Rabu, 17 November 2010

Sikap Fassiq dan Munafiq anggota Parlemen Indonesia

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Akhlaq dan tingkah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesi9a sungguh menyebalkan,dan memprihatinkan. Sejak Orba, lembaga terhormat terdegradasi moral luar biasa dan mengalami disfungsi. Sejatinya mereka menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran dengan profesional. Yang mereka tunjukkan justru sikap pragmatis, malas, kolokan fasilitas ,dan doyan pelesir. Itu pula yang dipamerkan anggota legislatif sekarang (2009-2014). Padahal, JJ Rousseau mengibaratkan legislatif sebagai jantung sebuah negara (Toto Sugiarto/KOMPAS/12/03/09). Tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah negara yang jantungnya kadung rusak seperti ihwal negara ini.

Pada awal masa kerjanya, anggota dewan baru tampaknya berbeda. Seolah ingin mengatasi pendahulunya, mereka gencar mengkritik pemerintah atas kebijakan dana talangan Century yang besarannya mencapai Rp 6,7 T. Ujung-ujungnya, kasus itu akan ‘dipetieskan’. Para dewan yang dulu getol membongkarnya, saya yakini akan ’melempar handuk’. Ini politik Su um-su um ek manok. Padahal, milyaran rupiah telah digelontorkan untuk Pansus (Panitia Khusus) penyelidikan Century. Bukan malah menyelesaikan kasus, justru menambah kerugian negara.

Politik pragmatis menyelimuti seluruh Parpol. Tidak ada perbedaan kentara antara prilaku politik anggota legislatif PDIP yang opposan dengan Golkar yang kritis pragmatis, PKS (Partai Kena Sogok) yang ‘sok alim’ , dan sering menjual murah ayat2 Allah untuk keperluar citranya, maupun Demokrat yang penguasa. Mandum sama (semuanya sama saja).

Jabatan strategis seperti ketua lembaga tertinggi dan tinggi negara, menteri, maupun ketua lainnya seperti Setgab (Sekretariat Gabungan) partai koalisi, sering membuat partai politik tak berkutik, lagee lintah keunong bakong.

Sudah pragmatis, kinerja anggota dewan juga bermasalah. Dalam sejumlah rapat, kursi-kursi yang mereka rebut pada pemilu dengan berbagai cara (termasuk praktik politik uang), tampak lowong tanpa pemiliknya. Dulu diimpikan, kini kursi itu diabaikan.

Gaya hidup Penghuni Neraka
Almarhum Gusdur pernah menyamakan DPR dengan murid TK. Pernyataan Gusdur cukup rasional jika menilik prilaku kolokan anggota dewan. Gedung baru hendak dibangun dengan fasilitas serba wah. Padahal gedung yang lama masih bisa digunakan. Direncanakan berlantai 36 dengan fasilitas spa, kolam renang, ruang fitnes, toko, apotik, dan entah fasilitas mewah apalagi yang akan memanjakan orang-orang terhormat seperti mereka. Masing-masing anggota dewan akan menempati ruangan 120 meter persegi. Dana yang dianggarkan pun fantastis, Rp 1,6 T. Mantap! Karena diserbu kritik, belakangan muncul kabar, gedung baru tetap dibangun tapi dengan fasilitas yang lebih minim.

Tradisi yang paling konsisten dilakukan anggota dewan adalah pelesir hura-hura atas nama studi banding ke berbagai negara. Tujuan wisata kali ini antara lain Afrika, China, India, Belanda, Jerman, Inggris, Korsel, Italia, Arab Saudi, dan entah negara apalagi. Badan khusus DPR seperti Badan Legislasi ke Tokyo, Badan Kehormatan memburu etika ke Yunani dan sempat-sempatnya mencuri kesempatan singgah di Turki. Masa studi banding merupakan momen yang paling ditunggu pak waki. Seolah ingin melepaskan penat karena aktivitas super sibuk selama ini.

Anggaran Kantong Pribadi yang dipaksakan
Terhadap urusan yang menguntungkan pribadi, dewan terkesan maksa. Misalnya, proposal dana aspirasi, rumah aspirasi, gedung baru, dan tentu saja jadwal pelesir yang tidak boleh molor. Golkar sempat ngambek karena usulan dana aspirasi ditolak. Partai beringin itu merasa ditinggal sendirian oleh partai koalisi. Manakala rakyat protes pembangunan gedung dewan yang baru, ketua dewan malah bersikeras, ‘mau tidak mau, suka tidak suka, apapun kritik dari masyarakat kami terima saja. Tetapi pembangunan tetap dijalankan’ (KOMPAS/31/08/10).

Perhatikan sikap mereka terhadap permasalahan menyangkut kepentingan rakyat. Tatkala rakyat protes terhadap rencana kenaikan gaji pejabat tinggi negara di tengah situasi rakyat demikian sulit, ketua dewan berkomentar, ‘masa gak boleh naik, pegawai negeri kalau lima tahun gak naik-naik (gajinya), marah enggak?’(KOMPAS/27/10/2009). Ketika rakyat kena bencana alam dimana2 mereka berlomba2 mejeng di TV sambil piknik sesaat di daerah bencana seolah2 telah ikut simpati, namun anggaran kunjungan mereka dan sspanduk politik tebar pesonanya jauh lebih besar dari nilai ssumbangan rakyat bagi para penderita korban bencana tersebut.

Ketika rakyat sedang dalam musibah Merapi dan Mentawai, Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua DPR dari Fraksi Golkar berharap anggota dewan menunda kunjungan keluar negeri. Ironisnya, Anis Matta Wakil Ketua DPR lainnya dari Fraksi PKS malah berkomentar, tidak perlu ada penundaan kunjungan kerja karena bencana (KOMPAS/30/10/10).

Bandingkan nasionalisme, solidaritas, dan empati anggota dewan kita yang muslim dengan sikap seorang politisi kafir, Mr. Obama. Presiden AS itu dua kali menunda kunjungannya ke Indonesia karena persoalan dalam negeri. Pertama karena harus membela rencana program kesehatan yang saat itu akan diputuskan parlemen negaranya. Kedua, karena menanggulangi kebocoran ladang minyak di teluk Meksiko. Presiden kita membatalkan kunjungan ke Belanda beberapa waktu lalu karena diancam tangkap di negeri Tulip itu.

Rakyatku, bukalah mata dan telingamu lebar-lebar !
Maka dari itu, setahun kerja, dewan baru 2009-2014 minus penghargaan. Dengan seabreg permasalahan klasik yang masih melekat, anggota dewan pantas mendapat raport merah. Sebab, mereka lebih banyak mengkhianati rakyat daripada mewakilinya. Prilaku politik serupa juga dipraktikkan DPRA kita. Baru saja mereka ‘bagi-bagi rezeki’ dengan eksekutif. Legislatif dapat dana aspirasi perorang Rp 5 M. Sedangkan eksekutif memperoleh dana kerja Rp 68 M (Serambi Indonesia/09/11/10). Enak sekali menjadi elit politik.

Potret buruk politisi kita hendaknya menjadi pembelajaran politik penting bagi konstituen untuk berhati-hati memilih anggota legislatif maupun eksekutif di masa yang akan datang. Sedari dulu para tetua mengingatkan, Bui mubajee, asee meusileuweu. Ku peuduk awak kah keu ulee, kasipak awak kee lam pageu (Babi berbaju, anjing bercelana setelah aku mengangkatmu sebagai penguasa, aku pula yang kau tendang keluar).

0 komentar:

Poskan Komentar