Senin, 11 Oktober 2010

Ikhlas dan Kedudukannya dalam Islam

M. Rizal Ismail (bahan khutbah)

Ikhlas berasal dari kata khalasha, maknanya kejernihan dan hilangnya segala sesuatu yang mengotorinya. Dengan demikian, kata ikhlas menunjukkan kepada sesuatu yang jernih, bersih dan bebas dari intervensi dan kotoran. Di antara makna ikhlas menurut ulama adalah “Amal yang dilakukan hanya karena Allah, tidak untuk selain Allah”

Orang yang ikhlas disebut mukhlis, ia adalah orang yang tidak peduli apakah keluar seluruh kemampuannya di hati orang lain karena kebenaran hatinya terhadap Allah, dan dia tidak ingin menampakkan amalnya meskipun hanya sebiji sawi kepada orang lain. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.” Keikhlasan adalah inti dan ruh peribadatan. Ikhlas adalah dasar diterima atau ditolaknya suatu amalan, dan juga kunci untuk menuju kemenangan atau kerugian yang abadi.

Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2, surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa”, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksudnya adalah “yang lebih ikhlas amalnya” yaitu amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi SAW.

Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga demikian. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.”


Kedudukan Ikhlas

Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Sebagai hamba Allah, manusia diperintahkan untuk mengabdi kepada Allah dengan ikhlas. Dalam Surat Al-Bayyinah ayat 5 Allah menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”

Untuk menegaskan kedudukan ikhlas, Rasulullah SAW. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Untuk memahami makna ikhlas, perhatikanlah sebuah perumpamaan yang digambarkan oleh Ibnul Qoyyim, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Sepanjang perjalanan tentu saja memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”


Dimana Kita Harus Ikhlas?

Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah ritual semata. Ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah, akhlak atau perilaku keseharian kita. Sebagai abdi negara, pejabat sipil, militer, guru, tenaga medis, pedagang maupun rakyat biasa, hari-hari kita melaksanakan tugas dan berbagai urusan pembangunan dalam upaya kita untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara kita.

Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)

Bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana lagi dengan pengabdian kita terhadap pembangunan bangsa dan negara yang kita lakukan dengan ikhlas karena Allah?

Berkahnya sebuah amal yang kecil adalah karena ikhlas. Sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah quantitas atau banyaknya amal, namun yang jauh lebih penting adalah qualitas amal yang kita kerjakan. Boleh jadi suatu amal kelihatan kecil di mata manusia, namun apabila dilakukan atas dasar keikhlasan karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”

Seperti dalam hadits Rasulullah SAW : “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian kejadian ini dilihat oleh seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)


Ciri-ciri Keikhlasan

Ikhlas adalah perbuatan hati, karenanya tiada seorangpun yang tahu tentang apakah amalannya dilakukan dengan ikhlas atau tidak. Seorang ulama mungkin dapat mengetahui sah atau tidaknya amal perbuatan seseorang, tapi ia tidak akan dapat mengetahui ikhlas atau tidaknya amalan seseorang.

Akan tetapi ada beberapa kriteria amal yang mungkin mendekati kepada keikhlasan, yaitu: Mengutamakan keridhaan Allah diatas segalanya, lebih suka menyembunyikan ‘amal kebajikan, menyadari kekurangan diri sendiri, tidak tergiur dengan popularitas, sabar terhadap usaha dan perjuangan yang panjang, merasa senang pada kelebihan yang dimiliki orang lain, jarang merasa kecewa dalam kehidupan, tidak tergantung atau berharap pada makhluk, tidak membedakan antara amal besar dan amal kecil, serta banyak amal kebaikan yang rahasia.

Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah, di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, maka keikhlasannya akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya.

Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah yang artinya: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Maksudnya bahwa orang-orang yang ikhlas tidak akan mampu digoda oleh syaithan.

Orang yang ikhlas akan dijaga oleh Allah dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya, “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.”(Qs. Yusuf : 24). Wallahua’lam

0 komentar:

Poskan Komentar