Selasa, 02 Agustus 2011

Bekerjalah secara ikhlas dan fokus...!

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)


KETIKA masih kecil kita sering ditanya guru, kelak nanti kalau sudah besar kamu mau jadi apa? Kita pun menjawab spontan. Ada yang ingin menjadi guru, tentara, dokter, insiyur, pilot, dan lain sebagainya. Pendeknya kita mempunyai imajinasi untuk menjadi orang sukses, memiliki pekerjaan dengan gaji besar, berpakaian mentereng, dan rumah megah.

Imjinasi dan cita-cita tentang masa depan itu memang selalu tumbuh bersama kita, bahkan sampai hari ini. Dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup, imajinasi sewaktu kecil tentu saja banyak yang berubah.

Setelah memasuki duna kerja, ternyata bekerja tidak cukup hanya mengandalkan skill tanpa disertai hati dan semangat pengabdian. Bekerja tanpa hati akan terasa hambar dan membosankan. Idealnya dalam bekerja, seseorang melakukan aktualisasi diri, sehingga ketika melihat hasil kerjanya seakan melihat potret dan karakter dirinya.

Hidup, berkarya, dan bermain lalu menyatu, menjadi satu paket, three in one. Bukankah hidup itu sendiri sebuah anugerah Tuhan yang harus dirayakan dengan kerja kreatif, produktif, dan konstruktif? Dengan semakin majunya teknologi modern, maka sekarang ini sangat memungkinkan menciptakan suasana kerja lebih nyaman, menyenangkan dan produktif.

Lebih dari sekadar tempat bekerja, suasana kantor mestinya juga diubah agar merupakan suatu komunitas yang mendatangkan rasa hangat, penuh aura kekerabatan, dan pertemanan yang mendukung kompetisi untuk berprestasi dengan tetap memegang komitmen etika profesionalisme.

Orang yang bekerja, namun tidak memiliki kebanggaan dan kepuasaan atas hasilnya disebut alienated person, yaitu pribadi yang tercerabut dan tersingkir dari apa yang ia lakukan. Lebih parah lagi kalau seseorang benci pada pekerjaannya, lalu berkembang pada lingkungan sosialnya, maka akan mengalami kepribadian yang terbelah (split personality). Dan lebih jauh lagi, bisa disebut sakit mental.

Bayangkan, betapa tersiksanya seseorang yang hidup menganggur, sementara ketika bekerja ia justru membenci pekerjaannya. Inilah yang dimaksud teralienasi, di mana seseorang tidak lagi menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Tidak nyaman dengan keadaannya.

Dengan bekerja maka manusia menjadi dirinya dan menjaga martabatnya. Tuhan memberikan semua fasilitas yang terhampar dan tersimpan di bumi dan manusia dianugerahi organ tubuh yang sangat canggih serta pikiran yang sangat hebat. Untuk apa semua itu jika tidak untuk berkarya, memakmurkan bumi, dan berbagi kasih sayang serta kebajikan dengan sesamanya?

Demikianlah, Alquran selalu mengaitkan anjuran beriman dengan dengan perintah amal saleh. Ciri orang yang beriman adalah mereka yang selalu berkarya di jalan yang benar dan baik, untuk tujuan kebenaran dan kebaikan.

Tetapi bekerja sekadar benar dan baik belumlah cukup. Mesti ditambah nilai keindahan. Banyak pekerjaan yang benar dan baik, tapi belum tentu indah. Tanpa keindahan, kehidupan akan terasa kering.

Tanpa kerja produktif seseorang juga akan kehilangan harga dirinya. Jangan bayangkan seseorang akan merasa bahagia dengan mengandalkan warisan orang tua tanpa yang bersangkutan memiliki keterampilan kerja.

Sering kita jumpai pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia, karena semua itu hasil kerja orang tuanya. Dia tidak memiliki keterampilan dan kepandaian yang dibanggakan.

Di hatinya, merasa iri dan malu terhadap teman sebayanya yang bisa bekerja secara profesional dan hasil karyanya mendapat penghargaan dari masyarakat. Jadi, kerja, harga diri dan kebahagiaan saling terkait dan saling mengisi.

Menjadi persoalan ketika bekerja secara terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Yang demikian ini dialami banyak penduduk Indonesia. Langkah pertama adalah mengembangkan keterampilan dan mencari pekerjaan yang cocok dan disenangi. Entah itu di lingkungan lama ataupun yang baru. Kedua, jika kondisi eksternal tidak bisa diubah, maka seseorang harus mengubah kondisi internalnya. Yaitu, belajar mencintai pekerjaan yang tersedia.

Namun, di atas itu semua, seseorang baru akan merasa bermakna hidup dan aktivitasnya jika ia memiliki niat dan pandangan hidup yang mulia. Bahwa hidup adalah festival yang harus dirayakan dan juga hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri serta dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kalau kita bekerja semata mengharapkan insentif material-duniawi, maka bersiaplah untuk kecewa. Kebaikan orang biasanya bersyarat dan terbatas.

Orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan enggan berkorban serta memberi lebih kepada orang lain, kecuali ada kalkulasi untung rugi. Kecuali mereka yang benar-benar menghayati bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu justru terletak dalam mencintai dan memberi, bukannya meminta dan mengambil, sebagai rasa syukur kepada Sang Pemberi Hidup.

Jadi, berbahagialah mereka yang berhasil mempertemukan: bekerja, bermain, beramal saleh, bermasyarakat, dan mensyukuri hidup. Aku ada, karena aku berkarya. Dan aku bangga menjadi karyawan Tuhan

0 komentar:

Poskan Komentar