Jumat, 29 Oktober 2010

Fungsi qurban Dalam kehidupan ummat islam

M. Rizal Ismail(Bahan Khutbah)

Pada hari ini ketika matahari 10 Dzulhijjah 1431 H telah terbit dan kehidupan kita terus-menerus berputar dengan hati gemetar kita bersujud kepada zat yang Maha Besar sebagai pancaran ketaqwaan kepada Allah SWT.

Syeikh Muhammad Bin Ibrahim Al-Hamd seorang ulama besar di Timur Tengah yang telah mengarang lebih 100 kitab, menyimpulkan bahwa taqwa adalah perbekalan di saat kritis dan penolong di kala terjadi musibah, taqwa tempat mendapatkan kegembiraan dan ketentraman serta mendapatkan kesabaran dan ketenangan, taqwa tangga menuju kejayaan dan tangga ketinggian menuju langit, dan taqwa itu pula yang mengukuhkan kaki ditempat yang menggelincirkan dan meneguhkan hati dalam menghadapi ujian.

Oleh karena itu marilah sama-sama kita mengingatkan kepada diri pribadi, keluarga, handai taulan, karib kerabat agar senantiasa mengabdi dan taat kepada Allah SWT, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan-laranganNya.

Dari pendapat tersebut, Khatib ingin memberikan tambahan pandangan bahwa peksanaan ketaqwaan berarti membutuhkan kepada pengetahuan dan keikhlasan yang kuat, sehingga ketaqwaan bukan hanya banyak di segi kuantitas, tetapi baik dan bahkan istimewa di sisi kualitas. Bukan pula hanya mengambil ayat-ayat tertentu yang kita anggap menguntungkan dan tidak beresiko, tetapi semua ajaran dan nilai (secara kaffah) mesti kita laksanakan. Karena itu menjalankan agama tidak boleh dilakukan dengan pemahaman dan penjabaran secara parsial, misalnya hanya dengan menampilkan punishment (hukuman/sanksi) di depan manusia dengan ogah-ogahan karena sekedar ingin disebut bahwa kita melaksanakan syariat.

Pelaksanaan agama haruslah diselimuti dengan perangkat hukum yang memadai, aqidah dan akhlak (tasauf) yang benar, pemahaman yang cukup dan kesadaran yang baik dari umatnya. Sehingga pelaksanaan agama tidak ditakuti oleh umatnya sendiri.

Demikian pula, menyampaikannya kepada umat haruslah dengan cara-cara yang tidak menyeramkan, namun dengan penuh hikmah, mau’idhah hasanah dan perdebatan rasional-ilmiah sehingga umat dan manusia mengikutinya dengan penuh kesenangan dan keikhlasan. Sebab, tujuan agama adalah untuk memberikan rahmat dan perbaikan kehidupan manusia (Rahmatan lil ‘Alamin), yang berarti pula bahwa tegaknya syariat dan nilai-nilai agama harus dapat membuat umatnya bahkan manusia secara umum merasa membutuhkan kepada agama sebagai tali (Hablullah) yang dapat mengendalikan serta memaslahahkan seluruh kehidupan di dunia untuk tujuan kehidupan abadi akhirat.

Hari raya Idul Adha atau Idil Qurban selalu mengingatkan kita pada kisah Ibrahim AS bersama putranya Ismail AS yang terjadi ribuan tahun sebelum masehi, serta umat Islam di berbagai negeri berqurban dengan menyembelih hewan seperti onta, kerbau, sapi, domba dan kambing misalnya.

Kata Qurban sendiri dalam bahasa Arab bermakna mendekatkan diri. Dalam fiqh Islam dikenal dengan istilah Udh-hiyah, sebagian ulama menamakannya dengan istilah An-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam Surat Al-Kautsar Ayat 2: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah“

Dua ibadah, yaitu shalat dan berqurban dalam ayat tersebut diperintahkan secara tegas dan ringkas. Substansi shalat selain sebagai doa dan media komunikasi dengan sang Khaliq, juga menjadi pencegah kekejian serta kemungkaran di muka bumi sebagaimana diterangkan dalam al quran maupun hadis Rasul.

Sedangkan ibadah qurban yang benar dan kemudian diwujudkan dalam berbagai bentuk pengorbanan lainnya untuk tujuan kebaikan akan mendidik jiwa menjadi rela berkorban untuk kebaikan, ikhlas, berani, peduli, humanis dan tidak individualistis. Perpaduan kedua ibadah tersebut akan melahirkan energi positif, menciptakan kesalehan individual dan kesalehan sosial yang lebih memungkinkan umat berjumpa atau merasakan kehadiran Allah SWT tanpa terbatasi dengan ruang dan waktu (QS: Al Kahfi 110), bahkan mampu memperbaiki keadaan manusia menjadi lebih baik.

Kerelaan berkorban dan kesiapan menghadapi segala resiko dalam menegakkan kebenaran akan ada jika para penegak shalat dan pelaksana ibadah qurban mau serta mampu membawa makna shalat dan spirit berkorban ke dalam seluruh sisi kehidupan.

Maka dengan itu pula, Nabiullah Ibrahim AS dan juga Muhammad SAW diperintahkan Allah SWT untuk berdoa sekaligus menyatakan komitmen keikhlasan yang mencerminkan jiwa rela berkorban serta penyerahan diri secara total kepada Allah seperti disebut dalam surat Al An’am ayat 162, yang juga sering kita baca dalam doa iftitah setiap melaksanakan ibadah shalat: “Katakanlah! Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Karena itulah pengertian Qurban yang hakiki dan luas bukan sekedar menyembelih hewan dan membagi-bagikan kepada hamba-hamba Allah yang berhak ketika momentum hari raya idil adha. Tetapi momentum hari raya qurban membantu untuk mengingatkan umat Islam secara simbolik setiap tahun agar terus menerus mencurahkan segala pengorbanan dan dalam berbagai bentuk untuk kebaikan sepanjang kehidupan. Jadi hakikat berqurban harus melahirkan kerelaan mencurahkan pengorbanan yang berdimensi sangat luas dan menyeluruh dalam perjalanan kehidupan umat.

Namun sayangnya, setelah momentum hari raya qurban berakhir biasanya banyak yang melupakan tentang keniscayaan berkorban dalam arti yang luas-- selalu dibutuhkan untuk mencapai tujuan kebaikan seperti telah ditunjukkan Ibrahim, Ismail dan para Rasul Allah dalam perjalanan kehidupan mereka untuk menyebarkan rahmat dan kebaikan.

Dalam kehidupan kita sehari-hari juga sering kita dengar perjuangan dan keberhasilan yang selalu membutuhkan pengorbanan. Tetapi apa yang terjadi manakala ada banyak umat Islam yang melihat qurban sekedar menyembelih hewan dan membagi-bagikannya kepada saudara-saudaranya yang lain, sementara mereka melupakan atau bahkan sama sekali tidak memahami tentang inti ajaran qurban, atau mereka memahaminya dengan baik tetapi memang tidak ada kemauan dan kemampuan untuk mewujudkan spirit pengorbanan dalam meraih cita-cita kebaikan. Tentu kemalasan, ketakutan, kemiskinan, prejudice (curiga/berburuk sangka dan suka menyalahkan orang lain) dan kemunduran akan melingkupi kehidupan mereka. Karena pribadi-pribadi umat yang semacam ini tidak memiliki modal dasar yang kuat dan nilai pribadi yang baik untuk mencurahkan segala pikiran, usaha, tenaga dan kesungguhan dalam meraih cita-cita kebaikan, mereka lebih senang berprilaku malas, cengeng dan mengemis.

Kenyataan-kenyataan yang tidak menguntungkan perbaikan pembangunan dan peradaban yang terjadi di tengah umat Islam ini haruslah kita hapuskan. Kita robah dengan mengembalikan jiwa, pikiran dan tindakan yang rela berkorban dalam arti yang hakiki serta luas ke dalam kehidupan kita saat ini maupun ke depan yang semakin penuh tantangan. Yaitu, suatu keadaan yang semakin banyak pula pengorbanan, keikhlasan dan keseriusan yang harus kita curahkan.

Di sini pengorbanan yang benar menjadi suatu keniscayaan untuk mewujudkan cita-cita mulia, yaitu memperbaiki keadaan, mensukseskan pembangunan yang tidak kering dari nilai-nilai spiritualitas dan menciptakan peradaban agung yang bermanfaat bagi manusia sebagai manifestasi dari ajaran Islam (Rahmatan Lil ‘Alamin).

Demikian pula, umat Islam semestinya jangan lagi terbawa praktek pengorbanan dalam dimensi yang salah dan destruktif yang disebabkan oleh permusuhan, kedengkian dan kehendak saling mendhalimi sesamanya seperti yang juga pernah terjadi pada diri anak Nabiullah Adam AS, antara Qabil dan Habil, hal mana Qabil tidak rela saudaranya Habil dipadukan dengan Iklima sebagai suami istri oleh orang tuanya. Sehingga akhirnya Habil menjadi korban.

Demikian pula dalam konteks kehidupan manusia lainnya, apabila nafsu pengorbanan dalam dimensi permusuhan, kedengkian dan pendhaliman yang muncul-- maka salah satu pihak atau bahkan kedua-duanya bisa menjadi korban sia-sia, karena prilaku saling membalas juga terjadi. Nafsu mau berkorban semacam ini yang paling banyak terjadi di zaman sekarang, khususnya karena pertentangan politik dan ekonomi sehingga jatuhlah korban dimana-mana dalam berbagai bentuk yang merugikan manusia serta merusak nilai-nilai agama.

Kita bisa melihat dan mendengar di mana-mana saat ini, di berbagai negara-- bagaimana seorang manusia, sebuah kelompok, sebuah komunitas hingga sebuah negara rela mengorbankan saudara-saudara mereka yang juga sama-sama manusia. Begitu seringnya suatu negara memerangi, menghancurkan dan mensabotase negara lain untuk tujuan politik, ekonomi, budaya dan pertahanannya, di mana pada saat itu juga manusia yang tidak terlibat dalam sistem permusuhanpun lebih banyak menjadi korban sia-sia. Negara kuat dan besar memangsa negara kecil dengan berbagai kebijakan hingga memeranginya.

Memang, banyak sekali manusia yang lebih suka menampakkan kebengisan dan pertumpahan darah, bahkan kadang-kadang mengatasnamakan agama. Realitas yang masih eksis ini mengingatkan kita kepada kisah para malaikat yang mengajukan protes kepada Allah tentang penciptaan manusia (Al Baqarah: ayat 30), karena akan melakukan pertumpahan darah di muka bumi.

Karena itu mari kita mendoakan, cukuplah peristiwa Qabil Habil ini sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam dan umat manusia. Serta tujuan Allah seperti dinyatakan dalam surat al Baqarah ayat 30, menciptakan manusia untuk misi kekhalifahan yang memperbaiki harus diwujudkan oleh umat Islam dengan baik, memiliki spirit pengorbanan yang benar dan strategi yang jitu. Sehingga siapapun akan tunduk dan bersujud menghormati (kecuali iblis terkutuk) karena kualitas iman serta kelebihan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa perlu bertumpah darah dan bermusuhan untuk saling menaklukkan.

Karena itulah, mari kita ikuti dan tanamkan spirit pengorbanan dalam pemahaman serta praktek positif yang telah ditunjukkan Nabiullah Ibrahim dan Ismail. Keduanya telah mengajarkan kita dan mempraktekkan nilai pengorbanan yang di dalamnya ada pula dan memang untuk menciptakan nilai kecintaan dan keikhlasan berbuat baik, keseriusan dan siap dengan segala resiko demi kebaikan manusia. Keikhlasan, keseriusan dan ketaatan kedua Nabiullah tersebut menjalankan perintah qurban menjadikan keduanya sangat sukses dalam hari-hari berikutnya, karena selalu siap menyelesaikan berbagai permasalahan serta menghadapi hambatan dan tantangan dengan penuh kesabaran. Keduanya mau dan mampu memperkenankan perintah Allah SWT, walaupun keduanya benar-benar saling menyayangi (lazimnya seorang ayah dan anak) dan mendambakan kehidupan kasih sayang yang tak pernah putus. Sebab, begitu lama Ibrahim AS tidak memiliki putra/anak sampai beliau telah berumur tua. Tetapi sang ayah bersedia menyembelih anak kandung satu-satunya yang telah lama beliau dambakan. Sementara pada saat yang sama Ismailpun selaku seorang anak yang taat menerima dengan tulus untuk disembelih karena hal itu adalah perintah Allah, sebagaimana dengan terang benderang dijelaskan dalam Surat Ash-Shafat Ayat 102:“Maka tatkala anak itu sampai pada umur untuk sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”

Dari ayat suci tersebut, coba kita bayangkan dan renungkan dengan hati mendalam betapa seolah perintah Allah yang disampaikan Ibrahim AS kepada putranya Ismail AS kedengarannya sangat sadis dan sulit diterima akal sehat manusia secara umum karena seorang manusia (Nabi Ismail) diperintahkan untuk disembelih oleh ayahnya sendiri. Sama sekali tidak pernah terpikir oleh Nabi Ibrahim sebelumnya jika beliau suatu saat harus mengorbankan/ menyembelih putranya sendiri yang amat sangat dicintai dan didambakan kelahirannya selama berpuluh-puluh tahun. Ibrahim AS memahami bahwa mimpinya itu bukanlah mimpi hiasan malam dan bunga tidur, bukan pula mimpi bohong dan bisikan syaithan yang merusak.

Namun beliau yakin kalau perintah berkorban itu adalah wahyu yang datang daripada Allah yang harus ditaati, walaupun mungkin tak mampu dicerna oleh nalar umum karena mimpi itu hanya dialami nabi Ibrahim AS sediri dengan perintah menyembelih.

Bagaimana mimpinya tersebut berbenturan dengan fitrah manusia, termasuk dirinya sendiri (karena berada antara kecintaan kepada putranya Ismail AS dan perintah penyembelihan) sehingga Ibrahim menyampaikan mimpinya yang merupakan wahyu itu dengan begitu arif, lembut dan mempertanyakan terlebih dahulu kepada Ismail sebagai bukti awal kuatnya spirit pengorbanan Ibrahim karena diperintah oleh Allah SWT. Jika Ibrahim menuruti kecintaannya semata kepada putranya Ismail, mungkin beliau tidak akan menyampaikan mimpinya (wahyu) itu kepada anaknya. Tetapi para nabi dan rasul, adalah manusia yang senantiasa melatih diri dan siap menghadapi segala resiko demi kebaikan manusia lainnya. Para nabi dan rasul telah berqurban dan menjabarkannya dalam berbagai bentuk pengorbanan lainnya sepanjang hayat mereka, sehingga mereka tidak pernah menjadi korban sia-sia meskipun dilukai oleh musuh-musuhnya.

Pengorbanan para nabi dan rasul meninggalkan nilai-nilai kebaikan dan menjadi kekuatan perobahan yang amat dahsyat dalam membentuk peradaban di muka bumi. Nilai lainnya yang harus kita petik dari seluruh ragam pengorbanan para nabi dan rasul adalah bahwa pilihan Allah tidak pernah salah. Maka tidak ada dalam sejarah kenabian dan kerasulan yang membuktikan bahwa ada diantara para nabi atau rasul yang diberhentikan (dipecat) oleh Allah di tengah jalan.

Seorang rasul memang mendapat wahyu, tetapi seorang rasul tidak diturunkan wahyu secara sembarangan. Wahyu itu bukan konsep dan ajaran yang murah dan bukan pula untuk diperdijual-belikan dengan harga murah seperti sering terjadai di zaman ini. Semua wahyu Allah bernilai ajaran yang suci untuk pijakan, referensi, inspirasi, jalan keluar, obat, pelajaran dan peradaban agung untuk kebaikan manusia di muka bumi.

Karena itu pula para nabi dan rasul selalu rela berkorban dengan mencurahkan segala pikiran, tenaga, kearifan, kesabaran, keseriusan dan pertaruhan nyawa hidup-mati. Dan semua itu dijalankan dengan sangat ikhlas, berakhlaqul karimah dan penuh kelembutan tetapi tidak mengeyampingkan ketegasan yang dibutuhkan. Segala strategi yang maslahah dan tidak merusak dijalankan dengan menggunakan pengetahuan dan akal sehat.

Baru ketika mengalami stagnasi serius atau tidak ada jalan keluar lagi para nabi dan rasul berdoa meminta diturunkan petunjuk dari Allah, lalu diturunkanlah wahyu. Ataupun yang menyangkut hal-hal yang tidak ada dasar pada masa-masa kerasulan sebelumnya atau tidak sesuai lagi dengan kebutuhan kebaikan manusia di zaman itu ataupun ada berbagai hal yang perlu diluruskan oleh agama.

Dengan demikian sekali lagi ingin Khatib sampaikan bahwa para nabi dan rasul adalah manusia yang selalu siap mencurahkan pengorbanan hakiki dalam bentuk apapun dan dengan penuh ketakwaan, keikhlasan, kejujuran dan penuh strategi. Maka para nabi dan rasul adalah manusia yang amat kuat dalam arti yang sangat luas, tidak salah menjabarkan qadha-qadar dan tawakkal, serta tidak pernah cengeng. Sehingga dengan itu pula filosofi penciptaan manusia sebagai khalifah dapat terwujud dalam bentuk dan manfaat yang nyata bagi manusia lainnya di muka bumi Allah. Bayangkan jika seandainya seorang nabi atau rasul tidak mau berpikir, malas, cengeng dan hanya meminta diturunkan wahyu setiap saat, tentu kenabian dan kerasulannya tidak akan sukses atau dapat saja dicabut oleh Allah. Sebab, sebagai manusia, para nabi dan rasul selalu harus menjadi khalifah yang baik dengan segala resiko dan konsekwensi yang membutuhkan usaha keras serta pengorbanan luar biasa.

Karena itu, kekhalifahan dan keimaman para nabi atau rasul mewakili makna kepemimpinan yang sebenarnya, berbeda dengan kekuasaan yang diberi otoritas politik oleh manusia yang selalu dapat dicabut, dinaikkan, diturunkan, kadang-kadang dipuji, tidak jarang pula dibenci dan sering pula menimbulkan permusuhan serta menjatuhkan korban. Mengapa? Karena banyak yang dilakukan manusia telah jauh keluar dari makna pengorbanan hakiki yang dicontohkan Ibrahim AS, Ismail AS, para nabi dan rasul lainnya, para pengikut setia nabi dan rasul serta tokoh-tokoh teladan sepanjang sejarah dunia.

Dalam lintasan sejarah para Nabi, misalnya Rasullullah Muhammad SAW dan para sahabatnya telah menunjukkan pengorbanan yang sangat besar dalam berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini. Perjuangan Rasul dan para sahabat ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang diderita oleh Umat Islam di Mekkah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy. Bahkan rasulullah sering mendapatkan ancaman, terror dan serangan dari para keluarganya sendiri.

Betapa besar pengorbanan yang harus dicurahkan, terutama ketika berhadapan dengan keluarganya sendiri. Di satu sisi mereka yang memusuhi termasuk para keluarganya, pada saat yang sama perbaikan yang diperintahkan Allah kepada Muhammad SAW harus dapat dijalankan dengan sukses demi kebaikan manusia. Karena itu pula Allah mengajarkan satu strategi mendasar kepada Muhammad, yakni: “Dan berilah peringatan (terlebih dahulu) kepada keluarga-keluargamu terdekat.” (QS, Al Syu’ara’: 214).
Karena itu pula, mewarning, mendidik dan berdakwah kepada keluarga yang terdekat harus berlaku sampai kapanpun, termasuk dalam hal pembangunan kekinian di suatu daerah. Apabila keluarga dan tokoh masyarakat yang paling dekat dengan warga tidak berperan atau tidak berpartisipasi secara aktiv dalam perbaikan, maka sehebat apapun strategi pemerintah dan sebanyak apapun anggaran tidak akan efektif dalam melakukan perobahan fundamental. Sebab perobahan itu hanya dapat dilakukan dengan keterlibatan spirit pengorbanan (sebagai bahagian dari nilai iman dan menjadi kekuatan perobahan) yang ikhlas dalam diri semua komponen masyarakat dan umat. Spirit pengorbanan yang benar akan memudahkan penyelesaian berbagai masalah, menciptakan masyarakat pro-pembangunan dan peradaban, serta membentuk kekuatan sosial yang memadai untuk perbaikan. Itulah yang ditunjukkan para nabi, rasul dan tokoh-tokoh utama di dunia ini.

Rasulullah SAW pernah dilempari batu oleh penduduk Thaif, dianiaya oleh Ibnu Muith. Leher beliau pula pernah dicekik dengan usus onta, sementara Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal Bin Rabbah ditindih dengan batu besar yang panas ditengah sengatan terik matahari siang. Yasir dan keluarganya dibantai dan seorang ibu yang bernama Sumayyah ditusuk kemaluan beliau dengan sebatang tombak. Tidak hanya itu, umat Islam di Mekkah dalam waktu yang sama pula diboikot untuk tidak mengadakan transaksi perdagangan. Akibatnya, bagaimana lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah SAW, sampai-sampai beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit- sepatu bekas.

Sejarah Nabi Yusuf AS yang disiksa dan dibuang ke sebuah sumur tua oleh para saudaranya sendiri adalah bagian dari pengorbanan beliau menegakkan kebenaran. Sejarah Nabi Musa AS yang mengalami tekanan, tidak hanya dari Fir’aun, tetapi juga kaumnya sendiri, adalah juga wujud dari pengorbanan beliau. Berbagai pengorbanan lainnya telah dibuktikan oleh para Nabi dan rasul di masa lalu. Maka sebagai hamba yang bersyukur, sudah sepantasnyalah kita mengikuti jejak langkah mereka dengan jalan mengambil jutaan hikmah yang terkandung dalam peristiwa pengorbanan yang beragam dan ikhlas itu., serta melaksanakannya dalam seluruh kehidupan manusia.

Dalam konteks sejarah Aceh pula, rakyat di bumi Iskandar Muda telah banyak berkorban untuk sebuah Negara besar yang bernama Indonesia. Sebagian bentuk pengorbanan itu saya sebutkan ketika sekutu kembali memasuki wilayah Republik Indonesia dalam agresi I dan II (1947-1949) dan saat itu seluruh wilayah Republik Indonesia telah dikuasai, Aceh dengan bangga mengumandangkan suara kemerdekaan melalui Radio Rimba Raya bahwa Republik Indonesia masih “exist” sebagai sebuah negara berdaulat dalam peta dunia serta menghadapi Belanda di Medan Area agar tidak bisa masuk kembali ke Aceh sehingga menjadi wilayah merdeka secara de facto.

Bahkan ada pula pengorbanan dalam bentuk harta benda dan uang yang dipersembahkan untuk membeli pesawat kepada Republik. Semua pengorbanan ini menjadi modal yang sangat strategis dan begitu efektif bagi Perunding Republik Indonesia dalam bernegosiasi secara politik dengan Kolonial Belanda dan PBB di Meja Bundar Den Haag - Belanda.
Jauh sebelum lahirnya Indonesia, secara terus menerus para negawaran, ulama dan saudagar Aceh juga telah mencurahkan pengorbanan yang luar biasa dalam menyebarkan agama Islam ke berbagai negeri di Asia Tenggara, yang dimulai sejak abad 13— atau setelah Aceh sendiri tertancap Islam dengan kuat selama beberapa abad terlebih dahulu. Mereka tidak mempermasalahkan akan mengakhiri hayat di mana, karena hidup dan mati boleh di mana saja asalkan untuk kebaikan manusia.

Sehingga banyak diantara mereka yang jejak sejarah mereka hilang secara fisik. Mereka melakukan diaspora bukan karena terjepit dan bukan pula sekedar tujuan penaklukkan politik semata, tetapi karena tujuan mendasar penyebaran Islam yang kemudian telah menciptakan peradaban di tanah Melayu dan negeri-negeri Asia Tenggara. Sehingga negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara masuk dalam peradaban modern dan menghapuskan tradisi agama primitive yang membodohkan.

Menurut Wilfred C. Smith dalam bukunya Islam in Modern History (khatib sengaja mengambil referensi pakar tersebut yang berbeda dari sisi RAS dan budaya dengan Aceh sebagai bukti objektif bahwa orang-orang luar Aceh atau sejarah dunia telah menilai), bahwa peradaban Aceh pernah menjadi salah satu peradaban terbesar di dunia setelah Turki ‘Utsmaniy di Istanbul, peradaban Islam Kerajaan Agra di India, peradaban Islam Kerajaan Maroko di Afrika Utara, peradaban Islam Kerajaan Isfahan di Timur Tengah, dan puncak kegemilangannya adalah ketika Aceh dipimpin oleh Sulthan Iskandar Muda lahir tahun 1593 dan berkuasa sejak tahun 1607 - 1636 Masehi, dan meninggal pada usia 43 tahun tersebut, berhasil melanjutkan kehebatan Sulthan Alauddin Riayahsyah Al Qahhar (Mereuhom Kha) dalam berbagai bidang menurut ukuran zaman itu. Sayangnya bukti-bukti fisik peradaban tersebut sebahagian besar telah punah akibat peperangan Belanda-Aceh, kecuali dapat ditemukan sebahagian kecil saja baik di Aceh maupun luar Aceh.

Memang, sejarah selalu hadir di depan kesadaran kita dengan potongan-potongan zaman yang cenderung mirip dan terduplikasi. Pengulangan-pengulangan itu memungkinkan kita menemukan persamaan-persamaan sejarah, sesuatu yang kemudian memungkinkan kita menyatakan dengan yakin bahwa sejarah manusia sesungguhnya diatur oleh sejumlah kaidah dan syarat yang bersifat permanen. Dan diantara syarat utama adalah pengorbanan dalam dimensi yang sangat luas dan positif, karena mewujudkan sebuah misi dan melaksanakan sebuah strategi selalu membutuhkan pengorbanan yang begitu banyak seperti kita lihat tadi dalam perjalanan para nabi, rasul dan tokoh-tokoh yang telah menuai kesuksesan besar dari zaman ke zaman.

Allah SWT memerintahkan kita untuk menelusuri jalan waktu dan ruang agar kita dapat merumuskan peta sejarah manusia, untuk kemudian menemukan kaedah dan syarat permanen yang mengatur serta mengendalikannya. Kaedah dan syarat permanen itu memiliki landasan kebenaran yang kuat. Kerena ia ditemukan melalui suatu proses pembuktian empiris yang panjang. Dengan demikian sejarah menjadi salah satu referensi terpenting bagi kita guna menata kehidupan saat ini dan esok. Sejarah adalah cermin yang baik yang selalu mampu memberi kita inspirasi untuk menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan ini. Kecemerlangan sebuah sejarah itu akan selalu berulang kalau kaedah dan syaratnya terpenuhi, begitulah kata Ibnu Khaldun.

Di Aceh, rakyat Acehlah sebenarnya yang dapat menentukan ukiran hitam, putih atau abu-abu di atas kanvas sejarah peradaban Aceh sekarang atau di masa yang akan datang. Begitu pula dalam peta dunia Islam, bergantung pada keseriusan umat Islam di berbagai negeri.

Demikian pula, kerusakan internal umat Islam dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dunia Islam, karena sebuah umat adalah cermin bagi agamanya sendiri. Jika ada pribadi-pribadi umat Islam yang mempraktekkan kekerasan dalam berbagai bentuk misalnya, tentu dengan mudah manusia lainnya mengambil kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang keras, tidak toleran, bengis dan penuh masalah meskipun sesungguhnya ajaran Islam semuanya adalah kebaikan dan Rahmatan lil ‘Alamin.

Maka Allah telah mengingatkan sekaligus menantang umat Islam, yang juga menjadi tugas manusia sebagai khalifah, yaitu: “Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia supaya kamu menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang dari mungkar, serta beriman kepada Allah”. (QS: Ali Imran Ayat 110)
Manakala Allah menyatakan umat Islam sebagai sebaik-baik umat berarti amat sangat banyak perangkat yang harus disiapkan dalam diri umat Islam untuk dapat menjalankan misi kebaikan itu.

Kemuliaan yang dianugerahkan Allah itu bukan untuk sebuah romantisme statis, tetapi kekuatan perobahan yang harus ditransformasikan dalam usaha-usaha serius dan konkrit yang menuntut keikhlasan berkorban. Sama seperti kisah qurban yang dilakukan Ibrahim dan Ismail, bukan sekedar untuk mengingatkan kita, lalu hanya kagum dan melupakan kehebatan spirit pengorbanan yang super tinggi dari keduanya. Tetapi bagaimana sekarang dan ke depan kita menjalankan hal yang sama (yaitu pengorbanan tulus ikhlas) dalam berbagai bentuk sepanjang kehidupan kita.

Demikian pula dalam contoh-contoh agung lainnya, termasuk dari perjalanan Aceh sendiri. Maka sebuah sejarah besar bukanlah sebuah romantisme yang menghanyutkan belaka, padahal ia telah terbentuk karena berbagai pengorbanan yang besar. Tetapi sejarahpun harus menjadi kekuatan yang bernilai dan cermin untuk menjadikan masa depan sebagai sejarah yang lebih baik dan selalu menuntut pengorbanan yang semakin baik pula.

Sekali lagi saya tekankan, masa depan adalah sejarah yang harus diukir oleh para khalifah (manusia) dengan segala pengorbanan yang berdimensi kebaikan.
Pemberlakukan Syariat Islam yang telah dideklarasikan berbilang tahun silam, sebenarnya merupakan sebuah modal bagi pembentukan peradaban besar yang saat ini sedang ditata kembali di Aceh, meskipun sampai dengan saat ini kadang-kadang sering terjadi kontroversi.

Dalam hal ini kita bisa saja menganggap kontroversi itu ditimbulkan oleh orang atau pihak tertentu yang kurang respek dengan Islam. Tetapi sesuatu yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa kontroversi itu dimodali secara mendasar oleh keterbatasan umat Islam sendiri, terutama di Aceh dan Indonesia. Yaitu keterbatasan kemampuan umatnya dalam memahami dan menampilkan Islam di depan manusia. Ditambah lagi dengan keterbatasan kesadaran dan pengorbanan. Kontroversi semacam itu, di tengah masyarakat yang masih mengalami keterbatasan-keterbatasan tersebut, apapun penyebabnya, haruslah disikapi dengan arif dan bijaksana, objektif dan proporsional, dan pada saat yang sama kita semua harus memprioritaskan langkah-langkah yang dapat menghilangkan keterbatasan-keterbatan yang masih eksis di tengah umat tersebut.

Khatib berharap supaya kontroversi semacam itu haruslah dipandang sebagai sebuah kewajaran yang harus dikomunikasikan dengan semangat dialog, keterbukaan dan rasionalitas yang tinggi. Secara umum dapat disimpulkan dengan cukup yakin bahwa masyarakat Islam di Aceh memang sedang mengalami suatu proses kembali ke jatidiri kolektifnya sebagai sebuah umat beridentitas Islam, tetapi sayangnya persiapan mereka nampak kurang berjalan karena menurunnya spirit pengorbanan di tengah-tengah sebuah keluarga dan masyarakat yang berdampak pula pada menurunnya pemahaman terhadap Islam dan cara menampilkannya di depan manusia. Juga berdampak pada kehancuran nilai-nilai Islam walaupun pada saat yang sama berbagai hukum syariat telah diterapkan oleh Pemerintah daerah. Karenanya semangat dialog Nabi Ibrahim AS ketika mau mengorbankan anaknya Ismail AS bisa kita jadikan ‘ibrah atau pelajaran betapa persikapan dialogis, rasionalitas dan kearifan yang memadai menjadi sangat penting dijalankan dalam kehidupan masyarakat Aceh. Umat Islam harus selalu merefleksikan kisah pergorbanan Ibrahim dan Ismail yang berakhir dengan bergantinya jenis qurban berupa (hewan ternak yang halal), karena menyembelih manusia tidak sesuai dengan fitrah manusia, yang berarti pula keduanya selamat dan tidak pernah menjadi korban karena keikhlasan berqurban.

Terkait dengan Ibadah qurban setiap tahun, pada saat yang sama Allah SWT juga mendidik umat Islam dengan kewajiban berhaji bagi yang mampu. Kewajiban berhaji ini tidak hanya dapat dilihat dari sisi kewajiban syar’i dengan sejumlah metodelogi fiqhnya. Namun kita harus menelusuri pula, bagaimana hanya orang-orang kaya dan mampu yang diperintahkan oleh Allah agar mau menjalankan ibadah haji. Tentu mereka harus menyisihkan keyaaan yang mereka usahakan dengan penuh keringat, meninggalkan tanah kelahiran yang mereka cintai menuju tanah suci, bergabung dalam desakan jutaan hamba dari berbagai bangsa yang berbeda etnik, warna kulit dan budaya tetapi sama dalam aqidah agama, dan juga meninggalkan anak-anak, para cucu dan orang-orang yang mereka kasihi. Para jamaah hajipun harus siap menghadapi segala cuaca sesuai dengan musimnya. Belum lagi jika orang-orang yang mampu itu bersifat kikir, sombong dan individualistis, maka sifat itu harus dikorbankan (dihapus) dan diobati dengan beribadah haji. Karena mereka telah terikat dengan syarat kewajiban berhaji.

Pendeknya, betapa besar nilai pengorbanan yang ada di dalam ibadah haji dan sengaja diwajibkan oleh Allah SWT untuk menancapkan spirit pengorbanan yang kuat dalam diri manusia ketika menjalani kehidupan ini, khususnya manakala menghadapi berbagai hambatan dan tantangan yang penuh resiko. Karena itu tekanan kewajiban berhaji ada pada kata “istatha’a” (mampu dalam arti yang sebenarnya, bukan sekedar keuangan), seperti terlihat dalam Surat Ali imran 97: “…Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang telah mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari kewajiban haji tersebut, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam.”

Demikian pula orang-orang yang telah mampu dan belum mau berhaji, apalagi jika mengingkarinya, maka Allahpun mengingatkan bahwa kekayaan manusia tidak seberapa dan berarti pula dapat saja dihilangkan jika Allah menghendaki, karena Allah Maha Kaya dari sekalian alam. Dalam ayat tersebut Allah tidak pernah mencaci maki hamba-hambaNya yang kaya tetapi pelit tak mau berkorban melaksanakan ibadah haji. Namun Allah menyampaikannya dengan sangat lembut agar hati si kaya dapat berobah setelah menyadari bahwa hartanya adalah milik Allah Ghaniyun Halim. Sekaligus ayat tersebut memberi pesan bahwa semakin kaya dan mampu seorang muslim, semestinya semakin banyak dan kuat pula spiritnya untuk berkorban dalam arti yang luas dan untuk kebaikan. Tidak cukup hanya dengan melaksanakan ibadah shalat, puasa dan berzakat.

Kewajiban melaksanakan ibadah haji bagi orang-orang yang mampu sebagaimana telah ditetapkan Islam juga dapat mendorong umat untuk mencurahkan (mengorbankan) pikiran dan tenaga mereka mencari kekayaan yang halal serta memelihara kesehatan jiwa-raga, sehingga suatu saat di dalam hidupnya dapat menunaikan ibadah haji yang dicita-citakanya dan berkorban untuk kebaikan. Sekaligus adanya kewajiban berhaji tersebut memberi pesan kepada umat bahwa kaya itu adalah mulia, yang dapat dimanfaatkan untuk semua kebaikan. Maka mari kita didik keluarga dan warga kita agar mau bekerja keras memperoleh kekayaan yang halal untuk melakukan kebaikan, bukan memelihara prilaku anti kepada kekayaan dan orang-orang kaya. Begitu pula perbaikan moralitas, peningkatan sumberdaya manusia, pengentasan kemiskinan, hidup bersih dan sehat, serta segala amal ibadah sosial lainnya adalah bahagian-bahagian penting dari nilai-nilai Islam yang mesti difungsikan/dioperasikan dalam kehidupan. Semua amal kebaikan senantiasa membutuhkan pengorbanan berupa waktu, uang, keringat, pemikiran, keseriusan dan sebagainya.

Sedangkan penyembelihan hewan qurban yang dibatasi pada tanggal 10-13 Dzulhijjah adalah hukum syar’i yang sangat simbolik sebagai media pengingat dan pendorong bagi umat untuk berkorban dalam berbagai bentuk di hari-hari yang lain sepanjang kehidupan manusia.

Maka dengan momentum Idul Adha kali ini, mari kita revitalisasikan spirit pengorbanan yang benar untuk membangun dan memperbaiki keadaan, serta menjalankan fungsi kekhalifahan kita sebagai manusia. Jika spirit pengorbanan hilang maka perintah-perintah agamapun menjadi tidak operasional dan funsional secara keseluruhan, karena kita lebih memilih ayat-ayat Tuhan dan hadis-hadis nabi yang dianggap menguntungkan saja untuk menjustifikasi prilaku pribadi kita dalam kehidupan ini. Jika semangat pengorbanan terus menurun di kalangan umat Islam maka bukan tidak mungkin suatu ketika dan dalam waktu yang singkat, konflik internal antar mazhab dalam Islam sendiripun harus diselesaikan oleh orang bijak (wiseman) yang berbeda aqidah.

Kebutuhan sebuah negeri Muslem seperti Palestinapun terabaikan, meski di sekelilingnya adalah mayoritas kerajaan dan negara Islam yang kaya raya. Itulah realitas manakala kaum mampu tidak mau berkorban untuk kebaikan, takut membela dan tidak berani bertindak apa-apa meskipun lawan memusuhi agama serta menghadang di depan mata.

Spirit rela berkorban yang diajarkan melalui ibadah qurban dan seluruh ibadah lainnya dalam Islam, apabila dilaksanakan dengan benar dan ikhlas-- akan sanggup mewujudkan kesalehan invidual dan sosial yang keduanya akan menjadi modal utama mewujudkan Islam sebagai Rahmatan lil ’Alamin, kekuatan perobahan dan peradaban. Pengorbanan yang benar dan ikhlas—Insya Allah-- akan senantiasa mensukseskan manusia menjalankan peran kekhalifahan di muka bumi ini, dalam segala ruang dan waktu.
Akhirnya saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1430 H----Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Mari Kita Sucikan Jiwa, Bersihkan Hati dan Pikiran, Perbaiki Segala Tindakan agar Kekhalifahan Kita Tidak Sia-sia.

0 komentar:

Poskan Komentar