Rabu, 06 Oktober 2010

Nasib penghujad Rasulullah Muhammad SAW

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Dalam bukunya berjudul ”Pedang Terhunus Bagi Penghujat Rasul” (”AsSarim al Maslul ’ala Shatim arRasul”), Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah pelajaran penting dari Siroh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa seorang pemuka Yahudi ahli syair warga Madinah bernama Ka’ab bin Al-Asyraf dibunuh oleh seorang sahabat Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bernama Muhamad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu. Ia dibunuh karena telah menulis puisi yang menghujat Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

Ceritanya, setelah berita kekalahan kaum musyrikin Quraisy menghadapi pasukan Islam di dalam perang Badar sampai ke Madinah, maka Ka’ab berkata: ”Jika berita ini benar, maka berada di bawah tanah lebih baik bagi kami daripada di atasnya.” Artinya, ia merasa dirinya lebih baik mati daripada hidup setelah kekalahan kaum kuffar Quraisy. Lalu Ka’ab bin Al-Asyraf membuat syair-syair berisi ratapan atas kekalahan kaum musyrikin tersebut. Di dalamnya juga memuat hujatan terhadap Nabi Shallallahu ’Alaih Wa Sallam dan kaum muslimin. Lalu pergilah ia ke Makkah untuk menampilkan puisinya dan turut berduka cita bersama kaum musyrikin Makkah. Bahkan kaum muslimat juga ia lecehkan di dalam syairnya. Maka Nabi SAW kemudian bersabda:

من لي بكعب بن الأشرف فإنه قد أذى الله و رسوله

”Siapakah yang mau menangani Ka’ab bin Al-Asyraf karena ia sungguh telah mengganggu Allah dan RasulNya?”

Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu, salah satu dari orang-orang Ansar dari suku Aus berkata: ”Saya akan melakukannya Wahai Rasulullah..! Apakah Anda ingin saya untuk membunuh dia?”.

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjawab: ” Ya!”

Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu telah memberikan suatu janji; ia telah berjanji dengan lisannya bahwa ia akan membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf!

Ia pulang ke rumah dan mulai berpikir tentang tugas tersebut dan mulai menyadari bahwa untuk mewujudkannya ternyata tidaklah ringan. Ka’ab tinggal di sebuah benteng di kawasan Yahudi dikelilingi para pendukungnya sehingga sangat, sangat sulit untuk membunuhnya..! Dia mulai menjadi prihatin memikirkannya. Suatu keprihatinan yang melalaikannya dari makan dan minum kecuali sekedar untuk bertahan hidup. Selama tiga hari ia praktis tidak makan dan minum...!

Berita ini sampai ke Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Lalu ia panggil Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dan bertanya: ”Ada apa denganmu, Muhammad bin Al-Maslamah? Benarkah kamu berhenti makan dan minum?”

Ia menjawab: ”Benar, ya Rasulullah.”

”Mengapa?” tanya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

Ia menjawab: ”Aku telah berjanji sesuatu yang aku sendiri pertanyakan. Akankah aku sukses melakukannya dan memenuhinya?”

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda:

انما عليك الجهد

“Yang dituntut darimu hanyalah kesungguhan, sisanya serahkanlah kepada Allah Yang Maha Kuasa.”

Subhanallah...! Lihatlah semangat dan kesungguhan para sahabat. Tidak bisa makan atau minum bila menghadapi keadaan seperti itu. Baginya hal ini merupakan perkara sangat serius. Ia telah berjanji dan khawatir tidak dapat memenuhi janjinya. Ia tidak sanggup meneruskan hidupnya seperti biasanya sebelum Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan agar ia memenuhi bagiannya dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Barulah ia merasa terhibur dan bisa makan dan minum kembali...!

Akhirnya datanglah Muhammad Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dengan suatu rencana, namun ia minta izin terlebih dahulu: ” Wahai Rasulullah, untuk menjalankan rencana ini izinkanlah saya berbicara terhadap anda!” (Bagian dari rencananya ia akan berbicara negatif tentang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di hadapan Ka’ab)

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Katakanlah apa yang anda ingin!”

Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu dan sekelompok kecil dari orang-orang Ansar dari suku Aus, pergi menjumpai Ka’ab bin Al-Asyraf guna mengatur perangkap baginya. Mereka berkata kepada Ka’ab: ”Lelaki ini –maksudnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam - merupakan ujian Allah bagi kita semua. Ia masalah. Ia musibah. Dan bangsa Arab telah memerangi kita dan memusuhi kita karena dia.”

Ka’ab menjawab: ”Sudah kukatakan pada kalian sebelumnya. Kalian akan lihat keadaan bakal menjadi lebih buruk.”

AlMaslamah radhiyallahu 'anhu berkata: ”Ka’ab, semenjak kehadiran lelaki ini keadaan keuangan kami telah memburuk. Kami ingin pinjam uang darimu dan menitipkan jaminan.”

Ka’ab menjawab: ”Serahkan anak-anak kalian padaku.”

Mereka berkata: ”Kami tinggalkan anak-anak kami kepadamu sebagai jaminan untuk pinjaman yang tidak seberapa, maka itu akan menjadi aib bagi mereka seumur hidup.”

Ka’ab melanjutkan: ”Bila demikian, serahkanlah wanita kalian.”

Mereka berkata: ”Bagaimana kami serahkan kaum wanita kami kepada Anda sedangkan Anda lelaki paling tampan? Sudahlah, kami akan menjaminkan kepada Anda persenjataan kami.” Ka’ab berujar: ”Baiklah, setuju.”

Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu menjebaknya agar pada kunjungan berikutnya Ka’ab tidak akan curiga bila mereka datang membawa senjata. Maka mereka buat perjanjian untuk pertemuan berikutnya di malam hari karena lebih kondusif.

Maka pada malam yang disepakati Ka’ab datang menemui AlMaslamah radhiyallahu 'anhu. Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu bilang kepada kawan-kawannya: ”Jika kalian melihat aku memegang kepalanya itulah pertanda saatnya kalian menyerang dia dengan pedang-pedang kalian.”

Ketika Ka’ab berjumpa dengan AlMaslamah radhiyallahu 'anhu ia diajak untuk berjalan-jalan ke tempat nostalgia mereka dahulu. Yaitu tempat mereka dahulu biasa menghabiskan waktu ketika AlMaslamah radhiyallahu 'anhu masih jahiliyah, yaitu di Sya’ab al A’juz. Suatu tempat di pinggir kota menjauhi benteng Yahudi.

Saat tiba di tempat tujuan AlMaslamah berkata kepada Ka’ab: ”Harum nian aroma yang muncul dari rambutmu. Boleh aku menciumnya dari dekat?” (Ka’ab rupanya menggunakan parfum beraroma sejenis kesturi sebagai minyak rambutnya).

Ka’ab berkata: ”Silakan.”

Ia pegang kepalanya dengan kuat dan berdatanganlah kawan-kawannya menyerang Ka’ab dengan pedang mereka. Tapi serangan tersebut tidak cukup mematikannya. Ka’ab-pun menjerit memohon pertolongan. Benteng Yahudi mulai menyala pertanda warganya terbangun. Dengan sigap Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu mengeluarkan belati dan menusuk dalam-dalam perut Ka’ab hingga belatinya mencapai tulang pinggangnya...!

Demikianlah Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu beserta beberapa pemuda Aus menangani orang yang menghujat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam...!

Kemudian keesokan harinya, datanglah kaum Yahudi bersama beberapa kaum musyrik menemui Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Mereka berkata: ”Salah seorang yang terhormat dari kalangan kami telah dibunuh semalam! Dan ia dibunuh secara licik. Bukan bertarung satu lawan satu. Ia dibunuh secara diam-diam dan tiba-tiba..!” Mereka selanjutnya berkata: ”Ia telah dibunuh tanpa sebab tindak kriminal apapun yang telah dilakukannya...!”

Mereka mempertanyakan mengapa Ka’ab ibn Al-Asyraf dibunuh padahal terdapat perjanjian damai yang telah disepakati antara Rasulullah dengan kaum Yahudi di Madinah. MENGAPA? BAGAIMANA INI BISA TERJADI?

Apa jawab Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ? Beliau bersabda:

انه لو قر كما قر غيره ممن هو على مثل رأيه مغتيل و لكنه نال منا الأذى و هجانا بشعر و لم يفعل هذا احد منكم الا كان السيف

“Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi dia telah mengganggu kami dan menghujat kami dengan puisinya, dan tidak ada seorangpun di antara kalian yang melakukan hal semacam itu kecuali kami akan tangani dengan pedang!”

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa banyak orang yang keyakinan di dalam hatinya mirip dengan Ka’ab bin Al-Asyraf, ia bukan dibunuh karena itu! Ia bukan dibunuh karena ia tidak percaya, ia tidak dibunuh karena ia membenci Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, ia tidak dibunuh karena membenci kaum muslimin. TIDAK...! Banyak orang lain yang mempunyai penyakit hati seperti itu namun tidak dibunuh, mereka dibiarkan hidup. “Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi ia telah berbicara menentangku dan mengumpatku,” demikian Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam.

Lalu Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan sejelas mungkin kepada kaum Yahudi: ”Jika salah seorang di antara kalian, kaum Yahudi atau musyrikin, mencoba untuk mengumpatku melalui ucapannya demikianlah kami akan tangani dia. Tidak ada di antara kami dengan kalian selain pedang..! Tidak akan ada dialog, tidak ada pengampunan, tidak ada jembatan, tidak akan ada upaya rekonsiliasi. Hanya ada pedang di antara saya dengan kalian..!” Dan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan hal ini sejelas-jelasnya. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengajak kaum Yahudi dan musyrikin menanda-tangani dokumen kesepakatan yang memuat perjanjian bahwa mereka tidak akan berbicara menentang beliau.

Ibnu Taimiyah berkata: ”Ini merupakan bukti bahwa mengganggu Allah dan RasulNya merupakan alasan untuk mendorong kaum muslimin membunuh siapa saja yang melakukan gangguan tersebut meskipun mereka punya perjanjian dengan kaum muslimin.”

Sebagian orang berusaha memelintir pelajaran dari cerita Siroh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ini dengan berpendapat bahwa Ka’ab ibn Al-Asyraf dibunuh karena ia menganjurkan kaum musyrik Mekkah untuk memerangi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, bukan karena kata-katanya.

Ibnu Taimiyah menegaskan: ”TIDAK! Ia dibunuh karena syairnya yang ditulisnya dan dibacakannya bahkan sebelum ia pergi ke Mekkah.” Jadi tidak ada kaitannya karena ia pergi ke Mekkah dan menganjurkan mereka memerangi kaum muslimin. Ka’ab bin Al-Asyraf telah dibunuh semata-mata karena puisinya...!

Ibnu Taimiyah melanjutkan: ”Semua yang dilakukan Al-Asyraf ialah mengganggu dengan lidah. Meratapi terbunuhnya kaum kuffar, dukungannya kepada mereka untuk berperang, kutukan dan umpatannya dan ucapannya merendahkan agama Islam dan mengutamakan agama kaum kafir, semua ini ialah ucapan dengan lidahnya. Inilah hujjah-bukti terhadap siapapun yang berselisih pendapat tentang isyu-isyu seperti ini. Jelaslah tidak ada perlindungan dengan cara apapun bagi darah manusia yang mengganggu Allah dan RasulNya melalui puisi dan umpatan.”

.

0 komentar:

Poskan Komentar