Rabu, 13 Juli 2011

Ghazwul Fikri semakin marak di Indonesia saat ini....!

M.Rizal Ismail (bahan khutbah)

Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan Perang Pemikiran, persis seperti yang anda kemukakan. Secara istilahi, berarti upaya-upaya gencar yang dilakukan musuh-musuh Allah swt untuk meracuni pikiran umat Islam agar jauh dari Islam, lalu membenci Islam, dan pada akhirnya diharapkan Islam dapat habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini dan juga untuk seterusnya.

Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran relatif berjumlah sedikit. Mirip dengan yang terjadi pada masa dahulu, Pasukan Khalid bin Walid, pernah berperang dengan sekitar 3.000 personil melawan pasukan Romawi yang berjumlah berjumlah 100.000 personil. Hampir 1 berbanding 35. Namun Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut.

Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadis dimengerti, khazanah ilmu Islam digali.

Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pelajar Islam ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan), berupa NGO-NGO untuk mengkaji kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai.

Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri- negeri Islam itu.

Hasil kajian mereka, di antaranya diungkapkan melalui pernyataan; Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.

Dalam hal ini, sebenarnya Alquran telah mengingatkan kaum muslimin melalui firman Allah yanh artinya: Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka (QS Faathir: 6). Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An’aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia.

Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Itu dahulu, tetapi kini perbuatan itu dilakukan dengan menggunakan sarana modern yang super canggih.

Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Lembaga-lembaga internasional ataupun sebagian dari Nasional, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya ingin digunakan oleh setan.

Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam itu, mempunyai missi untuk menggerogoti Islam, dengan berbagai cara. Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih amat jauh dari memadai. ‘Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam mengcounter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada.

Alquran memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman as pernah mendakwahi ratu negeri Saba’ melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk islamnya sang ratu. Kalau korespondensi dakwah sederhana antara Nabi Sulaiman as dengan ratu Saba’ ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman as, Nabi Muhammad saw pun dalam mendakwahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini.

Satu hal lagi yang tidak boleh kita lupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya ‘tokoh’ Islam yang diberi predikat kiyai, haji atau profesor, doktor dan sebagainya yang konotasi atau kesannya tidak lain dari pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya. Termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Demikian juga dengan Milata Abraham, Mukmin Muballigh ataupun Komar.

Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin.

Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam yang sebenarnya. Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan.

Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah swt menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu mendakwahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya dalam keadaan muslimun sesuai dengan Wa Laa Tamuutunna Illa Wa Antum Muslimun. Amin ya Rabbal ‘alaimin, Wallahu A’lamu Bish-Shawaab

0 komentar:

Poskan Komentar