Minggu, 10 Juli 2011

PERMUDAHKANLAH, JANGANLAH ENGKAU MEMPERSULIT....!

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)


“permudahkanlah, jangan engkau mempersulit.” Ini adalah pesan Nabi ketika mendapatkan laporan dari seorang sahabat tentang adanya seorang imam shalat jamaah yang dianggap membaca ayat terlalu panjang sehingga sebagian jamaah merasa kesulitan. Maka Nabi mengucapkan statemen tersebut, lalu menambahkan: “Gembirakanlah, jangan engkau membuat orang lari.”

Kisah di atas memperlihatkan semangat Sang Nabi penyampai Islam itu begitu lembut dan bersahabat. Islam beliau tampilkan sebagai ajaran yang mengesankan begitu indah dan peduli pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Islam itu mudah, sederhana dan menyejukkan. Islam adalah jiwa manusia itu sendiri, yang bersifat primordial, alami dan orisinal.
Agama milik Allah adalah Islam; agama yang dianut Nabi Ibrahim dan para Nabi Bani Israil adalah Islam, dan para penganut agama ini disebut Muslimin (jamak dari Muslim) (al-Hajj: 78). Jadi secara generik Islam adalah agama menyerah diri kepada Allah, karena arti islam adalah: pasrah, tunduk dan patuh. Alat atau potensi yang membuat manusia tunduk dan patuh adalah akal dan pedomannya adalah wahyu, yakni kitab yang diturunkan melalui para rasul.
Kepatuhan atau ketundukan manusia kepada Tuhan berbeda dari kepatuhan alam semesta; manusia tunduk dengan kebebasan, sementara alam semesta melakukannya tanpa pilihan. Di situlah letak peluang bagi manusia menjadi kafir dan durhaka. Manusia dapat memilih untuk tunduk atau melawan. Jika ia tunduk maka ia telah memilih untuk kembali kepada desainnya yang orisinal, jika ia membangkang maka ia akan berhadapan dengan berbagai problem yang menyengsarakan dunia dan akhirat karena telah memilih jalan yang tidak sesuai dengan setting orisinalnya.
Itulah sebabnya jalan Islam itu mudah dan sederhana, tidak rumit dan tidak menyulitkan. “Kami tidak menurunkan Qur’an supaya kamu susah” (Thaha: 2). Tetapi umat Islam sendiri membuat Islam itu sulit dan bahkan menakutkan, atau kadang-kadang membolak-balikkan ajaran yang sebenarnya, seperti mengubah yang wajib seolah-olah sunat atau sebaliknya. Lalu terjadilah konflik dan pertengkaran antara sesama Muslim. Misalnya: shalat malam bulan Ramadhan (tarawih) seolah-olah wajib dilakukan sampai 20 rakaat atau 8 rakaat. Kalau kurang atau kalau lebih maka seolah-olah tidak sah atau tidak diterima oleh Allah. Maka mereka yang berbeda pendapat pun bertengkar dalam hal ini dan tidak ada yang memberikan perhatian soal mereka yang tidak melakukan shalat sekalipun. Contoh lain adalah masalah kenduri. Kenduri itu sedekah dan hukumnya sunat, tetapi sebagian orang membuatnya seolah-olah wajib. Dia lebih mendahulukan kenduri daripada membayar utang, misalnya, dan bahkan berutang lagi untuk kenduri.
Islam diturunkan supaya kita dapat menjalani hidup ini dengan mudah, mengapa kita membuatnya lebih sulit atas nama Islam. Islam diturunkan untuk membuat hidup ini indah, mengapa kita membuatnya menakutkan dan bahkan mengerikan atas nama Islam. Islam diturunkan agar manusia mencintai dan menghargai kehidupan, tetapi mengapa seolah-olah hidup tidak bermakna bagi orang Islam. Ini adalah di antara sejumlah paradoks dalam kehidupan masyarakat kita yang harus diperbaiki. Inilah yang menjadi kegelisahan ulama kita zaman dahulu sebagaimana terungkap dalam pernyataan al-Afghani: Islam itu terhijab (terdindingi) oleh kaum muslimin sendiri. Wallahu a’lam

0 komentar:

Poskan Komentar