Kamis, 07 Oktober 2010

Hukum dan Kewajiban Jihad dalam Islam

M. Rizal Issmail (bahan Khutbah)

Hukum Jihad itu terbagi dua : Fardu A'in dan Fardu
Kifayah. Menurut Ibnul Musayyab hukum Jihad adalah Fardu A'in sedangkan
menurut Jumhur Ulama hukumnya Fardy Kifayah yang dalam keadaan tertentu akan
berubah menjadi Fardu A'in.

A. Fardu Kifayah :

Yang dimaksud hukum Jihad fardu kifayah menurut jumhur ulama... yaitu
memerangi orang-orang kafir yang berada di negeri-negeri mereka.
Makna hukum Jihad fardu kifayah ialah, jika sebagian kaum muslimin dalam kadar
dan persediaan yang memadai, telah mengambil tanggung-jawab melaksanakannya,
maka kewajiban itu terbebas dari seluruh kaum muslimin. Tetapi sebaliknya jika
tidak ada yang melaksanakannya, maka kewajiban itu tetap dan tidak gugur, dan
kaum muslimin semuanya berdosa.

"Tidaklah sama keadaan orang-orang yang duduk (tidak
turut berperang) dari kalangan orang-orang yang beriman selain daripada
orang-orang yang ada keuzuran dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah
dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan
harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang tinggal duduk (tidak turut
berperang karena uzur) dengan kelebihan satu derajat. Dan tiap-tiap satu (dari
dua golongan itu) Allah menjanjikan dengan balasan yang baik (Syurga), dan
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang tinggal duduk
(tidak turut berperang dan tidak ada uzur) dengan pahala yang amat besar."
(QS An-Nisa 95)

Ayat diatas menunjukan bahwa Jihad adalah fardu kifayah, maka orang
yang duduk tidak berjihad tidak berdosa sementara yang lain sedang berjihad.
ketetapan ini demikian adanya jika orang yang melaksanakan jihad sudah
memadai(cukup) sedangkan jika yang melaksanakan jihad belum memadai (cukup)
maka orang-orang yang tidak turut berjihad itu berdosa.

Dan jihad ini diwajibkan kepada laki-laki yang baligh, berakal, sehat
badannya dan mampu melaksanakan jihad. Dan ia tidak diwajibkan
atas: anak-anak, hamba sahaya, perempuan, orang pincang, orang lumpuh, orang
buta, orang kudung, dan orang sakit.

"Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang yang pincang
dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang
taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling
niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih." (QS
Al-Fath 17)

"Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang
lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa
yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan
Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang
berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS
At-Taubah 91)

"Dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka
datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata:
"Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka
kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran
mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (QS At-Taubah
92)

"Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap
orang-orang yang meminta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya.
Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak ikut berperang dan Allah
telah mengunci mati hati mereka, maka mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan
mereka)." (QS At-Taubah 93)

Ibnu Qudamah mengatakan: "Jihad dilaksanakan sekurang-kurangnya
satu kali setiap tahun. Maka ia wajib dilaksanakan pada setiap tahun kecuali
uzur. Dan jika keperluan jihad menuntut untuk dilaksanakan lebih dari satu kali
pada setiap tahun, maka jihad wajib dilaksanakan karena fardu kifayah. Maka
jihad wajib dilaksanakan selama diperlukan."

Imam Syafi'i mengatakan : "Jika tidak dalam
keadaan darurat dan tidak ada uzur, perang tidak boleh diakhirkan hingga satu
tahun."

Al-Qurtubi mengatakan: "Imam wajib
mengirimkan pasukan untuk menyerbu musuh satu kali pada setiap tahun, apakah ia
sendiri atau orang yang ia percayai pergi bersama mereka untuk mengajak dan
menganjurkan musuh untuk masuk Islam, menolak gangguan mereka dan menzahirkan
Dienullah sehingga mereka masuk Islam atau menyerahkan jizyah."

Abu Ma'ali Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini, yang terkenal dengan
panggilan Imamul Haramain mengatakan : "Jihad adalah
dakwah yang bersifat memaksa, jihad wajib dilaksanakan menurut kemampuan
sehingga tidak tersisa kecuali Muslim atau Musalim, dengan tidak ditentukan harus
satu kali didalam setahun, dan juga tidak dinafikan sekiranya memungkinkan
lebih dari satu kali. Dan apa yang dikatakan oleh para Fukaha
(sekurang-kurangnya satu kali pada setiap tahun, mereka bertitik tolak dari
kebiasaan bahwa harta dan pribadi(jiwa) tidak mudah untuk mempersiapkan pasukan
yang memadai lebih dari satu kali dalam setahun."

Perlu kita fahami bahwa praktek jihad yang hukumnya fardu kifayah ini
adalah jihad yang secara langsung berhadapan memerangi orang-orang kafir,
sedangkan jihad yang tidak secara langsung berhadapan dengan orang-orang kafir
hukumnya fardu a'in.

Sulaiman bin Fahd Al-Audah mengatakan,
"Ibnu Hajar telah memberikan isyarat tentang kewajiban Jihad - dengan
makna yang lebih umum - sebagai fardu a'in, maka beliau mengatakan : "Dan
juga ditetapkan bahwa jenis jihad terhadap orang kafir itu fardu a'in atas
setiap muslim : baik dengan tangannya, lisannya, hartanya ataupun dengan
hatinya."

Hadist-hadist yang menerangkan bahwa hukum jihad dalam makna yang umum
(dengan tangan, harta atau hati) itu jihad fardu a'in, antara lain :

"Barangsiapa yang mati sedangkan ia tidak berperang, dan tidak
tergerak hatinya untuk berperang, maka dia mati diatas satu cabang
kemunafikan." (HR Muslim, Abu Daud, Nasai, Ahmad, Abu Awanah dan Baihaqi)

"Sesiapa yang tidak berperang atau tidak membantu persiapan orang
yang berperang, atau tidak menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik,
niscaya Allah timpakan kepadanya kegoncangan." Yazid bin Abdu Rabbihi
berkata : "Didalam hadist yang diriwayatkan ada perkataan "sebelum
hari qiamat." (HR Abu Daud, Ibnu Majah, Darimi, Tabrani, Baihaqi dan
Ibnu Asakir)

Dari dua hadist di atas kita mendapat pelajaran bahwa ancaman kematian
pada satu cabang kemunafikan dan mendapat goncangan sebelum hari kiamat adalah
bagi orang yang tidak berjihad, tidak membantu orang berjihad dan tidak
tergerak hatinya untuk berjihad.

Jadi orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan untuk pergi berperang
secara langsung mengahadapi orang-orang kafir, mereka harus tergerak hatinya
untuk berperang seperti halnya orang yang lemah dan orang yang sakit.

Dan sekiranya hukum jihad secara langsung berhadapan dengan orang-orang
kafir sudah berubah dari fardu kifayah menjadi fardu a'in, maka tidak ada yang
dikecualikan siapapun harus pergi berperang dengan apa dan cara apapun yang
dapat dilakukan. Dibawah ini akah dibahas mengenai keadaan Jihad yang hukumnya
fardu a'in.



B. Fardu A'in

Hukum Jihad menjadi Fardu A'in dalam beberapa keadaan:

1. Jika Imam memberikan perintah mobilisasi umum.

Jika Imam kaum muslimin telah mengumumkan mobilisasi umum maka hukum
jihad menjadi fardu a'in bagi kaum muslimin yang memiliki kemampuan untuk
melaksanakan jihad dengan segenap kamampuan yang dimilikinya. Dan jika Imam
memerintahkan kepada kelompok atau orang tertentu maka jihad menjadi fardu ain
bagi siapa yang ditentukan oleh imam.

Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw bersabda pada hari
Futuh Mekkah:

"Tidak ada hijrah selepas Fathu Mekkah, tetapi yang ada jihad dan
niat, Jika kalian diminta berangkat berperang, maka berangkatlah." (HR
Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, An-Nasai, Darimi dan Ahmad)


Makna Hadist ini : "Jika kalian diminta oleh Imam untuk pergi
berjihad maka pergilah"

Ibnu Hajjar mengatakan : "Dan didalam hadist
tersebut mengandung kewajiban fardu ain untuk pergi berperang atas orang yang
ditentukan oleh Imam."

2. Jika bertemu dua pasukan, pasukan kaum Muslimin dan pasukan kuffar.

Jika barisan kaum muslimin dan barisan musuh sudah berhadapan, maka jihad
menjadi fardu ain bagi setiap orang Islam yang menyaksikan keadaan tersebut.
Haram berpaling meninggalkan barisan kaum Muslimin. Allah berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan
orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu
membelakangi mereka (mundur)". (QS Al-Anfal 15)

"Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu,
kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan
pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan
dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat
kembalinya." (QS Al-Anfal 16)

Rasulullah saw bersabda : "Jauhilah tujuh perkara yang
membinasakan, "Beliau saw ditanya: "Ya Rasulullah, apa tujuh perkara
yang membinasakan itu?" Beliau saw menjawab : (1) Mempersekutukan Allah,
(2) Sihir, (3) Membunuh orang yang telah dilarang membunuhnya, kecuali karena
alasan yang dibenarkan Allah, (4)Memakan harta anak yatim, (5) Memakan riba,
(6) lari dari medan pertempuran; dan (7) Menuduh wanita mu'minah yang baik dan
tahu memelihara diri, berbuat jahat (zina)." (HR Bukhari, Muslim, Abu
Daud, An-Nasai, Thahawi, Baihaqi, Baghawi).

3. Jika musuh menyerang wilayah kaum Muslimin.

Jika musuh menyerang kaum muslimin maka jihad menjadi fardu ain bagi
penghuni wilayah tst. Sekiranya penghuni wilayah tsb tidak memadai untuk
menghadapi musuh, maka kewajiban meluas kepada kaum muslimin yang berdekatan
dengan wilayah tst, dan seterusnya demikian jika belum memadai juga, jihad
menjadi fardu ain bagi yang berdekatan berikutnya hingga tercapai kekuatan yang
memadai. Dan sekiranya belum memadai juga, maka jihad menjadi fardu ain bagi
seluruh kaum muslimin diseluruh belahan bumi.

Ad Dasuki (dari Mazhab Hanafi) berkata : "Didalam
menghadapi serangan musuh, setiap orang wajib melakukannya, termasuk perempuan,
hamba sahaya dan anak- anak mesikipun tidak diberi izin oleh suami, wali dan
orang yang berpiutang.


Didalam kitab Bulghatul Masalik li Aqrabil Masalik li Mazhabil Imam
Malik dikatakan : "...Dan jihad ini hukumnya fardu
ain jika Imam memerintahkanya, sehingga hukumnya sama dengan sholat, puasa dan
lain sebagainya. Kewajiban jihad sebagai fardu ain ini juga disebabkan adanya
serangan musuh terhadap salah satu wilayah Islam. Maka bagi siapa yang tinggal
diwilayah tersebut, berkewajiban melaksanakan jihad, dan sekiranya orang-orang
yang berada disana dalam keadaan lemah maka barangsiapa yang tinggal berdekatan
dengan wilayah tersebut berkewajiban untuk berjihad.

Dalam keadaan seperti ini, kewajiban jihad berlaku juga bagi wanita dan
hamba sahaya walaupun mereka dihalang oleh wali, suami, atau tuannya, atau jika
ia berhutang dihalangi oleh orang yagn berpiutang. Dan juga hukum jihad menjadi
fardu ain disebabkan nazar dari seseorang yang ingin melakukannya.

Dan kedua ibu-bapa hanya berhak melarang anaknya pergi berjihad
manakala jihad masih dalam keadaan fardu kifayah. Dan juga fardu kifayah
membebaskan tawanan perang jika ia tidak punya harta untuk menebusnya, walaupun
dengan menggunakan serluruh harta kaum muslimin.

Ar Ramli (Dari Mazhab Syafi'i) mengatakan : "Maka
jika musuh telah masuk kedalam suatu negeri kita dan jarak antara kita dengan
musuh kurang daripada jarak qashar sholat, maka penduduk negeri tersebut wajib mempertahankannya,
hatta (walaupun) orang-orang yang tidak dibebani kewajiban jihad seperti
orang-orang fakir, anak-anak, hamba sahaya dan perempuan.

Ibnu Qudamah (dari Mazhab Hambali) mengatakan :"Jihad
menjadi fardu 'ain didalam 3 keadaan:
a. Apabila kedua pasukan telah bertemu dan saling berhadapan.
b. Apabila orang kafir telah masuk (menyerang) suatu negeri (diantara negeri
negeri Islam), Jihad menjadi fardu ain atas penduduknya untuk memerangi orang
kafir tsb dan menolak mereka.
c. Apabila Imam telah memerintahkan perang kepada suatu kaum, maka kaum tsb
wajib berangkat.

C. Hukum Jihad pada masa sekarang.

Dari keterangan diatas kita memperoleh gambaran bahwa hukum jihad
berubah ubah sesuai dengan perubahan kondisi dan situasi.
Timbul pertanyaan : Apakah hukum jihad pada masa sekarang ini? Apakah fardu
'ain atau fardu kifayah?

Ketetapan jumhur ulama bahwa hukum jihad itu fardu kifayah adalah fatwa
mereka bagi kaum muslimin dalam keadaan khilafah Islamiyyah masih tegak, itupun
dengan menetapkan pula adanya kondisi yang boleh menyebabkan berubahnya hukum
jihad dari fardu kifayah menjadi fardu 'ain.

Sekarang keadaanya lain, bumi sudah berubah, situasi dan kondisipun
telah berubah dengan lenyapnya kekuasaan Islam, dan khilafah Islamiyah. Keadaan
seperti ini mewajibkan kita untuk meninjau kembali pokok masalahnya.

Abu Ibrahim Al-Misri menyatakan : "Kita mulai
dengan ta'rif dua istilah ini

Fardu 'Ain : Yaitu kewajiban yang zatiah dibebankan kepada setiap
muslim.
Fardu Kifayah : Yaitu perintah yang ditujukan kepada kaum muslimin secara umum,
jika sebagian kaum muslimin melaksanakannya maka gugurlah kewajiban yang
lainnya, dan jika tidak ada yang melaksanakannya maka berdosalah semua kaum
muslimin.

Bertitik tolak dari fardu kifayah, membuahkan pertanyaan kepada kita
tetapi jawabannya kita tangguhkan : Apakah perintah dalam urusan kita dan
apakah tujuan jihad kita? Pertanyaan tidak sempurna melainkan ditambah dengan
pertanyaan lainnya : Apakah tujuan Jihad itu akan tercapai dengan hanya
melibatkan sebagian kaum muslimin atau tidak?...Sesungguhnya fatwa yang ringkas
dan jalan pintas bagi menetapkan hukum mengenai masalah ini, saya
katakan:

Dengan mentakhrij pada usul fuqaha dan syarat-syarat yang ditetapkan
mereka, orang muslim itu tidak dapat menyatakan melainkan bahwa telah terjadi
Ijma para Fuqaha umat Islam bahwasannya Jihad itu adalah fardu 'ain pada zaman
kita sekarang ini. Berbagai keadaan yang menetapkan jihad menjadi fardu 'ain
telah terkumpul pada zaman ini, bahkan telah berlipat ganda dengan sesuatu yang
tidak terlintas dalam benak salah seorang mereka sekiranya ia tidak
meninggalkan kesan di tengah-tengah penyimpangan dari hukum ini.

Imam Qurtubi bekata : "Setiap orang yang
mengetahui kelemahan kaum muslimin dalam menghadapi musuhnya, dan ia mengetahui
bahwa musuhnya itu akan dapat mencapai mereka sementara ia pun memungkinkan
untuk menolong mereka, maka ia harus keluar bersama mereka (menghadapi musuh
tsb)


Imam Ibnu Taimiyyah berkata : "Jika musuh hendak
menyerang kaum muslimin, maka menolak musuh itu menjadi wajib atas semua orang
yang menjadi sasaran musuh dan atas orang-orang yang tidak dijadikan sasaran
mereka.

Aku (Abu Ibrahim Al-Misri) katakan - hampir saja jiwa ini binasa karena
kesedihan terhadap mereka
"Siapakah diantara kita yang tidak dituju dan tidak dijadikan sasaran
makar (rencana) para pembuat makar. Belahan bumi yang manakah sekarang ini yang
selamat dari permainan para pembuat bencana? Hamparan tanah yang manakah
sekarang ini yang diatasnya panji Khilafah dan Kekuatan Islam ditinggikan? Jika
engkau tidak tahu maka tanyalah bumi ini, ia akan menjawab sambil mengadukan
kepada Rabbnya kezhaliman para Thogut dan sikap masa bodo' nya kaum muslimin
sesama mereka sendiri...maka adakah benar perbantahan orang-orang yang bermujadalah
bahwa jihad itu fardu kifayah, bukan fardu 'ain?"

Kami ingin keluar dariapda perselisihan dan mengakhiri perbantahan,
maka kami katakan : Apakah tujuan yang dituntut di dalam kewajiban Jihad atas
pertimbangan bahwa sebagian kaum muslimin melaksanakannya maka kewajiban itu
gugur dari yang lain? Serahkan jawabannya pada Fuqaha kita...

Al-Kasani berkata : "Yang mewajibkan jihad
ialah : Dakwah kepada Islam, meninggikan Ad-Dien yang hak, dan menolak
kejahatan orang-orang kafir dan pemaksaan (paksaan) mereka."

Imam Ibnul Hammam mengatakan : "Sesungguhnya
jihad itu diwajibkan hanyalah untuk meninggikan Dienullah dan menolak kejahatan
manusia. Maka jika tujuan itu berhasil dengan dilaksanakannya oleh sebagian
kaum muslimin maka gugurlah kewajiban bagi yang lain, sama halnya seperti
sholat jenazah dan menjawab salam."

Kami memohon ampun kepada Allah karena kami tidak patut mendahului
Allah dan Rasul-Nya. sesungguhnya Allah telah menerangkan jauh sebelum ini dan
selanjutnya telah dirinci (dijelaskan) pula oleh Rasulullah saw mengenai tujuan
jihad yang dimaksud ini.

"Perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah, dan supaya agama itu
semata-mata untuk Allah.." (QS Al-Anfal 39)

"Aku telah diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, hingga
manusia beribadah hanya kepada Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, rezekiku
dijadikan-Nya dibawah bayangan tombakku, dan kerendahan serta kehinaan
dijadikan-Nya terhadap orang yang menyalahi perintahku. Dan siapa yang
menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka." (HR Ahmad dan
Tabrani)

"Aku diperintah memerangi manusia, sehingga mereka bersyahadat
bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan aku Rasulullah. Apabila mereka telah
mengatakan demikian maka terpeliharalah darah dan harta mereka daripadaku,
kecuali sebab haknya (mereka melakukan pelanggaran); sedangkan perhitungan
mereka terpulang kepada Allah." (HR Bukhari, Muslim, An-Nasai,
Tirmidzi, Ibnu Majah)

Adakah Fitnah telah sirna? Adakah kejahatan, pemaksaan dan penguasaan
orang- orang kafir telah sirna(hilang) dan semua agama itu semata-mata untuk
Allah?

Maka bukan dipandang dari segi fardu 'ainnya jihad yang dilaksanakan
oleh kaum muslimin dan bukan pula dari segi fardu kifayahnya, sejumlah kaum
muslimin telah lupa/malas/enggan berjihad sehingga mencapai kejayaan dan
kekuasaan yang sangat minim (kecil) bagi kaum muslimin, yaitu berpuluh puluh
tahun mereka tetap berada dalam kerendahan, kehinaan, dan dibawah pemaksaan
musuh serta dalam keadaan tertindas.

"Maka kemanakah kalian hendak pergi? Al-Qur'an itu tiada lain
sebagai peringatan bagi semesta alam (yaitu) bagi siapa diantara kamu yang mau
menempuh jalan yang lurus."

Dan sekiranya dalam kondisi gelap gulita yang mengancam umat secara
individu dan kelompok ini, hukum jihad tidak menjadi fardu 'ain, maka bilakah
tujuan itu akan dapat tercapai? Adakah ia akan wujud seperti hidangan yang
turun dari langit, yang pada hidangan itu ada mangkok Khilafah yang berisi
ketentraman dan pertolongan rabbmu, serta berisi kemuliaan dan kejayaan kaum
muslimin lainnya? Ataukah sekiranya hidangan yang turun itu terlambat, hukum
jihad akan menjadi fardu 'ain setelah musuh merampas negeri kaum muslimin, dan
setelah perlengkapan untuk memikul agama ini sempurna? Padahal kita tahu bahwa
Allah itu Maha Benar lagi Maha Menjelaskan segala sesuatu menurut hakikat yang
sebenarnya.

Manakah toifah yang berperang untuk membela Dien ini, yang tidak akan
dimudaratkan oleh orang yang menyalahinya dan oleh orang yang
meremehkannya?

Manakah Rub'i bin Amir yang mengatakan :
"Allahlah yang telah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari
penghambaan terhadap manusia menuju penghambaan terhadap rabb seluruh manusia,
dari kezhaliman berbagai agama kepada keadilan Islam, dan dari kesempitan dunia
kepada kelapangan dunia dan akhirat."

Manakah fuqaraul Muhajirin yang (mereka telah diusir dari kampung
halaman dan harta mereka karena mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya dan
karena menolong Allah dn Rasul-Nya. Dan mereka itulah orang-orang yagn
benar)?

Dan diantara ujian buruk dan lucu, ada seorang syaikh yang terhormat
ditanya oleh salah seorang muridnya dalam keadaan kerhormatan kaum muslimin
tengah dirusak dan bumi mereka tengah dirampas. Murid itu bertanya tentang
kewajiban Jihad, kemudian ia menjawab: "Fardu Kifayah." Kemudian ia
melanjutkan pertanyaan :"Bilakah Jihad menjadi Fardu
'ain?" Ia menjawab:"Ketika musuh memasuki negeri kita."

Maka salah seorang syaikh mujahid memberikan komentar dengan mengatakan
: "Maha suci Rabbku, adakah ayat-ayat yang diturunkan
tentang Jihad dan tentang mempertahankan bumi kaum muslimin dengan menetapkan
hanya sebidang tanah ini? Bukan bumi Allah yang luas?"

Aku (Abu Ibrahim Al-Misri) katakan: "Mungkin syaikh
kita ini belum membaca apa yang dikatakan oelh Ibnu Taimiyyah tentang
itu."
Ibnu Taimiyyah mengatakan :
"Apabila musuh telah memasuki negeri-negeri Islam, maka tidak ada keraguan
lagi bahwa mempertahankannya adalah wajib atas orang-orang yang paling dekat,
kemudian atas orang-orang yang terdekat berikutnya. karena pada hakikatnya
kedudukan seluruh negeri-negeri Islam itu adalah satu negeri. Dan sesungguhnya
berangkat ke negeri tersebut adalah wajib hukumnya, tanpa
perlu izin orang tua dan orang yang berpiutang. Dan nash-nash dari Imam Ahmad
dalam hal ini sangat jelas.

Dan diantara perkara yang menambah sakit dan kerugian seseorang itu
jika dia tidak pernah mengetahui keadaan kaum muslimin, kehinaan mereka, dan
terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak dan kehormatan mereka baik dibarat
maupun di timur. Itu adalah musibat, karena sesungguhnya orang yang tidak
memperhatikan urusan kaum muslimin tidak mungkin dia akan termasuk dalam
golongan kaum muslimin. Dan sekiranya kamu mengetahui tapi tetap berdiam diri
maka musibat itu jauh lebih besar lagi.

Kesimpulannya : Mesti diketahui bahwa yang dimaksud dengan fardu
kifayah yang jika dilaksanakan oleh sekelompok kaum muslimin maka gugurlah
kewajiban bagi yang lainnya, keadaan kelompok tersebut haruslah memadai untuk
melaksanakannya sehingga gugur kewajiban bagi yang lain. Dan bukanlah yang
dimaksud hanya sekelompok saja yang tampil/turun melaksanakannya tetapi tidak
memadai(mencukupi).

Oleh itu tidak benar pengguguran kewajiban jihad dari semua kaum
muslimin dengan tampilnya sekelompok pelaksana pada sebagian bumi walaupun ia
mencukupi ditempat tersebut, sedangkan pada bagian-bagian bumi lainnya panji
kekufuran tegak dengan megahnya. Maka kaum muslimin yang berdekatan dengan
kawasan-kawasan tersebut wajib berjihad menghadapi orang-orang kafir itu
sehingga dapat menguasai mereka. Dan demikianlah seterusnya hingga tercapai
keadaan yang mencukupi (memadai)

Di dalam hasyiyah Ibnu Abidin, ia berkata : janganlah
kalian menyangka bahwa kewajiban jihad itu akan gugur dari penduduk India dengan
sebab jihad itu dilaksanakan oleh penduduk Rum, misalnya. Bahkan sebenarnya
jihad itu wajib atas orang yang terdekat kepda musuh, kemudian atas orang yang
terdekat berikutnya sehingga terjadilah keadaaan yang memadai. Maka sekiranya
keadaan yang memadai itu tidak dapat wujud melainkan mesti dengan mengerahkan
semua kaum muslimin, maka jihad menjadi fardu 'ain seperti sholat dan
puasa.

Orang yang memperhatikan keadaan kaum muslimin dan orang-orang kafir
pada zaman sekarang ini tentu ia akan mendapatkan bahwa jihad adalah fardu 'ain
atas setiap muslim yang mampu, bukan fardu kifayah.

Ini disebabkan karena sebagian kelompok kaum muslimin yang melaksanakan
jihad menghadapai orang-orang kafir dibeberapa tempat, mereka tidak memadai
utnuk mencukupi keperluan di tempat-tempat lainya yang di situ musuh tengah
menyerbu kaum muslimin ditengah-tengah kampung halaman mereka sendiri,
sementara ditempat itu tidak ada kelompok yang bangkit melaksanakan kewajiban
jihad untuk menghadapinya.

Berdasarkan keterangan di
atas sungguh terang dan jelas bagi kita bahwa hukum jihad pada masa sekarang
ini adalah FARDU 'AIN

0 komentar:

Poskan Komentar