengkampanyekan bahwa demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang ideal.Tetapi mereka justeru mendukung junta militer membatalkan pemilu yang berlangsung demokratis tersebut karena dimenangi oleh FIS yang menurut mereka muslim fundamentalis.

Selanjutnya Barat mendukung junta militer dalam membantai FIS sehingga menewaskan puluhan ribu jiwa, tetapi dipihak lainnya AS,Inggris,Perancis ,Italia memberi suaka politik kepada para aktifis FIS opsisi yang melarikan diri dari kebiadaban rejim militer Aljeirs.Salah seotang tokoh FIS,Cheik Abdelbaki Sahrous mendapat suaka politik dari Perancis dan menetap di Paris.Sementara salah seorang pemimpin FIS yang terkemuka,Anouar Haddam mengasaingkan diri ke Paman Sam.Dalam kontek tersebut Italia dan Vatican turut juga mendukung FIS dipengasingan,meskipun ketika mereka sudah diambang kemenangan dalam pesta demokrasi di Al jazair mereka tidak mengakuinya.

Pemerintah Italia dan Vatican mengadakan kongkow kelompok -kelompok oposisi di Roma (Senin,21 November 1994)yang di hadiri oleh berbagai kelompok oposisi terhadap junta militer Aljeirs,yang mendapat kecaman keras dari rejime mioliter Aljazair.Aljers menuduh Italia dan Vatican turut mencampuri urusan domistik Aljazair, Dubes Italia dan Vatican di Aljers Patrizio Schmidlin dan Edmond Ferhat di panggil ke Kementerian Luar Negeri Aljazair untuk menyampaikan nota protes keras rejim militer Aljeirs terhadap peretemuan kelompok-kelom,popk anti Aljers di pengasingan itu.

Akan tetapi Sant Egidio (organisasi kemunitas Katholik Roma) tetap melanjutkan programnya dengan suatu pertemuan kelompok-kelompok oposisi yang termasuk FIS di dalamnya itu.Pertemuan dua hari itu dihadiri oleh beberapa tokoh penting darei berbagai kelompok anti Aljeirs,seperrti Anouar Haddam(tokoh FIS dari AS)Abdelhamid Mehri(FLN),Hocine Ait Ahmaed(FFS),mantan presiden Ahmaed Ben Bella,Abdelnour Ali Yahya salah seorang tokoh senior HAM Al Jazair turut juga menghadiri pertemua dua hari tersebut.

Gedung Putih dan sekutunya juga tidak mengakui hasil pemilu yang demokratis tahun 2006 di Palestina karena di menagi oleh HAMAS(Al Harakah al Muqawwamah al Islamiyah),bahkan menganggapnya teroris yang berupaya untuk disingkirkan bersaman memperkuat dukungan mereka kepada Al Fatah karena serasi dengan kepentingan mereka,meskipun Fatah kalah dalam pemilu pertama sekali di Palestina itu.Sekarang di Libya mereka ulangi lagi kemunafikan tersebut,AS,Inggris,Perancis,Italia sebelumnya juga mendukung Ghadafi dalam melawan oposisi dan sekarang balik mendongkel Ghadafi dengan memperalat kelompok kelompok oposisi (NTC) pimpinan Mustafa bin Abdul Jalil tersebut. Oleh sebab itu Aljazair menampung keluarga keluaraga Muhammad Ghaddafi ,mantan seterunya karena Ghaddafi di tuding mendukung kelompok-kelompok oposisi FIS yang melawan Aljers.Akan tetapi sekarang merasa senasib dengan Ghaddafi ,mencoba menjauhi NATO dalam kaitannya dengan konflik internal Libya tersebut,serta berupaya untuk membantu mantan musuhnya itu.Dan tidak mustahil AS dan sekutunya sudah mempunyai skenario lainnya sekiranya kedepan dalam proses pembentukan pemerintahan demokrasi yang memang masih sangat asing bagi masyarakat Libya terjadi konflik horisontal ,maka NATO perlu payung hukum internasional yang kokoh semacam resolusi DK-PBB untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Libya.Program ini memang sekarang masih di tolak oleh oposisi dengan dalih bahwa akan dijadikan senjata oleh kelompok loyalis Ghaddafi untuk membangkitkan warga Libya melawan imperialis Barat.

Memang argumentasi yang di kemukakan para poolitisi NTC tersebut sangat beralasan,makanya NATO masih menimbang-nimbang langkah-langkah kearah itu.Ataupun dalam berbagai persepsi elite politik NTC sudah mulai mencurigai terdapat suatu indikasi ketidak becusan NATO dalam mengentaskan masalah Libya jika tidak di berikan sesuatu imbalan yang sangat besar.Memang sebuah revolusi sangat mahal harganya, sehingga memerlukan suatu pemikiran yang sangat matang supaya LIbya tidak dijadikan oleh NATO sebagai Iraq dan Afghanistan kedua.Namun sekiranyapun dalam proses pembentukan sebuah pemerintahan Libya yang demokratis kedepan terjadi konflik hosontal,maka bisa saja dengan alasan tersebut sebuah resolusi PBB akan keluar dengan relatif mulus karena Moskow juga sudah mengakui NTC ,cuma tinggal Beijing saja yanmg belum jelas sikapnya .Namun bagi negara komunis terbesar dunia tersebut juga tidak terlalu sulit untuk minta “diam saja”saat pertemuan DK-PBB berlansung asalkan investasinya di negara -negara Afrika utara itu terjamin,terutaama LIbya tersebut

0 komentar:

Poskan Komentar