Kamis, 28 Oktober 2010

Pahalawan Islam Thariq bin Ziad penakluk Spanyol

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Nyala api merayap cepat, melalap habis kapal-kapal kokoh. Kepulan asap menyebar memenuhi angkasa. ”Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Laut dibelakang kalian dan musuh di depan kalian. Demi Allah tidak ada yang dapat kalian lakukan sekarang kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran,” kata Tariq bin Ziyad lantang kepada anggota pasukan tempurnya.

Beberapa saat selepas mendarat di wilayah Gibraltar atau Jabal Tariq, sebagian personel pasukan bergerak cepat menunaikan titah. Tariq, sang pemimpin pasukan, memberi komando untuk membakar kapal yang telah membawa mereka mengarungi lautan hingga tiba di Jabal Tariq, Andalusia, Spanyol. Langkah ini bukannya tanpa perhitungan.

Tariq ingin agar pasukannya memiliki daya juang dan keberanian dalam menghadapi pasukan musuh yang berjumlah lebih besar. Dan akhirnya, tak ada jalan lain bagi pasukan Tariq kecuali bertempur dengan penuh kesungguhan. Menaklukan pasukan musuh atau mempersembahkan jiwa dan raga untuk menuai kesyahidan.

Seketika dada bergemuruh berisi luapan tekad kemenangan. Pasukan Tariq bergerak merangsek menghadapi pasukan Raja Roderic, Kerajaan Visigothic, Spanyol. Dalam pertempuran selama sekitar sepekan, pasukan Tariq berhasil menaklukan pasukan musuh. Pertempuran berlangsung 11 hingga 19 Juli 711 M atau 20 hingga 28 Ramadhan 92 H.

Peperangan ini bermula saat Julian, Gubernur Ceuta, yang berada di bawah kekuasaan Spanyol, memendam kesumat kepada Raja Roderic karena kedzalimannya. Roderic dinilai telah berbuat tidak pantas terhadap putri Julian yang dikirim untuk belajar kepada Roderic. Maka Julian pun berkeinginan menuntut balas atas perlakuan itu.

Julian kemudian melakukan kunjungan kepada Gubernur Tangier, Afrika Utara, Musa ibn Nusair yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Ummayah. Kemudian ia menunjuk Jenderal Tariq bin Ziyad yang menjadi deputinya untuk memberikan bantuan kepada Julian. Apalagi, selama ini, kedua belah pihak menjalin hubungan baik dan tak pernah ada perselisihan.

Pasukan pendahulu sebanyak 400 tentara dikirim pada 710 M yang dimpimpin oleh Tarif bin Malik. Julian menyediakan empat unit kapal untuk kepentingan itu. Beberapa saat kemudian, Tarif kembali dan memberi kabar bahwa apa yang diungkapkan Julian merupakan cerita yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Maka, Tariq kemudian memimpin pasukan berjumlah 12 ribu orang yang merupakan orang-orang Berber. Mereka merupakan bangsa non Arab yang hidup di kawasan utara Maroko dan nomaden. Saat Islam masuk ke wilayah mereka, kemudian mereka menanggalkan animisme dan memeluk agama yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad.

Tariq dan pasukannya berangkat dari Ceuta dan tiba di Gibraltar. Wilayah ini kemudian dijadikan markas dan tempat untuk menyusun strategi melakukan penyerangan. Pada akhirnya, kedatangan pasukan Tariq diketahui oleh Gubernur Edeco yang wilayahnya berdekatan dengan Gibraltar. Ia bergegas menginformasikan hal ini kepada Roderic.

Informasi ini memicu Raja Roderic untuk segera menghadapi pasukan Tariq dengan jumlah yang lebih besar, yaitu enam kali lipatnya. Usai kapal-kapal yang membawa pasukan Tariq dibakar, pertempuran pun meletus di Rio Barbate dan akhirnya pasukan Roderic bisa dikalahkan. Tariq kemudian membagi pasukan.

Tariq mengarahkan pasukannya ke wilayah Toledo yang merupakan pusat kerajaan Roderic. Sementara Mughith al-Rumi yang menjadi pemimpin pasukan kavaleri, dengan kekuatan 700 pasukan berkuda menuju ke arah Cordoba. Usai menguasai Toledo, Tariq dan pasukannya menyusul ke Cordoba dan melayangkan surat ke Musa atas keberhasilan penaklukan Andalusia.

Lalu, Musa menyampaikan kabar kemenangan ini kepada Khalifah Walid di Damaskus. Usai kemenangan gemilang ini, Musa menyusul Tari1 pada 712 M dengan membawa 18 ribu pasukan untuk memperluas wilayah penaklukan. Musa bertemu dengan Tariq di Talavera dekat Toledo. Penaklukan selanjutnya diteruskan oleh pasukan Islam setelahnya.

Penaklukan yang dilakukan pasukan Islam hingga 721 M meliputi seluruh Semenanjung Iberia dan sebagian wilayah Prancis bagian selatan. Hingga abad ke-10, wilayah kekuasan Islam masih meliputi sekitar empat perlima Semenanjung Iberia

0 komentar:

Poskan Komentar