Kamis, 29 April 2010

UU Perbankan Syariah 2008 memicu pertumbuhan BUS

SEKALIPUN pangsa perbankan syariah hingga di penghujung tahun 2009 ini, tetap pada posisi dua persen. Namun animo para pelaku perbankan untuk mendirikan bank umum syariah (BUS) terus meningkat, di mana sepanjang 2009, telah berdiri tambahan tiga Badan Usaha Syariah (BUS) baru yakni BRI Syariah, Bukopin Syariah dan Panin Syariah.

Penambahan ini menurut Mulya Siregar, Kepala Biro Penelitan, Pengembangan dan Pengaturan Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI), dalam seminar perbankan syariah yang digelar di Wisma Antara, pekan lalu, kini terdapat enam BUS di Indonesia. Ketiga BUS tersebut pun berdiri, sejak momentum dikeluarkannya UU No 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah. Tentang pendirian perbankan syariah tersebut menurut Mulya Siregar, berdasarkan data perizinan 2010, beberapa BUS juga akan berdiri. Diantaranya Bank Jabar-Banten Syariah, Victoria Bank Syariah, BNI Syariah dan BCA Syariah.

Di mana lanjutnya, berdasarkan proyeksi masing-masing bank, tahun pertama (2010) total aset keempat calon bank syariah tersebut mencapai sekitar Rp7 triliun. Sedangkan Unit Usaha Syariah (UUS) yang saat ini sudah selesai proses perizinannya, yaitu OCBC NISP dan Bank Sinar Mas. Sedangkan Maybank, rencananya juga akan membuka UUS di 2010. Meski baru sebatas rencana.

Namun demikian, kata dia, jumlah lembaga bank syariah (UUS) menyusut akibat merger, likuidasi dan peralihan bentuk lembaga. Seperti UUS Lippo Syariah, merger dengan niaga menjadi UUS CIMB Niaga kemudian UUS Bank IFI yang tutup karena peralihan BEI menjadi lembaga bukan bank.

Mulya juga mengatakan, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank syariah di Indonesia meningkat hingga 36,6 persen hingga sebesar Rp45,6 triliun dengan mudarabah sebesar 37,172 persen, 57,22 persen giro dan 12,45 persen deposito. Dari deposito, DPK masih didominasi deposito 1 bulan yakni sebesar 35,1 persen. Pertumbuhan DPK tersebut, kata dia, seiring dengan kecenderungan suku bunga yang terus menurun.

"Tahun depan juga akan begitulah polanya," kata Mulya seraya menambahkan, pembiayaan perbankan syariah hingga Oktober 2009 menjadi sebesar 18,9 persen saja.

Padahal, kata dia, pembiayaan tersebut berjumlah 45,7 persen di 2008. Minimnya pertumbuhan pembiayaan, kata dia, disebabkan goncangan krisis global dan kecenderungannya yang masih bertumpu pada sektor konsumtif dan perdagangan. NPF bank syariah sekarang pun, menjadi lebih besar dari NPL perbankan konvensional.

Alasannya, kata dia, kini dalam perbankan konvensional itu sering terjadi right off, jadi NPL membaik. Selain itu, tambah dia, karena gejala perlambatan perekonomian, kegiatan sektor riil pun melambat. Selain itu, perbankan syariah kini pun masuk ke pembiayaan baru yakni ke sektor manufaktur. Maksudnya, NPF meledak karena sebagian besar bank syariah belum berpengalaman.

0 komentar:

Poskan Komentar