Rabu, 03 November 2010

Dinamika Mu'allaf di Eropa

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Sekarang di Inggris adalah waktu yang paling kontroversial bagi seorang wanita untuk mengenakan jilbab. Bulan lalu, Belgia meloloskan sebuah undang-undang yang melarang burqa, menyebutnya sebagai ancaman terhadap martabat kaum wanita.

Perancis tampaknya siap untuk membuat kesalahan yang sama seperti Belgia. Italia mengenakan denda sebesar 500 euro pada seorang wanita yang memakai busana muslim di sebuah kantor pos.

Pertanyaannya adalah kenapa begitu banyak dari mereka yang masuk Islam?

Salahkan pada “iklan gratis” – selama pemerintah, politisi, media, dan pendidik bersikukuh mengatakan kebohongan, membesar-besarkan dan menyerang Islam, orang-orang akan penasaran seberapa besar kebenaran dari semua itu. Ketika mereka pergi ke Masjid atau perpustakaan atau berbincang dengan seorang Muslim yang bisa menjelaskannya dalam bahasa yang sederhana, semakin banyak orang yang akan melihat kebenaran dan semakin banyak yang akan masuk Islam.

Sementara jumlah populasi yang rutin datang ke gereja setiap minggunya kurang dari 2%, jumlah wanita yang masuk Islam mengalami peningkatan. Di Masjid Pusat London, dua pertiga dari muallaf yang mengucapkan kalimat shahadat di sana adalah wanita, dan7kebanyakan berusia di bawah 30 tahun.

Menurut sensus 2001, terdapat sekitar 30,000 muallaf Inggris di negara itu. Menurut Kevin Brice dari Pusat Penelitian Kebijakan Migrasi di Universitas Swansea, sekarang jumlah ini mungkin telah mencapai 70,000 muallaf, mayoritas adalah wanita
. “Analisis dasar menunjukkan bahwa jumlah wanita muda lulusan universitas di usia 20-30an tahun yang masuk Islam semakin meningkat,” ujar Brice.

“Masyarakat kita yang pluralistis dan liberal berarti bahwa kita bisa memilih karir kita, politik kita, dan kita bisa memilih ingin menjadi siapa secara spiritual,” ujar Dr. Mohammad S. Seddon, pengajar studi Islam di Universitas Chester. “Kita berada dalam era supermarket relijius,” ujarnya.

Joanne Bailey, pengacara berusia 30 tahun dari Bradford, menceritakan pengalamannya masuk Islam. “Pertama kalinya saya memakai jilbab ke kantor, saya merasa sangat gugup. Saya berdiri lama di luar menelepon teman saya, ‘Apa yang akan dikatakan semua orang?’. Ketika saya masuk, beberapa orang bertanya, ‘Kenapa kau memakai penutup kepala itu? Saya tidak tahu kau seorang Muslim.’,” ujar Bailey.

Bailey dibesarkan di South Yorkshire dari kelas pekerja. Hingga masuk universitas dia belum pernah sekalipun melihat seorang Muslim.

“Dalam pekerjaan pertama saya di sebuah firma pengacara di Barnsley, saya ingat berusaha keras memainkan peran seorang wanita karir muda dan single. Terobsesi dengan diet, belanja, dan pergi ke bar. Tapi saya tidak pernah benar-benar merasa nyaman,” jelas Bailey.

Suatu siang di tahun 2004, semuanya berubah. Bailey sedang berbincang dengan seorang teman Muslim sambil minum kopi ketika teman tersebut memperhatikan salib emas kecil di lehernya. Dia bertanya pada Bailey, “Jadi, apa kau percaya pada Tuhan?” Saat itu Bailey memakai salib tersebut lebih untuk mode daripada agama, dan menjawab, “Tidak, saya rasa tidak.” Dan teman Bailey pun mulai berbicara tentang agamanya.

“Awalnya saya mengabaikannya, tapi kata-katanya tertanam dalam pikiran saya. Beberapa hari kemudian, saya menemukan diri saya memesan salinan Al Qur’an melalui internet.”

Membutuhkan waktu beberapa saat bagi Bailey untuk mengumpulkan keberanian pergi ke acara sosial wanita yang diadakan oleh kelompok Muslim Baru Leeds. “Saya ingat berdiri di luar dan berpikir, ‘Apa yang saya lakukan di sini?’ Saya membayangkan mereka akan berpakaian hitam-hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kesamaan apa kiranya yang dimiliki oleh seorang gadis Inggris berambut pirang berusia 25 tahun dengan mereka?” ujar Bailey.

Tapi, ketika Bailey masuk ke ruangan, tidak satu pun dari mereka yang sesuai dengan stereotip dari ibu rumah tangga Muslim yang tertindas. Mereka semua adalah dokter, guru, dan psikiater. “Saya terkejut oleh betapa bahagia dan amannya mereka nampak. Pertemuan dengan para wanita itulah, lebih dari buku apapun yang saya baca, yang meyakinkan saya bahwa saya ingin menjadi Muslim.”

Setelah empat tahun, pada bulan Maret 2008, Bailey mengucapkan dua kalimat shahadat di rumah seorang kawan. “Pertamanya, saya cemas bahwa saya tidak melakukan hal yang benar. Tapi kemudian saya merasa lebih santai, sedikit seperti memulai pekerjaan baru.,” ujar Bailey.

Beberapa bulan kemudian, dia meminta kedua orangtuanya untuk duduk dan mengatakan, “Saya ingin memberitahu kalian sesuatu.” Timbul keheningan kemudian ibunya berkata, “Kau akan menjadi Muslim, iya kan?” Sang ibu pun menangis dan terus menanyakan hal-hal seperti, “Apa yang akan terjadi jika kau menikah nanti? Apa kau harus menutupi dirimu? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Bailey berusaha meyakinkannya bahwa dia akan tetap menjadi dirinya sendiri, tapi sang ibu mengkhawatirkan kesejahteraannya.

“Berkebalikan dengan apa yang dipikirkan sebagian besar orang, Islam tidak menindas saya. Islam membiarkan saya menjadi diri saya sendiri seperti selama ini. Sekarang saya merasa lebih bahagia dan mensyukuri semua yang saya miliki. “Beberapa bulan lalu saya bertunangan dengan seorang pengacara Muslim yang saya temui dalam sebuah kursus pelatihan. Dia tidak masalah dengan karir saya, tapi saya sependapat dengan perspektif Islam mengenai peran tradisional untuk pria dan wanita. Saya ingin merawat suami dan anak-anak saya, tapi saya juga ingin mandiri. Saya bangga menjadi orang Inggris dan saya bangga menjadi Muslim. Saya tidak melihat keduanya bertentangan dalam cara apapun,” ujar Bailey. (rin/inr) www.suaramedia.com

0 komentar:

Poskan Komentar