Selasa, 19 Oktober 2010

Islam dan karakter Pemimpin Negara

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di masa itu para pendusta dibenarkan omongannya sedangkan orang-orang jujur didustakan, di masa itu para pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang terpercaya justru tidak dipercaya, dan pada masa itu muncul Ruwaibidlah, ditanyakan kepada beliau Saw apa itu Ruwaibidlah? Rasul menjawab: Seorang yang odoh (yang dipercaya berbicara) tentang masalah rakyat/publik .
HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah].

Tanggung Jawab Pemimpin
Kepemimpinan adalah amanat untuk mengurus orang-orang atau rakyat yang dipimpin. Rasulullah Saw mengumpamakan pemimpin laksana penggembala (ra'in).
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Imam yang diangkat untuk memimpin manusia itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya). [HR. Imam al-Bukhari dari sahabat)

Abdullah bin Umar r.a.].

Rasulullah Saw memberikan penjelasan tentang pemimpin pengganti beliau (khalifah) dalam mengurus kaum muslimin bakal diminta pertanggungjawaban di akhirat.

Beliau Saw bersabda: Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara
urusannya oleh para Nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak akan ada Nabi setelahku, (tetapi) nanti akan ada banyak khalifah. Para sahabat bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: Penuhilah baiat yang pertama, lalu yang pertama. Berikanlah kepada mereka hak mereka, karena Allah nanti akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang telah diserahkan kepada mereka mengurusnya. [HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah].

Hadits-hadits tersebut di atas memberikan indikasi bahwa pemimpin yang layak adalah yang punya dimensi tanggung jawab hingga ke akhirat. Tentu yang dimaksud bukanlah rohaniawan yang tak cakap mengurus dunia.
Juga bukan pemimpin sekuler yang tak tahu urusan akhirat. Pemimpin sekuler, seperti yang selalu hadir di Indonesia dewasa ini, yang memisahkkan agama dari urusan dunia atau negara jelas merasa bebas berbuat, karena merasa tidak perlu dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Pertanggungjawaban di dunia itu semu belaka dan penuh rekayasa menurut tuntunan islam?, sebab tergantung banyaknya suara dukungan. Pemimpin yang pandai membangun citra lewat media massa dan lembaga polling, yang adakalanya dibayar untuk itu demi menjaga dukungan mayoritas suara, dia tidak akan pernah ditolak pertanggungjawabannya. di dunia penuh kemungkaran ini.

Pemimpin yang layak memimpin manusia adalah pemimpin yang punya rasa tanggung jawab dunia akhirat, maka bagaimana karakteristik pemimpin
itu sehingga dia bisa melaksanakan tanggung jawabnya menurut tuntunan Islam?.

Karakteristik Pemimpin Islami

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nizhamul Hukm fil Islam memberikan syarat-syarat dengan argumen syar'i yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang khalifah sebagai pemimpin publik tertinggi negara
dalam perspektif Islam sebagai berikut: (1) muslim; (2) laki-laki; (3) dewasa (baligh); (4) berakal; (5) adil; (6) merdeka; dan (7) mampu melaksanakan amanat Khilafah, yakni menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Saw.

Selain syarat sahnya baiat seorang Khalifah di atas, An-Nabhani juga
menambahkan syarat tambahan keutamaan, bukan keharusan berupa:
(1) mujtahid, yakni seorang yang ahli menggali hukum syar'i dari sumber-sumber hukum syariah (al-Quran, as-Sunnah, Ijma Shahabat, dan Qiyas);
(2) pemberani;
(3) politikus ulung;
(4) keturunan Quraisy atau Ali bin Abi Thalib.
khusus untuk semenanjung Arab)

Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al Afkar as Siyasiyyah menyebut beberapa karakteristik untuk
seorang pemimpin publik sebagai berikut:

Pertama, berkepribadian kuat. Rasulullah Saw menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus kuat, tidak lemah. Orang lemah tidak pantas menjadi pemimpin. Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rasulullah Saw bersabda:
Wahai Abu Dzar, aku melihat dirimu adalah orang yang lemah. Dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku. Janganlah engkau menjadi amir (pemimpin) dari dua orang. Dan janganlah kkamu mengurus harta anak
yatim. [HR. Imam Muslim].

Abu Dzar juga menuturkan bahwa dia berkata kepada Rasulullah Saw: Wahai Rasulullah, tidakkan engkau mengangkatku (menjadi pejabat)? Kemudian Rasulullah Saw menepuk pundakku, dan berkata: Wahai Abu Dzar, kamu adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan ini adalah amanah, dan pada hari pembalasan akan menjadi kehinaan dan sesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai dengan haknya dan menunaikan kewajiban dalam
kepemimpinannya.” [HR. Muslim].

Kuat dan lemah yang dimaksud dalam hadits ini adalah kekuatan kepribadian (syakhshiyyah), yakni pola pikir (aqliyyah) dan pola jiwanya (nafsiyyah).

Oleh karena itu, pola pikir seorang pemimpin harus menyatu dengan kepemimpinannya. Dengan itu dia dapat memahami berbagai masalah yang menjadi tanggung jawabnya. Demikian juga, pola jiwanya juga harus
menyatu dengan kepemimpinannya. Dengan itu dia akan menyadari bahwa dia seorang pemimpin, sehingga dia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungannya sebagai pemimpin.

Kedua, bertakwa. Karena kekuatan kepribadian seorang pemimpin sangat berpengaruh pada kepemimpinannya, maka seorang pemimpin harus memiliki kualitas yang mampu menjauhkannya dari pengaruh-pengaruh buruk. Oleh
karena itu, seorang pemimpin harus memiliki sifat takwa pada dirinya, baik secara pribadi, maupun dalam hubungannya dengan tugas dan tanggung jawabnya memelihara urusan rakyat.

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya, bahwa ia menuturkan: Rasulullah Saw apabila mengangkat seorang pemimpin
pasukan atau suatu ekspedisi pasukan khusus, maka beliau mewasiatkan takwa kepadanya dan berbuat baik terhadap kaum muslimin yang bersama dengannya (anak buahnya). [HR. Muslim].

Seorang pemimpin yang bertakwa akan senantiasa menyadari bahwa Allah SWT senantiasa memonitornya (muraqabah) dan dia takut kepada-Nya, sehingga dengan demikian dia akan menjauhkan diri dari sikap sewenang-wenang (zalim) kepada rakyat maupun sikap lalai terhadap urusan urusan rakyat.

Khalifah Umar r.a., pemimpin negara Khilafah yang luas wilayahnya
meliputi Jazirah Arab, Persia, Irak, Syam (sekarang: Syria, Yordania, Lebanon, Israel, dan Palestina), serta Mesir, pernah berkata: Andaikan ada seekor
hewan di Irak kakinya terperosok di jalan, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku kenapa tidak mempersiapkan jalan tersebut (menjadi jalan yang rata dan bagus). ).

Ketiga, belas kasih. Seorang pemimpin harus punya sifat belas kasih kepada rakyatnya. Ini diwujudkan ecara konkrit dengan sikap lembut dan
kebijaksanaannya yang tidak menyulitkan rakyatnya.

Diriwayatkan bahwa istri Rasulullah Saw, Aisyah r.a. pernah berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan pemerintahan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut (bersahabat) kepada mereka, maka lembutlah kepadanya.
[HR. Muslim].

Dalam kaitan ini juga Rasulullah Saw mengajarkan agar pemimpin itu bersikap memberi kabar yang baik, bukan bersikap menakutkan. Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy'ari r.a. (yang diutus menjadi Wali/Gubernur di Yaman) bahwa Rasulullah Saw bersabda: Gembirakanlah (rakyat) dan janganlah engkau hardik, dan permudahlah mereka dan jangan engkau persulit
(urusan mereka). [HR. Bukhari].

Keempat, jujur dan penuh perhatian. Seorang pemimpin haruslah jujur dan penuh perhatian dalam mengurus urusan rakyat sehingga rakyat bisa terpenuhi kebutuhan mereka dan menikmati layanan pemimpinnya.

Diriwayatkan dari Ma'qil bin Yasar bahwa Rasulullah Saw bersabda: Siapa saja yang memimpin pemerintahan kaum muslimin lalu dia tidak serius mengurusnya, dan tidak memberikan nasihat yang tulus kepada mereka, maka dia tidak akan mencium harumnya aroma surga. [HR. Imam Muslim].

Dalam hal ini perhatian pemimpin bukan saja untuk memelihara terpenuhinya kebutuhan fisik rakyat, tapi juga kebutuhan ideologis, agar mereka tetap di jalur kehidupan yang mengantarkan kepada jalan menuju keridloan Allah SWT sehingga rakyatnya sukses dunia akhirat.

Kelima, istiqamah memerintah dengan syariah. Seorang pemimpin yang jujur memimpin kaum muslimin akan melaksanakan pemerintahannya berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Diriwayatkan bahwa ketika Muadz bin Jabal diutus menjadi Wali/Gubernur di Yaman, Rasulullah Saw menanyainya bagaimana cara dia memerintah. Nabi bertanya kepadanya: “Dengan apa engkau memutuskan perkara?Muadz menjawab: Dengan Kitabullah Rasul bertanya: Dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya (di dalam Al Quran)? Muadz menjawab: Dengan Sunnah Rasululllah Rasul berkata: Dengan apalagi jika engkau tidak mendapatinya (di
dalam al-Quran maupun as-Sunnah)? Muadz menjawab: Aku akan berijtihad” Kemudian Rasulullah Saw berucap: Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah ke jalan yang disukai Allah dan Rasul-Nya. [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi].

5 karakteristik kepemimpinan di atas , semoga menjadi kesadaran dan opini umum masayarakat kita sehingga aspirasi dan kecenderungan rakyat adalah memilih pemimpin yang berkarakter seperti itu

Karena rakyat yang muslim beriman kepada Allah dan rasul-Nya pasti berharap agar para pemimpinnya benar-benar punya kehendak baik kepada rakyat kaum muslim seperti sifat Rasulullah Saw (lihat Qs. at-Taubah [9]: 128) dan punya kesiagaan dan kewaspadaan tinggi untuk menjaga kemaslahatan dan keselamatan rakyat dengan syariah seperti perintah Allah SWT kepada Rasulullah Saw (lihat Qs. Al-Maa'idah [5]: 49).

0 komentar:

Poskan Komentar