Selasa, 14 Desember 2010

Sesatnya kehidupan wanita karir

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Soal wanita karir sudah banyak dibicarakan dimana-mana, dengan kesimpulan yang rata-rata menempatkan karirisasi wanita setidaknya pada posisi sebagai sebuah dilemma. Terlepas dari perdebatan seremonial tersebut, kenyataan menunjukkan bahwa ekspansi wanita karir, cenderung menghebat. Dari posisi eksekutif kantoran hingga menjadi biji-biji sekrup penggerak roda-roda industri.

Motif Karir

Motif berkarir yang klise “saking dominannya” adalah faktor tekanan ekonomi. Akibat tuntutan kebutuhan (pokok) keluarga, termasuk dirinya, wanita seolah tak melihat alternatif lain selain bekerja, keluar dari teritorial fitrahnya (rumah). Sebagai contoh, gelombang buruh wanita yang bekerja di swalayan atau mini market sebagai pramuniaga. Dalam posisi tawar (bargaining position) lemah, mereka lebih mengutamakan kepentingan praktis: mendapat pekerjaan dan memperoleh upah untuk membantu biaya keluarganya. Apalagi bahwa sifat wanita umumnya menghendaki anggaran belanja yang lebih besar di luar kebutuhan primer, misalnya untuk kebutuhan kosmetika dll.

Motif untuk memenuhi kebutuhan pokok, untuk mempertahankan hidup, yang demikian ini memang manusiawi. Tapi terus terang juga merupakan dorongan yang paling rawan bagi nilai kemanusiaan. Sebab, ia cenderung menghalalkan segala cara. Bahkan demi sebungkus supermi, banyak orang yang rela menggadaikan aqidahnya. Hak melaksanakan ajaran agama yang paling elementer dan mendasar, yakni sholat, nyaris tak mendapat perhatian serius dari para boss yang mempekerjakan buruh muslim.

Motif yang lebih tinggi tingkatannya adalah motif psikologis. Semua manusia, termasuk wanita, memiliki survival instink. Salah satu bentuk manifestasinya adalah bahwa ia ingin diakui eksistensinya secara sosial. Diterima dan diakui kehadirannya. Naluri ini dimanipulasi oleh Barat untuk meyedot para wanita keluar dari rumahnya.

Melalui program Westernisasi, yang salah satu issunya adalah gerakan emansipasi, Barat memancing-mancing kebangkitan naluri eksistensial wanita. Ditanamkanlah konsep harga diri yang salah, yang menganggap bahwa karir pria memperbudak wanita dan bahwa kedudukan sebagai ibu rumah tangga adalah suatu kehinaan bagi martabat wanita. Maka lahirlah kelompok-kelompok pemberontakkan wanita semisal Womens-Lib dan Feminimisme.Untuk sesaat wanita merasa puas atas ‘perjuangan suci’ kelompok ini. Mereka merasa betul-betul menjadi manusia, karena sudah sederajat dengan ‘bahkan terkadang mengungguli’ kaum pria. Mereka berupaya mereguk puncak emansipasi, yakni mengutip penulis Barat: ‘When Woman have the freedom to sleep with whichever man they wish’. Produk gerakan ini, antara lain DINK (Double Income No Kids) dan NOMAR (No Married) yang banyak dianut wanita karir kantoran.

Karir, Bahaya?

Bukan tanpa alasan kalau Islam sangat kuat membatasi akses sosial wanita, termasuk dalam meniti karir. Wanita karir bisa mendatangkan dampak negatif baik buat dirinya, keluarganya maupun masyarakat dan bahkan negara.

Wanita karir yang bermotifkan memenuhi kebutuhan pokok ‘akibat kemiskinan’ umumnya dihadapkan pada persoalan yang dilematis. Ia harus bekerja, tetapi harus juga tahan menderita dalam pekerjaannya: gaji rendah, bargaining position lemah, keselamatan kerja kritis dan kadang tak ada jaminan sosial, seperti kontrak kerja sepihak, tidak boleh hamil ketika aktif, upah rendah, tidak ada cuti haid atau kalaupun ada berarti potong gaji dsb.

Sementara itu, wanita karir yang mencari kepuasan psikologis, yakni kegilaan kerja, akhirnya juga akan terbentur pada pertentangan antara fitrah nurani dan obsesi. Nalurinya menyatakan bahwa harus tinggal di rumah menjadi ibu yang baik (bagi suami dan anak-anaknya) dan terlindungi, tapi kenyataannya ia menemukan dirinya berada di tengah belantara beton kota yang penuh ‘tarzan-tarzan’ pria yang setiap saat bisa menerkamnya. Kalau boss dan sekretarisnya setiap hari bertemu dalam ruang tertutup di satu kamar kerja, maka pihak ketiga yang menjadi tamu mereka adalah setan. Banyak kasus boss mengajak sekretarisnya keluar, kencan. “Mereka berdalih rapat, tapi sebenarnya rapet”, ungkap dr. Naek L. Tobing. Sapaan pertama sekretaris pada bossnya tidak lagi “Selamat Pagi, Boss” tapi “Sudah Pagi, Boss”.

Pertentangan kejiwaan yang diderita wanita karir itu akan menimbulkan apa yang disebut oleh Collette Dowling sebagai Cinderella Complex, yakni suatu syndrom hipokrisme psikologis antara rasa kebergantungan dan kemandirian wanita (karir). Hal ini sangat berbahaya bagi integritas kepribadian si wanita.

Wanita karir yang sudah berkeluarga dihadapkan pada pilihan membela anak-suami atau pekerjaan. Pilihan ini juga dilematis. Sedikit sekali wanita karir yang berhasil di dalam dan di luar rumahnya. Mereka yang terlanjur mabuk karir akhirnya membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan pembantu ‘yang umumnya berlatar belakang cupet’ dan dengan makhluk-makhluk elektronik yang cenderung merusak ketimbang mendidik. Dengan begitu sebenarnya mereka telah membunuh anak-anaknya sendiri. Hubungan antar anggota keluarga lebih banyak dijalin lewat telepon atau memo, sehingga harmonisme melayang dan struktur keluarga tergoncang. “Anak yatim bukanlah anak yang tidak memiliki orang tua, tetapi adalah anak yang memiliki ayah-ibu tapi keduanya sibuk”, kata penyair Asy-Syauki. Kesadaran sekaligus ketakutan terhadap hal inilah yang melahirkan budaya DINK di kalangan ibu karir dan NOMAR di kalangan wanita karir lajang.

Budaya Sesat

Budaya DINK maupun NOMAR, bertentangan secara diametral dengan fitrah manusia dan wanita. Wanita normal mendambakan keturunan yang dilahirkan dari rahimnya sendiri, disusui dengan ASI-nya, dan dibesarkan dengan kasih sayangnya. Betapa banyak pasangan cerai atau poligami, karena no-kids dalam bahtera rumah tangganya. Apalagi yang NOMAR, tidak saja naluri keibuannya tersumpal namun juga naluri seksualnya. Padahal keduanya itu fitri, tak dapat ditumpas atau dimatikan. Simak surat pembaca berikut: “Pak ustadt, saya seorang wanita karir berumur 35 tahun, baru-baru ini sudah memutuskan untuk tidak menikah. Saya memiliki berbagai persiapan untuk hidup sendiri dan mandiri. Tapi saya juga ingin mendapat advis Bapak, bagaimana sebaiknya saya menghadapi gairah seks yang tak mungkin dibendung itu, mengingat saya adalah wanita sehat…” (TIARA No. 76/11-4-1993). Kalau seks sudah mengalami desakralisasi (dengan menganggapnya suatu kebutuhan pangan), jangan kaget kalau banyak orang berprinsip ‘selagi masih ada penjual sate, kenapa harus repot piara kambing!’.

Terkait dengan ini menarik diungkapkan, bahwa menurut survey ekstensif di beberapa Sekolah Tinggi dan Universitas di Amerika Serikat, sebuah negara Liberal-Brown, Princetown, Wellesley, Dartmounth, Barnard dan Stony Brook pada tahun 1978, mayoritas besar mahasiswa mengharapkan menikah dengan wanita yang tinggal di rumah tidak bekerja (Collette Dowling: Cinderella Complex). Ekspansi wanita karir menyebabkan meningkatnya kualitas dan kuantitas perjumpaan (ijtima’) dan interaksi (ikhtilat) kaum pria-wanita. Hal ini sangat menyuburkan bibit fitnah dan skandal (sexual harrasment). Interaksi yang intensif antara pria dan wanita juga bisa jadi membelokkan niat para pria yang bekerja dari ingin memenuhi kebutuhan keluarga menjadi kenikmatan dan kepuasan karena selalu berada di tengah-tengah wanita. Hal ini akan mengancam stabilitas keimanan pria yang mencoba berkomitmen terhadap ajaran agamanya. “Semata-mata karena fakta yang ada pada setiap periode, yang mengatakan bahwa wanita itu selalu condong memamerkan diri dan kewanitaannya. Tidak diragukan lagi, ini merupakan kehancuran laki-laki”, kata Anthony M. Ludivicy (Woman a Vindication).

“Wanita adalah tiang negara. Baik wanitanya, baiklah negaranya. Buruk wanitanya, hancurlah negaranya”. Sinyalemen Rasulullah SAW ini telah terbukti berulang kali dalam sejarah, bagaimana suatu kekuasaan tumbang disebabkan wanita. Dona Rice menjegal karir Hart; Dmitri Liani, Pamela Sordes… sama prestasinya. Hingga kini sudah menjadi rahasia umum bahwa wanita menjadi salah satu ‘ta’ yang digunakan sebagai umpan bisnis maupun politik disamping harta dan tahta. Namoto ‘de Syuga’, misalnya, melancarkan negosiasi proyek rampasan perang pengusaha Jepang dengan Soekarno. Kalau wanitanya sudah rusak, lalu bagaimana bisa diharapkan generasi yang dilahirkannya? “Dalam sejarah, kehancuran suatu masa selalu dibarengi dengan keluarnya kaum wanita dari rumah”, kata Prof. Arnold J. Toynbee dalam “World Review” Maret 1949.

Wanita, Kembalilah…

Kalau panggung karir sudah sedemikian gebyarnya, alangkah baiknya para wanita karir tersebut turun pentas, sebelum semua kemilau cahaya padam. ‘Dunia ini hanya panggung sandiwara’, kata Achmad Albar. Dan ‘pesta pasti berakhir’, kata Rhoma Irama. ‘There must be more life than tomorrow’, kata mendiang Freddy Mercury. ‘Just when you make your way back home…’, ujar Claus Meine dengan melankolisnya. Masalahnya adalah, kembali kemana?

Pierre Crabbites, dalam artikel ‘Paham Muhammad terhadap kaum wanita’ menjelaskan secara singkat padat: ‘Tiga belas abad silam, Muhammad memberikan jaminan kepada kaum ibu, para isteri dan anak-anak perempuan muslimat dengan mengangkat derajat mereka, yang pada galibnya belum pernah diterapkan terhadap kaum wanita pada sistem perundang-undangan yang berlaku di Barat
!’

Setelah berlalunya Ramadhan, mengapakah wanita muslim tidak bersedia mengubah profil dirinya dari Madonna ke Fatimah, dari Hilary Clinton ke Siti Aisah… dari wanita Barat ke muslimah sejati ? pasti tidak mungkin, karena para wanita kariri dan gila kerja dan materi ini telah sangat dalam membenamkan dirinya dalam pelukan dan pengaruh iblis dan syaithan laknatullah! tidak ada ibadah dalam karir seorang wanita yang melanggar fitrah dan kodrahnya itu kecuali hanyalah tipu daya syaithan belaka yang menghibur mereka seolah2 itu amal baik demi terus memenuhi syahwat rendah wanita sesat ini hingga tiba2 saja sakratul maut menjemputnyake dasar neraka jahannam !!!!

0 komentar:

Poskan Komentar