Sabtu, 04 Juni 2011

Kebodohan Umat Islam yg ikut Merayakan Tahun baru Masehi

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

BUDAYA mengukur kalender tahunan terus berlanjut, kali ini kita sudah memasuki tahun baru 2011 Masehi. Tetap saja seperti biasa setiap pertukaran tahun identik dengan pesta hura-hura dan kesenangan. Tak terkecuali kita di Indonesia, berbagai perhelatan di gelar. Mulai pentas music, bakar kembang api hingga kema-kema massal di sejumlah obyek wisata. 

Semua sadar, kalau pergantian tahun adalah penanda bahwa satu masa sudah kita lampaui, dan akan menapak ke masa depan yang belum pasti. Sejatinya ini yang direnung, setidaknya mengenang untuk dijadikan ingatan; bahwa ternayata masa lalu begitu dekat, dan masa depan masih jauh dan mengambang. Namun, apa hendak dikata, semua itu justru sering diisi dengan suatu perayaan ansic, dangkal bahkan sumir belaka. Semua asyik dan terlena dengan hajatan pergantian tahun, tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalamnya.

Sejarah tahun baru masehi
Begitu pentingkah di tahun baru dirayakan? Agaknya sebelum menjawab, perlu juga menyimak bagaimana sejarah lahirnya perayaan tahun masehi itu. Ketika pertama kali dirayakan pada jaman kaisar Romawi, pada tanggal 1 Januari 45 SM, tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, dan untuk menghormati dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua, merupakan Dewa pintu dan semua permulaan), lalu ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 SM. Tak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Agustinus menjadi bulan Agustus, sedangkan Januari sendiri diambil dari nama dewa Janus. Inilah yang terus dirayakan dan dilestarikan yang  menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal.
Kebanyakan orang di masa silam memulai tahun yang baru pada hari panen. Mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan untuk meninggalkan masa lalu dan memurnikan dirinya untuk tahun yang baru. Orang Persia kuno mempersembahkan hadiah telur untuk Tahun Baru, sebagai lambang dari produktivitas. Orang Romawi kuno saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar dewa Janus, Orang-orang Romawi mempersembahkan hadiah kepada kaisar. Para kaisar lambat-laun mewajibkan hadiah-hadiah seperti itu. Para pendeta Keltik memberikan potongan dahan mistletoe, yang dianggap suci, kepada umat mereka. Orang-orang Keltik mengambil banyak kebiasaan tahun baru orang-orang Romawi, yang menduduki kepulauan Inggris pada tahun 43 Masehi.Pemimpin-pemimpin Inggris mengikuti kebiasaan Romawi yang mewajibkan rakyat mereka memberikan hadiah tahun baru. Para suami di Inggris memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Kebiasaan ini hilang pada tahun 1800-an, namun istilah pin money, yang berarti sedikit uang jajan, tetap digunakan. Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.

Di Eropa dan negeri barat lainnya, bentuk perayaannya sudah cukup khas. Berbarengan dengan perayaan Natal, untuk menyambut tahun baru pesta besar-besaran diadakan, malam akhir tahun ditunggui, nyanyian dilantunkan, lonceng tengah malam dibunyikan, kembang api dinyalakan, terompet ditiup, ucapan marry christmas and happy new year diteriakkan, dan campur bebas pria dan wanita yang bukan muhrim pun tak terelakkan. Bentuk perayaan ini tak ayal lagi diadopsi oleh negara-negara hampir di seluruh dunia. Tak mau “dianggap” ketinggalan, orang-orang Indonesia (yang beragama Islam) pun ikut-ikutan. Itulah yang sekarang kita ikuti ketika merayakan tahun baru Masehi. . Ini pula perbedaan kentara bagi  umat Islam yang sebenarnya punya tahun baru sendiri, yaitu tahun baru Hijriyah 1 Muharram. Sayangnya  jarang yang merayakannya. Banyak dalih ketika ditanya mengapa merayakan tahun baru masehi. Alasan yang paling sering kita dengar adalah, “untuk refreshing aja, enggak tiap hari kok”, ataupun “rugi kalau enggak ikut, banyak moment-moment yang sayang kalau ditinggalkan”. Lalu, jika sekadar refresing kenapa pula harus di tahun baru?

Seharusnya semua umat Islam harus jeli dan berpikir kembali Tahun Baru Masehi diperuntukkan untuk siapa. Rasulullah SAW pernah mengatakan, “Barang siapa yang menyerupai perbuatan suatu kaum, maka ia termasuk di dalamnya” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan ath-Thabrani). Ini bermakna,  tidak boleh hukumnya seorang Muslim yang beriman kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, mengadakan perayaan-perayaan hari-hari besar yang tidak ada landasannya dalam dien Islam, termasuk diantaranya pesta tahun baru tersebut. Tidak boleh hadir pada acaranya, berpartisipasi dan membantu dalam pelaksanaannya dalam bentuk apapun karena hal itu termasuk dosa dan melampaui aturan-aturan Allah sedangkan Allah sendiri telah berfirman, "Dan janganlah bertolong-tolongan di atas berbuat dosa dan melampaui batas, bertakwalah kepada Allah karena sesungguhnya Allah amat pedih siksaanNya" [Al-Maidah : 2)
Kalau pun perlu merayakan tahun baru, maka mesti diisi dengan merenung bahwa pergantian tahun bukanlah awal dari sebuah cerita. Akan tetapi, almanak berganti menandakan berakhirnya sebuah episode hidup. Kalender berubah, kita, manusia, mengakhiri sebuah episode kehidupan, dan melanjutkannya dengan episode baru. Kontrak tayang tetap sama, tergantung dari peran yang kita lakonkan di dunia ini. Kita, manusia, hanyalah seonggok tanah. Semua kita akan kembali ke tanah, tergantung dari kontrak hidup yang telah kita tanda tangani. Sebelum tanah ini berubah wujud menjadi manusia, kita semua telah menyatukan kesepakatakan dengan Allah SWT.

0 komentar:

Poskan Komentar